
"Wiguna, selama ini engkau sudah mempelajari ilmu kanuragan Sundang Wilwatikta pun juga dengan berbagai kesaktian yang telah turun temurun dipelajari para ksatria Wangsa Rajasa, namun satu yang harus engkau sadari, yang namanya ilmu memang tidak akan ada habisnya dipelajari, maka menurut Eyang, jika engkau memang belum mau kembali ke Pamotan, sebaiknya engkau dan Gupita mengembara dulu, mengasah kemampuan kalian, tapa ngrame, gunakan ilmu kalian untuk membantu rakyat yang membutuhkan pertolongan" ujar Mpu Triguna panjang lebar setelah mendengar jika Arya Wiguna belum mau kembali ke istana di Pamotan
"Wah, usul dari Guru bagus sekali Adi, aku setuju sekali, kita akan mempraktekkan bukan hanya ilmu kanuragan kita, namun juga ilmu pengobatan, ilmu pertanian yang kita pelajari di padepokan ini Adi" sambung Gupita dengan bersemangat
Sementara, Arya Wiguna tampak terdiam mendengar saran dari kakeknya serta sikap Gupita yang mendukung saran dari kakeknya itu. Setelah hening beberapa saat, kemudian Arya Wiguna pun akhirnya berkata " Paman prajurit berdua, setelah saya memikirkan saran dari Eyang serta dorongan Kakang Gupita, rasanya memang Aku condong untuk mengembara terlebih dahulu, mengasah kemampuanku di tengah masyarakat, sehingga nanti saatnya kembali ke Pamotan, maka ibarat buah, ilmu yang kupelajari di padepokan ini telah matang, maka tolong sampaikan saja pada Ayahanda kalo saat ini Aku belum bisa pulang ke Pamotan"
Kedua prajurit utusan dari Pamotan hanya saling pandang mendengar jawaban dari Arya Wiguna, bagi mereka keputusan Arya Wiguna untuk menolak kembali ke Pamotan saat ini tentu membuat mereka menjadi bingung.sejak sebelum berangkat ke padepokan, Senopati Arya Jaladara telah berpesan dengan sangat agar Arya Wiguna segera pulang dan menjadi prajurit di istana Pamotan. Namun karena keputusan telah diambil, dan justru merupakan saran dari Mpu Triguna, ayah dari Senopati sendiri, mau tidak mau membuat kedua prajurit tidak lagi bisa bicara meminta Arya Wiguna segera kembali.
"Kalian berdua tidak usah takut, nanti Aku yang bertanggungjawab kepada Gustimu Jaladara, malam nanti biar Aku menulis surat kepada Gustimu itu, jadi kalian sementara istirahatlah dahulu di padepokan ini, besok pagi pagi kalian baru turun dari padepokan ini kembali ke Pamotan" ujar Mpu Triguna setelah memandang kedua prajurit yang tampak gelisah karena keputusan Arya Wiguna.
Maka pagi harinya, setelah mendengarkan wejangan dari Mpu Triguna, kedua prajurit serta Arya Wiguna dan Gupita bersama-sama berpamitan untuk meninggalkan padepokan. Bedanya adalah bahwa kedua prajurit akan segera kembali ke kraton wetan di Pamotan, sementara Arya Wiguna dan Gupita akan memulai pengembaraannya mengasah kemampuan ilmu yang mereka dapat selama di padepokan untuk digunakan membantu masyarakat.
"Kalian tidak usah khawatir, setelah membaca surat yang aku tulis, Jaladara pasti akan memahaminya dan tidak memarahi kalian, satu tahun lagi, saat Wiguna selesai mengembara topo ngrame bersama Gupita, mereka berdua pasti akan jadi prajurit-prajurit muda yang tangguh bagi Pamotan" kata Mpu Triguna
"Kami juga mohon pamit Eyang, semoga pengembaraan kami nanti bisa menempa kami menjadi semakin dewasa" ujar Arya Wiguna
"Restuku untuk kalian, Wiguna, Gupita, semoga kalian betul-betul menggunakan ilmu kalian untuk masyarakat yang membutuhkan" kata Mpu Triguna
Demikianlah, pagi itu, empat ekor kuda tampak beriringan meninggalkan padepokan di kaki Gunung Penanggungan.