Paregreg, Senjakala Wilwatikta

Paregreg, Senjakala Wilwatikta
Episode 12



Maka demikianlah berlima mereka menikmati makan malam sambil berbincang-bincang melanjutkan perbincangan di pendopo tadi sore.


"Wah, kalau boleh aku ingin ikut Kakang Arya Wiguna dan Kakang Gupita Yah, biar ada pengalaman, sukur-sukur nanti bisa mendaftar jadi prajurit ke kota seperti kakek dulu" ujar Sancoko setelah mendengar cerita Arya Wiguna yang sedang memulai pengembaraan mencari pengalaman hidup.


"Kalau aku sih tidak melarangmu jika ingin ikut berkelana, tapi apakah mereka tidak repot jika kamu ikut nantinya, lalu apakah ibumu mengijinkan jika kamu pergi dari rumah ini, apalagi kamu malah punya keinginan jadi prajurit" ujar Ki Buyut


"Kalau ingin mencari pengalaman, aku tidak keberatan dengan rencana Sancoko, apalagi nantinya dia yang akan menggantikan menjadi Buyut di desa ini, tapi kalau soal jadi prajurit, aku tidak mengijinkan, cukup kakeknya saja yang dulu jadi prajurit" ujar istri Ki Buyut


"Nah kamu dengar sendiri Sancoko, ibumu keberatan kamu pengin jadi prajurit" ujar Ki Buyut


"Tapi khan tidak melarang untuk mengembara Yah" ujar Sancoko


"Baiklah, tapi semua tergantung kepada Arya dan Gupita, apakah mereka tidak keberatan jika kamu ikuti" ujar Ki Buyut


"Kalau kami justru senang Ki Buyut, jadi makin banyak teman di perjalanan, cuma ya itu, perjalanan kami ini bukan perjalanan yang selalu menyenangkan, kadangkala kami menginap di banjar, di lain waktu kami tidur di tepian sungai, kadang tidur di padang rumput, kadang di pinggir hutan, nah kira-kira Sancoko mau apa tidak" ujar Arya Wiguna


"Wah, bakal jadi pengalaman yang menarik jika seperti itu Kakang" kata Sancoko


"Baiklah, tapi sebelum aku mengijinkan, terakhir kamu harus minta ijin kakekmu dulu, kalau kakekmu membolehkan, baru kamu boleh ikut mengembara" kata Ki Buyut


Demikianlah, makan malam itu justru berkembang menjadi perbincangan tentang keinginan anak Ki Buyut melakukan pengembaraan ikut dengan Arya Wiguna dan Gupita.


Setelah malam semakin beranjak, dan di luar telah terdengar suara-suara orang berdatangan maka Ki Buyut, Sancoko, Arya Wiguna dan Gupita kemudian keluar untuk melihat suasana latihan kanuragan yang dipimpin oleh ayah Ki Buyut.


Di halaman rumah ternyata sudah berkumpul sekitar 50an anak muda yang telah bersiap untuk berlatih. Beberapa anak muda tampak sedang menyalakan obor untuk menerangi halaman rumah Ki Buyut.


Tak berapa lama seorang kakek yang masih tampah gagah muncul dari samping rumah Ki Buyut lalu segera menuju ke tempat anak-anak muda yang sudah berkumpul di halaman rumah.


"Sancoko, ayo kamu bariskan teman-temanmu, kemudian pimpin pemanasan sebelum latihan dimulai" ujar kakek itu yang ternyata adalah ayah dari Ki Buyut


Sancoko yang diperintah oleh kakeknya segera meminta teman-temannya membentuk barisan kemudian memimpin pemanasan sebelum latihan kanuragan dimulai.


Sementara Arya Wiguna dan Gupita bersama Ki Buyut duduk di depan pendopo menyaksikan latihan anak-anak muda di desa Gluntung itu.


Setelah dirasa cukup waktu untuk pemanasan, maka kemudian latihan kanuragan dimulai dengan dipimpin oleh kakeknya Sancoko.


"Benar Adi, aku juga melihat yang diajarkan mirip dengan Sundang Wikwatikta, meskipun sudah agak disamarkan" jawab Gupita dengan berbisik kepada Arya Wiguna.


Setelah berbisik bisik sebentar, maka keduanya kemudian melanjutkan menyaksikan latihan kanuragan di halaman rumah Ki Buyut dengan seksama. Sesekali mereka saling berpandangan dan mengangguk setiap kali melihat jurus demi jurus dimainkan dalam latihan kanuragan itu.


Setelah beberapa lama, tiba-tiba kakek Sancoko memanggil mereka berdua, sementara para anak muda sudah beralih membentuk posisi setengah lingkaran. Ternyata latihan jurus dianggap selesai malam itu dan dilanjutkan dengan latihan adu tanding dan Arya Wiguna serta Gupita dipanggil untuk mengikuti kegiatan adu tanding.


Demikianlah dua orang dua orang mulai berlatih adu tanding mempraktekkan jurus-jurus yang mereka pelajari selama beberapa bulan terakhir.


"Nah, sekarang kalian berdua anak muda, sebagai pengembara, aku yakin kalian pasti punya ilmu kanuragan, maka malam ini kuminta kalian ikut adu tanding untuk menambah pengalaman bagi anak-anak muda di sini" ujar kakek Sancoko kepada Arya Wiguna dan Gupita.


Arya Wiguna dan Gupita akhirnya terpaksa menerima permintaan kakek Sancoko sekaligus untuk mengetahui keheranan mereka melihat jurus-jurus yang diajarkan kepada anak-anak muda itu mirip dengan jurus-jurus Sundang Wilwatikta yang merupakan ciri pasukan bhayangkara.


"Nah, siapa yang mau berlatih adu tanding dengan tamu Ki Buyut ini, untuk menambah pengalaman dengan jurus-jurus lain dari yang kalian pelajari selama ini" ujar kakek Sancoko


Maka kemudian tampak seorang anak muda berdiri dan maju ke depan.


"saya siap guru, perkenalkan saya Gumboro, silahkan salah satu tamu Ki Buyut untuk bersedia menemani saya berlatih" ujar anak muda yang bernama Gumboro


Gupita kemudian maju, tapi sebelumnya Arya Wiguna membisiki agar jangan memakai Sundang Wilwatikta dalam adu tanding.


"Perkenalkan, saya Gupita, malam ini mohon diijinkan untuk berlatih adu tanding" ujar Gupita


Maka tak berapa lama Gumboro dan Gupita saling melancarkan jurus-jurusnya, sorak sorai ikut menyemarakkan adu tanding karena mereka melihat bahwa tamu Ki Buyut menampilkan jurus-jurus yang berbeda dengan yang selama ini mereka pelajari, jurus-jurus pukulan maupun tendangan dari Gupita mereka lihat cukup sederhana namun kelihatan penuh bertenaga, Gumboro mencoba mengimbanginya namun tak berapa lama Gumboro tak bisa lagi melanjutkan setelah sebuah tendangan memutar disertai kuncian membuatnya terjatuh dan terkunci sehingga pertandingan dinyatakan selesai.