Paregreg, Senjakala Wilwatikta

Paregreg, Senjakala Wilwatikta
episode sepuluh



Setelah turun dari kuda kemudian menambatkan kuda di dekat pagar milik Ki Buyut, maka keduanya kemudian melangkah menuju pendopo rumah milik Ki Buyut.


Saat yang sama dari samping rumah tampak seorang ibu yang melangkah menuju halaman rumah, maka kemudian Arya Wiguna dan Gupita segera menghampirinya.


"Permisi Bibi, kami pengin bertemu dengan Ki Buyut, apakah Ki Buyut ada di rumah Bibi?" ujar Arya Wiguna


"Kalian berdua ini siapa ya, kok Bibi seperti belum pernah melihat kalian berdua, apakah kalian bukan dari desa ini? " jawab Ibu itu


"Kami ini dua orang anak gunung yang sedang berkelana mencari pengalaman hidup Bibi, saya Arya Wiguna, dan teman saya ini Kakang Gupita, kami berasal dari lereng Gunung Pawitra, dan maksud kami berdua bertemu Ki Buyut adalah hendak mohon ijin menginap di banjar desa malam ini Bibi" jawab Arya Wiguna


"Oalah, pantesan kok Bibi ini tidak mengenal kalian berdua ini, sebab kalau pemuda di desa ini, baik yang di dusun induk ini atau dari dusun-dusun lainnya Bibi pasti satu dua kali pernah bertemu, apalagi yang sering ikut latihan beladiri di rumah ini, baiklah, kalian tunggu saja di pendopo, biar Bibi panggilkan Ki Buyut" ujar Bibi itu kemudian melangkah menuju ke dalam rumah Ki Buyut.


Tak lebih dari sepeminuman teh, dari dalam rumah tampak seorang lelaki paruh baya yang tampak gagah keluar dengan wajah yang terlihat ramah menghampiri Arya Wiguna dan Gupita yang duduk di pendopo rumah.


"Wah, mari-mari, maaf harus menunggu lama, perkenalkan Saya yang tua ini Satmoko yang diberi tugas menjadi Kepala Kabuyutan Gluntung ini, lalu anak muda berdua ini siapa ya, tadi istri saya bilang kalian pengin minta ijin menginap di banjar desa malam ini" ujar Ki Satmoko selaku tuan rumah sekaligus Buyut di desa itu.


"Lalu benar kalian ingin menginap di banjar kabuyutan malam ini?" tanya Ki Buyut


"Benar Ki Buyut, jika diijinkan malam ini kami ingin bermalam di banjar kabuyutan ini sebelum besok pagi melanjutkan perjalanan kami" ujar Arya Wiguna


"Tentu, tentu saja boleh Nak Wiguna, Nak Gupita, banjar kabuyutan itu memang disediakan bagi siapapun yang kemalaman dan hendak bermalam di kabuyutan ini" ujar Ki Buyut


Di sela-sela pembicaraan antara Ki Buyut dan kedua tamunya itu, istri Ki buyut keluar sambil membawa nampan yang berisi tiga buah gelas berisi minuman serta makanan kecil.


"Ayo, mari Nak, silahkan diminum, dan dimakan seadanya, maklum namanya juga di dusun yang jauh dari kota, ya seadanya seperti ini" ujar istri Ki Buyut mempersilahkan.


Demikianlah, maka obrolan antara Ki Buyut dengan Arya Wiguna dan Gupita menjadi semakin seru diselingi dengan menikmati makanan serta minuman yang disajikan oleh istri Ki Buyut.


"Demikianlah Nak Wiguna dan Nak Gupita, akhir akhir ini memang situasi dirasakan menjadi tidak aman, banyak kampung-kampung di kabuyutan yang jauh dari pengawasan prajurit sering didatangi perampok yang merampok hasil bumi yang disimpan di lumbung-lumbung pangan" ujar Ki Buyut