Paregreg, Senjakala Wilwatikta

Paregreg, Senjakala Wilwatikta
Episode 7



Silih berganti raja-raja menguasai Tumapel, namun akhirnya di era Kertanagara, keturunan raja Kediri, Jayakatwang yang menjadi penguasa Gelang-gelang berhasil membalas dendam kepada keturunan Jenggala dan meruntuhkan kerajaan Tumapel. namun kemudian ganti keturunan Tumapel, Nararya Wijaya mampu membalas dan mengalahkan Jayakatwang dan kemudian mendirikan kerajaan Wilwatikta.


"Jadi sebenarnya kamu itu keturunan trah mana Wiguna? " tanya Gupita setelah mendengarkan kisah masa lalu kerajaan-kerajaan di tanah Jawa.


"Ya kalau ditelusur jauh, baik ayahku maupun ibuku itu masih keturunan Tumapel semua kakang, jadi dari ayahku aku keturunan Tumapel yang berkuasa di Lamajang, yaitu Nararya Kirana, saudara dari raja Kertanegara, sementara ibuku adalah keturunan Nararya Ranajaya yang berkuasa di Hring " ujar Arya Wiguna


"Artinya mau dibolak balik seperti apa, kamu itu tetap keturunan bangsanwan dari ayah maupun ibumu ya" kata Gupita


"Ah, tidak ada bedanya bangsawan atau bukan kakang, toh mau bangsawan atau bukan kita tetap sama-sama suka makan jagung dan ubi" kata Arya Wiguna


"wah ya tidak bisa begitu Wiguna, kalau tidak denganmu yang sejak kecil bersama, kalau bicara dengan bangsawan, ya aku harus hormat, tidak bakal berani memanggil tanpa embel-embel raden terlebih dahulu" kata Gupita lagi.


" Ya sudah, besok kamu aku angkat jadi bangsawan juga biar tidak usah menyebut raden ke bangsawan yang lain" kata Arya Wiguna sambil tersenyum


" wah, ya tidak bisa begitu Wiguna, aku tidak punya keturunan bangsawan, mana bisa diangkat jadi bangsawan, ada ada saja kamu itu, ha ha ha" kata Gupita sambil tertawa


"tapi bisa saja kakang, jika nantinya kakang Gupita mau menjadi prajurit kerajaan, kemudian naik pangkat jadi senopati, atau misal saja jadi menantu seorang bangsawan, khan berarti kakang Gupita telah menjadi seorang bangsawan juga" jawab Arya Wiguna


Begitulah, Arya Wiguna dan Gupita menikmati perjalanan menuju wilayah Lamajang dengan santai dan bersenda gurau. Mereka yang baru pertama kali ini melakukan perjalanan jauh tanpa dibatasi waktu dan beban tugas menjadikan suasana perjalanan yang mereka lakukan serasa begitu menyenangkan dan menggembirakan. Desa demi desa mereka lalui, padang rumput, hutan-hutan kecil mereka lewati seakan-akan sedang melakukan tamasya saja.


Jika perut mereka lapar saat sedang di tepi sungai maka mereka dengan sigap segera mencari ikan yang banyak hidup di sungai-sungai, ikan lele, ikan tawas, ikan gabus sangat mudah mereka dapatkan di pinggir-pinggir sungai.


Lain waktu mereka berburu ayam hutan yang banyak berkeliaran di hutan-hutan kemudian mereka bakar dengan perapian.


Sementara jika kebetulan mereka berada di sebuah desa, maka warung atau pasar desa adalah tempat pertama yang mereka tuju untuk mengisi perut serta membeli tambahan bekal makanan serta minuman untuk mereka bawa di perjalanan.


Begitulah, sejauh ini perjalanan mereka sejak meninggalkan padepokan sampai hampir sepekan perjalanan tidaklah menemui hal-hal yang tidak mengenakkan walaupun di desa-desa yang mereka singgahi, mereka sering mendengarkan obrolan dari pedagang keliling yang menggambarkan bahwa keamanan di berbagai wilayah kedaton kulon maupun wetan menjadi menurun seiring ketegangan diantara dua kedaton itu. Pencurian serta pembegalan sering terjadi di desa-desa yang jauh dari pengamatan prajurit-prajurit serta di jalur-jalur perdagangan antar wilayah.


"sepekan yang lalu misalnya, di desa kecil yang masuk wilayah Kurawan, rumah kepala desanya disatroni sekawanan perampok, padi yang ada dilumbung semua diangkut para perampok, tak ada yang berani melawan, karena perampok-perampok berjumlah cukup banyak dengan senjata ditangan sementara di desa itu tidak ada yang menguasai ilmu beladiri sama sekali, kepala desanya juga sudah tua, sementara anaknya sejak beberapa tahun mengabdi sebagai prajurit di kraton Daha" ujar seorang pedagang


"Iya, aku juga mendengar berita perampokan itu dari seorang pedagang kain kemarin saat mampir di pasar desa Besalen, untung saja perampok-perampok itu tidak berlaku kejam, karena tidak ada perlawanan mereka hanya mengangkut padi dari lumbung dan tidak melukai satu pun warga desa" ujar pedagang yang lain


"Betul, jarang memang ada sekawanan perampok yang seperti itu, biasanya ada saja yang menjadi korban, kalau tidak terbunuh tentu beberapa mengalami luka-luka karena sabetan pedang atau klewang"