
Arya Wiguna dan Gupita selalu menyimak pembicaraan para pedagang keliling yang mereka temui di pasar-pasar desa atau warung-warung saat mereka berhenti untuk membeli makan saat perut mereka lapar. Dari berbagai perbincangan yang mereka dengar di beberapa kesempatan, mereka dapat menarik satu kesamaan cerita, situasi kerajaan sedang tegang, keamanan menjadi terganggu, pencurian, perampokan atau pembegalan sering terjadi di sana sini.
"Jika ketegangan antara kedaton kulon dan kedaton wetan terus berlangsung, apalagi jika sampai pecah perang saudara antara Bhre Wirabhumi dengan Kusumawardhani, dapat dipastikan keamanan negara akan semakin tidak karu-karuan, para prajurit pasti disibukkan dengan peperangan dan melupakan tugasnya menjaga keamanan masyarakat, apalagi masyarakat di desa-desa yang jauh dari kota" panjang lebar Arya Wiguna bicara mengenai keprihatinannya menyangkut masa depan kedaton kulon dan kedaton wetan.
"Betul sekali Wiguna, dan yang paling menderita adalah rakyat yang tidak tau apa-apa perihal pertikaian para pembesar negara itu" Gupita menanggapi apa yang disampaikan oleh Arya Wiguna.
"Jika menyimak apa yang disampaikan oleh para pedagang itu, maka para perampok itu biasa melakukan aksinya di malam hari saat warga desa telah terlelap, maka ada baiknya kita mencoba saja menginap di salah satu desa yang terpencil kakang, siapa tau kita beruntung bisa bertemu dengan para perampok itu dan memberi pelajaran pada mereka" usul Arya Wiguna
"Wah, usulmu sangat menarik Adi Wiguna, aku setuju sekali" ujar Gupita bersemangat.
Maka setelah bersepakat tentang usulan menginap di satu dusun yang jauh dari pengawasan prajurit kraton, maka mereka kemudian mengarahkan kuda-kudanya meninggalkan desa yang ramai itu menuju ke arah kaki gunung yang cukup jauh dari kota dan desa lain.
Setelah satu demi satu desa mereka lewati, kini mereka telah sampai di padang ilalang yang cukup luas, sementara di kejauhan nampak satu dusun yang tidak terlalu besar di seberang padang ilalang yang memisahkan dusun di depan dengan dusun terakhir yang telah mereka lewati tadi.
Setelah beberapa lama mereka melewati jalan di pinggir padang ilalang itu, sampailah mereka di tepi sungai kecil yang jernih airnya, sementara di seberang tampak hamparan sawah serta dusun yang tampak di belakanf hamparan sawah itu.
"Baiklah Adi, rasanya memang kalau melihat sungai yang jernih seperti ini kalau tidak berenang kok rasanya rugi sekali, he he" kata Gupita
Begitulah, maka Arya Wiguna dan Gupita kemudian mencari tepian sungai yang cukup sepi dan berpasir serta terlindung dari sengatan sinar matahari untuk menunggu waktu sore sambil beristirahat sebelum nantinya memasuki dusun yang ada di seberang sungai.
Setelah mendapatkan tempat yang dirasa sesuai dengan keinginan mereka, mereka lalu menambatkan kuda-kudanya di dekat rerumputan yang tumbuh subur di pinggir sungai.
Kemudian tanpa janjian, Arya Wiguna dan Gupita lalu melepas baju mereka dan menceburkan diri ke sungai yang airnya jernih tersebut.
Keduanya tampak riang berenang-renang di sungai itu, hal yang tak pernah mereka lakukan di padepokan yang tidak ada sungai di dekatnya, sehingga kegiatan berenang di sungai bagi mereka adalah hal baru yang menggembirakan dan menyenangkan.
Tak terasa matahari mulai berada di sisi barat laut, keduanya juga tampak mulai kedinginan setelah sekian lama berendam di sungai, maka keduanya kemudian mengganti kain yang basah dengan yang kering dan menjemur kain basahnya di bebatuan yang panas ditimpa sinar matahari sejak pagi.
Kemudian mereka mengambil bekal makanan yang mereka beli di warung dekat pasar desa terakhir yang mereka singgahi tadi. Keduanya tampak lahap memakan hidangan sederhana yang terasa nikmat saat perut mereka lapar itu.