
Sesampainya di rumah sakit, Saga disuguhkan dengan pemandangan sepasang laki-laki dan perempuan yang saling menguatkan satu sama lain. Langkahnya ia percepat hingga sampai tepat di depan ruangan yang kabarnya tempat dimana Reyhan ditangani oleh dokter.
Sejak tadi ia tidak berhenti merapalkan doa untuk kesembuhan adiknya. Ia berharap Tuhan tidak akan membawa adiknya itu pergi jauh darinya.
Tak lama setelah Saga sampai, dokter keluar dari ruangan.
"Dengan keluarga pasien?"
"Ehm s-saya dok. Saya kakaknya. B-bagaimana kondisi adik saya dok?" Tanya Saga gugup saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan di mana Reyhan dirawat.
Dokter menatap ke arah Saga, Kinan dan David secara bergantian. David merangkul pelan bahu Kinan guna membantu wanita itu berdiri. Mereka siap mendengarkan pernyataan yang akan diberikan dokter tentang kondisi Reyhan.
"Alhamdulillah pasien sudah sadar. Keadaannya juga tidak separah saat ia dibawa ke rumah sakit. Tapi untuk kedepannya, kami masih harus memeriksa perkembangan kesehatan dari pasien. Jika kalian ingin menjenguk, kami persilahkan." Dokter menjelaskan bagaimana keadaan Reyhan saat ini. Namun pandangannya terus saja tertuju ke arah Saga.
"Terima kasih dokter Eunwoo." Ujar David pada dokter di depannya.
"Sama-sama. Jika ada sesuatu yang terjadi, langsung panggil aku Kinan." Ujar dokter Eunwoo pada Kinan yang berdiri tepat di sebelah David.
"Terima kasih sekali lagi."
"Tidak perlu berterima kasih pada sahabat sendiri. Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu." Pamit dokter Eunwoo.
"Rey....." Saga tertegun ketika melihat kondisi adik tirinya. Wajah yang penuh dengan lebam dan jangan lupakan infus yang menempel pada tangan mungil milik adiknya.
"L-lo kok bisa tahu gue di sini?" Reyhan terkejut ketika sosok Saga lah yang ia lihat pertama kali saat pintu ruangannya dibuka.
"Gue berhak tahu. Dan lo, kenapa bisa sampai kayak gini???" Aura dingin tiba-tiba menyelimuti antara Saga dan Reyhan.
David dan Kinan yang melihatnya berusaha mencari cara agar kedua kakak adik itu bisa akur kembali. Kedua insan itu tidak tahu bahwa sepasang kakak adik di hadapan mereka tidak pernah akur selama ini.
"Ehm Rey, gimana kondisi kamu? Ada yang sakit nggak?" David berusaha untuk mengisi keheningan di ruangan tersebut. Sedangkan Saga hanya menatap dingin ke arah Reyhan. Kinan mendekat ke arah Reyhan. Wanita itu menyibak rambut Reyhan yang menutupi penglihatan remaja itu.
"A-aku baik-baik saja paman. Nggak ada yang sakit kok. Besok juga pasti udah sembuh." Rey mencoba tersenyum ke arah semua orang. Walaupun senyumnya terkesan kikuk terutama bagi Saga.
"Nama kamu siapa nak?" Kinan kini menatap Saga yang berada lumayan jauh dari mereka bertiga.
"Nama saya Saga. Kakak Reyhan." Remaja itu memberi penekan pada kalimat terakhir. Sedangkan Reyhan hanya menatap kesal ke arah Saga. Sejak kapan Reyhan menganggap Saga sebagai kakaknya? Itu tidak akan pernah terjadi. Pikir Reyhan.
"Ah kamu kakaknya Rey. Perkenalkan, nama saya David dan ini teman saya Kinan. Kami yang membawa Reyhan ke rumah sakit. Maaf tidak sempat mengabari keluarga kalian terlebih dahulu. Saya terlalu khawatir saat melihat kondisi Reyhan beberapa saat yang lalu." David meminta maaf karena telah lancang membawa Reyhan tanpa mengabari keluarga dari remaja itu.
Flashback.
Entah kenapa sejak David meninggalkan Reyhan sendirian di mansion Adhitama, perasaannya menjadi sangat tidak tenang.
"Kenapa jadi nggak enak gini ya? Telpon Kinan aja deh."
...Kinan...
Calling
"Hallo bos. Kenapa malem-malem telpon anak buah?"
"Yang sopan sama bos. Eh ini perasaan gue kok jadi nggak enak ya Nan?"
"Nggak enak? Maksudnya?"
"Ini gue baru aja nganter Reyhan pulang. Tapi tuh anak sendirian di rumahnya. Awalnya gue nggak tega nih ninggalin sendirian. Tapi dia ngeyel nggak bakal terjadi apa-apa."
"Lo tuh punya otak dipakai nggak sih pak? Kok bisa ninggalin anak kecil di rumah sebesar itu. Jemput gue sekarang. Kita temuin Reyhan. Perasaan gue juga nggak enak daritadi."
"Lo juga?"
"Iya, sejak lo pulang sama Reyhan dari rumah. Udah nggak tenang daritadi. Buruan jemput gue."
"Iya gue otw ke rumah lo. Tungguin."
Setelah cukup lama menunggu, Kinan dapat melihat mobil milik David memasuki pekarangan rumahnya.
"Ayo buruan naik."
Kinan segera membuka pintu mobil samping pengemudi dan duduk di kursi telat sebelah David. Mereka bergegas menuju mansion milik Jay Adhitama.
Saat sampai tepat di depan gerbang mansion tersebut, David dan Kinan segera turun dari mobil. Tanpa pikir panjang, David menerobos masuk karena gerbang tidak di kunci.
Langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa mansion itu dalam keadaan gelap gulita sejak ia datang bersama Kinan. Pintu utama yang sedikit terbuka membuat rasa penasaran David kian membuncah. Dengan langkah pelan David memasuki mansion milik Jay.
Bugh
David terjatuh ketika ia merasakan ada sesuatu yang menghalangi langkah kakinya.
"Kinan, nyalain senter buruan."
"REY!!!" David dan Kinan sama-sama terkejut ketika melihat keadaan Reyhan yang sudah tidak berdaya. Wajahnya penuh dengan luka lebam dan jangan lupakan darah yang sejak tadi mengalir dari kedua lubang hidung milik Reyhan. Tangan Reyhan meremat bagian perutnya.
"T-tolong b-bunda....." Rintih Reyhan sebelum kegelapan mengambil seluruh penglihatannya.
"Mas bawa Reyhan ke rumah sakit sekarang!!!" Kinan berteriak menyadarkan David dari lamunannya. Tujuannya saat ini adalah membawa Reyhan ke rumah sakit agar anak itu segera mendapatkan pertolongan untuk semua luka yang ada pada tubuh anak itu.
Flashback end.
"Tidak apa-apa paman. Aku mengerti situasi paman. Maaf karena kami telah merepotkan paman dan bibi." Saga tersenyum ramah ke arah David dan Kinan. Jelas sangat berbeda saat ia berhadapan dengan Reyhan.
'Dasar topeng palsu....' Batin Reyhan yang kesal saat melihat Saga tersenyum ramah ke arah David dan Kinan.
"Maaf bukan bermaksud untuk tidak baik, tapi lebih baik paman dan bibi pulang saja. Biar Saga yang menjaga Reyhan disini. Ini sudah sangat malam. Dan Saga sekali lagi minta maaf telah menganggu waktu istirahat kalian." Saga sekali lagi meminta maaf pada David dan Kinan. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang yang kini ditempati Reyhan.
"Ah tidak, aku sudah menganggap Reyhan seperti anakku sendiri. Jadi ini sama sekali bukan masalah besar. Rey, paman dan bibi pulang dulu. Besok kami akan menjengukmu. Cepat sembuh, nanti akan paman ajak kamu liburan bersama." Pamit David pada Reyhan. Tangannya mengusap lembut surai milik remaja di hadapannya saya ini.
'Nih orang kenapa jadi sok baik sih.....pakai segala ngusir paman sama bunda.' Batin Reyhan kesal pada Saga. Matanya tidak lepas ke arah Kinan. Seolah meminta untuk tidak ditinggalkan berdua dengan Saga. Namun, David terlanjur menarik pelan lengan Kinan untuk segera meninggalkan ruangan itu.
"Siapa pelakunya???"