PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 11



3 Hari Kemudian.....


"Eh lo yang duduk di sofa. Bilangin ke dokter ya, gue Reyhan Gionino Adhitama mau pulang sekarang juga!!!" Reyhan menekankan suaranya pada kalimat terakhir.


"Pulang minggu depan."


"Ogah markonah. Dih dikira gue sakit apaan. Gue mau pulang sekarang juga." Reyhan turun perlahan dari ranjang miliknya.


"Nih anak badung banget kalo dibilangin." Saga mencoba menahan Rey dari aksi turun ranjangnya.


"Aduh, lo kalo mau ngehalangin juga nggak papa. Tapi ya jangan diteken ini tangan gue sakit beg*" Reyhan mengadu kesakitan akibat pergelangan tangan yang tanpa sengaja Saga cengkeram dengan kuat.


"Sorry nggak sengaja."


"Yang ikhlas kalo minta maaf. Tahu-tahu kuburan lo sempit kan jadi berabe nantinya."


Beruntungnya Saga memiliki stok kesabaran yang tinggi untuk menghadapi Reyhan.


"Permisi....."


"Selamat datang dok. Maaf ini tadi anaknya keburu pengen pulang." Saga sedikit merasa tidak enak hati pada dokter Eunwoo karena saat ini posisi Reyhan berdiri tepat disampingnya. Tangan Reyhan mencoba untuk melepas jarum infus yang berada di tangan remaja itu.


"Dok maaf-maaf nih. Reyhan sih betah-betah aja di sini. Tapi perut Reyhan yang nggak betah dok. Kangen pacarnya dok." Ujar Reyhan dengan mimik serius pada Eunwoo.


"Pacar?"


"Iya. Pacar tersayang...."


"Siapa?" Kini giliran Saga yang bertanya. Pasalnya ia belum pernah melihat Rey dekat dengan seorang perempuan tapi tiba-tiba anak itu mengklaim sudah memiliki pasangan.


"Gorengannya bu Ayu."


"Gorengan?"


"Iya dok. Enak banget dok. Sumpah ya Reyhan nggak bohong. Itu gorengan hotel bintang lima sih. Untung aja sekolah ngasih tempat bu Ayu buat jualan di sekolah. Kalo nggak mah, Reyhan nggak bakal bisa ngerasain gorengan yang uuueeennnakkk banget. Dokter mau coba? Lain kali deh kalo Rey kesini Rey bawain gorengannya. Tenang aja, gratis. Apalagi kalo bu Ayu tahu gorengannya buat dokter, beuh auto digratisin semua sama bu Ayu." Jelas Reyhan panjang lebar.


Pletak


"Aduh dok....lapor polisi dok. Ada tindak kekerasan di rumah sakit dok. Biar trending nanti rumah sakitnya. Judulnya nanti tindak kekerasan telah dilakukan oleh seorang kakak kepada adik tirinya dengan dalih penyaluran rasa sayang. Namun naas, kejadian berakhir tragis dengan sang kakak yang harus masuk bui karena tindak kekerasan tersebut. Seru pasti...."


"Rey, jangan seperti itu. Saga kakak yang baik lho. Dia udah jaga kamu berhari-hari. Lihat kantung matanya. Dia rela nggak makan juga demi jagain kamu." Ujar dokter Eunwoo.


"Iya deh Rey minta maaf. Tapi Rey harus boleh pulang hari ini."


"Dokter periksa dulu. Kamunya jangan kebanyakan gerak. Kaya cacing kepanasan aja."


"Wah dokter bisa bercanda ya. Rey kira dokter mah pendiem, dingin, cool gitu."


"Saya juga manusia biasa Rey. Udah kembali ke posisi kamu dulu."


"Bentar dok sabar. Ini susah naik ranjangnya."


"Makanya badan tuh tumbuh ke atas bukan ke samping." Sahut Saga saat melihat adiknya kesusahan untuk kembali menaiki ranjang.


Reyhan yang mendengar ucapan Saga hanya bisa mendelik tajam. Seandainya tidak ada dokter Eunwoo di sana. Sudah dipastikan nyawa Saga menjadi taruhan.


"Reyhan sudah boleh pulang. Tadi di anter sama Saga." Ujar David mengabari Kinan. Mereka berdua saat ini masih berada di makam Kirana. Sahabat mereka.


"Ra, gue izin pamit dulu ya. Tenang aja gue nggak marah buat kejadian di masa lalu. Gue malah berterima kasih ke lo Ra. Terima kasih udah nyelamatin anak yang nggak bersalah dari keegoisan gue."


"Nan...."


"Maaf gue jadi keinget kejadian dulu."


"Kita pergi sekarang ya...." Ajak David pada Kinan yang dibalas anggukan oleh wanita itu.


"Akhirnya gue pulang."


"Nggak usah banyak tingkah. Baru aja dibolehin pulang." Saga menatap tajam ke arah Reyhan.


"Kenapa sih pagi-pagi sensi banget sama gue. Dah turunin gue dari sini."


"Pak berhenti di sini aja." Reyhan menepuk pelan bahu supir taksi yang ia tumpangi.


Taksi yang ia tumpangi pun berhenti sesuai permintaan Reyhan. Dan anak itu melangkah keluar tanpa mendengar larangan kakaknya.


"Dah ya gue balik. Bukan apa-apa sih. Takutnya kalo papa mama lihat lo sama gue. Bisa habis gue digorok papa." Reyhan berjalan menjauh dari Saga. Ia berhenti di salah satu bengkel yang berada tak jauh dari mereka.


"Pak, motor saya udah bisa dipakai lagi?"


"Oh udah mas. Ini habis 500 ribu."


"Ini uangnya pak. Makasih banyak ya pak."


"Dari mana aja?" Aura tiba-tiba saja berubah menjadi mencekam. Reyhan hanya bisa terdiam ketika melihat ayahnya berdiri tepat di depannya.


"Kalo ditanya tuh dijawab!!!" Sentak Jay pada Reyhan yang baru saja memasuki rumahnya.


"Papa kasih tanggungjawab buat jaga rumah aja kamu nggak becus. Udah seneng liburan panjangnya? Nyaman di luar? Nggak betah kamu di rumah?" Jay mendekat ke arah Reyhan. Menatapnya tajam. Mencengkeram kedua bahu milik anaknya.


'Pa.....sakit.....'


Plak...


Tamparan begitu keras Reyhan dapatkan dari tangan ayahnya sendiri. Rasanya begitu sakit. Lebih sakit dari pukulan dan tamparan yang ia dapat dari orang lain. Termasuk Demian, kakeknya.


"Kenapa diem aja? Nggak berani jawab kaya biasanya? Lihat!!! Semua barang di rumah pecah. Penjahat udah bawa hampir semua barang berharga di rumah ini!!! Dimana kamu saat itu? Harusnya kamu ada buat cegah mereka!!!" Reyhan hanya bisa terdiam mendengar apa yang ayahnya katakan.


'Pa.....Rey hampir aja mati pa.....'


"Papa udah rela berkorban banyak untuk kamu. Dan ini balasannya??? Dasar anak pembawa sial!!!"


Hati Reyhan seketika dihujam beribu-ribu jarum ketika mendengar pernyataan ayahnya. '*Anak pembawa sial*' baru kali ini Jay mengatakan hal itu. Pertama kali Reyhan mendengar secara langsung dari ayahnya.


"Pa-"


"Diam kamu Saga. Jangan bela adik kamu yang nggak tahu diri ini. Papa nggak mau kamu berharap kaya papa dulu ke anak ini. Berharap bahwa dia bisa jadi anak yang baik. Ternyata jauh dari harapan papa. Dia anak yang nggak tahu diri. Selalu bawa masalah. Dan nggak pernah becus ketika mendapat tanggungjawab." Jay menyela Saga dan mengucapkan kata-kata yang sangat menyakiti hari Reyhan.


Tanpa di sadari liquid bening jatuh membasahi pipi Reyhan. Ia menunduk dalam. Enggan untuk memperlihatkan air matanya pada semua orang. Bi Minah ada di sana. Ia memandang Reyhan dengan iba. Ia tidak tega melihat ini. Tapi ia juga tidak bisa melakukan sesuatu. Menyesal adalah kata yang bisa menggambarkan perasaan bi Minah saat ini.


"R-Rey m-minta maaf pa...." Lirih Reyhan dengan kepala yang masih menunduk.


"Nyesel saya udah pertahanin kamu." Ujar Jay sebelum ia meninggalkan ruangan tempat yang menjadi saksi di mana ia menampar putra kecilnya untuk pertama kali.


Saga menatap Reyhan dari jauh. Ingin tangannya menampar balik Jay Adhitama. Tania berlari ke arah Reyhan sesaat setelah Jay pergi menuju kamarnya. Tania merengkuh tubuh Reyhan dengan pelan. Mengusap punggung itu dengan perlahan. Ia bisa merasakan isak tangis yang Reyhan keluarkan.


"Reyhan anak mama.....sayangnya mama.....sumber kebahagiaan mama....permata indah yang mama miliki....." Lirih Tania di dekat telinga Reyhan. Berusaha untuk menenangkan sang anak.


Saga melihat semuanya. Bagaimana ibunya memeluk dengan sayang tubuh ringkih milik Reyhan. Melihat begitu besar kasih sayang Tania untuk Reyhan, adik tirinya.


'Terima kasih Rey. Lo udah jadi bahagianya mama di saat gue nggak ada di sampingnya.'


"Apa Rey boleh pergi ma? Pergi jauh dari kalian......semua terasa hampa ma. Papa yang dulu aku kenal.....sudah tidak ada. Sosoknya ada secara nyata tapi hangatnya sosok itu sudah hilang bagi Reyhan. Sakit ma....bantu Rey ma....." Lirih Reyhan di sela isak tangisnya.


"Nggak nak. Kamu nggak boleh pergi. Kamu nggak bisa tinggalin kami begitu saja. Mama nggak bisa hidup tanpa ada kamu Reyhan. Putra kecil mama.....semua akan baik-baik saja. Papa akan kembali seperti dulu nak. Mama akan bantu Reyhan bangkit....." Tania mengeratkan pelukan hangatnya untuk Reyhan.


'Lo nggak boleh pergi Rey. Gue nggak akan biarin itu terjadi. Gue akan selalu jaga lo.'