PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 14



'Dia laki-laki kak. Lihat, matanya sama kaya kamu. Tapi pipinya mirip sama aku. Chubby ya nak.....'


'Gantengnya nurun dari aku sayang....'


'Iya jelas. Kamu kan ayahnya. Dia lahir tepat saat matahari terbit kak......'


'Kita kasih nama siapa?'


'Terserah kakak sih....Selama itu mengandung makna yang baik, aku setuju kak.'


'Aditya Raka Mahendra'


'Aku setuju kak. Namanya bagus banget. Oh ya, artinya apa kak?'


'Artinya seorang yang ceria dan bersinar bagai matahari serta sabar dalam menghadapi segala ujian dari Tuhan Yang Maha Esa.'


'Arti nama kamu bagus banget nak. Bunda sama ayah akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu.....'


"Ayo masuk nak. Maaf kalo rumahnya sedikit berantakan. Bapak belum sempat beresin rumah." Ajak Eunwoo pada Reyhan yang masih berdiri di depan pintu masuk.


"Pak....."


"Iya?"


"Terima kasih banyak....."


"Sama-sama. Ya udah, bapak mau masak buat makan malam kita. Kamu mandi dulu aja. Untuk barang-barang, biar bapak minta tolong sama mang Ujang."


"Siap pak. Reyhan mandi dulu ya pak....."


"Iya nak....."


'Terima kasih Tuhan. Engkau telah mempertemukan aku dengan Reyhan. Aku akan menjaganya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Aku berjanji akan hal itu. Dan aku mohon Tuhan. permudahkanlah segala urusan kami serta limpahkan kebahagiaan dalam keluarga kecil hamba dengan putra hamba, Reyhan.'


"Reyhan dimana?" Sejam yang lalu, Jay akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Dan sosok pertama kali yang ia cari adalah Reyhan. Sebelum kecelakaan terjadi, Jay berniat untuk meminta maaf karena telah berlaku kasar pada anak itu.


"Jangan pernah mencarinya. Dia sudah pergi." Tegas Demian saat mendengar Jay yang menanyakan Reyhan.


"Pergi? Kemana? Tania, kau memberinya izin pergi kemana?" Kini Jay beralih bertanya pada istrinya. Tania hanya bisa terdiam menahan air mata yang rasanya sudah menumpuk di pelupuk mata.


"Dengarkan papa Jay. Anak itu sudah pergi jauh. Sangat jauh. Jangan pernah mencarinya lagi atau membawa dia kembali." Tegas Demian sekali lagi pada Jay. Sedangkan putranya itu hanya mengernyit bingung sambil menatap satu persatu dari mereka. Dan tatapannya berhenti pada satu sosok yang berdiri agak jauh darinya.


"Kinan?!!!"


       Sontak semua mata tertuju pada wanita yang kini sedang menyembunyikan wajahnya pada dada bidang David. Isak tangis yang sejak tadi belum berhenti, membuat Kinan malu jika orang lain melihatnya saat ini.


Saat ia mendengar seseorang memanggilnya, Kinan langsung menatap sumber suara itu.


"Alex?"


"Alex???" Tania membeo ketika mendengar Kinan memanggil nama yang asing baginya. Namun, tatapan wanita itu tertuju pada suaminya.


       Kinan yang melihat Jay sontak menangis ketakutan. Trauma itu kembali. David yang melihat Kinan langsung saja memeluk wanita itu dengan erat. Mengusap punggung wanita itu dengan hangat.


    


      


       "Kita harus pergi Dav....." Lirih Kinan dalam pelukan David. Laki-laki itu akhirnya pamit pada semua orang dan membawa Kinan pergi.


"KINAN!!!" Jay berteriak ketika melihat Kinan pergi dari hadapannya. Semua mata kini tertuju padanya. Dan Kinan memutuskan tetap pergi meskipun Jay berusaha menghentikan dirinya.


"Kau kenapa?!" tanya Demian dengan suara lantang.


      Namun, bukan jawaban yang Demian dapat. Jay, laki-laki itu terisak pelan dalam pelukan Tania.


      Tak lama dokter pun datang dan meminta mereka untuk keluar dari ruangan Jay agar putra Demian Adhitama itu bisa beristirahat dengan tenang.


"Kinan tenanglah.....ceritakan padaku ada apa?" David berusaha menenangkan Kinan. Ia membawa wanita itu ke taman rumah sakit.


"Dia pelakunya....."


"Pelaku apa Nan? Coba lebih jelas lagi, gue nggak paham...."


"Dia Dav!!! Dia yang udah hancurin hidup gue....."


"Dia yang udah hancurin masa depan gue Dav!!!" teriak Kinan ketika tidak lagi mampu menahan emosinya. David langsung membawa Kinan kembali ke pelukannya.


"Apa dia ayah dari......?"


     David mendapatkan jawaban dari Kinan. Wanita itu mengangguk lemah ketika David membahas laki-laki brengsek yang telah menghancurkan sahabatnya.


"Kita pulang ya....."


***


    


"Wah bapak masak banyak banget!!!" Reyhan terpukau ketika melihat meja makan yang penuh dengan makanan.


"Makanan hari ini spesial untuk menyambut kedatangan anak bapak." Ujar Eunwoo sambil tersenyum bahagia ke arah Reyhan.


"Kamu duduk dulu gih. Bapak mau ganti baju dulu." Eunwoo berjalan menuju lantai atas menuju kamarnya.


"Masakan bapak enak banget. Kapan-kapan ajarin Reyhan pak. Pengen banget Reyhan tuh bisa masak makanan enak kaya gini." Reyhan terlihat sangat tertarik dengan rencana yang ia buat.


"Siap. Bapak akan ajari kapan pun Reyhan mau." Sahut Eunwoo dengan nada yang sangat ramah.


       Eunwoo menatap manik legam milik dengan seksama. Wajah anak itu mengingatkan dirinya akan putra satu-satunya yang telah lama pergi jauh dari sisinya. Dan sosok wanita yang begitu amat sangat ia cintai.


Kirana. Wanita yang begitu anggun dan sangat cantik. Bahkan bagi Eunwoo tidak ada yang lebih indah daripada melihat paras dari istrinya.


"Oh ya Rey, bapak sudah daftarkan kamu di sekolah yang baru. Besok bapak anter kamu ke sana. Kita lihat-lihat dulu aja. Nanti kalo kamu nggak suka, bapak daftarin kamu ke sekolah lain." Ujar Eunwoo sambil tersenyum ramah ke arah Reyhan.


"Bapak gimana atuh. Orang Reyhan udah di daftarin ya Reyhan terima atuh pak. Masa iya Reyhan nyari sekolah lain lagi." Jawab Reyhan sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Kalo kamu nggak suka ya nggak papa nak. Kita pindah ke sekolah lain." Balas Eunwoo sambil menggenggam tangan sang anak.


"Nggak deh pak. Nanti bapak dimarahin pihak sekolah. Berabe nanti urusannya."


"Nggak kalo itu mah. Kebetulan pemilik dari sekolahan itu temen bapak. Namanya om Teri." Jelas Eunwoo sambil membersihkan sisa makanan yang ada di sekitar mulutnya.


"Ini Rey masuk jalur orang dalam ya pak?" tanya Reyhan pelan.


"Meskipun orang dalam, nilai kamu lebih dari cukup untuk bisa di terima nak. Lagipula di sana juga sedang membutuhkan seorang siswa baru." Reyhan mengangguk pelan mendengar penjelasan lawan bicaranya.


"Biar Rey yang beresin pak." Cegah Reyhan saat melihat Eunwoo mulai membersihkan meja makan.


"Kamu lanjut tidur aja. Biar bapak aja. Besok kamu harus bangun pagi." Jawab Eunwoo sambil mengusap pelan pucuk kepala Reyhan.


"Biar adil berdua aja pak. Sini Rey bantuin." Ujar Reyhan sambil mengambil tumpukan piring kotor yang ada di tangan Eunwoo. Laki-laki yang lebih tua hanya bisa tersenyum pada remaja muda yang kini ia anggap seperti anaknya sendiri.


Tok tok tok......


     "Selamat pagi om!!!"


      Masih begitu pagi untuk orang bertamu. Entah siapa yang tanpa malu bertamu di rumah orang pada pukul 06.00 pagi.


      Reyhan membuka matanya perlahan. Mencoba mengumpulkan nyawa dengan cepat. Setelah di rasa semua nyawanya berkumpul, Reyhan segera menuju pintu utama rumah.


    


"Sebentar!!!" Teriaknya saat di tengah perjalanan untuk membukakan pintu tamu paginya.


Ceklek


"Siapa???" Tanya Reyhan saat menemukan dua sosok remaja yang terlihat seumuran dengannya. Lebih tepatnya seumuran dengan Sagara.


"Siapa?!!!" Tanya Reyhan sedikit geram dengan dua orang di depannya. Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Reyhan, dua remaja itu malah mengamati dirinya dari atas hingga bawah.


"Ini beneran lo??? Kok om Wowo nggak kasih info apa-apa? Apa gue udah jadi anak tirinya sampai info kek gini aja nggak dikasih ke gue???" Salah satu dari mereka terlihat begitu lebay menurut Reyhan. Tubuhnya digoncang dengan kuat.


"Ini beneran lo Rak?!!"


       "Akhirnya gue ketemu lo lagi.....maafin gue ya. Dulu pas lo salam pisah, gue belum sempet beliin lo cirengnya mang Jamal depan sekolah. Gue nyesel banget Rak. Jangan lagi tinggalin kita ya. Kasihan tahu om Wowo nggak pernah lagi ketawa sejak lo pergi jauh. Makan aja sering telat, padahal dia sendiri dokter yang selalu ngingetin kita buat makan teratur. Eh sendirinya kagak teratur."


"Om Wowo sangat sayang sama lo Rak. Jangan pernah berpikir kalo beliau nggak sayang lo cuma gara-gara nggak sering di rumah. Bahkan om Wowo sempet hilang arah saat lo pergi jauh dari dia. Jangan lagi kepikiran buat bunuh diri ya Rak. Kasihan om Wowo. Gue kira dia bakal nyusul lo waktu itu, karena baru kali itu gue lihat dia dalam keadaan sehancur-hancurnya."


"Dia bilang masa depan dia udah hancur di saat lo nggak ada di sisinya. Gue nggak yakin kalo lo masih hidup sih Rak, entah ini di depan gue hantu apa nggak gue nggak peduli. Yang penting gue udah bilang ke lo kalo bokap lo sangat menyayangi seorang Raka......"


       Reyhan terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh dua remaja di depannya. Salah satu dari mereka memeluk dirinya dengan sangat erat. Sedangkan yang satu terisak pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Kalian siapa? Raka siapa?" tanya Reyhan dengan lirih.


"Hah???"


      "Jevan Jovin!!! Kalian di sini???" Sosok Eunwoo muncul dari dalam rumah. Sambil tersenyum ramah ke arah dua remaja yang kini masih berdiri di depan pintu rumahnya.


"Reyhan ajak mereka masuk nak!!!" Teriak Eunwoo dari arah dapur.


"Reyhan???"