PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 4



       


       "Rey pulang....." Ujar Rey saat memasuki rumah. Namun tak ada yang menanggapi ucapan tersebut. "Ma, pa, abang?" Panggil Rey saat kakinya sampai di ruang keluarga.


       "Nak Rey sudah pulang?" Tanya salah satu pembantu di rumah Jay. "Eh iya bi. Tumben sepi bi, orang-orang pada kemana ya?" Tanya Reyhan pada bibi pembantu tadi. "Oh tuan besar dan nyonya tadi pergi keluar bersama tuan muda Dion, tuan muda Vino dan tuan muda Saga." Jawab bibi tersebut. "Pergi? Kemana bi?" Tanya Reyhan lagi. "Setahu saya mereka pergi ke rumah tuan Jeffrey." Jawab bi Minah. "Oh gitu ya bi. Makasih ya bi. Rey mau ke atas dulu." Pamit Rey sebelum berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.


...Papa sumber cuan💵...


^^^Pa, Rey udah pulang di rumah. Kalian lagi di rumah papi Jeff ya?^^^


Iya


^^^Oh ya udah kalo gitu. Rey istirahat dulu ya pa. Bye pa🥰^^^


👍


        "Enaknya ngapain ya? Sepi banget kagak ada temen. Haikal pasti lagi family time. Gue? Sendirian di rumah." Lirih Reyhan sambil menatap sekilas foto bahagia sebuah keluarga. Foto ketika ia masih sangat kecil berada di pelukan sang ayah. Sedangkan kedua kakaknya berdiri tak jauh darinya. Memegang pipi chubbynya yang kini telah hilang.


       "Rey kangen kaya dulu lagi......" Lirih Reyhan. Tanpa ia sadari sebulir air mata jatuh membasahi pipinya. Tangannya menggenggam erat sebuah boneka kecil hadiah ulang tahunnya saat menginjak usia lima tahun. Ia teringat akan kenangan di mana Jay mempertahankan dirinya dan memilih untuk melawan keputusan kakeknya.


      Ia bisa melihat betapa Jay menyayanginya. Namun kakeknya tidak pernah membiarkan dirinya hidup tenang dengan ayahnya. Selalu ada saatnya pria paruh baya itu memfitnah cucunya sendiri. Tujuannya hanya satu. Ia ingin menjauhkan Reyhan dari keluarganya terutama dari Jay, putranya. Dan Rey sadar akan itu. Ia hanya diam. Bagaimanapun juga pria itu adalah kakeknya. Jikalau pun ia ingin mengungkapkan kebenarannya, itu akan percuma saja. Tidak ada yang berpihak padanya disaat kakeknya menyalahkan dirinya.


      Rey sedikit terkejut ketika ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Ia melihat dengan perlahan. Ternyata Tania yang mengirimnya.


...Mama Tania❤...


Rey, kamu udah di rumah nak?


^^^Sudah ma.^^^


Kamu udah makan malam?


^^^Sudah ma, Rey tadi makan malam di rumah Haikal.^^^


Kamu ingin titip apa sayang? Sebentar lagi kami pulang. Maaf ya meninggalkanmu sendirian di rumah. Opa Demian menyuruh kami untuk segera datang ke rumah papi Jeff.


^^^Nggak papa ma. Lagian Rey juga berani kok di rumah sendiri. Ini juga ada bi Minah yang nemenin Rey di rumah.^^^


^^^Rey nggak nitip apa-apa ma. Udah kenyang 😁^^^


Beneran? Biasanya kamu suka ngemil Kentang goreng malem-malem.


^^^Mama tahu aja kebiasaan Rey😅^^^


Tahu dong. Kamu kan anak mama. Ya udah nanti mama beliin kamu kentang goreng sama martabak. Kamu makan di kamar atau di meja makan?


^^^Rey makan di kamar aja boleh ma? Takut ganggu papa sama yang lain.^^^


Iya udah nanti mama anterin ke kamar kamu.


^^^Makasih banyak ma❤^^^


Iya sama-sama sayang ❤


        Rey sedikit senang ketika mendapat perhatian dari salah satu anggota keluarganya. Tania, meski wanita itu hanya ibu tiri, namun perlakuan Tania untuknya begitu baik layaknya kepada anak kandungnya. Rey sangat menyayangi Tania. Wanita itu yang selalu menghiburnya ketika hampir semua anggota keluarga memarahi dan mencemooh kehadirannya.


       Sejak kedatangan Sagara, anak kandung ibu tirinya, Rey tidak pernah bisa merasa tenang. Ia takut jika semua perhatian Tania pada dirinya akan hilang seiring berjalannya waktu. Ia tidak ingin kehilangan seorang ibu untuk kedua kalinya.


Tok tok tok......


"Silahkan masuk...."


        "Nak Rey, ini susu hangatnya. Tadi nyonya pesan ke bibi buat bikinin susu hangat untuk nak Rey. Silahkan diminum nak Rey....." Ujar bi Minah. "Terima kasih ya bi...." Jawab Rey pelan. "Iya sama-sama nak Rey. Kalo begitu bibi kembali ke dapur dulu ya." Ujar bi Minah. "Bukannya jam kerja bibi udah selesai? Bibi langsung istirahat aja." Ujar Reyhan sambil meletakkan kembali gelas susu yang sudah ia teguk habis isinya. "Masih ada cucian piring yang belum selesai nak. Bibi mau selesaikan dulu." Jawab bi Minah.


 "Ayo bi...." Ajak Rey sambil berjalan pelan keluar kamar.


"Nak Rey mau ajak bibi kemana?" Tanya bi Minah.


"Ke dapur...."


"Nak Rey mau apa di dapur? Nanti kalo tuan besar tahu, bisa dimarahi...." Ujar bi Minah.


"Udah bi tenang aja. Papa nggak akan marah kok. Lagian Rey ke dapur cuman mau bantu bibi doang. Nggak mainin pisau kayak dulu lagi." Jawab Rey sambil tersenyum lebar.


"Tidak usah nak Rey. Bibi bisa nyelesain sendiri. Bibi kerjanya juga cepet. Tenang aja." Ujar bi Minah sambil mengusap pelan pucuk kepala Reyhan. Hubungan Reyhan dan bi Minah bisa dikatakan cukup dekat. Bi Minah adalah orang yang selalu ada untuknya sejak ia kecil.


       Semua keperluan miliknya, bi Minah yang mengurusnya. Bi Minah sudah menganggap Reyhan seperti anaknya sendiri. Melihat bagaimana tumbuh kembang Reyhan membuat bi Minah teringat dengan putranya yang telah tiada. Ia kini hanya seorang diri. Hubungan pernikahan bi Minah tak bertahan lama setelah sang putra meninggal dunia. Jay menyediakan tempat khusus untuk bi Minah tinggal. Bisa dibilang itu sebagai rumah kecil milik bu Minah. Rumah itu berada tepat di samping mansion Adhitama.


"Rey.....kamu sudah tidur?" Panggil Tania saat memasuki kamar Reyhan. Dilihatnya anak itu sudah menutup matanya. Karena tidak ingin waktu istirahat anaknya terganggu, Tania memutuskan untuk keluar dari kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika Reyhan memanggilnya.


"Mama....?" Lirih Rey pelan.


"Sayang....kau terbangun karena mama ya? Maaf...." Ujar Tania sambil mengusap pelan pucuk kepala sang anak.


"Enggak kok ma. Rey tadi kebangun soalnya nyium aroma kentang goreng...." Jawab Reyhan sambil tersenyum manis ke arah Tania.


"Kamu tuh hobi banget sama kentang goreng. Ini di makan kentang nya. Oh iya, besok kamu sekolah masuk kayak biasa atau masuk siang nak?" Tanya Tania.


"Masuk siang ma. Besok absen genap yang masuk pagi." Jawab Reyhan.


"Ma......" Panggil Reyhan.


"Hmm...."


"Malam ini Rey boleh minta tidur sama mama? Rey kangen masa kecil Rey dulu." Ujar Rey pelan. Ia tidak berani menatap mata hazel milik Tania.


"Ceritanya anak mama lagi kangen nih sama jaman-jaman masa kecilnya hmmmm?" Reyhan mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang ibu.


"Iya udah nanti mama tidur di sini bareng kamu." Ujar Tania yang membuat Reyhan sedikit terkejut. Ia kira Tania akan menolak permintaannya. Apalagi sekarang sudah ada Sagara yang memiliki status anak kandung dari Tania. Sedangkan ia hanya anak angkat. Namun wanita itu malah memenuhi permintaannya.


"Kamu kenapa? Kayak kaget gitu?" Tanya Tania.


"E-enggak papa ma. Terus papa gimana ma?" Tanya Reyhan pelan.


"Papa tidur di sini...." Ujar Jay yang tiba-tiba memasuki kamar Reyhan.


"P-papa....." Lirih Reyhan saat melihat Jay melangkah mendekat ke arahnya.


"Katanya mau tidur duluan. Kok belum tidur?" Tanya Jay tiba-tiba.


"A-anu i-itu pa t-tadi Rey ada panggilan alam...iya panggilan alam tengah malem." Jawab Rey gugup. Sungguh saat ini ia merasa sangat canggung berada di dekat Jay. Sejak kejadian dimana ia di kurung di gudang, Rey belum pernah bertemu dengan Jay lagi.


"Kenapa jawabanya gugup gitu?" Tanya Jay.


"Enggak gugup kok pa. Cuman kaget aja papa tiba-tiba masuk kamar Rey." Jawab Rey.


"Kenapa kaget?" Tanya Jay sambil merebahkan dirinya di samping Rey.


"Ya kan papa udah nggak pernah lagi mampir ke kamar Rey." Jawab Rey ikut merebahkan tubuhnya di samping Jay. Sedangkan Tania berada di sisi kanannya.


"Maafkan papa ya nak...." Ujar Jay tiba-tiba.


"Kenapa minta maaf? Papa nggak ada salah sama Reyhan...." Jawab Reyhan pelan. Ia tahu arah pembicaraan ayahnya. Kejadian yang belum lama terjadi.


"Maaf papa udah kurung kamu di gudang itu." Jelas Jay.


"Nggak papa pa. Rey tahu papa sayang sama Rey, peduli sama kebaikan Rey. Makanya papa hukum Rey saat berbuat salah." Jawab Reyhan pelan.


"Tapi seharusnya tidak di gudang itu nak. Maaf karena papa, kau jadi mengingat kejadian itu." Ujar Jay.


Flashback


      


"Kau?! Kemari! Akan ku hukum kau karena telah melenyapkan putriku!!!"


"O-opa mau apa?" Tanya Reyhan kecil saat tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Demian, ayah Jay.


"Masih berani kau menjawab ucapanku?! Dasar anak tidak tahu diri!!!" Bentak Demian pada Reyhan yang saat itu masih berusia 6 tahun. Ia mengeluarkan cambuk dari dalam lemari yang berukuran besar. Ia membawa Reyhan ke sebuah gudang yang ada di dalam mansion Adhitama.


"Akh.....o-opa sshhh-sakit......" Lirih Rey saat tubuhnya di cambuk berkali-kali oleh kakeknya. Tak hanya itu, Demian bahkan sempat menginjak perut Reyhan. Menjambak rambut anak itu dan meremat kedua bahu Reyhan hingga mengeluarkan berdarah. Laki-laki paruh baya itu juga sempat memukul tungkai Reyhan menggunakan senjata api yang ia simpan.


      Rey kecil merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Ia berusaha untuk bertahan namun usahanya sia-sia ketika gelap mulai menyerang penglihatannya. Tubuh anak itu terjatuh ke lantai. Darahnya keluar begitu banyak. Jika kalian tanya dimana Jay dan anggota keluarga yang lain, mereka sedang berada di makam Kirana, putri bungsu Demian Adhitama, adik kandung dari Jeffrey dan Jay Adhitama.


       Demian yang melihat Reyhan tergeletak di lantai tak berdaya sama sekali tak berniat menolongnya. Ia pergi begitu saja dari gudang itu. Beruntungnya tak lama setelah Demian meninggalkan gudang tersebut, bi Minah memasuki gudang itu untuk meletakkan barang bekas. Namun, dirinya dikejutkan oleh tubuh Reyhan kecil yang sudah berada di lantai tak berdaya. Ia segera menelpon Jay untuk memberi kabar. Bi Minah meminta bantuan pak Somat, supir pribadi keluarga Adhitama untuk membawa Rey ke rumah sakit terdekat. Kejadian ini bahkan sampai membuat Rey berada pada kondisi diantara hidup dan mati. Beruntunnya Tuhan masih memberi nasib baik bagi Rey. Anak itu dapat membuka matanya kembali setelah 2 bulan sempat koma di rumah sakit.


Flashback end.


       "Papa berjanji nggak akan pernah ninggalin kamu nak......" Lirih Jay sambil mendekap tubuh ringkih putranya. Sedangkan Tania juga ikut mendekap dari sebelah kanan.


'Rey harap papa akan selalu menepati janji papa.....'