PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 12



 


"Selamat pagi semua....." Sapa Rey lirih pada semua orang yang sudah siap untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi anak mama.....Reyhan mau sarapan apa? Biar mama yang ambilkan." Tanya Tania sambil membenarkan rambut Reyhan yang sedikit berantakan.


"Rey sarapan di sekolah aja ya ma. Ada rapat ekstra lukis di sekolah. Takut telat Rey nya."


"Pa, ma, kak Dion, kak Vino dan  b-bang S-Saga Reyhan berangkat dulu." Pamit Reyhan yang langsung pergi begitu saja. Tania hanya bisa menatap punggung anaknya perlahan menjauh.


"Kita lanjut sarapan saja. Biarkan saja anak itu." Jay menatap sekilas ke arah Vino yang berbicara. Ia hanya diam. Tidak seperti biasanya yang langsung menegur anak keduanya itu.


"Gio denger om Jay masukin nama Reyhan ke daftar warisan. Opa udah tahu pa?" Tanya sosok remaja yang kini sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Olivia pada putranya.


"Gio kemarin mampir ke kantor om Jay, eh nggak sengaja lihat beliau lagi ngobrol sama papi Jeff. Bahas soal warisan om Jay kedepannya." Jawab Gio pada ibunya.


"Kita harus cari cara buat menyingkirkan anak tidak tahu itu. Opa belum tahu tentang hal ini. Jangan katakan apapun padanya. Kita urus sendiri masalah ini. Jangan biarkan anak itu memperoleh sepeser pun dari harta warisan Jay." Ujar Bobby, suami Olivia.


 


"Buset....baru aja gue keluar dari rumah sakit. Masa mau masuk lagi sih. Itu gerombolan si Bima kenapa nagrok di situ coba. Gue lewat mana ini??? Oh iya lompat dari tembok samping aja dah." Monolog Reyhan saat melihat gerombolan anak yang suka memalaknya ketika bertemu.


Bluk


"Aduh pantat gue....." Keluh Reyhan saat ia mendarat di tanah setelah perjuangannya untuk lompat dari tembok samping berhasil.


"SIAPA DI SANA?!!"


'Mampus pak Daus lihat gue. Kabur dah sebelum absen BK lagi. Bosen gurunya lihat muka gue.....'


      Reyhan berlari sekuat tenaga menghindar dari pak Daus. Usahanya tak sia-sia ketika melihat tak ada pak Daus yang mengejarnya.


'Selamet gue....' Batin Reyhan.


Plak


"Aduh....lo kalo mukul tuh kode dulu napa sih. Sakit nyak...." Reyhan mengusap bahunya pelan yang baru saja menjadi korban tangan Haikal.


"Eh maaf, kebablasan. Btw kata om David lo baru keluar dari rumah sakit? Ngapain lo di rumah sakit? Numpang buang air kecil? Atau nambah job jadi satpam di sana?"


Plak


"Kalo mau ngomong dipikir dulu ya nyet. Enak aja. Gue baru aja jadi pahlawan."


"Pahlawan apaan? Pahlawan kesiangan?"


Plak


"Aduh, sejak keluar dari rumah sakit....itu tangan lemes banget buat gampar orang."


"Ya makanya lo diem dulu napa. Sini gue ceritain kisah bahagia gue sebelum masuk rumah sakit sampai kisah kelam gue waktu di rumah sakit."


      Reyhan menceritakan kejadian awal sejak ia bertemu David dan pria itu mengajaknya untuk berkunjung ke rumah orang tua Kinan. Hingga kejadian di malam saat ia dipukul oleh seseorang suruhan orang yang sangat ia kagumi dulu tapi tidak mulai saat ini. Dan berakhir kisah tragisnya bersama Saga di rumah sakit.


"Turut berduka gue Rey. Lo pulang nanti bareng gue aja ya." Ajak Haikal. Ia tidak tega jika harus membiarkan Reyhan pulang sendiri.


"Kagak usah. Gue pulang sendiri aja."


'Sorry Kal, gue nggak mau ngerepotin orang lagi. Gue berusaha sebisa mungkin untuk melakukan semuanya sendiri.' Batin Reyhan.


 


      Tak terasa hari semakin gelap. Reyhan saat ini sudah berada di rumah. Lebih tepatnya di kamar. Ia tidak berani untuk keluar. Jay masih mendiamkannya sejak kejadian itu.


"Papa nggak kangen peluk gue ya? Padahal gue ngangenin lho anaknya. Mau ngobrol sama papa. Tapi papanya cuman diem. Berasa ngomong sama diri sendiri. Ih nggak betah gue lama-lama kaya gini." Keluh Reyhan di dalam kamar.


     Dengan keberanian setipis kapas, Reyhan berjalan keluar kamar dengan mengendap-endap. Ia melihat Jay sedang memeluk Tania di lantai bawah.


"Maaf ya sayang, aku harus balik kantor dulu. Ada berkas aku yang ketinggalan di sana."


"Apa nggak bisa diambil besok aja mas? Udah malem banget ini....."


"Maaf sayang. Aku perlu berkasnya malam ini juga."


"Ya sudah, hati-hati di jalan mas. Aku tunggu kamu pulang."


"Kamu tidur duluan aja ya sayang. Aku kemungkinan balik besok siang."


"Mas sendirian di sana?"


"Nggak kok. Nanti juga ada Denish yang bantuin aku. Dia udah izin sama istrinya."


"Kabari aku kalo udah sampai ya mas."


"Iya sayang. Mas berangkat dulu."


'Yah mama kok izinin papa pergi.....Rey nggak rela papa pergi....' Batin Reyhan sambil menatap sedih ke arah pintu.


       Semua anggota keluarga kecil Jay sudah siap di meja makan untuk sarapan. Namun sosok Jay tidak ada di sana. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga melewatkan sarapan bersama keluarganya pagi hari ini.


"Ma...." Panggil Reyhan saat melihat Tania duduk di sampingnya.


"Iya sayang? Ada apa?" Tanya Tania sambil tersenyum ramah ke arah anaknya.


"Rey izin pergi ikut paman David boleh? Cuma 5 hari ma." Tanya Reyhan dengan pelan.


"David? David siapa nak?" Tanya Tania untuk memastikan.


"Tapi nak....."


"Bang Saga juga udah kenal kok sama paman David. Ya kan bang?" Saga hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi kalo kamu di sana kenapa-napa gimana nak?"


"Mama tenang aja. Paman David orangnya baik banget. Di sana juga ada bibi Kinan." Ujar Reyhan menatap penuh harap pada Tania.


"Ya sudah. Mama izinkan. Asal kamu harus mengabari mama setiap saat." Ujar Tania sedikit tidak rela jika Reyhan harus pergi.


"Siap ma."


Kring kring kring


     Tania segera mengangkat telpon rumah yang berbunyi sangat nyaring.


"Hallo..."


"Hallo selamat siang nyonya. Apa benar ini dengan keluarga dari bapak Jay Adhitama?"


"Benar, saya istrinya. Ada apa ya mbak?"


"Mohon maaf ibu saya ingin menyampaikan kabar bahwa bapak Jay Adhitama saat ini sedang di rawat di rumah sakit Mitra Harapan akibat kecelakaan yang terjadi malam kemarin di Jalan Sastra pukul 01.00 a.m. Saat ini kondisi pasien sedang kritis, diharapkan keluarga untuk segera datang ke rumah sakit."


DEG


   Tubuh Tania seketika limbung ke lantai. Saga, Vino dan Dion yang melihatnya segera berlari ke arah Tania.


"Mama kenapa? Ma?"


"Mama kenapa nangis? Mama...."


"Ma bilang ke kita ma....ada apa?"


"P-papa kalian k-kecelakaan......." Jawab Tania pelan. Liquid bening tidak mampu lagi ia bendung. Baru saja semalam Jay izin pergi padanya. Tania menyesal telah memberi izin pada suaminya.


 


       Sesaat setelah Tania mengabari semua anggota keluarga besar mengenai kondisi Jay saat ini, mereka pun datang menuju rumah sakit tempat di mana anak Demian itu di rawat. Semua hadir, kecuali Reyhan. Anak itu tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Jarak menjadi penyebab utama anak itu tidak bisa hadir ketika Tania memberi kabar tentang ayahnya.


     Tania masih bertahan dengan isak tangisnya. Ia takut, ia takut jika harus kehilangan Jay. Pria yang sangat ia cintai. Pria yang mau menerimanya apa adanya. Pria yang selalu ada untuknya.


Tak lama dokter pun keluar dari ruangannya.


"Bagaimana kondisi suami saya dok?" Tania langsung bertanya pada dokter itu.


"Kondisi pasien sudah lebih baik dari kemarin malem. Beruntungnya kami sudah mendapatkan pendonor ginjal untuk pasien."


"Donor ginjal dok?"


"Iya tuan. Kami akan segera melakukan operasi tersebut. Kalian berdoa saja untuk kesembuhan pasien. Saya yakin doa yang diucapkan dengan hati yang tulus akan dikabulkan oleh Tuhan. Kami di sini hanya perantara-Nya. Kami pamit undur diri tuan dan nyonya."


"Tunggu dok. S-siapa yang menjadi pendonor untuk papa saya?" Tanya Dion yang sangat penasaran dengan orang yang rela memberikan satu ginjalnya untuk Jay, ayahnya.


"Mohon maaf kami tidak bisa memberitahukan siapa beliau. Ini amanat yang beliau berikan."


"Terima kasih orang baik......" Demian sangat berterima kasih pada orang yang telah mendonorkan ginjalnya untuk putranya. Suatu saat ia harus bertemu dengan orang itu.


5 Hari telah berlalu......


      "Sudah selesai liburannya? Apa semenyenangkan itu? Hingga kau rela meninggalkan orang yang telah merawatmu sedari kecil dalam keadaan sakit dan hampir tiada? Lihat!!! Putraku sakit karena dirimu. Kau membawa kesialan satu persatu ke dalam keluargaku!!!" Amarah Demian membuncah ketika melihat Reyhan berlari menuju mereka dengan derai air mata yang menurutnya palsu.


"Dasar anak tidak tahu di untung!!!" Demian mendorong tubuh ringkih Reyhan hingga terjatuh ke lantai.


Semua orang menyaksikan bagaimana Reyhan menahan sakit akibat dorongan yang tiba-tiba ia dapatkan.


      Haikal menatap sahabatnya sendu. Ia ingin menolong sahabatnya, tapi tangan Hanna, sang ibu menghalangi Haikal untuk melakukannya. Ia tidak ingin anaknya ikut campur dalam masalah keluarga Adhitama.


Bugh


    Demian memukul rahang kanan milik Reyhan dengan keras hingga sudut bibir anak itu mengeluarkan darah segar.


"Lebih baik kamu pergi dari sini. Jika kamu masih sayang dengan nyawamu PERGI DARI SINI!!! JAUHI PUTRAKU DAN KELUARGANYA!!! DASAR ANAK HARAM PEMBAWA SIAL!!!"


     Semua orang terkejut mendengar penyataan Demian yang baru saja pria tua itu katakan.


     "Jika saja Jay menuruti perkataanku untuk membuangmu di saat ibumu sendiri ingin membunuhmu, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Jay saat ini akan baik-baik saja."


"Ma-maksud o-opa?" Tanya Reyhan pelan. Ia tidak tahu mengenai hal ini. Sama sekali belum ada yang mengatakannya.


"I-ibu nggak mungkin mau bunuh Reyhan. Ibu sayang Reyhan. Reyhan juga sayang ibu Rania."


"Belum ada yang mengatakannya? Jeff, bukankah papa sudah menyuruhmu untuk memberi tahu anak ini agar dia sadar diri sejak awal."


       "Apa kau tahu? Kau adalah anak yang tidak diharapakan. Rania, istri pertama Jay telah selingkuh dengan pria lain. Dan hasil yang ia peroleh adalah dirimu!!! Anak yang lahir di luar hubungan sah antara laki-laki dan perempuan. Dengan hadirnya dirimu, itu menjadi penyebab Rania depresi selama 2 tahun lebih dan sangat berniat untuk membunuhmu saat bayi."


"Sayang sekali Rania sudah pergi jauh. Kau bisa menyusulnya jika ingin bertanya lebih banyak mengenai kelahiranmu di dunia ini. Dan ku peringatkan sekali lagi. Kau bukan siapa-siapa bagi putraku! Kau hanya anak wanita itu dengan pria lain. Jadi jangan pernah kau datang ke dalam hidup kami mulai sekarang!!! Anggap semua sudah selesai." Demian mencengkeram kedua bahu Reyhan dengan sangat kuat.


"A-apa ini penyebab o-opa sangat benci dengan Reyhan?" Tanya Reyhan pelan.


"Salah satunya. Kau tahu penyebab lainnya???" Reyhan terdiam mendengar ucapan ayah papanya.


"Kau yang telah membunuh Kirana!!! Kau membunuh putri kesayanganku!!!" Teriak Demian penuh amarah pada Reyhan.


       Reyhan menggeleng ribut. Tidak, bukan dia penyebab Kirana tiada saat itu. Reyhan hanya bisa menangis dalam diam. Tidak ada yang mendekat ke arahnya dan memberi pelukan hangat guna menenangkannya. Semua hanya melihatnya tanpa berniat membantu.


"Kirana......"