
Malam ini Eunwoo ingin menghabiskan waktu dengan anaknya. Reyhan dan dirinya sedang menuju ke salah satu restoran yang cukup terkenal di kota tempat mereka tinggal.
"Bapak....." Panggil Reyhan pada pria yang duduk di kursi pengemudi.
"Bapak nggak lagi bercanda kan?" tanya sang anak pada ayahnya.
"Emang muka bapak kelihatan bercanda?" kini giliran sang ayah yang bertanya.
"Bapak mah...."
"Bapak beneran nggak ada jadwal? Bapak jangan kosongin jadwal demi rayain ultah adek. Kasihan pasien-pasien bapak." Ujar Reyhan menatap redup pada sang ayah. Sedangkan Eunwoo menggeleng pelan guna menjawab pertanyaan Reyhan.
"Kamu tenang aja. Yuk siap-siap, sebentar lagi sampai." Ujar Eunwoo seraya tersenyum ramah ke arah Reyhan.
"Sayang, kita makan di luar aja ya. Kasihan kamu pasti capek seharian urus semua pekerjaan rumah. Bi Mina juga masih belum boleh pulang dari rumah sakit." Ujar Jay pada Tania. Sedangkan sang istri hanya mengangguk pasrah. Lagipula menurut wanita itu, tubuhnya sudah begitu lelah.
Sudah sekitar seminggu ini ia mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Di rumah yang sebesar ini, membuat tubuh Tania begitu lelah. Jika biasanya ia membersihkan rumah di bantu bibi Mina, sekarang ia harus membersihkan rumah sendirian untuk sementara waktu.
"Anak-anak udah pulang semua mas? Vino tadi katanya pulang telat dari sekolah. Sekarang udah pulang belum?" tanya Tania pada suaminya.
"Dia udah pulang. Saga sama Dion juga ada di rumah. Yuk kita berangkat....." Ajak Jay pada Tania.
"Sebentar, aku belum pakai make up mas." Tahan Tania saat Jay menarik pinggangnya untuk keluar kamar.
"Kamu udah cantik sayang. Percaya sama aku. Bidadari Jay Adhitama yang paling cantik." Ujar Jay meyakinkan sang istri agar percaya diri bahwa wanita itu tetap terlihat cantik meski tanpa memakai riasan.
"Tapi kelihatan pucet mas...." Ujar Tania dengan nada sedikit merengek.
"Mas cium aja biar nggak kelihatan pucet." Goda Jay pada istrinya.
"Mas!!! Mending mas turun dulu. Temenin anak-anak. Lima menit aku nyusul." Ujar Tania sambil mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamar. Dan setelah Jay keluar, Tania menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
***
"Mas tolong fotoin aku ya....."
"Apa benar bunda adalah tante Rania? Mantan istri papanya Reyhan. Tuan Jay Adhitama." Haikal menatap Hanna yang saat ini sedang bercanda dengan Martin. Ayah Haikal.
"H-Haikal.....k-kamu kenapa tanya seperti itu?" Bukan Hanna yang menanggapi melainkan Martin yang bertanya.
"Haikal dengar kalian yang baru saja membahas tentang tante Rania, Reyhan dan om Jay." Jawab Haikal dengan nada datar.
"Nak, kami bisa jelaskan. Kami minta maaf telah menyembunyikan ini dari kamu. K-kami berniat untuk mengubur dalam-dalam masa lalu dari bunda. Kami akan menjelaskan semuanya padamu. Ayah mohon dengarkan kami terlebih dahulu." Martin berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Haikal.
Berawal dari asal muasal Reyhan dan Kirana yang membawa bayi Reyhan untuk dirawat istri kakaknya, kemudian Rania yang diceraikan oleh Jay karena dianggap telah berselingkuh setelah anak mereka gugur.
Kejadian itu hampir saja membuat Reyhan meregang nyawa di tangan Rania. Dan kecelakaan yang dialami Rania sesaat setelah sidang perceraian Jay dan wanita itu, hingga dirinya yang membantu dan kini menemani wanita itu menjalani kehidupan panjangnya.
Haikal mendengarkan semuanya. Ia merasa bersalah pada sahabatnya. Ia merasa telah menjadi teman yang tidak berguna. Haikal mengepalkan tangannya dengan kuat. Tekatnya kuat.
Ia harus menemukan keberadaan Reyhan dimanapun anak itu berada. Ia akan memeluk sahabatnya itu dengan erat, hingga anak itu tidak pernah merasa kesepian. Melindungi anak itu dari kejamnya takdir.
'Sorry Rey, gue harusnya nggak terpengaruh dan percaya dengan yang tua bangka itu katakan.' Batin Haikal seraya menatap sendu layar ponsel yang menampilkan kolase fotonya bersama Reyhan sejak kecil hingga dewasa.
"Selamat menikmati....." Ujar seorang pelayanan yang berjalan menuju mereka seraya membawa berbagai jenis makanan yang tersaji di atas nampan.
"Terima kasih...." Ujar Martin berterima kasih mewakili anggota keluarganya.
"Ayo kita makan malam dengan tenang." Ujar Martin pada istri dan anak semata wayangnya.
'Setidaknya aku tahu yang sebenarnya.......'
"Habis darimana? Kok lama banget kamu ambil HP di mobil?" tanya Jay pada Vino, putra keduanya.
"E-e itu pa, tadi kuncinya sempet jatuh. Jadi Vino harus cari dulu." Jawab Vino pada sang ayah.
"Ya udah sini duduk." Ujar Jay sambil menepuk tempat kosong tepat di sampingnya. Vino hanya menurut dan ia mendudukkan diri di samping Jay.
Saga menatap mereka berdua dengan intens. Mengepalkan tangannya dengan erat. Ingin rasanya ia memukul wajah kedua orang yang kini sedang bercanda ria di hadapannya.
'Dasar pria brengsek.....'
"Saga...." Panggil Tania pada putranya.
"Pa ma kak bang, Saga izin ke belakang dulu." Semua mengangguk ketika Saga meminta izin pada mereka untuk pergi ke toilet.
"Abang?!!!" Reyhan terkejut ketika menemukan sosok Saga berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu ke sini sama siapa? Jangan bilang kamu kerja di sini?" selidik Saga pada adiknya. Reyhan menggeleng dengan kuat.
"Idih enggak ya bang. Adek nggak kayak gitu. Adek mah kalo mau kerja tuh bilang dulu ke bapak sama abang. Emang pernah adek bilang kerja di sini sama abang? Nggak kan....." Reyhan menatap yang lebih tua dengan sinis.
"Yang kemarin kamu kerja part time aja belum abang kasih tahu ke om Eunwoo...." Ujar Saga dengan lirih. Seketika kedua mata Reyhan melotot tajam ke arah Saga.
"Abang ngapain ke sini? Lagi cari cewek ya? Kasihan......jomblo sih.....makanya kesepian....Abang fansnya adek ya? Bawa kamera segala. Besok-besok mampir gih ke rumah bapak. Biar bisa fotoin adek sepuasnya." Reyhan berusaha mengalihkan topik pembicaraan tentang pekerjaannya yang belum di ketahui oleh sang ayah.
"A-abang lagi kumpul sama temen. Kamu ngapain di sini?" Kini giliran Saga yang bertanya pada adiknya.
"Tadi bapak ajak makan di luar." Jawab Reyhan singkat.
Tak berselang lama, Saga meninggalkan sang adik.
"Abang pergi dulu ya. Kamu habis ini langsung ke om Eunwoo, jangan kemana-mana, nanti hilang yang ada. Banyak bocil hilang jaman sekarang." Ujar Saga pada sang adik.
"Adek bukan bocil. Udah SMA bang kalo lupa." Jawab Reyhan dengan nada kesal.
Saga berjalan ke luar dari toilet. Sedangakan Reyhan berjalan pelan di belakangnya. Hingga langkah anak itu berhenti tak jauh dari toilet.
"Papa....mama....." Mata anak itu menatap salah satu meja yang Saga datangi.
Kedua sosok yang sangat Reyhan rindukan. Namun, anak itu hanya melihat tawa dan canda dari Jay, ayahnya. Tak ada sedikitpun pancaran perasaan sedih yang ada pada Jay. Laki-laki tua itu saat ini sedang sibuk memotong daging untuk istrinya.
Reyhan segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan pelan menuju meja yang telah di pesan Eunwoo.
"Reyhan....."
"Papa kenapa?" tanya Saga saat melihat Jay memanggil nama adiknya dengan lirih.
"P-papa tadi lihat adik kamu Saga. Iya Reyhan ada di sini. Papa tadi lihat. Sebentar. Kalian tunggu di sini aja." Ujar Jay yang sudah berdiri dari kursinya. Ia hendak mencari putra kecilnya.
"Terus aja papa cari anak pembawa sial itu!!!" Langkah Jay terhenti ketika mendengar salah satu anaknya mengatakan hal yang tidak ia sangka.
"Vino...." Lirih Tania pada putra keduanya.
"Kalo papa tetep pergi cari anak itu, jangan harap papa bisa lihat Vino lagi." Setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada sang ayah, Vino melangkahkan kakinya menjauh pergi.
Jay masih terdiam di tempatnya. Ragu ingin meneruskan niatnya atau berhenti dan mengikuti apa yang di minta anak keduanya untuk tidak mencari putra kecilnya yang malang.
Tania mendekat ke arah suaminya. Mengusap bahu Jay dengan pelan. Berusaha menyalurkan perasaan ketenangan pada sang suami. Wanita itu tersenyum getir ketika matanya menangkap sosok anak yang telah lama berada jauh darinya.
Reyhan. Sosok itu sedang menikmati makan malamnya dengan Eunwoo, pria yang ia tahu sebagai dokter dan kini telah menjadi wali dari Reyhan. Meskipun pada dokumen apapun, Jay tetaplah sosok ayah Reyhan.
"Sudah selesai? Ayo pulang. Hari sudah larut malam." Ajak Eunwoo pada sang anak.
Reyhan menganggukkan kepala tanda setuju dan dirinya berjalan mengikuti langkah ayahnya menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.
"Mau ikut bapak jalan-jalan nggak?" Tawar sang ayah pada anaknya.
"Kemana pak?" tanya Reyhan pada Eunwoo.
"Ikut aja. Tempatnya seru kok. Bapak yakin kamu pasti suka." Jawab Eunwoo sambil merangkul bahu sang anak. Membawa anak itu pergi menjauh dari restoran.
Disisi lain, Jay dan Tania beserta kedua anak mereka, Dion dan Saga sedang sibuk mencari keberadaan Vino. Anak itu pergi begitu saja dan sudah satu jam lebih berlalu tanpa kabar.
"Mas, dimana Vino??? Dia pergi tanpa kabar apapun mas.....kita harus cari sampai ketemu......" Ujar Tania sang istri pada Jay, suaminya.
"Kamu tenang ya. Aku pasti akan cari Vino sampai ketemu. Kamu sama anak-anak tunggu di rumah aja." Jay mengantar sang istri dan kedua anaknya untuk kembali ke rumah mereka.
Sesudah mengantar anak dan istrinya, Jay bergegas menyusuri jalan guna menemukan Vino, putra keduanya.
"Kamu dimana nak? Astaga....." Lirin Jay kala mencari keberadaan sang anak.
BRAK
"Ma-ma......"