
Kamis, 28 Oktober 2021
Breaking news
Tepat pada pukul 03.00 dini hari telah terjadi kecelakaan maut di tikungan jalan Neoterang. Diketahui korban adalah Vino Adhitama, putra dari salah satu pengusaha sukses yaitu Jay Adhitama. Sesaat sebelum kejadian, warga yang menyaksikan kejadian kecelakaan tersebut mengatakan bahwa korban mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan berakhir menabrak bagian samping depan mobil milik pengendara lain. Diduga kecelakaan terjadi akibat rem blong dari motor korban hingga motor tersebut sempat terpental sejauh 5 meter dari tempat kejadian kecelakaan. Saat ini korban telah di larikan ke rumah sakit terdekat. Pihak kepolisian juga sudah menghubungi keluarga korban.
3 Hari Kemudian
"Mas......"
"Kamu yang tenang ya sayang.....semua pasti baik-baik saja. Kamu jangan khawatir......" Ujar Jay dengan pelan guna menenangkan sang istri dari kecemasan wanita itu.
Semua anggota keluarga kini telah berkumpul di salah satu rumah sakit kota yang cukup terkenal. Bahkan Martin beserta keluarga kecilnya juga hadir untuk melihat keadaan putra kedua Jay Adhitama, sahabat karibnya. Begitu juga dengan David dan Kinan juga datang menjenguk.
Kondisi Kinan kini berangsur membaik. Wanita itu berusaha untuk melupakan semua kejadian di masa lalu dan mencoba untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama David, calon suaminya.
Setelah lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang rawat Vino.
"Syukurlah, semuanya berjalan dengan lancar. Kondisi pasien semakin membaik. Kemungkinan sebentar lagi pasien bisa siuman. Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Kalian bisa menjenguknya dengan batasan waktu yang telah kami tentukan. Saya permisi terlebih dahulu." Ujar dokter sembari izin pergi.
"Terimakasih dokter....." Ujar Demian mewakili semuanya.
"Bagaimana ini bisa terjadi??? Astaga.....apakah anak itu menyetir dalam keadaan mabuk?" tanya seorang wanita paruh baya pada salah pria seumuran dengan Eunwoo.
"Tidak tante, pengendara motor itu yang salah. Dia mengendarai dengan kecepatan yang sangat tinggi." Jelas Younghoon pada ibu temannya.
"Menurut kesaksian warga sekitar, anak itu sempat putar balik tante dan akhirnya nabrak mobil Eunwoo. Untung saja sisi samping depan yang ditabrak kosong. Eunwoo sama Reyhan kondisinya nggak begitu parah." Sambung Dokyeom setelah mendengar penjelasan dari Younghoon.
"Dan kabarnya anak muda pengendara motor itu putra kedua dari Jay Adhitama. Anak itu salah satu cucu dari Demian Adhitama." Tambah Yugyeom pelan sambil melirik ke arah Hyo Joo, ibu Eunwoo.
"Apa mereka berdua sudah sadar?" tanya Hyo Joo pada Binnie, sahabat Eunwoo yang kebetulan juga berprofesi sebagai dokter di rumah sakit yang kini menjadi tempat perawatan Eunwoo dan Reyhan.
"Baru saja Eunwoo sadar tante. Untuk Reyhan, mungkin ia akan segera sadar. Tante bisa masuk ke dalam. Kami sudah mengobati luka yang di alami Eunwoo dan Reyhan." Jawab Binnie sambil tersenyum ramah ke arah ibu sahabatnya.
Tak menunggu lama, Hyo Joo segera memasuki ruangan tempat di mana anak dan cucunya di rawat.
"E-eomma......"
"Apa ada yang sakit nak? Maaf eomma baru bisa menemui." Hyo Joo mendekat ke arah Eunwoo yang sedang terbaring lemah. Matanya sekilas mengarah pada pemuda yang juga terbaring lemah tak jauh dari anaknya.
"Dia......"
"Reyhan, putraku eomma." Eunwoo mengikuti arah pandangan sang ibu yang sedang menatap anaknya.
"Mirip dengan Raka. Apa kau menjadikannya sebagai bayang-bayang Raka? Eomma tahu kau sangat menyayangi Raka dan tidak semudah itu untuk menerima sosok baru pengganti Raka dalam hidupmu." Hyo Joo mengusap pelan punggung tangan sang putra sembari tersenyum.
"Dia putraku eomma. Baik Raka dan Reyhan. Meski darahku tidak mengalir pada tubuh Reyhan, aku tetap mengakui diriku sebagai ayahnya." Jawab Eunwoo dengan tegas.
"Setelah ini kau harus ikut eomma kembali ke Korea. Dan untuk anak itu, kau berikan saja dia ke panti asuhan. Buang semua masa lalu kamu. Dan bukalah lembaran baru dengan seorang wanita yang sudah eomma siapkan untukmu." Ujar Hyo Joo dengan nada serius.
Eunwoo menggeleng pelan mendengar apa yang dikatakan ibunya. Tidak. Ia tidak bisa meninggalkan putranya begitu saja. Raka sudah pergi karena kelalaiannya dan kali ini ia tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya.
"Lebih baik eomma kembali ke Korea. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan putraku sendiri. Dan untuk pernikahan yang eomma katakan, dengan yakin aku menjawab tidak. Aku tidak akan mau untuk menikah lagi. Istriku hanya Kirana. Dan itu berlaku untuk selamanya." Jawab Eunwoo dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Kau tidak ingin menikah karena anak itu bukan?!!! DIA ANAK ORANG LAIN!!! DIA BUKAN DARAH DAGINGMU!!! JANGAN KAU LUPAKAN FAKTA ITU EUNWOO! SADARLAH....PERCUMA KAU MERAWATNYA DAN MENGHABISKAN WAKTUMU DENGANNYA!!! ITU SEMUA AKAN SIA-SIA!!!" Hyo Joo berteriak marah setelah mendengar apa yang anaknya katakan.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Reyhan mendengar semuanya. Ia hanya bisa terdiam di atas ranjang rumah sakit. Menahan sesak di dadanya. Sekali lagi, ia merasa telah menjadi beban dari orang lain. Hidupnya selalu membuat beban bagi orang di sekitarnya.
'Lebih baik berakhir dalam kecelakaan itu daripada harus menjalani hidup sebagai beban orang lain.....' Batin Reyhan.
Remaja itu menyesal. Andai kecelakaan itu bisa merenggut nyawanya, Reyhan rasa akan menjadi akhir yang lebih baik. Ia tidak lagi membebani orang-orang di sekitarnya, terutama Eunwoo selaku orang yang selalu ada di sampingnya.
Dengan penuh amarah, Hyo Joo pergi meninggalkan ruangan dimana putranya di rawat. Setelah melihat wanita yang ia ketahui sebagai ibu Eunwoo pergi, Reyhan memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
Eunwoo yang sadar anaknya telah sadar, dengan cepat memeluk tubuh Reyhan dengan hangat.
Bohong. Reyhan memutuskan untuk berbohong, sejujurnya ia merasakan sesak di dadanya. Tapi anak itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Setelah keadaan membaik, kita kembali pulang ke rumah ya nak. Bapak akan selalu ada di samping kamu. Yakin sama bapak, semua akan baik-baik aja." Ujar Eunwok sembari mengusap pelan pucuk kepala sang anak.
"Pa......kenapa kaki aku nggak bisa di gerakin?"
"Nak...." Jay menatap sendu ke arah Vino. Putranya sejak siuman selalu bertanya tentang kakinya.
"Kaki aku kenapa mati rasa pa? Ma? Bang Dion? Saga? Opa? Papi Jeff? Mami Rose?" Vino menatap satu persatu anggota keluarga yang ada di sekitarnya.
"Tenang ya nak. Ini hanya sementara. Kamu yang sabar ya nak....." Tania memeluk tubuh Vino dengan usapan lembut. Mencoba menenangkan sang anak. Sedangkan yang lain tidak berani menatap Vino. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan anak itu.
"A-apa a-aku l-lum-puh ma....?" tanya Vino dengan suara parau.
Tania menggeleng pelan. Lidahnya terasa kelu hanya untuk menjawab pertanyaan sang anak. Wanita itu hanya bisa menyalurkan ketenangan dan kesabaran bagi Vino, anaknya.
"Rey, kamu baik-baik aja?" tanya David saat ia melihat Reyhan berjalan ke dalam kamar mandi dengan pelan seraya kedua tangannya berusaha menghentikan darah yang keluar dari hidungnya.
Reyhan terkejut ketika menyadari sosok David sudah berada tepat di belakangnya. Dengan cepat ia menyembunyikan tisu yang penuh dengan bercak darah. Menggenggamnya dengan erat agar David tidak melihatnya.
"P-paman.....a-aku baik-baik saja." Jawab Reyhan dengan gugup.
David berjalan mendekat ke arah Reyhan. Diraihnya tangan mungil milik remaja itu. Mencoba membukanya dengan pelan. Namun, remaja didepannya semakin erat menggenggamnya.
David menatap sorot mata Reyhan dengan lembut. Membuat remaja di depannya dengan perlahan mau melepas genggaman eratnya. David mengambil tisu yang penuh dengan bercak darah itu dengan pelan. Menatap nanar ke arah remaja di hadapannya.
Reyhan menggeleng pelan. Sedetik kemudian anak itu terisak pelan. David memeluk tubuh ringkih milik Reyhan. Mengusap punggungnya dengan hangat.
"Kenapa sembunyi?" tanya David yang masih memeluk tubuh Reyhan.
Reyhan tetap menggelengkan kepalanya dengan pelan. Enggan menjawab pertanyaan sosok pria yang sedang memeluk tubuhnya.
"Apa mobil Eunwoo yang terlibat dalam kecelakaan Vino???" tanya David pelan. Sedangkan Reyhan menganggukan kepalanya.
David semakin erat memeluk tubuh Reyhan. Pria itu menyadari apa yang dikenakan oleh remaja di depannya.
"Apa kau terluka? Kaki dan tanganmu terasa sakit ya?" tanya David yang semakin membuat Reyhan terisak.
"Ayah merindukanmu....." Ujar David pelan membuat suasana seketika menjadi hening.
Reyhan melepaskan pelukan David. Menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. Dengan lembut David membenarkan surai Reyhan yang terlihat sedikit berantakan.
"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan ayah seperti dulu? Aku merindukannya. Panggilan itu selalu membuat hatiku tenang ketika mendengar dan mengingatnya." Jelas David sambil tersenyum lembut ke arah Reyhan.
David mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. Menyimpannya dalam genggaman Reyhan.
"I-ini....."
"Jaga baik-baik sapu tangan ini. Aku ingin kau yang menjaganya. Berjanjilah kepadaku. Kau akan menjaga ini dengan baik. Dan kau harus hidup bahagia dimanapun dirimu berada. Jangan pernah menyerah saat keadaan berusaha membunuhmu." Ujar David pada Reyhan.
Reyhan hanya terdiam. Tangannya menggenggam erat sapu tangan milik mendiang Kirana.
'Rey akan berusaha a-ayah.....Rey hanya bisa berharap takdir bisa berteman baik dengan anak pembawa sial sepertiku.....'
...
...
...Salam sayang untuk semua...
...❤...
...Dedek Reyhan...
...PAIN ...
...17/07/2022...