PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 5



1 Bulan kemudian


"Saga ayo sarapan bersama....." Panggil Vino saat melihat Sagara berjalan menuruni tangga.


"Maaf bang, Saga ada rapat pagi. Ma, pa semuanya Saga pamit dulu ke sekolah." Pamit Saga yang sedang terburu-buru untuk segera berangkat ke sekolah.


"Saga tunggu....."


"Kenapa ma?" Tanya Saga pada Tania.


"Kebetulan Reyhan juga harus berangkat pagi sekali. Kamu bisakan berangkat bareng Reyhan?" Tanya Tania.


"Itu benar. Maaf ya nak. Bukannya papa nggak mau anter kamu, tapi lebih baik kamu berangkat bareng Saga, kalian juga satu sekolahan...." Ujar Jay pada Reyhan. Sedangkan yang diajak bicara melirik sekilas pada Saga.


"Tap-"


"Iya bisa ma." Sela Saga saat Reyhan ingin menolak.


"Ya udah, Rey berangkat sama kak Saga ya. Bekal kalian udah mama masukin ke dalam tas. Dan Rey, ingat jangan lupa minum vitaminnya. Kalo badannya ngerasa nggak enak, langsung ke UKS. Bilang ke Haikal, atau kak Saga, mama, papa dan yang lain ya." Pesan Tania sebelum Saga dan Reyhan berangkat menuju sekolah.


"Iya ma. Terima kasih. Rey ber-"


"Sama kak Saga berangkat dulu." Sela Sagara saat Rey belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Hati-hati di jalan ya nak."


"Iya ma...."


"Turun...."


"Belum sampai." Rey menggeram kesal pada sosok remaja yang saat ini sedang berada tepat di depannya.


"Pegangan yang bener. Gue mau ngebut. Jatuh bukan tanggungjawab gue." Ujar Sagara tiba-tiba. Saat Rey hendak protes, tiba-tiba Saga menarik gas motornya dengan kecepatan sangat tinggi sehingga menyebabkan Rey hampir saja terjatuh jika tidak langsung memeluk pinggang ramping Sagara.


Plak.....


"Kalo nyetir tuh mbok ya dipikir to mas Saga anaknya mama Tania. Lo bawa dua nyawa di satu motor. Untung aja gue langsung pegangan kalo kagak udah see you dada ma dunia." Ujar Reyhan saat Saga menurunkan kecepatan laju motornya.


"Diem bisa?" Tanya Saga dingin.


"Kagak!!! Orang nyawa gue aja hampir melayang gara-gara lo, enak aja nyuruh diem. Turun gih, ogah gue naik motor bareng lo lagi. Berasa kayak uji nyali bareng malaikat maut." Jawab Rey sambil menepuk pelan bahu Saga. Ia bermaksud meminta Saga untuk memberhentikan motornya di pinggir jalan. Namun hasil yang Rey dapat malah sebaliknya. Saga kembali menaikkan kecepatan laju motornya. Dan hal yang baru saja terjadi, kini terulang kembali pada Rey. Remaja itu sudah berkali-kali menyumpah serapahi Saga. Sedangkan pelaku yang menyebabkan Rey emosi di pagi hari hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


"Gila lo berangkat ma tuh orang? Tanya Haikal saat mendengar cerita sahabatnya.


" Terpaksa. Kagak ada kendaraan di rumah. Papa juga nyuruh gue berangkat ma dia. Tapi kalo lain kali di paksa berangkat ma dia lagi, ogah gue. Dah kapok." Ujar Reyhan.


"Lha emangnya kenapa?" Tanya Haikal.


"Asal lo tahu aja. Dia kalo udah naik motor, cosplaynya jadi malaikat maut. Gue masih pengen hidup. Masih mau nyari pesangon buat di akhirat nanti." Jawab Reyhan sambil mencomot salah satu gorengan di hadapan Haikal. Namun saat akan memasukkan gorengan tersebut ke dalam mulutnya, tiba-tiba ada tangan yang menghentikannya. Saga. Pemuda itu entah sejak kapan berada di sana, yang jelas dengan secepat kilat ia merebut gorengan yang ada di tangan adik tirinya itu.


"Astaga lo lagi. Btw lo kalo mau makan gorengan beli dong. Anaknya holkay kok makan gorengan gratisan. Itu gorengan gue hadiah dari Haikal. Cepet kembaliin. Perut gue udah laper." Ujar Reyhan yang kesal dengan tingkah anak dari Tania.


"Makan bekal dari mama." Ujar Saga singkat.


"Nanti!" Balas Reyhan sambil berusaha mengambil alih gorengan di tangan Saga. Namun apa daya tingginya yang hanya sebahu Saga. Ia gagal, selalu gagal.


"Kembaliin gorengan saya tuan Saga, anaknya bapak Jay yang terhormat. Buruan ih.....lama-lama lo ngeselin juga ya. Nggak sih, emang dari semenjak lo dateng udah ngeselin." Ujar Rey yang sedikit menyerah untuk merebut gorengan.


"Makan sekarang atau gue suapin?" Tanya Saga dengan aura dingin.


"Apasih nih orang. Emang lo siapa gue nyuruh-nyuruh gue makan nyuruh ini itu. Nggak, gue nggak mau makan sekarang. Gue maunya gorengan!" Jawab Reyhan sambil menarik lengan Haikal agar mendekat ke arahnya.


"Kal, tamengin gue ya. Masa iya cogan di sekolah bonyok sama anak kandung mak tirinya." Bisik Reyhan pada Haikal. Ingin rasanya Haikal menenggelamkan Reyhan di tengah laut. Bisa-bisanya ia dijadikan tameng oleh sahabatnya.


"Punten atuh mas Saga, ini saya Haikal nggak ada urusannya sama kalian berdua. Jadi anak baik dan ganteng Haikal ini izin undur diri. Sekian, terima kasih." Ujar Haikal yang berjalan menjauh dari Reyhan dan Saga. Sedangkan Reyhan hanya bisa mendengus kesal melihat Haikal malah meninggalkannya dengan Saga.


"Lo tuh kenapa sih ganggu hidup gue. Bisa nggak sekali aja lo biarin gue hidup ten-" Kesal Reyhan pada Saga. Belum sempat Reyhan menyelesaikan ucapannya, Saga memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut adik tirinya. Dengan perasaan kesal, Reyhan menelan nasi itu tanpa menunggu waktu lama.


       Reyhan segera beranjak pergi dari kantin meninggalkan Saga yang masih setia duduk di salah satu kursi. Namun langkahnya terhenti ketika kepalanya terasa sangat pusing. Sebisa mungkin Reyhan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Apalagi Saga sedang berada di belakangnya.


'Kepala gue kenapa ya? Pusing banget.....'


"Rey, lo nanti pulang bareng siapa?" Tanya Haikal pada sahabatnya.


"Gue naik kendaraan umum aja. Ngojek juga bisa." Jawab Reyhan.


"Yakin lo? Nggak takut diculik mang ojek?" Tanya Haikal dengan wajah menjengkelkan bagi Reyhan.


"Ngapain takut. Orang sama-sama manusia juga. Lagian gak ada tujuan mang ojek culik gue." Jawab Reyhan yang masih fokus dengan tugas ekskulnya.


"Ya lo kan imut kiyowo, kali aja mang ojek demen ma lu...." Balas Haikal pelan.


"Nih anaknya bapak Martin lama-lama gue pites juga dah. Kal, kalo lo mau pulang duluan silahkan....gue pulang nanti." Ujar Reyhan.


"Nggak bareng ma si tiang?" Tanya Haikal.


"Kagak, dia ada urusan lain. Jadi pulang duluan." Jawab Reyhan sambil mengingat ketika Saga mengiriminya pesan bahwa laki-laki itu tidak bisa pulang bersamanya karena ada kepentingan lain yang harus segera ia selesaikan.


"Ya udah gue pulang dulu. Bunda udah nyariin. Kalo ada apa-apa, langsung hubungin gue ya. Awas aja kalo besok kita ketemu, lo lecet kayak kemarin...." Ujar Haikal sambil mengusap pelan pucuk kepala sahabatnya.


"Apaansih....iya kagak kayak kemarin. Dah pulang sana." Kesal Reyhan saat Haikal merusak rambut yang sudah ia tata dengan sangat rapi.


"Tumben sepi banget sih, supir bus pada mudik apa gimana yah. Gue pulangnya gimana dong....mau pesen ojek online, tapi HP gue mati." Monolog Reyhan. Dirinya sedang berada di halte bus dekat sekolah. Hari ini tidak seperti biasanya, entah kenapa terasa sepi sekali. Bahkan yang biasanya bus sering berlalu lalang, hari ini tidak terlihat sama sekali.


       Hari semakin petang. Reyhan tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa ia lakukan hanya berharap bus segera datang. Namun sudah dua jam lebih ia menunggu, tak ada satupun bus yang terlihat. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri ketika melihat bangunan sekolah tepat di samping halte bus. Aura mencekam melingkupi Reyhan. Hawa yang dingin membuatnya semakin takut.


'Ini kenapa jadi dingin gini ya. Biasanya kagak kayak gini. Auranya juga kagak enak deh. Haduh ini bus pada kemana sih....supir bus kagak butuh cuan apa ya saking kayanya...' Batin Reyhan.


"Kamu lagi nunggu siapa nak?"


      Tubuh Reyhan tiba-tiba menegang ketika mendengar suara seorang perempuan. Tunggu, ia di sini sendirian. Lalu suara siapa yang barusan ia dengar???


'Please Rey udah capek ini. Masih aja di ganggu.....' Batin Rey.


"Kau menunggu siapa anak manis?"


"Rey mohon pergi ya bibi.....Rey nggak ganggu bibi, tapi kenapa bibi ganggu Rey? Kalo Rey ada salah, Rey mohon maaf bi. Beneran Rey nggak bermaksud jelek. R-Rey nggak lagi nunggu siapa-siapa kok. Cuman nunggu bus aja sih, cuman nggak dateng-dateng daritadi. Malah bibi yang dateng. Bibi balik aja ke rumah bibi ya. Rey biar lanjut nunggu bus......" Ujar Rey untuk menjawab suara yang ia dengar tadi. Ia menutup rapat-rapat kedua matanya.


"Nak....." Tepukan lembut mendarat di bahu Reyhan. Remaja itu hendak berlari kencang saat merasakan tepukan pelan di bahunya dari arah belakang. Namun sebuah tangan berhasil menghentikannya.


"Hey! Kau mau kemana?" Tanya seorang wanita berparas cantik pada Reyhan yang sudah ketakutan sejak tadi. Remaja itu tidak langsung menjawab pertanyaan wanita di hadapannya. Ia berbalik badan, kemudian melihat kedua kaki wanita tersebut dari sela kedua kakinya yang ia buka sedikit lebar. Napak di tanah.


"Huh...." Reyhan bernafas lega.


"Kau mengira aku hantu?" Tanya wanita itu.


"Ah maaf bibi. Rey hanya-" "Kania, apa anak itu baik-baik saja?" Tanya seorang laki-laki yang berjalan mendekat ke arah Reyhan dan wanita yang dipanggil 'Kania' itu.


"P-paman?"


"Reyhan?"


"Ia anak yang ku tolong beberapa hari yang lalu." Jawab David sambil terkekeh pelan.


"Ah anak yang kau ceritakan itu ya?" Tanya Kania semangat. David menganggukkan kepalanya.


"Rey, kenapa masih ada di sini? Kau belum pulang ke rumah?" Tanya David pelan.


"Ah itu a-aku baru selesai latihan untuk penampilan sekolah. Ini aku mau pulang pa-"


"Kau bilang sedang menunggu bus...." Sela Kania saat mendengar jawaban Reyhan. Damn. Reyhan tidak bisa berbohong lagi.


"Ikutlah dengan kami. Akan ku antarkan ke rumahmu. Katakan saja alamatnya padaku." Ujar David. Reyhan menggeleng pelan.


"Tidak usah paman. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagian jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh." Ujar Reyhan.


"Kau teman Haikal bukan?" Tanya David. "Paman kenal Haikal?" Tanya Reyhan yang terkejut ketika mendengar nama sahabatnya di sebut.


"Ia anak sahabat lamaku." Jawab David sambil merangkul bahu Reyhan untuk masuk ke dalam mobilnya. Diikuti Kania di belakangnya.


"Benarkah?" "Akan ku ceritakan nanti. Sekarang duduk diam di dalam mobil." Ujar David.


Reyhan hanya menurut pada ucapan David. Rey melirik jam tangannya. Pukul 19.00 KST. Ia segera meraih Handphonenya yang telah mati.


"Paman, apa paman membawa charger handphone? Jika iya apa boleh aku pinjam?" Tanya Rey pelan.


"Kania, tolong ambilkan charger dalam tas hitam kecil di sampingmu." Ujar David pada wanita yang duduk di kursi sebelahnya. Setelah menemukan barang yang di cari, Kania segera memberikannya pada Reyhan. Dengan cepat Reyhan segera mengisi daya baterai Handphone miliknya.


...     Papa sumber cuan💵...


Calling


^^^"Papa"^^^


"Kamu dimana Rey?"


^^^"Aku lagi di jalan. Sudah dua jam lebih Rey menunggu bus, tapi tidak ada yang datang. Maaf pa Rey pulang terlambat lagi."^^^


"Kau pulang naik apa?"


^^^"Rey diantar orang baik pa. Tenang aja, Rey aman."^^^


"Mama dan semua kakakmu sedang di rumah papi Jeff. Papa ada urusan di kantor. Rumah tidak orang. Kau pulang dulu saja ke rumah Haikal."


^^^"Ah tidak pa. Rey pulang aja ke rumah."^^^


"Rumah sepi. Papa izinkan kau menginap semalam di sana. "


^^^"Hallo tuan, perkenalkan nama saya David Addison. Saya seorang dokter di salah satu rumah sakit Seoul. Daripada Reyhan sendirian di rumah, apa boleh saya mengajaknya untuk mampir ke rumah saya?"^^^


"David Addison, aku mengenalmu. Aku percayakan Rey padamu. Jika kau melukai putraku sedikit saja, ku pastikan kepalamu menjadi taruhannya."


^^^"Tenang saja tuan. Saya tidak akan menyakiti Reyhan."^^^


"Sudah Rey, papa ada rapat sebentar lagi. Papa matikan telfonnya."


 "Kamu ingin pesan apa?" Tanya David pada Reyhan. Anak itu hanya diam sejak tadi. Perasaan tidak enak menyelimuti dirinya.


"Tidak usah paman. Rey sudah makan sore tadi."


"Kau menunggu bus sejak pulang sekolah. Jangan berbohong. Katakan saja apa yang ingin kau pesan." Ujar David.


"Rey suka makan apa nak?" Tanya Kania pelan.


"Samakan saja dengan bibi Kania." Jawab Rey pelan.


"Baiklah." Jawab David. Setelah mendapat jawaban Reyhan, David memanggil seorang pelayan. Memesan makanan untuk mereka bertiga.


"Rey, apa lukamu sudah di obati?" Tanya Kania saat melihat luka lebam di lengan kanan Rey masih terlihat begitu jelas. Namun lagi-lagi Rey berbohong.


"Sudah bi. Papa dan mama mengobatinya semalam." Jawab Reyhan  pelan.


"Hari ini kau menginap saja di rumahku. Haikal, Hanna dan Martin sedang di luar kota." Ujar David tiba-tiba.


"Benarkah? Kenapa Haikal tidak mengabariku?" Tanya Reyhan pada David.


"Dia sedang sibuk mungkin. Sudah jangan dipikirkan. Yang jelas malam ini kau akan menginap di rumah paman." Ujar David.


"Tidak usah paman. Aku bisa di rumah sendiri. Lagipula aku juga sudah besar." Jawab Reyhan.


"Kali ini turuti permintaan paman Rey. Ini semua demi kebaikanmu. Paman tidak bisa meninggalkanmu sendirian di rumah yang sangat besar. Bagaimana jika ada pencuri masuk ke dalam rumah? Kau akan dalam bahaya." Ujar David.


"Baiklah paman menang. Aku akan menginap. Hanya semalam." Jawab Reyhan pasrah ketika mendengar alasan-alasan yang David jelaskan.


"Hahahaha.....benar, Saga terlihat begitu tampan saat di sekolah. Vino mengakuinya. Kau lebih tampan dari abang dek...."


"Tapi lebih tampan papa.....hahahahaha"


"Iyain aja si papa. Bibit unggul semua ya pa yang keluar?"


"Iya dong, Jay Adhitama."


" Oh ya pa, sudah lama kita tidak liburan bersama....."


"Mama benar.....ayo pa kita liburan bersama. Apalagi sekarang ada Saga, pasti akan lebih seru."


"Kau benar. Papa akan memesan tiket untuk kita berlibur ke luar negeri."


"Sekalian ajak opa dan oma pa. Papi Jeff, mami Ros juga. Pasti akan seru."


"Tentu saja. Kita akan liburan besar-besaran."


"Oh ya Reyhan-"


"Reyhan bisa tinggal di rumah sendiri ma. Dia sudah besar."


"Apa maksudmu Vino?!"


"Pa, akan ada opa dan oma di sana. Papa yakin jika Rey ikut semua akan baik-baik saja? Hal buruk pasti akan terjadi."


"Mas...."


"Vino benar sayang. Sebaiknya Rey tinggal di rumah."


"*Tapi mas-" "


Aku akan menitipkannya pada keluarga Haikal, temannya*."


'Papa berbohong padaku dan bersenang-senang dengan yang lainnya......ini lebih sakit jika papa tahu. Lebih baik jujur pa.....'  Batin Reyhan yang sejak tadi memperhatikan kegiatan keluarganya. Jay, Tania, Dion, Vino dan Saga. Tertawa bersama. Membahas liburan tanpa dirinya. Tawa Jay terlihat begitu lepas ketika bersama mereka. Melupakan Reyhan yang tidak ada di sisinya.