PAIN (Renjun)

PAIN (Renjun)
Eps. 17



Flashback


London, 27 Januari 2008


'APA YANG KAKAK LAKUKAN?!!! KINAN SAHABATKU KAK!!! Dia temanku......bagaimana bisa kau melakukan ini padanya???'


'Maafkan kakak Ra, kakak saat itu benar-benar tidak sadar. Dan kakak tidak tahu jika Kinan adalah sahabatmu. Kakak minta maaf. Kakak telah menyakiti temanmu.....D-dimana Kinan sekarang?'


'Seandainya malam itu aku tidak memanggil kakak.....pasti ini semua tidak akan terjadi......Aku memang teman yang jahat!'


'Ra......jangan seperti ini. Kakak mohon Ra.....Kakak akan tanggung jawab untuk semua perbuatan kakak. Jangan seperti ini.....kakak mohon.....'


'Bagaimana dengan kak Rania? Kakak tidak memikirkan bagaimana perasaannya??? Kak Rania pasti akan sangat sedih dan kecewa...'


'Izinkan kakak menyelesaikannya Ra. Untuk Rania, kakak akan bicara baik-baik padanya tentang ini.'


'Kesempatan terakhir Kirana untuk percaya dengan kakak. Tolong jangan lagi merusak kepercayaan ini kak.'


London, 28 Maret 2008


"Selamat siang mas....."


"Selamat siang sayang.....kamu belum tidur?"


"Aku tidur setelah kasih hadiah untuk mas Jay......"


"Hadiah apa?Apa ada spesial yang mas lewatkan?"


"Tentu saja ada hari spesial. Dan itu hari ini."


"Maaf mas melewatkannya....."


"Bukan salah mas. Lihatlah....."


"K-kamu hamil sayang???"


"Iya mas....akan ada anggota keluarga baru mas......"


"Terima kasih Rania.....a-aku sangat bahagia. Apa kau masih lama di sana?"


"Kemungkinan selama masa kehamilan ini aku akan berada di Canada mas. Bahkan lahiranpun aku mungkin tetap di sini. Kondisi ibu dan ayah sama sekali belum menunjukkan kemajuan sejak hari dimana kecelakaan itu terjadi. Perusahaan ayah juga membutuhkan aku di sini mas."


"Jangan sedih sayang. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin ibu dan ayah bisa segera sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan kita. Kamu jaga kesehatan, jangan sampai kecapean. Ingat di sana ada anak kita. Aku akan sering berkunjung ke sana. Kalau perlu aku akan meninggalkan pekerjaan di sini."


London, 17 April 2002


"Maaf Kinan. A-aku tidak bisa menikah denganmu. A-aku janji akan membiayai seluruh kebutuhannya. Aku janji. Tapi aku tidak bisa-"


"APA YANG KAKAK LAKUKAN??? BUKANKAH KEMARIN KAKAK BILANG AKAN BERTANGGUNGJAWAB UNTUK SEMUANYA??? KEMANA KATA-KATA ITU?!!! "


"RANIA SEDANG HAMIL KIRANA!!! AKU TIDAK BISA MEMBUATNYA STREES SEPERTI INI!!! ITU AKAN MEMBAHAYAKAN BAYI KAMI!!!"


"Lalu bagaimana dengan bayi ini? Kau tidak memikirkannya? Kau tidak mengkhawatirkan dia? Bukan uang yang aku butuhkan. Tapi pertanggungjawaban!!!"


"Kakak....."


"Kirana, kakak mohon.....kakak janji akan mengirimkan uang setiap bulan. Kakak mohon jaga Kinan. Kakak tidak bisa menjaganya. Rania membutuhkan kakak."


"Lebih baik kau pergi dari sini!!!"


"Kinan......"


"PERGI!!!"


Flashback end


"Reyhan!!!"


Reyhan menghentikan langkah kakinya ketika mendengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang. Dengan gerakan pelan, Reyhan mengubah arah tubuhnya ke arah belakang. Mencoba melihat siapa sosok yang telah memanggil namanya.



Betapa terkejutnya remaja itu ketika melihat sosok dihadapannya. Pria yang sudah lama tak ia temui. Reyhan menggenggam erat tas yang ia pakai. Ia belum siap. Reyhan belum siap untuk bertemu dengan pria ini.


"P-paman......." Lirih Reyhan pelan ketika menyadari bahwa sosok di depannya adalah David, orang yang dulu sempat dekat dengannya.


"A-apa kau baru pulang sekolah?" tanya David gugup. Reyhan sempat terkejut dengan nada bicara David. Ia kira David akan memarahinya atas tragedi meninggalnya Kirana.


"I-iya paman. Reyhan pamit dulu paman....." Reyhan tak ingin berlama-lama berhadapan dengan David.


Bukan ia menyimpan dendam pada David, hanya saja akan terasa sangat canggung ketika bertemu lagi dengan pria itu setelah waktu yang lama dan pertemuan terakhir yang bisa dikatakan sebagai pertemuan kelam dirinya dengan semua orang di rumah sakit itu.


"Tunggu......" Seru David saat melihat Reyhan berjalan menjauh darinya.


"P-paman akan mengantarmu pulang. Jalanan sangat sepi. Bahkan bus sudah jarang yang terlihat saat ini. Biarkan paman mengantarmu, kau bisa bahaya di sini sendirian." Ajak David dengan ragu.


Ia tidak yakin Reyhan akan menerima ajakan ini. Namun, diluar dugaan David. Anak itu menerima ajakannya.


"Jika tidak merepotkan paman, Reyhan menerima tawarannya." Jawab Reyhan pelan. Sebenarnya ia tidak ingin menerima, tapi dirinya tidak ingin terlihat seperti menjauh dari David. Reyhan tidak ingin melukai perasaan pria yang pernah memperlakukan dirinya dengan baik.


David mempersilahkan Reyhan untuk masuk ke dalam mobilnya. Anak itu dengan perasaan ragu duduk di samping kursi pengemudi.



Hanya keheningan yang ada di antara mereka berdua. Hingga salah satu darinya mencoba untuk membuka obrolan.


"A-apa kabar Rey?" tanya David pada Reyhan. Ia masih membutuhkan basa basi untuk memulai percakapan.


"K-kabarku baik paman. Bagaimana dengan paman?" tanya Reyhan pelan.


"Kabarku juga baik." Jawab David singkat. Setelah itu terjadi lagi keheningan yang cukup lama. Hingga Reyhan kini mencoba untuk bertanya.


"B-bagaimana kabar b-bibi Kinan paman?" tanya Reyhan dengan lirih. Anak itu menunduk saat melontarkan pertanyaan pada pria yang sibuk menyetir di sampingnya.


David sedikit terkejut ketika Reyhan bertanya kabar Kinan. Ia bingung harus menjawab seperti apa. Karena pada dasarnya, kondisi Kinan saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Sejak pertemuan wanita itu dengan Jay, Kinan tidaklah menjadi dirinya sendiri.



Tatapannya selalu kosong. Traumanya kembali. Ia tidak berani untuk berhadapan dengan seorang pria. Bahkan setelah pulang dari rumah sakit, Kinan mengunci dirinya di kamar. Tidak membiarkan siapapun untuk masuk kecuali Claritha, ibunya.


"K-Kinan baik-baik saja. K-kau tidak perlu khawatir." Jawab David dengan ragu.


'Maaf Kinan Reyhan, aku berbohong kali ini.....' Batin David.


"Kenapa bapak nggak ngabarin daritadi kalo mau pulang larut malam? Terlanjur uang saku gue habis nih. Mana kartu kredit gue tinggal di rumah." Keluh Reyhan tanpa sadar saat ia menerima pesan singkat dari Eunwoo. Ia tidak menyadari bahwa seseorang kini sedang menatapnya dengan intens.


'Ini saatnya......" Batin David.


"Apa Eunwoo akan pulang larut malam hari ini?" tanya David pelan. Reyhan menoleh ke arah David dengan tatapan terkejut. Ia baru menyadari apa yang barusan terjadi.


'Aduh.....asal nyeplos aja ini mulut......' Batin Reyhan menyalahkan dirinya sendiri.


"Eh i-iya paman. Bapak ada jadwal operasi yang mendadak. Jadi baru bisa kabarin Reyhan." Jawab Reyhan. Tangan anak itu memilin ujung seragam yang ia gunakan. Tidak tahu harus berbuat apa dan sejak tadi perasaan canggung antar dirinya dan David belum juga sirna.


"Ah.....kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Mungkin malam ini aku akan makan malam sendirian lagi seperti hari biasa." Ujar David sambil tersenyum tipis dengan matanya yang masih fokus pada jalanan.


Lagi-lagi dengan perasaan tidak enak, Reyhan menerima ajakan David. Haruskah Reyhan menyalahkan dirinya karena seringkali merasa takut menyakiti perasaan orang lain disaat dirinya sendiri tidak nyaman dengan apa yang akan terjadi kedepannya?


"R-Reyhan mau-mau saja paman. Tapi sepertinya akan sangat merepotkan paman David. Reyhan makannya banyak, nanti paman jadi boros karena makan malam dengan perut karet seperti Reyhan." Usaha kecil Reyhan untuk menolak dengan lembut ajakan David dengan sedikit bercanda agar tidak terlihat begitu kaku.


"Aku tidak masalah. Paman akan senang jika kau makan banyak saat makan bersama paman. Baiklah kita akan berhenti di salah satu restoran terkenal sekitar sini. Kau persiapkan saja perut karet itu. Kita akan menyenangkannya malam ini." Ujar David


Tangannya dengan lembut mengusap pucuk kepala Reyhan. Hal itu tentu saja membuat remaja yang duduk di sebelahnya sedikit terkejut. Usapan itu, Reyhan rindu akan masa dimana ia dulu dekat dengan David, Kinan dan yang lain.


"Flashdisk??? Surat rumah sakit???"


"Saga! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jay saat melihat Saga berada di kamar Kirana, adiknya.


Saga dengan cepat menyembunyikan barang yang baru saja ia temukan di kamar adik ayahnya.


"Papa? Ah ini Saga penasaran seperti apa bibi Kirana yang disayangi semua orang. Saga sangat penasaran pa. Maaf kalau Saga lancang masuk ke kamar bibi." Saga menatap Jay dengan takut. Tangannya gemetar sejak pria yang ia panggil papa itu masuk ke dalam kamar. Jangan sampai Jay curiga pada Saga.


Jay menatap Saga dengan lembut. Pria itu sadar bahwa anak di depannya mungkin sedang ketakutan hingga tangannya pun ikut gemetaran.


"Nggak papa nak. Kamu bisa masuk ke sini. Mau lihat foto bibi Kirana nggak? Papa masih simpan di kamar ini." Tawar Jay pada Sagara.


"Kalo boleh, Saga pengen lihat pa!!!" Saga dengan semangat menerima tawaran ayahnya.


"Ya udah kamu duduk dulu di situ. Papa ambil album bibi dulu....." titah Jay pada anaknya. Saga hanya menurut pada sang ayah. Ia mendudukkan diri di salah satu sofa yang tak jauh dari tempat tidur.


Setelah beberapa menit menunggu, Saga melihat Jay mendekat ke arahnya sambil membawa sebuah album kecil.


"Kita akan lihat foto-foto bibi saat masih sekolah....."


"Bibi bawa mic ke sekolah pa?" tanya Saga yang penasaran saat melihat foto-foto Kirana tak lupa dengan micnya.


"Dulu bibimu itu punya perkumpulan sejenis girl group di sekolah. Dia cukup aktif untuk acara-acara di sekolah. Dengan bakat menyanyi dan menarinya, bibi bisa dikatakan sebagai idola para siswa di sekolah SMA dulu." Jelas Jay pada Saga. Anak itu mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan sang ayah.


"Ini bukannya om Bobby ya pa?" tanya Saga saat melihat salah satu foto Kirana bersama laki-laki yang ia kenal.


"Mereka dulu dekat ya pa?" tanya Saga pada Jay. Sedangkan sang ayah hanya menghela nafas pelan.


"Karena kamu terlanjur lihat papa akan kasih tahu. Tapi jangan bahas ini saat di depan keluarga kita ya nak." Saga menatap dengan raut kebingungan pada Jay. Sedangkan sang ayah hanya tersenyum melihatnya.


"Dulu sebelum bibi melanjutkan SMAnya di London, bibi sempat menjalin hubungan dengan om Bobby. Tapi hubungan itu nggak bertahan lama, bibi Kirana memutuskan mundur dari hubungan tersebut karena ia menyadari bahwa tante Sana sangat menyukai om Bobby. Bibimu tidak ingin melukai perasaan kakaknya dan ia memilih untuk memutuskan hubungan dengan om Bobby."


"Dua bulan setelahnya, bibimu meminta izin untuk melanjutkan sekolahnya di London. Ia tidak berangkat sendiri. Bibimu berangkat bersama dua sahabatnya. Kau pasti mengenal mereka Saga. David dan Kinan. Mereka berdua sahabat bibimu."


"Dan setelah menghabiskan satu tahun pertamanya di London, kami mendapat kabar bahwa bibimu sedang menjalani hubungan dengan salah satu temannya. Eunwoo, kau pasti mengenal pria itu." Jay menatap foto Kirana dengan tatapan sedih.


"Hubungan mereka tidak berjalan dengan mulus. Hingga tiba saatnya opa mengetahui bahwa Eunwoo merupakan anak dari istri kedua salah satu pengusaha besar di Korea Selatan. Opa sangat menentang hubungan bibimu dengan Eunwoo, hingga kami sempat putus hubungan dengan Kirana."


"Kami kehilangan informasi keberadaannya dan bagaimana keadaannya. Bibimu seperti hilang di telan bumi. Kami berhasil menemukannya setelah satu tahun berlalu. Ia tidak mengatakan penyebab ia pergi tanpa kabar dan kamu memilih untuk tidak membahas masalah itu kembali. Kami cukup bahagia dengan hadirnya bibimu kembali dalam keluarga Adhitama."


"Papa pernah bertemu om Eunwoo?" tanya Saga tidak percaya. Pasalnya terakhir kali ia ingat saat itu Jay baru saja siuman. Bahkan Eunwoo pergi dari rumah sakit itu tepat setelah kejadian di mana Demian mempermalukan anak itu.


"Papa sempat bertemu dia saat ada kunjungan ke luar kota. Dia menjadi dokter yang cukup baik di salah satu rumah sakit terkenal. Papa dengar ia sudah memiliki anak, tapi sayang sekali. Anaknya tiada lima tahun yang lalu." Jawab Jay sambil tersenyum masam.


"Saga.....tolong bantu papa cari adik kamu ya...." Ujar Jay secara tiba-tiba yang berhasil membuat Saga hampir saja jatuh ke belakang karena terkejut.


"Papa....." Lirih Saga


"Semua orang hanya diam saat papa bertanya di mana Reyhan sekarang. Adikmu itu masih sangat kecil. Bagaimana jika Reyhan sedang kedinginan di luar? Atau dia sedang kelaparan di tengah jalan? Papa tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Reyhan saat ini. Papa sangat rindu Reyhan. Saga bantu papa bisa?" Jay menatap Saga dengan tatapan memohon. Berharap Saga mau membantunya.


Ia tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa lagi kalau bukan Saga. Semua orang selalu menjauh saat Jay mulai membahas tentang Reyhan di hadapan mereka.


"Saga akan berusaha pa....." Ujar Saga pelan.


'Tapi Saga tidak bisa berjanji untuk itu......' Batin Saga.


Setelah selesai makan malam, David mengajak Reyhan untuk berjalan-jalan sebentar di salah satu taman bunga dekat restoran.


"Rey, paman ingin bertanya. Apa boleh?" tanya David sambil menggenggam sebuah sapu tangan yang masih terdapat sedikit sisa bercak darah di sana.


Reyhan menoleh sebentar ke arah David, kemudian ia tersenyum tipis. Ia sempat melirik sapu tangan yang David genggam. Ia tahu betul siapa pemiliknya.


"Tentu saja. Aku akan jawab dengan jujur. Aku tidak akan berbohong. Terserah paman akan percaya pada siapa......" Jawab Reyhan pelan. Ia memandang indahnya bunga yang sedang bermekaran di taman itu. Mengingatkannya pada seseorang.


David menatap ke arah Reyhan dengan ragu-ragu. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar memanggil nama Reyhan dan menanyakan hal yang menurutnya sangat penting bagi dirinya dan Kinan.



David tidak ingin membuang waktunya lagi. Jantungnya berdetak begitu cepat. David tidak menghiraukan hal itu.


"Apa benar kecelakaan Kirana terjadi karena kau mendorong Kirana hingga ia terjatuh dan kau meninggalkannya begitu saja. Sampai sebuah mobil melaju kencang dan menabrak Kirana hingga tubuhnya terpental sejauh sepuluh meter? Dan kau bahkan tidak menengok kebelakang sama sekali setelah kejadian kecelakaan itu. Apa itu benar?" tanya David dengan ragu-ragu.


"Mengapa Reyhan mendorong bibi hingga jatuh?" Reyhan tersenyum masam mendengar perkataan David.


"Kau merasa iri pada Vino karena sebelum kecelakaan itu terjadi, Kirana menghabiskan waktu seharian bersamanya. Dan karena kesal, kau membuat Kirana jatuh di tengah jalan agar sahabatku itu selalu memperhatikanmu dan menghabiskan waktunya untukmu. Tidak dengan saudara-saudaramu yang lain." Jawab David dengan nada sedikit naik.


Reyhan mengenggam erat ujung seragam yang dipakainya.


"Pasti tuan Demian terhormat yang telah mengatakan ini. Paman, aku akan menceritakan kisah sebenarnya. Hak paman untuk percaya siapa. Lagipula semuanya tidak akan berubah. Bibi, wanita yang sangat Reyhan sayangi. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu padanya? Ia memberiku kasih sayang layaknya seorang ibu dan anak."


"Ia selalu menemaniku di saat semua orang menjauhiku karena istilah 'Anak haram' mulai melekat di hidupku. Memang benar jika bibi meninggal karena kecelakaan itu, tapi apa yang paman sampaikan tidaklah benar. Reyhan akui ini semua karena salah Reyhan yang saat itu keras kepala. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku bermain dengan bibi di taman bermain tak jauh dari lokasi kecelakaan."


"Dan tak sengaja Reyhan menendang bola itu hingga berhenti di tengah jalan. Reyhan yang sata itu tidak tahu bahaya, lari untuk mengambil bola. Bibi melihat Reyhan lari dan dengan cepat bibi menghentikan Reyhan. Ia bilang biar bibi saja yang ambil. Aku hanya mengangguk saat bibi bilang seperti itu."


"Namun, sebelum bibi sampai pada bola itu, aku berlari dari arah belakang. Jujur saat itu aku hanya berniat untuk bermain-main dengan bibi. Dan tanpa ku sadari, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bibi yang melihat itu langsung mendorong tubuh Reyhan menjauh dari jalan dan berakhir dengan bibi......" Tanpa disadari Reyhan menitihkan air matanya. Mengingat kejadian di mana Kirana, bibinya harus meregang nyawa karena ulahnya.


Reyhan berdiri dari duduknya. Ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis, walaupun David pernah melihatnya.


"Reyhan akan pulang naik bus saja paman. Sepertinya masih ada satu bus lagi yang lewat. Tolong paman simpan sapu tangan itu dengan baik. Karena kata bibi itu adalah hadiah terindah yang pernah ia dapatkan dari sahabatnya." Ujar Reyhan sebelum benar-benar pergi dair hadapan David.


'Kirana......maafkan aku. Perasaanku padamu dan ingatan semua kenangan kebersamaan kita masih tersimpan dengan jelas. Aku tidak bisa melupakanmu barang sedetikpun. Aku harap kau selalu bahagia di sana.' Batin David.


Flashback


'Dav, Nan, gue mau balik ke rumah bokap. Kalian kalo kangen, langsung main aja ya. Dan Nan, gue harap lo bisa mengikhlaskan anak lo.'


'Siapa namanya Na? Ganteng banget.'


'Namanya Raka Dav. Tolong jangan kasih tahu ke keluarga gue ya. Gua mau rawat anak gue dengan baik. Kalo bokap tahu bayi gue lahir dengan selamat, pasti dia bakal suruh orang buat bunuh anak gue.'


'Eunwoo???'


'Dia juga ikut gue ke Indonesia Nan. Dan gue udah buat kesepakatan sama dia. Kami akan rawat Raka dengan kasih sayang penuh dari ibu dan ayahnya. Meskipun jarak memisahkan kami.'


'Gue harap untuk kedepannya lo selalu bahagia ya Na. Gue selalu do'ain yang terbaik buat lo dan anak lo.'


'Makasih ya Dav, Nan. Kalian baik-baik di London. Gue pamit dulu. Bye.....'


Flashback end