Not A Lover But A Best Friend

Not A Lover But A Best Friend
not a lover but a best friend 9



Chap 9


Usai melewati pedagang gulali kami melanjutkan perjalanan lagi menuju danau. Tidak berselang lama Rey kembali memarkirkan mobilnya, ternyata sudah sampai, aku segera turun dari mobil dan berlari menuju danau...


"I MISS THIS PLACE!!" aku berteriak sambil merentangkan tangan lalu naik ke atas pohon


"Padahal baru berapa hari" ujar Rey yang baru sampai


"Tapi aku sudah sangat merindukan tempat ini... Hmmm udaranya sejuk sekali" Sambung Rey.


Aku hanya diam menikmati sejuknya udara disini


Lalu Rey menyusulku naik ke atas pohon dan merogoh ponselnya dari saku celananya, Rey menyuruhku untuk memotretnya di atas pohon


"Siap? Satu... Dua... Tiii... Gaaa" Ckrekk


Dan begitulah, aku dan Rey saling bergantian memotret, kadang selfie bersama dengan berbagai ekspresi muka yang kocak dan sok imut haha.


Setelah puas bermain di danau Rey mengajakku pulang sekalian memberi tahu mamah sama Papah perihal di undangnya mereka datang ke sekolah.


Tok... Tok... Tok


Ceklek


"Alena" Pekik Mamah saat membuka pintu dan langsung menghambur memelukku, tapi aku tidak membalas pelukannya. Lalu mama beralih mengambil tanganku dan menarikku masuk ke dalam rumah.


"Ayo masuk" lanjut mamah seraya melirik Rey


Setelah membuat minuman untukku dan Rey, Mamah ikut duduk bersama kami, tapi aku tidak melihat Papah, apa benar mereka sudah pisah?


"Alena? Kamu kemana aja? Mamah khawatir sama kamu" ujar mamah memegang tanganku


"Aku di rumah Rey Mah" jawabku


"Kenapa kamu ga bilang sama Mamah? " Mamah terisak


"Mah, Mamah jangan nangis" ujarku seraya menghapus air mata Mamah


"Kamu sekarang ga boleh kemana-mana, kamu di sini aja" kata Mamah memegang erat tanganku.


"Mah, Alena datang kesini mau kasih tau, besok Mamah di undang ke sekolah sama wali kelasnya Alena" ucapku tanpa meladeni perkataan mamah tadi


"Ada apa? Tumben"


"Ga tau" jawabku singkat walaupun aku tahu


"Kalau gitu Alena balik ya" Lanjutku Lagi seraya berdiri dan melirik Rey


Mamah mencekal lenganku, air matanya terus bercucuran. Sebenarnya aku juga tak kuasa menahan air mataku, tapi kuusahan agar tidak terlihat yang lain


"Kamu mau kemana? Ini rumah kamu Alena"


"Alena mau tinggal di Apartemen aja Mah, lebih baik Mamah urus urusan Mamah yang belum selesai" kataku tanpa menoleh dan melepas cekalan Mamah di lenganku


"Kamu ga boleh pergi, kamu akan tetap disini Alena.... Jangan tinggalin mamah" Pekik Mamah terisak, tapi aku berusaha untuk tidak peduli, aku memang jahat memperlakukan mamah seperti itu, tapi bukankah bagus jika aku berusaha melupakan masalah dalam keluarga ini? .


"Apa kamu tidak merasa bersalah sama Mamah kamu? " tanya Rey saat kami sudah ada di dalam mobil


"Aku sangat merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi? " jawabku


"Bagaimana jika kamu cari tahu siapa pria waktu itu"


"Hm? " aku menoleh pada Rey


"Bukankah kedatangan pria itu membuat papah kamu naik pitam?"


"Iya betul"


"Lalu kenapa kau tidak mencari tau saja siapa sebenarnya pria itu?"


"Mungkin lebih baik begitu, tapi aku butuh waktu" terangku


"Baiklah"


"Oh ya? Apa kau sudah membaca buku yang ku berikan padamu tempo hari?" tanya Rey


"Aku baru membaca epilognya, aku belum masuk ke dalam bab nya... Dan aku suka" jawabku tersenyum


"Benarkah? Kau menyukainya? Bahkan kau belum membaca sepenuhnya"


"Memang aku belum membaca sepenuhnya, tapi aku akan memasukkannya kedalam daftar buku favorit haha" aku dan Rey tertawa bersama di dalam mobil.


Memang benar, aku sangat menyukai buku yang di berikan Rey padaku padahal aku belum masuk ke dalam babnya, entah apa yang membuatku sangat tertarik membaca buku "My First Love" pemberian Rey, sampulnya terlihat seperti buku Romansa biasanya yang tak lupa dengan bentuk hati di dalamnya dan identik dengan warna merah mudah, halamannya juga tidak terlalu banyak, hanya ada dua ratus halaman dan duapuluh bab, jika saja aku memiliki banyak waktu luang akhir-akhir ini pasti buku itu sudah selesai ku baca, tapi selalu saja ada yang menghambatku untuk bersantai, mungkin nanti malam aku akan membacanya jika tidak ada kesibukan. Aku berharap bisa tidur nyenyak malam ini dan berangkat ke sekolah seperti biasanya tanpa ada drama di pagi hari, tapi kalau di rumah Rey drama di pagi hari hanya di lakukan oleh Jessy dan itu tidak sama dengan drama di rumahku, kalian sendiri sudah pasti tahu drama apa itu...


Sisa satu setengah tahun lagi aku akan tamat dan belum tahu mau kuliah di mana, sedangkan Rey, Rey sudah menentukan dia akan kuliah dimana, Rey akan kuliah di Negeri Paman Sam Amerika Serikat tapi aku tidak tahu dia mau mengambil Jurusan apa, dia tidak pernah mengatakannya.


Sepanjang perjalanan kami tidak bersuara, terakhir saat membahas buku tadi, kami sibuk dengan pemikiran masing-masing, dan kini kami sudah sampai di garasi mobil yang tepat berada di samping rumah Rey.


"Kamu masuk dulu, aku mau pergi sebentar" ujar Rey


"Mau kemana Rey?"


"Aku ada urusan mendadak" jawab Rey, terlihat aneh dan tidak biasanya dia seperti ini, jika ada sesuatu dia pasti akan menceritakannya padaku, dia tidak akan menyembunyikan apapun dariku


"Oh, baiklah... Hati-hati dijalan" kataku seraya melambaikan tanganku dan dibalas senyuman oleh Rey.


Sangat membingungkan, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan Rey dariku, tidak biasanya Rey pergi tanpa mengatakan tujuannya.


"Kak! " aku memutar badanku, dan disana ada Jessy sedang memegang selang air


"Eh Jessy, sedang apa? " tanyaku padanya sekedar basa-basi


"Ahh, baru saja aku sampai"


"Lalu" Jessy menjeda ucapannya dan menengok ke arah garasi


"Dimana Kak Rey?" lanjut Jessy seraya mematikan keran air


"Dia ada urusan katanya, dia tidak mengatakan mau kemana" jawabku jujur


"Oh" singkat Jessy


"Kalau begitu aku masuk duluan Jessy, lanjutkan pekerjaanmu, tapi jika kau ingin kubantu katakan saja"


"Oh tidak usah kak, kak Alen masuk aja duluan, ini juga tinggal sedikit" ucap Jessy tersenyum, Jessy sangat cantik jika tersenyum


Lalu aku berjalan masuk ke dalam rumah Rey, jujur aku merasa tidak enak jika masuk ke dalam rumah keluarga Rey jika tanpa Rey, tapi biar ku beranikan sebab aku tahu jika keluarga ini semuanya sangat baik. Aku ada rencana bahwa besok aku akan mulai menginap di Apartemen, Apartemen yang di sewa Papah tapi tidak pernah di tempati. Aku tidak ingin terus menerus merepotkan keluarga Rey dan juga Rey, aku hanyalah orang asing di rumah ini.


Aku masuk ke dalam kamar dan segera menuju kasur tak lupa mengambil buku yang di berikan Rey padaku, aku membacanya mulai dari Bab satu, di pertengahan dialog antar tokoh aku menemukan sebuah kalimat yang tidak asing bagiku "jika kamu merasa kamu adalah orang yang kuat, pasti kamu tidak akan menangis hanya karna hal sepeleh, tapi aku tidak akan melarangmu untuk menangis, sebab, menangis adalah sebuah pelampiasan sedih ataupun bahagia, kamu boleh menangis, tapi jangan menangis karena aku" itulah kalimat yang dikatakannya dan kalimat itu tidak asing bagiku, pernah kudengar, dan aku mendengarnya dari mulut Rey sendiri, apakah Rey telah Mengcopy kata-kata dari buku ini?


Di tengah-tengah keasyikanku membaca terdengar suara pintu di ketuk.


Tok.. Tok.. Tok


"Assalamu'alaikum Alen" terdengar suara tante Aulia di balik pintu


"Waalaikumsalam, masuk Tan, pintunya tidak di kunci" sahutku


CEKLEK


Suara pintu terbuka dan muncullah Tante Aulia, ketika melihat tente Aulia aku segera menutup buku.


"Alena" Tante Aulia duduk di pinggir kasur lalu memegang tanganku, tersirat dari wajahnya bahwa ia sedang memendam sesuatu yang ingin di katakannya.


"Iya Tan?" tanyaku pelan


"Jangan katakan ini pada siapapun, tante hanya akan mengatakannya padamu" Ujar Tante Aulia dengan ekspresi wajah yang keruh


"Katakan tante?"


"Jadi... " Belum tante Aulia melanjutkan ucapannnya, Tiba-tiba Rey datang.


"Ada apa ini? Sepertinya sedang berbicara serius? Apa Rey boleh gabung?" kata Rey menyela pembicaraan Tante Aulia


"Ahh bukan apa-apa Rey... kalian silahkan cerita-cerita, Mamah mau istirahat" ujar tente Aulia seraya berdiri dari duduknya lalu meninggalkan kami


Aku menoleh menatap Rey, ada rasa jengkel di hatiku karena Rey tiba-tiba datang di saat tante Aulia ingin berkata serius.


"Mamah bilang apa tadi?" tanya Rey seraya duduk di pinggir kasur


"Dia belum berkata apa-apa, tapi sepertinya sangat penting" kataku melihat ke arah pintu


"Aku jadi penasaran" ucap Rey


"Jika kau tidak datang tadi, pasti tante Aulia sudah mengatakannya" sambungku sembari memukul kecil lengan Rey


"Mana ku tau jika kalian sedang berbicara serius, memangnya telingaku ini telinga kelinci" jawab asal Rey diiringi kekehan darinya, aku hanya tersenyum kecut


Ditengah pembicaraanku dengan Rey tiba-tiba dering ponsel Rey berbunyi menandakan ada orang yang menelpon, lalu Rey mengangkatnya.


"Halo" kata Rey


".. "


"Oh, siapkan saja semuanya" kata Rey lagi


"... "


"Aku percayakan padamu"


"..."


"Aku akan membayarmu, tenanglah jangan pikirkan itu"


"... "


"Baiklah, aku tutup telponnya"


Mendengar ucapan Rey, aku menjadi bingung dengan ucapan terakhirnya bahwa dia akan membayar seseorang yang di telponnya tadi, aneh..


"Siapa Rey?" tanyaku penasaran


"Oh, dia adalah.. " Rey menjeda ucapannya lalu menatapku intens


"Kenapa kau mentapku begitu?" tanyaku padanya


"Kau mau tau siapa yang menelponku?" sambung Rey


"Iya, katakan... Jangan malah menatapku seperti itu, kau seperti harimau yang ingin memakan mangsanya hidup-hidup" ujarku cemberut


"Baiklah, aku akan mengatakannya, dia adalah.... Rahasiaaaa hahaha" seketika Rey terbahak-bahak, dan aku? Aku sangat jengkel di buatnya


"Rey!! " pekikku sambil mencubitnya


"Awwwww, sakit heyy... Ini rahasia, kau tidak boleh tau" Rey melepas paksa capitanku dari lengannya lalu berlari kecil meninggalkanku.


Rey saangat aneh, dia melakukan hal aneh begini ketika ulang tahunku tiba, dia akan membuat drama lalu mengejutkanku tapi jika begini, ulang tahunku masih lama, kenapa dia bertingkah aneh begini bahkan dia ingin membayar seseorang demi rencananya, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan


......