
Chap 4
~{ orang akan berkata bahwa setiap kejadian yang benar-benar ada didepan mata adalah kenyataan, tapi tidak tahu akar dari suatu kejadian}~
Pagi yang sangat cerah, burung-burung berkicau saling bersahutan, bernyanyi dan merasakan bahwa kehidupan itu harus dijalani sebagaimana mestinya.
Pagi ini aku akan mengajak Rey lari pagi di taman, dan semoga Rey tidak sibuk. Aku mengambil ponselku diatas nakas berencana ingin mengirim pesan pada Rey.
Reyyynaldi_
Alena
*lari pagi yuk
Reyyynaldi_
*Dimana?
Alena
*taman
Reyyynaldi_
*ok, nanti aku jemput
Setelah mengirim pesan untuk Rey, aku bergegas bersiap-siap sambil menunggu Rey menjemputku.
Tak lama ada suara mobil yang datang, dan aku tebak itu adalah Rey. Aku segera berlari kecil menuruni anak tangga menuju pintu utama, berharap didepan pintu Rey sudah menunggu. Aku perlahan membuka pintu, dan dugaanku memang benar kalau Rey sudah menungguku, Rey memunggungi pintu, karena aku membuka pintu pelan, aku yakin dia tidak mendengarku, aku akan mengagetkannya.
Perlahan tanganku bergerak ingin mengentuh bahu Rey dan "DOORR!! " justu Reylah yang mengagetkanku, hampir saja aku terjatuh karena ulah Rey.
"Hahahaha, kena kan? " Rey meledekku diiringi dengan tawa khasnya. Aku juga ikut tertawa. Setelah bercanda tawa, aku dan Rey masuk kerumah pamit dulu sama mamah, dan kebetulan sekali mamah sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Eh ada Aldi" ujar mamah ketika sadar aku dan Rey masuk keruangan. Jangan heran kenapa mamah panggil Rey dengan Aldi, karena Rey memang sudah terbiasa dipanggil Aldi sama mamah, sejak aku dan Rey berteman
"Pagi mamah Farah" Rey menyapa mamah balik.
"Mau kemana nih? Mamah tebak, kalian pasti mau lari pagi, iya kan? " tebak mamah menunjuk kecil sambil memicingkan matanya.
Aku dan Rey saling bertukar pandang melihat tingkah mamah seperti itu lalu tersenyum, dan melihat mamah lagi "iya mah, ini rencananya mau pamit sama mamah" sambung Rey
"Ya udah sana pergi, ntar keburu siang" suruh mamah.
Setelah pamit, kami berlalu pergi meninggalkan rumah, Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga kami sampai di taman.
"Okey, yuk kita peregangan dulu biar nanti kalau lari kakinya ga kram"
Aku dan Rey memulai pemanasan sebelum berlari agar otot-otot tubuh lentur dan tidak mengalami kejang otot ditengah aktifitas. Disaat aku dan Rey melakukan pemanasan tiba-tiba ada yang menyapa.
"Kalian? " aku melihat Arisa sudah ada didepanku, sepertinya dia juga mau lari pagi, terlihat dari pakaiannya menggunakan baju kaos berwarna putih , trening serta handuk kecil yang digantung dilehernya. Rambutnya dicepol asal dan itu membuat Rey seperti sedang menelan salivanya, aku melihat jakunnya naik turun, dasar.
"Hai Arisa" sapaku pada Arisa, aku tau kalau Rey sedang memperhatikan Arisa, jadi kubiarkan saja sampai nanti dia sadar dan salah tingkah dengan ulahnya sendiri.
"Kalian? Pacaran ya?" pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunan Rey, aku melirik Rey yang sedang salah tingkah dengan pertanyaan Arisa barusan, dan sudah kuduga bahwa dia akan seperti itu.
"Tidak" Rey langsung menjawab pertanyaan itu cepat.
"Tapi kalian kok kayak pacaran sih? Kalian selalu bereng dan bahkan tidak ada kesempatan buat dekat sama salah satu dari kalian, karna kalian tuh selalu bareng... Dan tidak keliatan kalau kalian hanya bersahabat, lebih keee pacaran sembunyi-bunyi gitu" sambung Arisa, dia benar-benar ingin tahu hubunganku dengan Rey yang hanya sebatas teman, aku yakin dia sepemikiran dengan orang lain, tidak ada orang yang melihatku dengan Rey dengan beranggapan kalau kami hanya teman, justru mereka beranggapan bahwa kami adalah sepasang kekasih.
"Kita seperti itu karena emang udah terbiasa Arisa, soalnya aku sama Rey udah sahabatan sejak kecil, jadi tidak usah mikir kalau aku sama Rey pacaran" jelasku pada Arisa, aku akan selalu menepis semua perkataan orang menyangkut hubunganku dengan Rey yang bukan-bukan.
"Oh gitu ya? Maaf aku salah sangka, kalau gitu aku lanjut lagi ya, selamat beraktifitas" akhirnya Arisa menyerah dan pergi meninggalkan kami berdua, dan Rey? Rey tidak melepaskan penglihatannya pada Arisa sampai Arisa tidak terlihat lagi. Aku benci jika Rey bersikap seperti itu, dia jadi tidak menghiraukanku, lupa jika ada aku disampingnya, aku akan meninggalkannya, biarkan saja dia melihat Arisa dan lupa akan sahabatnya, hm.
___
"Alena? Aku tidak suka kalau kamu kayak gini lagi? Kamu kalau marah sama aku ngomong dong, jangan kayak gini" Rey mengubah ekspresi seperti orang yang ingin menggertak anaknya
"Apa kamu tidak sadar? " aku membentaknya sambil bersedekap
"nyadar apaan Al, aku ga ngerti" umpat Rey padaku, dan sikap ini yang tidak aku sukai jika sedang bertengkar dengannya.
"Terserah kamu Rey, aku capek mau pulang" aku melangkah meninggalkan Rey.
"Oke Al, aku minta maaf kalau aku ada salah" ujar Rey sebelum aku melangkah lebih jauh, aku menghentikan langkahku dan berbalik melihat Rey bercucuran keringat, dan aku tau dia tidak akan membiarkanku pulang sendiri.
"Kamu tau kesalahan kamu apa? " tanyaku padanya
"Karena aku udah cuekin kamu tadi, aku selalu natap kepergian Arisa" jelas Rey, ternyata dia sudah tahu kalau aku marah karena itu, mungkin Rey bisa membaca fikiranku.
Aku berlari memeluk Rey, dia sangat mengerti jika aku marah, dia selalu bisa menebak isi hati aku, bahkan ketika aku merahasiakan sesuatu darinya, dia akan berusaha mencari tahu. Aku bingung, kenapa dia masih mau berteman denganku, padahal aku ini egois.
"Maafin aku ya? " Rey membalas pelukanku.
"Aku benci kalau kamu nangis Alen. Aku tidak suka kalau orang yang aku sayang nangis" lanjut Rey
Aku mendongak mendengar ucapannya barusan, jujur, ketika Rey mengatakan hal seperti itu, otakku seperti sedang mencari jawaban dibalik kata-kata itu. Menerawang apakah ada sebuah arti dari balik kata itu yang mungkin hanya ku anggap sepeleh.
"Kamu boleh nangis Al, asal kamu jangan nangis karena ulah aku" ujar Rey lagi yang membuat otakku berkecamuk, oh Rey kumohon jangan membuatku bingung dengan kata-katamu itu, iya aku mengerti tentang jangan aku boleh menangis asal jangan menangis karena ulahnya, lalu untuk apa aku menangis karena ulahnya jika dia selalu memberikan kebahagiaan untukku? Saat ini aku menangis karena aku bahagia bisa memeiliki sahabat sepertinya.
Aku melepas pelukanku dan menatap lekat mata coklat Rey, disana aku melihat ketulusannya. Aku belum ingin membuka suara, aku hanya ingin mendengar semua perkataan yang ingin Rey lontarkan.
"Al? Kenapa kamu tidak mengizinkanku dekat sama cewek lain? Kitakan cuman sahabat? Dan apa aku tidak boleh pacaran? " mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, jujur aku tidak bisa menjawabnya, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menunduk mencari tahu jawaban apa yang akan aku berikan.
Aku menatap Rey lagi " maybe, karena aku egois? " jawabku asal, tapi Rey malah tertawa mendengarnya.
"Cuman karena kamu egois? " Rey memegang pelipisnya seperti memikirkan sesuatu.
"Alena, aku tau kamu tidak bisa jawab pertanyaan aku, jadi aku kasih saran cara buat kamu bisa jawab pertanyaan aku" Rey memegang kedua pipiku, aku dan Rey saling tatap, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat ini, wajahku panas, biar kutebak. Saat ini wajahku sedang merah.
"Ungkapin isi hati kamu, apapun yang ada dalam hati kamu ungkapkan, dan jika tidak bisa, hati kecil kamu bisa menjawab semuanya" sambung Rey sambil mengeluarkan tangannya di pipiku dan tersenyum.
"Rey, aku tidak membiarkan kamu dekat sama cewek lain karena aku tidak mau kalau kamu jauhin aku, dan tidak mau dekat sama aku lagi, aku tau kita cuman sahabat, dan kamu berhak memilih hidup kamu balakan seperti apa, aku tidak berhak melarang setiap apa yang ingin kamu lakukan, tapi cuman kamu satu-satunya teman dekat aku, aku udah janji sama diri aku sendiri kalau aku bakalan menjaga persahabatan ini, tapi kayaknya cara aku salah untuk menjaga persahabatan ini... Justru itu menghalangi semua keinginan kamu... Aku egois Rey, mulai sekarang aku tidak akan melarang kamu dekat sama siapa aja, kamu boleh pacaran Rey, berapapun yang kamu mau aku tidak akan ngelarang, asalkan kamu jangan pernah lupain aku sebagai sahabat kamu" terangku seraya menunduk, aku benar-benar salah telah menghalangi setiap keinginan Rey. Aku sadar, tindakanku ini membuat Rey menjadi seperti tertekan dan sulit untuk menemukan kehidupan lain selain ada didekat ku.
"Alena, aku tidak minta kamu berpidato di depan aku, aku cuman nyuruh kamu ungkapin isi hati kamu" Rey malah terkekeh mendengarkanku berbicara seperti itu, menyebalkan, aku sudah menunjukan bagaimana reaksi sedihku, tapi dia justru tertawa.
"Tapi Rey, itu isi hati aku" aku menunjukan wajah sok imut pada Rey, bukannya kasihan, dia malah mencubit pipiku seperti ingin mencabik-cabiknya.
"Iya iyaa... Aku percaya" Rey langsung merangkulku. "Kita cari cafe yuk? Sambil nikmatin hari menjelang siang" ujarnya seraya menggandengku mencari cafe terdekat. Akhirnya aku dan Rey sampai di sebuah kedai kopi, bukan cafe, sepertinya tidak ada cafe didekat taman, disini hanya ada kedai kopi bernama kedai kedia.
Aku dan Rey duduk di luar agar bisa merasakan kesegaran angin.
"Mau pesan apa mbak? Mas? " tanya seorang pelayan.
"Eumm... Menunya mana? " aku meminta menu padanya, aku memang jarang ngopi.
"Disana" ujarnya seraya menunjuk papan yang tertempel di dekat pintu masuk.
"Aku mau pesan kopi dalgona, kalau kamu Rey? Mau pesan apa? "
"Aku sama kayak pesanan kamu aja"
Pelayan pergi meninggalkan kami setelah mencatat pesanan.
Sembari menunggu pesanan, aku mencari topik untuk berbicara dengan Rey, tapi sulit untuk mencari topik yang selaras dengan kedai ini, tapi itu tidak perlu.
....