Not A Lover But A Best Friend

Not A Lover But A Best Friend
not a lover but a best friend 7



Chap 7


"Jangan bercanda bodoh" umpatku kesal melihatnya


"Baiklahh" ujarnya santai


"Namaku Kenzo Afwiansyah biasa di panggil Ken" sambung Si Bodoh ini yang katanya namanya adalah Kenzo Afwiansyah, nama yang cukup bagus.


Aku tidak menggubrisnya, lagi pula untuk apa aku cari tahu tentangnya, ah aku lupa ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Aku berbalik melihat ke arah Ken


"Kenapa kau memfitnah Rey? " tanyaku menginterogasi


"Ah itu... Aku hanya ingin melihat bagaimana kesetiaanmu terhadap Rey" jawabnya, tapi alasannya tidak begitu logis menurutku


"Bohong" aku menatapnya tajam


"Lalu aku harus mengatakan apa jika memang itu kenyataannya? "


"Itu bukan alasan sesungguhnya bukan? "


"Yaa, kau memang sangat pintar Alena... Baiklah aku kalah" ucap Ken menyeringai


"Kalau begitu katakan, kenapa kau memfitnah Rey?" tanyaku lagi


Ken terlihat menarik nafasnya lalu membuangnya lagi, lalu mendekatkan wajahnya di telingaku "karena aku benci sama dia" bisik Ken di telingaku. Seketika aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku.


"Atas dasar apa kau membencinya? "


"Mungkin karena dia dekat sama kamu" seru Ken, benar-benar menjengkelkan di mataku


"Aku tidak suka dengan candaanmu itu Bodoh"


"Jangan bahas itu Alena, ayo aku antar kamu pulang" ujar Ken seraya mengambil tanganku lalu menarikku.


Aku hanya bisa pasrah dengan perlakuannya, kubiarkan saja dia mengantarku pulang walaupun nantinya akan berakhir menyedihkan, hm hidupku sekarang sudah benar-benar menyedihkan.


"Aku pulang dulu, jangan merindukanku, sampai ketemu lagi Alena" mendengar Ken berkata seperti itu membuatku muak


Dan pada akhirnya aku akan kembali lagi ke rumah ini, rumah terburuk hanya dalam sehari saja, aku akan belajar tidak peduli dengan keadaan di dalam sana meski itu akan menyakitkan.


"Akhirnya kamu pulang Alena, mama khawatir sama kamu" ujar mamah khawatir, tapi jika mereka khawatir denganku kenapa mereka tidak melakukan apapun untuk mencariku?


"Aku mau istirahat" aku melepas genggaman Mamah, dan berlalu meninggalkannya di ruang tamu


"Kamu pasti belum makan" ucap mamah, tapi aku tidak menghiraukannya aku terus melangkah menuju tangga.


Aku tidak tahu isi hatiku saat ini, apakah merasa bersalah dengan perlakuanku pada mamah atau justru jalan terbaik untuk tetap mendiamkannya. Sebenarnya aku sudah sangat lapar dari tadi siang tapi aku menahannya, untungnya ada cemilan yang memang selalu kusediakan di kamar ku, mungkin itu cukup untuk menjanggal laparku sebelum aku tidur dalam keadaan lapar. Aku akan menghubungi Rey dan menceritakan semua yang terjadi padaku sore ini.


Aku mengambil ponsel ku di atas nakas samping ranjang ku lalu membuka apk kontak mengetik nama Rey di sana.


"Halo" suara Rey di seberang telepon


"Rey.. Hiks.. Hiks" aku langsung terisak mendengar suara Rey, baru saja Rey menguatkanku tadi, tapi aku kembali bersedih.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis? " tanya Rey di seberang


"Mamah sama Papah Rey huhuu"


"Ada apa? Mamah sama Papah kamu kenapa?" dari suara Rey sudah terdengar panik


"Mereka mau pisah huhuuu" tangisku semakin pecah, dan Rey, tidak ada lagi suaranya, aku tau Rey ingin membiarkanku menangis sepuasnya, setelah merasa lebih tenang suara Rey kembali terdengar.


"Aku kesana sekarang"


"Tut... Tutt" sambungan terputus sepihak dari Rey


Rey akan datang ke rumah ku, terserah saja dia mau datang atau tidak, jika dia datang aku pasti akan senang tapi jika dia tidak datang aku juga tidak peduli.


Beberapa waktu kemudian aku mendengar suara mobil Rey di depan, aku tidak ingin menjemputnya di pintu biarkan saja dia langsung kesini dia sudah terbiasa. Dan aku yakin pasti Mamah sudah menyambutnya di pintu, yang aku pikirkan adalah bagaimana reaksiku kalau Rey datang pasti aku akan menangis, entah kenapa setiap aku melihat Rey ketika aku sedang bersedih pasti air mata ku tidak tertahankan, mungkin karena Rey lah yang selalu menjadi sandaranku di saat aku terluka.


Tok... Tok... Tok


"Alena!! Aku masuk ya?" pasti itu Rey


"Hmmm masuklah" sahutku


Ketika pintu terbuka Rey masuk dan menutup pintu kembali, Rey berjalan menuju ke arahku tak lupa wajah cemasnya terlihat jelas, dia langsung menghampiriku yang sedang terduduk di karpet. Sontak aku langsung memeluknya, benar saja air mataku sudah tidak bisa di tahan lagi.


"Menangislah Alena, kamu jangan menahan air matamu... Aku siap jadi sandaranmu" kata itu kembali terucap dari mulut Rey.


Setelah merasa tenang dan puas meluapkan semua tangisku, aku mulai menenangkan diri lagi berusaha agar air mataku tidak keluar lagi. Baju Rey di bagian dadanya terlihat basah karena air mataku.


"Makasih Rey" gumamku


Aku ingin menceritakan semuanya pada Rey tapi tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan penglihatanku menjadi kunang-kunang kemudian gelap, aku bisa mendengar sayup-sayup suara Rey memanggilku, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku juga bisa merasakan tubuhku melayang di udara seperti terangkat, aku berusaha membuka mataku tapi tidak bisa badanku terasa lemas dan tidak bisa di gerakkan.


.


.


Aku merasakan angin kecil menerpa wajahku, perlahan aku melihat setitik cahaya lalu mataku terbuka sempurna melihat sekeliling, aku terbaring di brankar, biar ku tebak, aku ada di rumah sakit saat ini karena ada bau obat-obatan dan udaranya berbeda.


"Kenapa aku bisa ada di sini Rey?" tanyaku pada Rey.


"Kamu pingsan akibat kelaparan, kamu dari tadi pagi belum makan... Dan kamu tau jam berapa sekarang?" ujar Rey marah tapi peduli padaku.


Aku menggeleng pelan.


"Sekarang jam lima sore" Rey terlihat marah padaku


"Maaf" hanya itu yang bisa ku katakan


"Oke, sekarang kamu makan, aku ga mau lihat kamu terbaring di sini" ucap Rey seraya membuka kotak nasi di tangannya


Di sela-sela Rey menyuapiku aku berkesempatan bertanya padanya.


"Rey? Apa mamah sama papah tau aku di sini? " itulah pertanyaanku pada Rey, aku sengaja mempertanyakan mereka, karena yang membuatku seperti ini itu ulah mereka dan di saat aku sedang sakit mereka tidak ada, apa itu yang namanya peduli?


"Alena, saat aku masuk ke rumah kamu mereka memang ga ada, sampai kamu pingsan dan aku bawa kesini pun mereka juga tidak ada... Bahkan aku menelpon mamah kamu tapi ga di angkat, sedangkan papah kamu ponselnya tidak aktif" jelas Rey, tentu penjelasan Rey membuatku sedikit geram


Dua jam setelah itu aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.


"Rey? Apa aku boleh pulang ke rumah kamu aja?" pintaku pada Rey


"Iya Al, boleh kok... Kamu juga bisa ceritakan semuanya sama aku sama mamah dan Jessy juga, mereka pasti senang kalau kamu ada di sana" Jawab Rey.


Jika aku kesana, aku pasti akan iri melihat keluarga harmonis mereka.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kami sampai di rumah Rey. Rumah Rey terlihat sepi, hanya ada satpam dan dua asisten rumah tangga.


"Rumahmu sepi Rey"


"Semua orang sepertinya sedang berkumpul di belakang"


Aku dan Rey berjalan menuju kolam renang, disana ada Jessy, tante Aulia dan Om Danu, mereka terlihat bahagia sekali terpancar dari wajah mereka yang tertawa gembira. Sadar akan kehadiranku dan Rey semua orang menoleh melihat kami berdiri di samping mereka.


"Kak Alena" seru Jessy ketika melihatku


"Kalian kenapa malah berdiri di situ, ayo sini" ajak Tante Aulia


Rey meraih tanganku lalu menarikku menuju tempat keluarganya berkumpul.


"Mah, pah dan Jessy... Alena lagi sedih" Raut wajah ketiga orang itu langsung berubah, senyum di wajah mereka seketika surut.


"Astaga, papah lupa, Alena Om turut prihatin ya sama apa yang terjadi dengan keluargamu" ternyata Om Danu sudah tahu tentang keadaan keluargaku. Mendengar itu aku hanya mengangguk dan tersenyum


"Memangnya ada apa pah? " tanya Jessy penasaran


"Kamu anak kecil, jangan ikut campur" tukas Tante Aulia


"Iiissh" Jessy menjadi cemberut dengan ucapan Ibunya


Melihat keharmonisan mereka aku menjadi iri, tak terasa air mataku menetes tapi aku segera menghapusnya agar semua orang tidak melihatnya, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.


Tante Aulia menghampiriku dengan tersenyum


"Alena, sekarang kamu bersihkan diri kamu terus ganti baju, kamu pake bajunya Jessy aja, lalu istirahat" ujar Tante Aulia yang ku jawab dengan anggukan


"Biar ku antar Kak" seru Jessy menghampiriku sambil mengambil tanganku, lalu digandengnya aku menuju kamar tamu yang memang biasa aku tempati ketika sedang menginap di rumah Rey.


Setelah aku membersihkan diri aku langsung menuju kasur merebahkan tubuhku, berharap lelahku menghilang, ternyata ketika pikiran lelah tubuh juga akan terasa lunglai.


Tok.. Tok.. Tok


Suara ketukan pintu membuatku terbangun dari rebahanku, aku baranjak dari kasur menuju pintu untuk membukanya, mungkin itu Jessy, tapi dugaanku ternyata salah yang datang adalah Rey. Aku membiarkan Rey masuk kedalam kamar.


"Ceritakan semuanya sama aku" ujar Rey yang sedang duduk di sofa


Aku ikut duduk di sofa dengan Rey dan memulai menceritakan semuanya, tidak ada yang ku tutupi termasuk tentang Kenzo, tapi ketika aku menceritakan Kenzo, Rey menyela ceritaku.


"Kenapa dia membenciku?" tanya Rey


Aku hanya mengidihkan bahuku pertanda tidak tahu.


"Dia bodoh" sambungku


Lalu aku melanjutkan kembali ceritaku sampai akhirnya Rey manggut-manggut.


"Alen? Padahal kamu sekarang tidak ada di rumah, kenapa mereka tidak mencarimu?"


"Mereka sudah tidak menyayangiku lagi Rey" ujarku santai


"Alena, setelah aku mendengar ceritamu, sebenarnya kamu tidak usah marah... Kamu kan belum tau apapun kenapa mereka mau pisah, kenapa ada pria misterius bahkan kamu tidak mengenalnya... Dan kamu tadi bilang kalau raut wajah mereka menyiratkan teka-teki, sebelumnya juga keluargamu baik-baik saja, orang tuamu masih akur dan tertawa bersama, tapi setelah kehadiran pria itu di rumahmu banyak yang terjadi di luar dugaanmu" jelas Rey, masuk akal juga


"Tapi Rey, aku berhak marah karna mereka tidak mau menjelaskannya"


"Sudahlah Al, aku yakin ada jalan di balik semua ini... Sekarang kamu istirahat besok sekolah" ujar Rey seraya berdiri. Aku menganggukinya lalu dia pergi meninggalkanku


.....