Not A Lover But A Best Friend

Not A Lover But A Best Friend
not a lover but a best friend



Chap 5


"Eumm... Rey? Apa kamu tidak menyukai siapapun setelah kamu kehilangan Rania? " pertanyaan itu sudah ku tahu jika Rey tidak akan menjawab dengan baik.


Rey seketika menoleh menatapku tajam, aku tidak tahu kenapa reaksi Rey seperti ini ketika aku membahas tentang Rania, apa aku salah?


"Jangan bahas itu" ujarnya dingin, aneh, tidak biasanya dia seperti ini.


"Kenapa? " biarlah dia marah jika aku selalu menuntutnya untuk menjawab.


"Alena, please" lagi-lagi dia bersikap aneh


"Okey, maaf"


Pesanan sudah datang, aku penasaran bagaimana rasa dari kopi dalgona ini, kudengar-dengar kopi ini dibuat dengan bubuk kopi instan, gula pasir, dan air mendidih, lalu dikocok hingga kental dan berbusa, kemudian dituangkan ke dalam segelas susu yang diberi es batu. Kurang lebih seperti itu, dan kopi ini sukses menghilangkan dahagaku.


"Enak" gumam Rey, tapi masih bisa ku dengar.


"Hemm iya" gumamku juga.


"Kopi ketika di diamkan saja seperti ini rasa manisnya akan lebih terasa, tapi jika di aduk... Akan ada kesan pahit" aku tidak paham apa yang di maksud Rey


"Apa itu? " tanyaku padanya


"Hmm, orang yang ketika di diami, dia akan tenang, namun jika di ganggu, akan ada kesan yang berbeda, apa kau bisa memahaminya? " entahlah, mungkin aku memahaminya, sedikit.


"Lalu? Untuk siapa kau berbicara seperti itu? " aku takut jika dia menyindirku karena sedari tadi aku diam saja.


"Itu hanyalah kalimat, dan saat ini kita sedang meminum kopi. Aku hanya berkata" ujar Rey seraya mengambil kopi lalu di minumnya, ya, sekarang aku bisa menyimpulkan, bahwa setiap orang yang jika di diami, dia tidak akan tahan dengan diamnya kita, dan pada akhirnya memilih diam dan tenang, namun jika di ganggu, pasti akan selalu ada hal yang terjadi, entah marah, atau membalas perbuatan kita, tergantung siapa yang di ganggu. Mungkin begitu maksud Rey.


Waktu terus berjalan, aku dan Rey memutuskan untuk pulang membersihkan diri lalu istirahat. Cukup lama kami keluar rumah, padahal tujuan kami hanya ingin lari pagi, tapi justru kelewat waktu.


"Aku antar pulang yah? " tawar Rey padaku, dan aku mengangguk


Hari ini tidak banyak yang kami ceritakan, meski begitu jujur aku sangat bahagia, sayang nya hari ini sudah berlalu, tapi kubiarkan saja, masih ada hari esok jika ingin bertemu dengan Rey, jika kalian yang memiliki teman seperti Rey, aku yakin, pasti sangat sulit untuk kalian membiarkan dia pergi. Ketika aku sedih, Rey akan menghiburku, memberiku bahunya untuk bersandar, ketika aku butuh seseorang untuk bercerita, Rey datang menemaniku. Aku suka akan sikap Rey terhadapku yang begitu perhatian dan penyayang, yang aku takutkan adalah ketika Rey akan meninggalkan aku saat lulus sekolah nanti, Rey akan kuliah di Negeri orang.


"Thanks Rey, kamu mau singgah dulu atau mau langsung balik? "


"Aku mau langsung balik aja, bye, sampai ketemu besok" Rey pamit meninggalkanku.


___


"Jangan kamu datang untuk membuat onar lagi disini, keluargaku sudah bahagia setelah kamu pergi, dan sekarang kamu datang untuk merusaknya kembali? Apa belum cukup kamu menghancurkan keluargaku dahulu hah? " siapa itu? Suara itu seperti suara papah, dan dia sedang berbicara dengan siapa? Bukan, dia tidak berbicara saja, lebih tepatnya dia marah.


Aku menuruni tangga mencari papah yang sedang berbicara dengan nada keras, aku sangat penasaran dengan siapa dia ber adu mulut. Ketika aku sampai di lantai bawah, aku melihat mamah sedang terkulai di lantai, dan papah terlihat sangat marah, lalu, siapa pria itu? Dia mengenakan jas berwarna hitam dan kacamata hitam juga, aku baru pertama kali melihatnya. Kuharap tidak terjadi apa-apa di sini. Aku berlari menuju mamah, dan merangkulnya, aku penasaran apa sebenarnya yang terjadi.


"Mah.. Ada apa? Kenapa papah marah? " tanyaku pada mamah yang terlihat lemas dan pucat, matanya juga sembab, aku yakin dia pasti habis menangis.


Mama tidak menjawab pertanyaanku, dia justru menggeleng dan menatapku lalu memegang kedua pipiku, aku bisa melihat bibir mamah bergetar seperti sedang menahan sesuatu yang ingin di bicarakan. Sedangkan papah dan pria itu, mereka diam melihatku yang sedang kebingungan. Bagaimana aku tidak bingung, aku bangun dan tiba-tiba ada suara papah yang sangat keras.


"Maafin mamah ya Alen" seketika air mata mamah terjatuh, melihat mamah menangis, air mataku juga ikut terjatuh entah kenapa air mataku terjatuh padahal aku belum tahu apa-apa.


"Mamah ngapain minta maaf?" aku melihat ketiga orang ini bergantian berharap mendapatkan jawaban dari raut wajah mereka, tapi nihil, justru raut wajah mereka membuat tanda tanya besar di kepalaku.


"Alen, mending kamu berangkat sekolah aja, ini urusan orang dewasa" sambung papah, aku menggeleng keras dan tidak terima jika papah masih menganggapku anak kecil, aku bukan anak lecil lagi aku sudah dewasa, aku sudah bisa membawa diriku ke jalan yang baik.


"Papah, aku udah dewasa dan aku juga sudah bisa menentukan jalanku sendiri pah, aku bukan anak kecil yang harus dituntun berjalan" tak terasa air mataku semakin deras, rasanya dadaku sesak, aku benar-benar ingin meluapkan semua tangisku, entah apa yang membuatku menangis, yang jelasnya bukan kata-kata papah aku begini, tapi ada sesuatu yang tertahan bahkan aku saja tidak bisa mengartikan isi hatiku saat ini.


Papa memegang kedua bahuku, menatapku dalam seperti memberikan semangat untukku. "Ini bukan apa-apa, kamu jangan memikirkan apa yang terjadi pagi ini, ini semua hanya salah paham dan kamu tidak tahu akar dari semua permasalahan ini, papah bisa mengurus ini semua" papa meyakinkanku, tapi aku tidak sebodoh itu untuk diyakinkan seperti anak SMP, mungkin kehadiranku hanya akan membuat semakin rumit, jadi kubiarkan saja diriku ini berpura-pura bodoh, dan seperti anak SMP.


"Aku berangkat" ujarku lemas meninggalkan mereka.


"Alen, ini bekal buat kamu" mamah menyodorkan sekotak bekal untukku, tapi aku menolaknya, lagi pula aku tidak mood untuk sarapan.


"Nanti di sekolah aja mah, makasih.. Aku pergi" lalu aku kembali melanjutkan langkahku, aku yakin saat ini mataku sedang sembab akibat menangis tanpa sebab tadi.


Aku tidak akan ke sekolah dalam keadaan seperti ini, dan satu-satunya tempat ku bisa berteriak bebas adalah Danau, iya, Danau tempatku beberapa waktu lalu dengan Rey.


______


"Jika aku ditakdirkan untuk menjadi gadis yang lemah, aku yakin suatu saat nanti kelemahanku akan menjadi kekuatanku, dan setiap keyakinanku akan terus membantuku mencari jalan keluar"


"Aku ingin berteriak sekuat mungkin, aku ingin mengeluarkan semua beban yang aku pendam. Jika ditanya apakah aku lelah? Maka jawabannya iya, aku sangat lelah, lelah dalam segala hal... Saat ini aku butuh ketenangan"


_________


"Aaaaaaaaaaaa" sedikit legah aku berteriak, aku merasa bebanku sudah berkurang dan, entahlah beban apa yang kurasakan, tapi memang ada beban dalam diriku.


Kenapa harus ada rahasia dalam keluargaku, lalu kenapa baru sekarang aku mengetahui jika keluargaku menyimpan rahasia, semoga aku bisa melupakannya.


"Kenapa kamu ga masuk sekolah? " Itu suara Rey, aku membalikkan badanku, benar saja disana ada Rey sedang berdiri menggunakan seragam sekolah, sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Kamu nangis? Astaga Alena... Kamu ada masalah? Kenapa kamu tidak cerita sama aku? " Rey memegang kedua pipiku.


"Apa aku boleh cerita sama kamu? " tatapanku kosong tapi pikiranku berkecamuk.


"Sejak kapan kamu izin dulu sebelum bercerita hmm? " Rey naik ke atas pohon miring, ku ikuti dia naik ke atas pohon itu.


Tanpa basa basi aku langsung memeluk Rey dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Rey, aku pikir Rey sudah tahu jika aku ada masalah maka aku akan menangis dulu lalu menceritakannya. Setelah merasa tenang, aku mencoba menceritakan semuanya pada Rey, tapi Rey terdiam mendengar ceritaku, lalu merengkuhku lagi.


"Aku yakin kamu kuat, kamu tenang aja Alen, hari ini akan menjadi esok dan menjadi cerita di masa depan... Kamu cukup lupakan dan bersikap biasa saja" kata Rey yang membuatku sedikit bersemangat, berusaha menenangkan diri lebih dalam lagi, dan tersenyum kembali


"Kamu bolos Rey? " tanyaku pada Rey, mana mungkin jam sebelas sudah pulang


"Kamu udah tau" jawab Rey santai dengan tatapannya masih melihat Danau


"Kenapa kamu tau aku ada disini? "


"Emang kalau kamu sedih mau kemana lagi? Mau ke pantai? " balas Rey lagi


"Hmm, lalu jika aku tidak bersedih?" gumamku


"Aku tau kamu sedang ada masalah, kalau kamu tidak masuk sekolah aku yakin kalau kamu sedang bersedih" aku menoleh pada Rey, tanpa membalas perkataan Rey lagi


"Oh" singkatku


"Ikut denganku" Rey meraih tanganku lalu menarikku menuju mobilnya


"Mau kemana? " tanyaku


"Kamu mau pake seragam sekolah terus? Nanti ada yang liat, pasti kita di laporin" jelas Rey, benar juga kata Rey, jika ada yang melihat kami menggunakan seragam sekolah di luar sekolah saat masih jam pelajaran, pasti kami akan di laporkan ke guru BK, dan akibatnya akan fatal jika itu terjadi.


"Kita ke toko baju" sambung Rey saat kami sudah ada di dalam mobil


"Aku ga bawa uang kas"


"Aku ada" Balas Rey lagi.


Aku dan Rey akhirnya sampai di toko baju, banyak model baju yang bisa kami pilih di sini.


"Kamu pilih aja, terus ganti seragam kamu" aku menganggukkan kepalaku seraya mengangkat baju yang ada di dekatku.


"Aku mau yang ini Rey, kalem" ujarku menunjukkan baju pada Rey


"Hmmm, mbak aku mau ini" Rey mengambil baju di tanganku lalu menunjukkannya pada karyawan toko.


"Baik, saya cek dulu" lalu si karyawati itu membawa baju yang ku pilih menuju meja kasir, menghitung nominal harga.


"Rey? Kamu ga beli baju? Masa kamu mau pake seragam sekolah terus sih? " tanyaku pada Rey,


"Udah ada kok, aku tinggal ganti aja" sembari melirik kasir yang memberikan dua paperbag padaku.


"Kamu ganti baju sana" Rey menyuruhku


"Iya, tunggu yaa"


_____