
Chap 6
Aku memilih baju berwarna biru dongker dan rok plisket tidak terlalu panjang berwarna putih, aku nyaman menggunakannya. Sedangkan Rey, dia menggunakan hoodie hitam dan celana berkain lefis berwarna hitam juga, tidak lupa topi hitam
"Wahh, kamu jadi cowok mamba Rey hahaha" melihat penampilan Rey yang serba hitam membuatku melontarkan candaan untuknya.
"Iya, kamu juga jadi cewek cake" lanjut Rey membalas candaanku
"Yuk, kita jalan-jalan" sambungnya
"Ayok, gass" entah mau kemana lagi Rey akan membawaku
Tak memakan waktu lama, Rey berhenti di depan toko buku, apa mungkin dia mau mengembalikan buku? Atau dia mau meminjam buku? Atauu membeli buku? Entahlah.
"Kamu mau ngapain ke toko buku Rey? " tanyaku penasaran
"Hmmm, aku mau cari buku" jawabnya
"Ohh, buku apa? " tanyaku lagi sambil melangkah mengikuti Rey dari belakang
"Novel"
Kami masuk menelusuri setiap rak buku, aku juga ikut mencari buku novel, mungkin ada yang membuatku tertarik untuk membelinya.
"Rey, kamu mau cari buku yang judulnya apa?"
"Ini" Rey memperlihatkanku sebuah buku novel berwarna merah muda bercampur putih dan hitam.
Terlihat judul buku itu adalah "my First Love", kenapa Rey bisa tertarik membaca buku? Dan buku yang di bacanya termasuk novel romansa.
" tumben" gumamku
"Ini buat kamu" ujar Rey
"Ah, makasih Rey, aku senang sekali kamu beliin aku buku, kamu memang sahabat terbaik" kataku memujinya.
"Emm, sepertinya pengarangnya tidak mau di ketahui" lanjutku, setelah melihat nama pengarangnya "secret writers"
"Mungkin dia tidak mau jika ada orang yang mengenalnya membaca bukunya, dan memberikan kritik yang tidak di sukainya" jelas Rey, dan masuk akal juga. Tapi menurutku terlihat dari judulnya sudah sangat menarik. Ahh, judulnya cinta pertamaku, aku tidak begitu menyukai novel romansa, tapi entah kenapa aku tertarik untuk membaca novel ini.
"Tapi aku suka"
"Dan kamu belum membacanya, bagaimana kamu bisa menyukainya? "
"Aku bisa melihat dari judulnya" ujarku seraya nyengir kuda
"Baguslah kalau kamu suka, tapi bukannya kamu tidak suka sama novel-novel romansa seperti itu? " tanya Rey
"Entahlah, Tiba-tiba aku tertarik untuk membaca novel ini"
"Apa kamu merasa kasihan dengan penulisnya" Rey berkata seperti seorang pemberi tantangan saja yang tidak bisa aku tebak
"Maksudmu? "
"Bukan apa-apa, baiklah ayo kita pulang" ajak Rey
Setelah membayar buku, kami beranjak dari toko buku, kebetulan sudah jam pulang sekolah, Rey mengantarku pulang layaknya sepulang sekolah, tapi aku menolaknya untuk mengantarku pulang.
"Kamu ga usah pikirkan yang terjadi tadi pagi, ingat, belajar lupakan masalah tadi, anggaplah ini mimpi buruk saja" aku hanya mengangguk patuh dengan ucapan Rey, melupakan masalah itu sangat sulit dan kemungkinan besar menurutku tidak ada masalah yang bisa di lupakan.
"Baiklah"
Tak lama Kami sudah sampai di depan rumahku.
"Semoga buku itu bisa menghiburmu" kata Rey sebelum meninggalkanku, aku tersenyum
Semoga saja ketika aku masuk ke dalam rumah, tidak ada hal serupa yang terjadi tadi pagi.
"Aku pulang" seruku seraya menutup pintu
Baru aku mau melangkahkan kakiku, Tiba-tiba ada suara seperti gelas yang di jatuhkan dan pecah, mendengar itu, aku sontak berlari menuju arah suara sampai akhirnya aku melihat tatapan papah nyalang melihat mamah yang sedang kesakitan.
"Ada apa ini? " tanyaku pada mereka
"Kamu masuk ke kamar" ujar papa kasar
"Papah kenapa? Kenapa papah kasar? " baru kali ini aku melihat papah menaikkan intonasinya sampai seperti ini tatapannya.
"Papah bilang kamu masuk ke kamar, ini urusan papah sama mamah kamu" lagi-lagi papah manikkan intonasinya tinggi
Tanpa memperdulikan kemarahan papah, aku berlari membantu mamah berdiri, jarinya mengeluarkan darah, mungkin akibat gelas yang di jatuhkannya tadi.
"Mah, ini ada apa sebenarnya? " tanyaku pada mama
"Bukan apa-apa sayang, kamu mending ke kamar aja, istirahat ya... Nanti mamah bawain makanan ke atas" lirih mamah tertunduk
Aku menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandanganku pada papah.
"Pah" lirihku penuh arti, berharap papah bisa mengartikan
Aku melihat papah menarik nafasnya dalam lalu membuangnya, tatapannya berubah menjadi tenang.
"Maksud papah apa? " tanyaku khawatir
"Mamah sama papah akan pisah" mendengar papah mengatakan itu, sontak membuatku kaget dan aku tidak tahu harus apa lagi, yang jelasnya aku tidak akan menerimanya, kemarin mereka masih bersama masih tertawa bersama, kenapa sekarang menjadi begini, ini tidak mungkin dan sangat mustahil untuk bisa ku terima, aku harap ini hanyalah guarauan semata
"Jangan prank mah, pah" aku tidak bisa menahan air mataku yang tak terbendung lagi
"Ini bukan prank"
Aku menoleh menatap mamah yang sedang menangis sesenggukan, berharap mamah bisa menjawab bahwa ini semua hanya bohong
"Mah, bilang kalau ini semua bohong"
"Ini bukan kebohongan Alena!!" mama berteriak histeris, menangis sekeras-kerasnya
Aku tidak percaya, aku hanya mimpi kumohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini, aku hanya ingin melihat keharmonisan dalam keluargaku lagi
"Aku ga bisa menerima ini semua mah, pah, kalian jahat, kalian jahat... Hiks hiks, jangan bercanda, aku tidak suka candaan mamah sama papah" ujarku terkulai
"Kamu ikut papah ya?" bukannya menenangkanku, papah justru membuatku semakin geram
"Papah jahat, kalau memang ini cuman prank, lalu dimana kameranya?" aku menyibak gorden, berharap bisa menemukan kamera
"Sudah papah katakan, ini bukan prank Alena!!" teriak papah padaku, membuatku berhenti bergerak
"Bilang kalau ini cuma kebohongan kalian, tolong jangan pisah mah, pah" mohonku pada mereka, tapi mereka hanya terdiam dengan fikiran masing-masing.
"Kalau kalian pisah, Alena bakalan bunuh diri" ancamku membuat kedua orang tuaku mengangkat kepalanya menatapku.
"Jangan macam-macam kamu Alena, jika memang papah sama mamah sudah di takdirkan untuk berhenti di sini, ya sudah, tidak ada yang bisa melawan takdir jika sudah berkehendak. Itu artinya mamah sama papah sudah tidak berjodoh lagi" jelas papah menatapku tajam
"Terserah papah, Alena tidak peduli dengan takdir sialan itu, Alena benci jika takdir harus begini, Alena yakin takdir ini masih bisa di ubah, Alena mohon jangan pisah" aku duduk sembari memohon sama papah
"..." diam, semuanya diam hanya suara tangisku dan tangis mamah yang terdengar, tidak ada lagi yang bicara. Aku beranjak dari dudukku dan berlari keluar, mungkin aku akan melakukan hal yang di luar dugaan semua orang agar mereka tidak pisah.
"ALENA!! MAU KEMANA KAMU!?" Teriak papah dari dalam rumah, tapi apa peduli mereka jika aku pergi, bahkan mereka ingin berpisah disaat aku membutuhkan mereka.
"Al!! " aku terhenti mendengar seseorang memanggilku dari belakang, sontak aku berbalik melihat siapa yang memanggilku.
"Kamu" aku bertemu lagi dengannya, orang yang telah memfitnah Rey.
"Aku tau kamu sedang ada masalah dengan keluargamu" ujarnya santai menghampiriku sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Dari mana kamu tau? Apa kamu seorang penguntit? " tanyaku padanya, untuk apa dia hadir di kehidupanku, sudah cukup keluargaku yang membuatku sakit.
"Cih.. Ngapain aku menjadi penguntit? Lupakan saja dari mana aku tau kalau kamu ada masalah sama keluargamu... Jadi, kamu pasti butuh hiburan" terangnya
"Bodoh!! Apa kamu tidak lihat jika aku sedang bersedih karena ulah orang yang tidak menyayangiku? Dan dengan mudahnya kamu bilang aku butuh hiburan? Hiburan apa yang bisa membendung kesedihanku hah? Dasar bodoh" bentakku padanya lalu berbalik dan meninggalkannya, anggaplah dia itu orang gila yang ingin membantuku.
"Aku bisa" Lagi-lagi langkahku terhenti karena ulahnya
"Aku bisa menghiburmu, jika kamu mau ikut denganku" sambungnya
"Cih.. Percuma bodoh" aku tidak peduli jika dia ingin menghiburku, biarkan saja dia mengejarku dia sudah membuatku lupa tujuan utamaku keluar dari rumah, dasar bodoh.
"Ayo" tiba-tiba si bodoh ini menarik lenganku, aku berusaha memberontak tapi cengkramannya begitu kuat tidak sebanding dengan tenagaku, apa lagi aku belum makan jadi fisik ku tidak begitu kuat. Entah kemana si bodoh ini akan membawaku pergi aku pasrah saja, lagi pula dia ingin menghiburku, biar kita lihat bagaimana dia bisa menghiburku.
Ternyata Si Bodoh ini membawaku ke tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya padahal aku asli dari kota ini, kenapa aku baru tahu jika ada tempat seperti ini di kota ku. Tempat yang sangat indah bagaikan di dunia fiksi sama seperti khayalanku jika aku membaca Novel fantasi, bahkan aku merasakan seperti sedang berada di dalam dunia anime, ahh ada karakter anime, ada juga tulisan-tulisan penyemangat, motivasi dan ada puisi.
"Hei bodoh, apa kau lihat di sana? Banyak sekali karakter Anime" ucapku senang
"Hmmm, menyenangkan bukan? "
"Iya" aku baru sadar jika aku sekarang merasa terhibur, Si Bodoh ini ternyata benar-benar membuktikan ucapannya.
Setelah puas keliling di dunia fiksi aku dan Si bodoh ini keluar untuk menikmati dunia nyata lagi walaupun tidak bagiku.
"Alena" seru Si Bodoh, aku belum tahu siapa namanya
"Hmm" aku hanya bergumam
"Jangan sedih lagi ya?" aku menoleh melihat Si Bodoh ini, dia benar-benar Bodoh bagaimana bisa aku tidak bersedih jika keadaan keluargaku sudah berantakan.
"Bodoh" ujarku seraya meninggalkannya
"Okey, terserah kamu mau memanggilku Apa, Si Bodoh kah, Si ganteng kah, Si pintar kah, tapi kalau kamu mau aku punya nama" ucapnya sangat pede membuatku malas mendengarnya
"Katakan siapa namamu Bodoh" ucapku dingin
"Arjuna" langkahku terhenti mendengar namanya, apa benar namanya Arjuna?
"Arjuna? " aku mengulanginya lagi memastikan
"Hahaha, bukan" dia justru terkekeh, kenapa dia suka sekali bercanda padahal candaannya tidak lucu sama sekali
"Jangan bercanda bodoh"
______