
Chap 2
Tiga hari setelah aku kembali kesekolah rasanya sangat menyenangkan, dan tidak terasa juga sekarang aku sudah menjadi kakak kelas, rasanya baru kemarin aku orientasi dengan kakak kelas. Sama seperti Rey beberapa waktu lalu, kakak kelas selalu menjahili kami. Tapi masa-masa itu yang akan sulit untuk dilupakan, secara momen itu adalah momen terkocak menurutku.
"Alenn, bangun" ibuku berteriak dibawah sana, aku beranjak dari kasurku lalu mengambil handuk dan melaksanakan ritual mandiku.
Usai mandi, aku mengeringkan rambutku, mengenakan seragam sekolahku yang berwarna putih dan rok berwarna nafi gelap lalu jas berwarna nafi gelap juga setelah itu terakhir adalah dasi, belum puas dengan penampilanku, aku memoles sedikit bedak dan memberi sedikit liptint dibibirku agar tidak terlihat pucat. Merasa benar-benar sudah siap aku langsung turun menuju meja makan, disana ada papa dan mama.
"Morning mam, morning pa" sapaku pada mereka dan ikut bergabung bersama menikmati sarapan pagi.
"Alen, kamu berangkat sama siapa? " tanya mama padaku, dan aku lupa kalau Rey tidak menelfonku untuk sekedar mengabari bahwa dia akan menjemputku, aku merogoh ponsel dalam tasku lalu menekan nama Rey disana, aku mengirimkan pesan padanya.
*Rey kamu mau jemput aku apa enggak nih, kalau enggak aku bisa sama papah
Itulah isi pesanku pada Rey
"Malah main hp kalau ditanya" ujar papaku menatapku tajam
"Eh, ini pah, Alen ngirim pesan buat Rey, dia mau jemput aku atau enggak, biar bisa mastiin mau bareng siapa" jelasku, membuat tatapan papa berubah menjadi menenangkan
"Ya udah lanjut makan sambil nunggu balasan dari Rey" lanjut papa, aku mengangguk lalu melanjutkan memakan nasi gorengku.
Setelah aku minum, suara notif di ponselku berbunyi, aku melihat terpampang disana nama Rey, aku langsung mengambilnya.
*maaf ya Len, aku tidak bisa jemput kamu, aku harus antar Jesy kesekolahnya, papa ada meeting pagi-pagi hari ini
Isi pesan Rey bahwa dia tidak bisa menjemputku, aku mengagguk dan menoleh ke papa
"Pah, kita bareng yah, Rey ga jemput, dia mau anter adiknya ke sekolah" kataku pada Papa
"Ya udah ayok, papa mau meeting jam delapan" ujar papa sembari menengok jamnya.
Aku bangkit dari dudukku lalu mengecup pipi mama sekilas. Setelah itu baru aku mengikuti papa dari belakang. Tidak butuh waktu lama aku dan papah sudah ada diparkiran sekolah, aku turun dari mobil lalu mengambil tangan papah dan menciumnya.
"Bye pah, hati-hati dijalan" aku melambaikan tanganku pada papah, papah juga membalas lambaianku sambil membelok mobilnya.
"Belajar yang rajin kamu" ujar papa padaku kubalas dengan anggukan.
Aku memberi hormat pada papa sambil nyengir kuda.
"Alen!!" aku memutar badanku, entah siapa yang memanggilku
"Kamu Alen kan? " tanya seorang gadis didepanku, aku tidak tahu siapa dia, tapi sepertinya dia ada perlu denganku
"Iya, ada apa ya? " aku penasaran untuk apa dia memanggilku
"Ada yang nyari kamu, dia nunggu kamu di rooftop" kata gadis itu menunjuk kearah rooftop.
"Siapa? Dan ada apa? " aku masih digeluti rasa penasaran, siapa yang memanggilku pagi-pagi begini, bahkan aku belum masuk kegedung sekolah
"Katanya sih, kamu kesana aja" ucapnya lagi dan berlalu meninggalkanku tanpa menunggu jawabanku lagi.
Kalau tidak penasaran aku tidak akan mau kesana. Aku melangkahkan kakiku menuju rooftop, ketika sampai disana aku melihat seorang pria yang sedang merebahkan tubuhnya di kursi panjang dengan satu tangannya sebagai bantal dan satunya lagi menutup matanya.
"Kamu yang manggil aku kesini? " tanyaku pada pria itu, aku tidak tahu dia tidur atau sadar, intinya aku penasaran
"Iya" jawabnya singkat lalu bangkit dari tidurnya
Dia cowok lumayan tampan tapi terlihat nakal, jas sekolahnya tidak digunakan, bahkan ada bungkusan rorok dibawah kursi, aku yakin dia anak nakal.
"Ada apa manggil aku? Aku ga kenal sama kamu" tanyaku lagi.
"Tapi aku kenal sama kamu" sambungnya, aku hanya menatap sinis padanya, pasalnya dia sok kenal benget sama aku
"Kalau tidak ada yang penting buat kamu omongin, aku mau pergi, bentar lagi bel bunyi" ujarku seraya memutar badanku bersiap untuk melangkah, tapi tiba-tiba pria itu bersuara dan menghentikan langkahku
"Ada" aku menoleh lagi padanya, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya
"Apa? , aku ga ada waktu ngomong sama kamu" kataku ketus tanpa melihat kearahnya
"Aku cuma mau bilang kalau Rey itu bahaya buat kamu" sontak jawabannya itu membuatku tersentak dan marah dengan ucapannya.
"Jangan fitnah yah, Rey itu sahabatku dan kamu jangan sok tau dan sok kenal sama aku dan Rey" aku geram dibuatnya, dan sudah tidak ada kata sopan lagi untuknya, dia sudah memfitnah sahabatku, apa aku akan diam saja.
"Kalau tidak percaya ya udah" dia tetap santai, lalu mengambil jasnya dimeja dan berjalan melewatiku, besamaan dengan bunyinya bel.
____
Aku masuk kedalam kelas dengan pikiran yang kacau dan masih jengkel dengan perkataan cowok tidak jelas tadi di rooftop.
"Kamu dari mana aja sih, tadi aku datang kamu tidak ada dikelas, dikantin juga tidak ada" aku dibumbui pertanyaan oleh Rey
"Tidak dari mana-mana" jawabku seraya mengeluarkan buku dari dalam tasku
"Bukan Rey, aku dari rooftop, tadi ada seseorang yang manggil aku kesana" jawabku jujur pada Rey agar dia tidak merasa bersalah
"Siapa dia? " tanya Rey penasaran
"Tidak kenal, dia manggil aku cuman mau fitnah kamu" mengingat itu lagi, amarahku kembali memuncak
"Fitnah aku? Hahaha, siapa sih dia" Rey tertawa mendengar perkataanku, tapi aku tatap memasang wajah kesal
"Aku tidak kenal Rey, yang intinya dia bilang kalau katanya kamu itu bahaya buatku" jelasku pada Rey, seketika mata Rey terbelalak mendengar ucapanku
"Bahaya? Kamu percaya sama omongannya? " Raut wajah Rey berubah serius
"Ya enggak lah, kita sahabatan udah hampir delapan tahun Rey, dan kalau emang kamu bahaya buat aku, kenapa kamu tidak melakukan apa-apa sama aku selama tujuh tahun lebih ini? " kataku pada Rey, Rey tersenyum sambil mengacak pelan puncak kepalaku, membuat rambutku sedikit berantakan.
"Iya iya, kamu benar... Tidak usah percaya sama omongan orang diluar sana, mereka cuma iri" sambung Rey, aku ikut tersenyum.
___
Bel istrahat berbunyi, Aku dan Rey berjalan menuju kantin, untuk sekedar mengisi perut. Rey memesankan makanan untukku, ketika Rey sedang memesan makanan, mataku tertuju pada sosok pria yang ada di rooftop tadi duduk dimeja sembari main gitar dan mungkin tiga orang itu adalah temannya, mungkin sadar bahwa aku melihatnya, dia langsung membalas tatapanku diiringi dengan senyum menyeringai dibibirnya. Melihatnya seperti itu aku hanya memutar bola mataku malas dan mengalihkan pandanganku pada Rey yang sudah datang membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua gelas teh dingin.
"Selamat makan Alena" ujar Rey, lalu menyantap makanannya.
"Selamat makan juga Rey" balasku pada Rey.
"Alen, nanti pulang sekolah kita jalan ya" tanya Rey padaku dengan mulut yang berisi bulatan bakso membuatnya kesulitan untuk bicara, aku terkekeh melihatnya
"Ke Mall yuk" ajakku pada Rey
"Iya, tapi nanti kita singgah ya di
danau, udah lama bangat kita tidak kesana. Semoga pohon tempat duduk kita belum disingkirkan sama orang ya" harap Rey
"Iya, terakhir kita kesana waktu pertama kali kita masuk SMA kan? Buat ngerayain kelulusan kita yang tertunda" terangku
"Pasti banyak yang berubah" sambung Rey lagi.
___
Sudah pukul 15:12, aku menunggu Rey diparkiran, sebelum jalan-jalan, sepertinya Rey mau menjemput Jesy dulu dan mengantarnya pulang.
"Sorry lama" Rey datang tanpa menggunakan jas sekolahnya.
"Yuk, kita kesekolahnya Jessy" aku menarik lengan Rey mengajaknya menuju mobilnya
"Jessy udah dijemput sama papa" ujar Rey menghentikan langkahnya.
"Kok kamu tidak bilang sih" aku melepas cengkramanku di lengan Rey.
"Kita jadi jalan kan? " kata Rey memancing ketenanganku
"Ya jadilah, kita tidak usah ke Mall yah, langsung aja ke danau... Aku merindukan tempat itu" bujukku pada Rey
"Ya terserah kamu saja, kan kamu yang ajak aku ke mall tadi"
Aku mengangguk, Rey berjalan didepanku menuju mobil, membukakanku pintu mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, kami sampai di danau tujuan, suasananya masih sama dan benar-benar asri, aku berlari menuju pohon miring dan bisa dinaiki untuk bersantai, kututup mataku, merasakan angin segar menerpa tubuhku.
"AKU SUKA TEMPAT INI!!! " Aku berteriak sekencang-kencangnya, disini aku dan Rey bebas berteriak sesuka hati, tidak ada yang melarang
"AKU JUGA SUKA TEMPAT INI!!! " Rey juga berteriak sambil merentangkan tangannya dan menutup matanya, menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
"Rasanya masih sama ya Rey? " aku menoleh pada Rey yang masih setia menikmati angin sepoi.
"Iya, aku kangen bangat sama tempat ini, tempat ini memiliki sejuta kenangan sama kamu Len" Rey menghentikan aktivitasnya, lalu menyusulku naik keatas pohon.
Aku dan Rey terdiam, tidak ada suara lagi. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Rey, tapi terlihat dari raut wajahnya kalau dia sangat menikmati suasana air danau yang tenang. Aku juga sangat menikmatinya, tapi aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan danau ini, aku melupakan sesuatu. Selama aku bermain di danau ini, ada gazebo kecil dan pedagang di dekat pohon ini, tapi sekarang gazebo dan pedagang tidak ada, aku mencari keberadaannya.
"Kenapa Len? " Rey membuyarkan lamunanku
"Rey? Dulu tuh dibelakang kita ini ada gazebo sama pedagang, tapi sekarang sepi? " terangku pada Rey
"Ah, iya, si Mbak Titin kan? Mungkin sudah pindah, soalnya tempat ini sepi, mana ada pelanggan cuman kita berdua, bahkan kita juga sudah lama tidak kesini" Rey langsung tersadar , aku hanya mengangguk
" Emm, Alen... Aku punya sesuatu buat kamu" Rey mengambil sesuatu didalam tasnya, Rey menarik kotak berwarna hijau dengan pita berwarna biru.
"Nih buat kamu" Rey menyodorkan kotak itu untukku
......