
Chap 1
Alena Cintia Rehardino Pov
Cinta? Apa itu? Yang kutau hanya cinta dari orang tersayang, bukan pacar, rasanya aku geli mendengar kata cinta. Bukannya jatuh cinta itu akan membunuh secara perlahan dan membuat hati menjadi tak berguna, lebih baik mencintai disaat sudah benar-benar menjadi separuh hidup dibandingkan jika harus mencintai disaat baru pertama kali mengenal, tapi aku belum pernah merasakan hal itu. Aku memiliki sahabat pria dan aku tidak pernah merasakan bahwa aku menyukainya lebih dari seorang teman. Aku menyayanginya, aku benci jika dia harus pergi dariku. Aku benci jika dia punya pacar, egois memang. Namanya Reynaldi Adrianto biasa dipanggil Rey, nama yang bagus bukan?
"Alen, kamu tidak sekolah? " suara itu membuyarkan lamunanku, Rey sudah berdiri dipintu kamarku, menatapku yang duduk didepan meja riasku.
"Sekolah Rey, kamu tidak liat aku sudah pake seragam? " jawabku lalu berdiri mengambil tasku dikasur dan bergegas menuju Rey.
"Yaudah yuk" aku mengangguk, rasanya bahagia sekali memiliki sahabat seperti Rey
Kami berjalan menuju mobil sport milik Rey, Rey membukakan pintu untukku. Hari ini aku sama Rey bakal masuk sekolah setelah libur panjang, hari ini adalah hari pertamaku menjadi anak kelas sebelas, dan aku berharap masih satu kelas dengan Rey. Aku yakin Rey juga pasti berfikir seperti itu.
"Semoga kita sekelas lagi ya Len? " sudah kuduga bahwa Rey juga ingin satu kelas lagi denganku
"Iya, biar aku bisa nyontek sama kamu hahaha" aku tertawa melihat wajah Rey yang datar karena jawabanku sepertinya tidak mengenakkan baginya, tapi itu adalah hal biasa bagi kami.
Dengan hati yang bahagia, kami berdua melangkah masuk kedalam gedung sekolah SMA Masa Depan Bangsa atau SMDB, ya, itu nama sekolahku. Aku dan Rey berjalan menuju kerumunan, banyak siswa-siswi yang sedang berdiri didepan mading untuk melihat mereka ada dikelas mana, aku menyipitkan mataku, berharap bisa melihat namaku disana bersama Rey, tulisan yang ada dimading sangat kecil dan mustahil bagiku untuk melihat jelas.
"Yap, kita sekelas Alenaa!! " pekik Rey membuatku kaget, dan juga sangat bahagia
"Aaaaaa aku sangat senang Rey, bisa sekelas lagi sama kamu" aku langsung memeluk Rey, Rey juga membalas pelukanku, hangat, itu yang kurasakan
"CIEEE JADIAN!!" Sorak semua siswa-siswi yang mengelilingi kami. Aku dan Rey saling tatap dan langsung tertawa.
"Kami tidak jadian, kami cuma senang aja karna kita sekelas lagi" jelas Rey pada mereka
"Masa sih?, kamu sama Alena udah dekat dari kelas sepuluh, dan mungkin kalian sekarang udah jadian" ujar Alfin ketua kelasku saat dikelas sepuluh.
"TIDAK!!, aku sama Rey cuma sahabatan tidak lebih, pacaran cuma bikin sakit" aku berteriak lantang, dan membuat semua orang terdiam
Saat itu juga Rey menarikku keluar dari kerumunan, berjalan menuju kelas. Aku dan Rey mencari nama kami masing-masing, dan benar saja, Tuhan sedang berpihak kepadaku. Aku duduk berseblahan dengan Rey, lagi-lagi aku bahagia. Rey juga begitu, tersirat diwajahnya bahwa dia sangat suka hari ini.
"Kalau gitu ayok kita rayakan" ujar Rey tersenyum
"Rayakan? " aku bingung, maksudnya merayakan apa?
"Ayo kita rayakan setiap kebahagiaan yang terjadi pada kita hari ini" jawabnya sambil menarik tanganku keluar dari kelas
"Kita mau rayain dimana? Bentar lagi bel bunyi Rey" aku menghentikan langkahku, Rey memutar badannya dan kini aku berhadapan dengannya.
"Nanti aja kalau gitu" Rey terlihat kecewa, tapi aku akan pergi bersamanya jika sudah pulang sekolah
"Maaf yaa, ini hari pertama kita sekolah Rey, masa kita mau bolos? " ujarku agar Rey tidak marah padaku
"Ngapain minta maaf? Kan kamu tidak salah, ya udah yuk masuk kelas, bentar lagi bel bunyi" Rey kembali menarik lenganku dan menarikku masuk kedalam kelas.
Aku tersenyum melihat Rey begitu pemaaf untukku, aku janji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi sahabat Rey sampai kapanpun. Aku menyayanginya, dia adalah satu-satunya orang yang mengerti aku setelah ibu dan ayahku.
Semua mata tertuju pada kami yang bergandengan masuk kedalam kelas, tapi aku sama Rey tetap bersikap biasa saja, karna kami tidak akan pernah menganggap serius ucapan orang-orang diluar sana, itu adalah ujian dalam persahabatan kami.
Tiga menit kemudian bel berbunyi, semua siswa berhamburan masuk kekelas.
"Rey, kayaknya kita bakal intro lagi deh, soalnya banyak muka baru disini" aku melihat disekelilingku, hanya ada beberapa yang menjadi teman sekelasku dikelas sepuluh dulu, selebihnya mungkin anak kelas lain waktu itu.
Guru masuk kekelas, dia adalah wali kelas baru kami, hari ini mungkin tidak belajar, melainkan melakukan MPLS untuk siswa baru kelas sepuluh, tapi sebelumnya kami akan melakukan pengenalan kepada teman-teman.
"Anak-anak, hari ini akan ada pengenalan ulang untuk kalian, jadi sebelum itu, ibu akan memperkenalkan kalian dengan teman baru kalian juga, masuk nak" Ujar Bu Wati sembari menoleh kearah pintu
"Woi kece abiss"
"An**r, cantik banget"
"Calon makmum tuh"
"Buruan dong kenalin dirinya"
"Semoga dia mau jadian sama aku"
Seruan itu terdengar lebay ditelingaku, ternyata ada siswa baru yang masuk kekelasku hari ini, seketika aku menoleh melihat Rey.
"Tidak, biasa aja" jawab Rey santai, mendengar Rey berkata seperti itu, aku hanya manggut-manggut
"Kirain kamu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama" Aku terkekeh mendengar ucapanku sendiri, dan Rey hanya tersenyum
Cewek yang berdiri didepan sudah siap untuk memulai memperkenalkan diri.
"Hai semua" salam Anak baru itu.
"HAII" Seru semua orang
"Kenalin, nama aku Arisa Kiarani, salam kenal dan semoga kita bisa jadi teman yang baik" lanjut cewek itu yang bernama Arisa katanya.
"Baik anak-anak apa ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu Wati
"Ada Bu" seorang cowok angkat tangan pertanda ingin bertanya.
"Silahakan"
"Arisa pindahan dari mana? Terus kenapa pindah Bu? " tanya Cowok itu dan kalau ga salah namanya Reza.
"Silahkan jawab Arisa"
"Aku pindahan dari Nusa Bangsa, dan alasan aku pindah karna papaku adalah salah satu donatur sekolah ini, jadi aku pindah karna papa aku" jelas Arisa masih dengan senyumnya.
Setelah perkenalan itu, kami langsung memperkenalkan diri masing-masing, setelah itu kami menuju lapangan untuk melakukan orientasi.
Aku dan Rey tidak pernah berpisah, selalu bersama tanpa memperdulikan orang lain, banyak yang bilang kalau kami adalah pasangan kekasih, tapi selalu ditepis oleh Rey.
"Kak, minta tanda tangannya dong" seorang murid cewek dengan dandanan khas anak MPLS, datang menghampiri kami sambil menyodorkan buku Notebook ditangannya.
"Siapa nama kamu? " tanyaku padanya
"Nila kak" ujarnya menunduk
"Ada syaratnya" kata Rey
"Apa kak" tanya adek kelas itu
"KAMU HARUS NYATAKAN CINTA SAMA DIA" Tunjuk Rey pada cowok yang menggunakan kaca mata dan gigi agak maju, Aku tertawa melihat keisengan Rey.
Nila menoleh dan matanya membulat sempurna ketika melihat siapa yang ditunjuk Rey.
"Hah? Tapi kak" Nila memelas berharap Rey berbelas kasih padanya
"Kalau tidak mau ya udah, kamu bakal saya laporin ke ketua osis" ancam Rey
"Jangan kak, iya aku bakal ngelakuin" Nila terpaksa melakukannya demi mendapatkan tanda tangan aku dan Rey.
"Yang keras yah ngomongnya" kata Rey lagi, tak bosan menjahili adek kelas, karena dulu dia juga pernah merasakan hal yang sama saat masa orientasi dulu
"Ingat namanya Joy, kamu teriak sama Joy kalau kamu cinta sama dia" Rey terlihat menahan tawanya, tapi dia tidak ingin melepas tawanya agar sifat arogannya tidak luntur.
Nila mengangguk pasrah dan mulai melangkahkan kakinya.
"KAK JOY, NILA CINTA SAMA KAK JOY!! " Teriak Nila, menarik perhatian semua orang.
Melihat adegan itu, semua orang yang melihatnya tertawa, sedangkan Nila dan Joy sudah seperti terbakar, mukanya merah padam menahan malu. Dan ini ulah Rey, aku dan Rey tertawa keras melihat Nila dan Joy menahan malu.
"Udah Rey, kasian mereka, mending kamu panggil Nila biar kita kasih tanda tangan" bujukku pada Rey agar memanggil Nila
"NILA SINI" panggil Rey meneriaki Nila, mendengar Rey memanggilnya, Nila langsung berbalik dan berlari kearah kami.
"Sini, biar kita tanda tanganin, kamu sudah berjuang keras" kata Rey mengambil Notebook di tangan Nila lalu menyodorkannya padaku.
"Makasih kak" Nila tersenyum padaku dan Rey, lalu berlalu meninggalkan kami.
......