
Chap 3
~{kehilangan orang yang sangat disayangi itu adalah sebuah mimpi buruk, namun sangat nyata bila mengingatnya }~
Rey menyodorkan kotak itu untukku, lalu aku mengambilnya, "Rey, aku tidak ulang tahun" kataku pada Rey.
"Tidak semua orang yang dikasih hadiah itu ulang tahun Alena" sahut Rey tersenyum
"Makasih Rey, kamu emang sahabat terbaik... By the way, boleh aku buka sekarang? " Tanyaku pada Rey.
"Jangan dulu, kotak itu tidak akan kamu bawa balik" Rey mencegahku agar tidak membuka kotak
"Hah!! Gunanya kamu kasih ke aku untuk apa? " aku bingung, untuk apa Rey memberikanku hadiah jika tidak dibawa pulang? Apa dia hanya akan memamerkannya padaku?
"Kotak ini bakal di kuburin dibawah pohon ini, dan setelah kita tamat baru boleh kamu buka... Tapi ini khusus hadiah buat kamu, entah nanti kamu bukanya sendiri atau sama aku, tergantung situasinya" jelas Rey tersenyum, Rey pun turun dari atas pohon, entah apa yang dicarinya. Aku juga ikut turun dari pohon, jujur aku sangat penasaran apa isi kotak ini, tapi sesuai ucapan Rey, akan aku turuti.
"Rey, kamu cari apaan sih?" tanyaku heran melihat Rey clingak-clinguk seperti mencari sesuatu.
"Aku lagi nyari benda tajam yang bisa buat gali tanah" Rey masih mencari benda yang ditujunya
"Itu Rey, ada bambu runcing disana" aku menunjuk bambu runcing panjang tersandar dibatang pohon lainnya. Rey yang melihatnya langsung mengambil bambu itu dan kembali lagi ketempat semula.
"Terus apa? " gumamku yang masih bisa didengar Rey
"Ya aku mau gali tanah ini, terus kuburin kotak yang kamu pegang" Rey memulai menggali tanah yang ada dibawah pohon miring.
Setelah Rey menggali tanah dalam, Aku memasukkan kotak kedalam lubang, setelah itu Rey menimbunnya dengan tanah. Akhirnya selesai, Rey mengibaskan tangannya satu sama lain.
"Huffhh, jadi perjanjiannya, jangan sampai kamu buka sampai kita tamat, paham? " Rey memberikan jari kelingkingnya tanda perjanjian. Lalu kubalas juga menyodorkan jari kelingkingku, kelingking kami saling kait.
"Iya, aku janji tidak akan buka, walaupun aku sangat penasaran apa isi kotak itu" aku melepaskan kelingkingku dari kelingking Rey.
Aku maju selangkah menatap indahnya danau didepanku, airnya yang berwarna hijau lumut, dan suasana yang sangat tenang.
"Rey, kamu masih belum mau ceritain apa cita-cita kamu sebenarnya? " aku menanyakan hal itu pada Rey tanpa berbalik melihatnya, aku tidak tau bagaimana ekspresi nya saat ini. Sejak aku berteman dengan Rey, dia tidak pernah menceritakan cita-citanya padaku.
"Kan aku udah pernah bilang, kalau aku mau menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, yang dicari jika tiada kabarnya dan yang dikenang jika menghilang" jelas Rey, kata-kata itu selalu diulangnya ketika aku menanyakan tentang cita-citanya.
"Terus kamu? Kamu masih mau jadi seorang penulis? " sambung Rey
Aku menangguk dan memutar tubuhku menghadap Rey. "Iya, aku masih tetap pada pendirianku menjadi seorang penulis"
"Aku do'akan semoga cita-cita kamu ingin menjadi seorang penulis bisa tercapai, Aamiin" ujar Rey
"Aamiin, kamu tuh sahabat terbaik aku Rey, kamu selalu mendukung apapun keputusanku" aku langsung menghambur memeluk Rey
"Selagi itu yang terbaik, aku pasti dukung" kata Rey membalas pelukanku
"Makasih ya Rey, kamu udah mau jadi teman aku" kataku sembari melepaskan pelukanku.
"Harus berapa kali sih kamu bilang itu sama aku? " ujar Rey terkekeh
"Harus berkali-kali, aku takut kamu tinggalin aku seperti Karin dan Riko" ucapku seraya menunduk, aku mengingat lagi tentang sahabatku Karin dan Riko...
Flashback__
disaat umurku masih 9 tahun
Saat itu pukul 13:34, aku sedang memancing bersama Riko Dan Karin, disaat Karin ingin pulang aku selalu menahannya.
"Teman-teman yuk balik, ini udah sore" ajak Karin
"Bentar dulu Karin, kita sama sekali belum dapat ikan" aku menahan Karin, Karin menurut dan kembali duduk bersamaku dan Riko
"Alena, ini udah sore. Ayok kita pulang nanti mama aku nyariin" kali ini Riko yang mengajak
Aku menunduk sedih, saat itu aku benar-benar ingin menangkap ikan dan memberi kejutan buat mamah, biar mamah tau kalau aku bisa nangkap ikan sendiri tanpa bantuan dari papah.
"Kalian pulang aja dulu, nanti kalau aku dapat ikan aku susul kalian kesana" Aku masih keke ingin tetap tinggal
"Alena, kalau kami pulang pasti mamah kamu nyariin kamu, dan kalau kamu kenapa-napa pasti aku sama Karin disalahin" timpal Riko padaku
Aku marah sama mereka, lalu berlari meninggalkan Karin dan Riko di Danau, mereka memanggilku dari kejauhan dan aku masih bisa mendengarnya. Aku tidak suka jika keinginanku dibantah.
Hari telah senja, aku menghentikan langkahku berbalik melihat kebelakangku, aku sudah tidak bisa melihat Riko dan Karin. Aku baru menyadarinya bahwa aku sudah berlari sangat jauh tanpa sadar aku ada dimana. Aku menyesal meninggalkan Riko dan Karin. Aku tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku menangis sesenggukan menenggelamkan wajahku dilututku yang kupeluk erat, saat itu aku hanya berharap ada seseorang yang menolongku dan membawaku kembali bersama Karin dan Riko.
Aku mengerjapkan mataku, aku bersandar disebuah pohon besar, tapi tidak tahu aku dimana. Terdengar sayup-sayup suara seseorang memanggil namaku.
"ALENA!! INI MAMA" Aku mendengar mamah berteriak, sontak aku langsung berdiri dan berteriak sekencang-kencangnya. Yang kuinginkan hanya ingin pulang
"Mamahh, Alena disini Maa" balasku berteriak
Aku melihat sosok mamaku mendekatiku bersama dua orang pria dibelakangnya, mama berlari mendekatiku lalu memelukku erat sambil menangis haru.
"Kamu kemana aja Alen, kamu bikin mama sama papa khawatir" mama mengusap pipiku, dan mama juga masih meneteskan air matanya.
"Alena ayo kita pulang" ajak papa, tapi aku menahannya.
"Tapi, Riko sama Karin mana? " tanyaku pada Papa
Seketika pertanyaanku membuat ketiga orang dewasa itu bertukar pandang, lalu melihatku.
"Riko sama Karin meninggal akibat tenggelam nak" mendengar itu, aku langsung terkulai, aku tidak percaya apa yang dikatakan papah barusan, kabar itu berhasil mengoyak hati aku dan menangis sejadi-jadinya.
"Papah pasti bohong" aku masih belum percaya itu, dan mungkinkah mereka tenggelam karena aku?
"Ayok kita pulang, dan lihat sayang" bujuk mama padaku, aku hanya bisa menahan sakit didadaku, aku benar-benar merasa bersalah, akibat keegoisanku akhirnya temanku menjadi korban tenggelam.
___
Kudengar cerita dari seorang kakek sebagai saksi bahwa Riko ingin menyelamatkan Karin yang tidak sengaja terpeleset ke Danau akibat gelap dan mungkin tidak memperhatikan jalanan, sebelumnya kakek itu melihat Riko dan Karin berteriak memanggil nama seseorang, dan nama itu adalah namaku, sehingga Karin tidak sadar bahwa dirinya terjatuh dan tenggelam, Riko yang mengetahui itu langsung lompat menolong Karin, tapi sayangnya ketika kakek ingin mencegah, Riko sudah terlanjur melompat, tidak mungkin kakek akan terjun juga mengingat fisiknya yang sudah renta, dan kakek hanya bisa mencari pertolongan.. Saat pertolongan datang Riko dan Karin masih belum kembali, akhirnya salah satu warga terjun masuk kedalam Danau, warga itu mengatakan bahwa kaki Riko terikat tanaman didalam danau dan itu membuatnya kesulitan bergerak naik ke atas. Mendengar cerita itu semakin membuat sesak didadaku, aku menyesal, dan sangat menyesal seumur hidupku.
Flashback On__
"Udah Alena, itu udah lewat, do'a kan Karin dan Riko agar mereka bisa tenang disana, kalau kamu nangis gini terus, yang ada mereka juga ikutan bersedih" Rey mengusap lembut pipiku, menghapus air mataku
"Andai aja aku nurut dan pulang sore itu, pasti Karin dan Riko masih ada saat ini" tangisku kembali pecah mengingat kebodohanku saat itu
"Alen, takdir itu tidak bisa di ubah, apa yang udah terjadi sama Riko dan Karin itu emang karena ajal mereka. Ini bukan salah kamu, lagi pula saat itu kamu masih anak-anak, wajar kalau sifat egois kamu itu masih sangat kentara" jelas Rey menenangkanku, dan kembali memelukku.
"Tapi umur aku udah sembilan tahun waktu itu, aku udah bisa berfikir matang, ini semua salah aku Rey. Aku egois, aku jahat" rasanya aku ingin mencabik diriku sendiri ketika mengetahui kesalahanku saat itu, andai waktu bisa diputar, aku tidak akan menolak ajakan Karin dan Riko.
Aku masih berada dalam dekapan Rey, mengenggelamkan wajahku di dada Rey, aku merasa sedikit tenang dan bisa perlahan melupakan kesedihanku.
"Anggaplah itu mimpi buruk buat kamu, dan sekarang ada aku yang akan setia menemani kamu, aku yang bakal gantiin posisi Riko dan Karin sebagai sahabat terbaik kamu, tapi bukan berarti kamu bakal ngelupain kenangan kamu sama mereka" mendengar ucapan Rey, aku sangat terharu mendengarnya, Rey sangat peduli padaku.
"Kita pulang yah, udah pukul 17:12 nih" ujar Rey. Seraya melihat jam ditangannya.
Aku mengangguk dan mengambil tasku, aku dan Rey beranjak meninggalkan danau sejuta kenangan ini. Sulit memang untuk melupakan kesalahan dari diri sendiri, walaupun banyak kejadian yang mengalihkan kesalahan itu, tapi yang namanya kesalahan adalah sebuah mimpi buruk yang nyata.
"Makasih ya Rey untuk hari ini" ujarku pada Rey yang duduk menyetir disampingku
"Alen, udah berapa kali kamu selalu mengucapkan makasih buat aku? Kamu tuh kayak lagi sama siapa aja deh" Rey menggeleng pelan dan tersenyum.
"Aku akan selalu bilang makasih buat kamu, karna kata makasih itu sangat berarti buat orang lain, sekalipun untuk orang terdekat" terangku
"Iya deh terserah kamu aja"
Rey melajukan mobilnya membelah jalan sepi sore ini.
____