Not A Lover But A Best Friend

Not A Lover But A Best Friend
not a lover but a best friend 8



Chap 8


Aku mengerjapkan mataku, cahaya dari jendela membuatku terbangun walaupun masih sangat mengantuk. Aku baru ingat, ternyata aku ada di rumah Rey.


Tok.. Tok.. Tok


"Kak Alen!!" suara Jessy memanggilku


"Iya" sahutku


"Sarapan yuk" balas Jessy lagi


"Iya, aku mandi dulu"


"Kak!!, Jessy boleh masuk?" Tanya Jessy


"Boleh"


Ceklek... Suara pintu di buka dan muncullah Jessy di sana membawa paperbag.


"Kak, ini ada seragam sekolah buat kakak" ujar Jessy seraya menyerahkan Paperbag di tangannya


"Loh" aku terheran, dari mana Jessy mendapatkan seragam sekolahku


"Kakak, ga usah heran... Baju ini sebenarnya persiapan untuk Jessy kalau udah masuk SMDB" terang Jessy dan aku langsung manggut mengerti


"Ya udah.. kalau gitu Jessy ke bawa dulu ya? Nanti kakak nyusul ya" ujar Jessy melambaikan tangannya lalu meninggalkanku.


Setelah menyelesaikan aktifitas pagiku, aku turun ikut bergabung dengan keluarga Rey, jujur aku merasa tidak enak bila harus berada di rumah Rey terus menerus, tapi aku juga tidak ingin kembali ke rumahku.


"Alena, ayo sini" seru Tante Aulia memanggilku


"Eh, iya Tante" aku langsung berjalan menuju meja makan, aku duduk berhadapan dengan Jessy dan di samping Rey.


"Alena, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu, walaupun kamu punya masalah, kamu juga harus tetap semangat memikirkan masa depanmu" ujar Tante Aulia, aku hanya tersenyum mendengarnya lalu mengangguk.


"Anggaplah kami ini keluarga lengkap untuk kamu" sambung Om Danu


"Makasih ya om, tante... Jessy sama Rey juga" ucapku senang


"Santai Al" ujar Rey


Perbincangan kecil itu tidak hanya sekedar perbincangan, tapi menurutku perbincangan itu sangatlah berarti untukku, itu akan menjadi penyemangat di pagi hariku. Aku akan berusaha memulai kehidupan seperti biasanya tanpa memikirkan apapun itu tentang orang tuaku. Jelas aku sangat bahagia pagi ini, aku harap akan terus begini sampai semua menjadi baik lagi.


Aku Dan Rey. berangkat bersama-sama ke sekolah, Jessy akan di antar sama Om Danu jadi tidak perlu lagi menunggunya.


Tidak memakan waktu lama, kami sudah sampai di sekolah, sebelum masuk kelas aku akan menghadap dulu sama wali kelas sebab kemarin aku alpa tanpa keterangan, dan aku harus cari alasan logis yang bisa di terima oleh Bu Wati. Rey mengantarkanku sampai di depan ruangan Bu Wati.


Tok... Tok... Tok


Aku mengetuk pintu, berharap cepat di buka oleh Bu Wati.


"Masuk" sahut seorang wanita di dalam yang tidak lain adalah Bu Wati, tanpa menunggu lama, aku langsung memutar gagang pintu lalu terbukalah pintu, di sana ada Bu Wati yang sedang mendata, aku tidak tahu apa yang sedang di data olehnya.


"Selamat pagi Bu" sapaku pada Bu wati, sontak Bu Wati menghentikan aktivitasnya lalu menoleh padaku.


"Pagi, silahkan duduk" titah Bu Wati menatapku tajam


"Alena, kemarin kamu kemana?" tanya Bu Wati padaku, aku gugup harus menjawab apa, mana mungkin aku bilang kalau aku bolos kemarin


"Kemarin ada masalah keluarga Bu" jawabku jujur


"Kenapa tidak ada keterangan dari kamu kemarin?" aku harus menjawab apa jika Bu Wati terus membumbuiku pertanyaan


"Saya tidak sempat bikin surat keterangan Bu, kemarin juga saya tidak menyangka jika.. " aku tidak melanjutkan ucapanku, aku tidak ingin terbuka begini di depan Ibu Wati.


"Jika apa?" hardik Bu Wati mantapku tajam


"Maaf Bu, saya tidak akan mengulanginya lagi" jawabku mengalihkan pertanyaan Bu Wati sambil menunduk


"Hufhh, Alena kamu jangan mengulanginya lagi, sekarang kamu boleh keluar" titah Bu Wati, aku langsung berdiri meninggalkan Wali Kelasku di ruangannya.


Ketika aku keluar ternyata Rey masih menungguku di depan ruangan Bu Wati. Aku hanya tersenyum padanya lalu berjalan, Rey tidak menanyakan apapun padaku tentang apa yang di tanyakan Bu Wati padaku, apa dia tidak penasaran?. Sepanjang perjalanan banyak yang mengira kami sepasang kekasih tapi aku langsung mengelak, banyak yang mengenal Rey sepanjang koridor, padahal baru sehari aku alpa tapi Rey sudah jadi siswa populer, apa yang Rey lakukan kemarin?, Rey langsung menjadi kejar-kejaran para wanita di sekolah, kemarin Rey juga pulang cepat. Setelah jadi kakak kelas, Rey jadi bahan perbincangan di grup SMDB, mungkin karena Rey terlalu tampan.


"Kamu jadi punya banyak fans Rey" candaku


"Ya begitulah" balas Rey terkekeh


"Tidak ada" jawab Rey datar


"Kau marah?" melihat wajah datar Rey, membuatku jadi takut juka dia marah karena aku mengejeknya


"Untuk apa aku marah? Kau cepat sekali salah sangkah" jawab Rey yang membuatku legah


"Kalau begitu ayo kita ke kelas" ajakkyang di angguki oleh Rey.


Kami berjalan beriringan masuk ke dalam kelas, semua tatapan menuju pada kami berdua tapi aku berusaha tetap bersikap biasa saja. Aku heran sama semua orang, kenapa jika melihat wanita dan pria sedang jalan bersama mereka selalu menyalah artikan hal tersebut, yang ada di fikiran mereka hanyalah cinta, kekasih, bucin, pacaran dan sebagainya, padahal terkadang ada yang berjalan dengan kakak atau adiknya, seperti aku dan Rey yang hanya bersahabatan tapi di salah artikan oleh semua orang, apakah tidak ada prasangka lain?. Melihat semua menatap kami seperti itu membuatku risih.


"Apa kalian tidak memiliki tontonan lain selain kami? " tanyaku tegas


Sontak semua orang mengalihkan pandangannya tapi tidak dengan Arisa, dia justru berdiri menuju tempatku.


"Ada apa? Kau risih? Alena, kau jangan menyangkal lagi jika kalian ini hanyalah sahabat, bahkan kau dan Rey satu rumah... Tidak tahu malu" kata Arisa sambil melipat tangannya, aku geram mendengarnya mengatakan itu


"Bahkan aku melihat kalian berdua lari pagi bersama, jika kalian hanyalah sekedar berteman, lantas kenapa kalian selalu pergi berdua?" sambung Arisa yang membuatku semakin geram.


Rey langsung berdiri dari duduknya, sepertinya dia akan membuka suara kali ini.


"Terkadang apa yang kalian lihat itu berbeda dengan faktanya, jika tidak ingin di cap sebagai tikus penguntit, maka jangan sok tahu tentang kehidupan orang lain" ujar Rey santai menatap semua orang bergantian


Mungkin Arisa kehabisan kata-kata, akhirnya dia memilih untuk kembali ke tempat duduknya dengan wajah malunya, dasar tikus penguntit, kelas menjadi tenang kembali usai Rey yang mengangkat suara. Aku masih berfikir, dari mana Arisa tau jika aku tinggal di rumah Rey?, apa dia benar-benar tikus penguntit? Baiklah, aku akan menyebutnya tikus penguntit.


___


Semua jam pelajaran telah usai, untungnya aku tidak mengalami kesulitan dari setiap materi yang di bawakan oleh guru.


Kring... Kring... Kring


Bel pulang berbunyi tepat pada puku 15:00, Rey mengajakku menuju Danau untuk sekedar menenangkan pikiran agar tidak terlalu merasa banyak beban, tapi Bu Wati menahanku.


"Ada apa Bu?" tanyaku pada Bu Wati yang sudah berdiri tepat di depanku


"Besok kamu panggil orang tua kamu kesini" ujar Bu Wati membuatku langsung menoleh melihat Rey.


"Eh, ada apa ya Bu? "


"Sedikit perbaikan untuk nilai kamu yang kemarin, kebetulan kemarin ada tiga mata pelajaran yang mengadakan ulangan, tapi kamu tidak menghadap sama masing-masing guru mata pelajaran, jadi, agar nilai kamu tetap aman, suruh orang tua kamu datang menandatangani surat perjanjian agar kamu tidak mengulanginya lagi, sama sekalian kamu juga menghadap sama guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, Fisika" terang Bu Wati dan aku hanya mengagguk, lalu Bu Wati meninggalkan kami, setelah Bu Wati pergi aku menanyakan hal ini pada Rey, tapi justru Rey bilang kalau dia juga tidak ikut ulangan.


"Tapi kok kamu ga di panggil sama Bu Wati?" tanyaku heran


"Karna aku suruh Si Dion buat mengerjakan semua materi ulangan aku, jadi nilai aku aman walaupun aku ga ada" jelas Rey, Dion adalah anak beasiswa yang selalu jadi tempat contekan anak-anak jika ada tugas yang sulit, sama halnya dengan Rey


"Tapi ada absen yang menbuktikan Rey"


"Kan kalau ulangan Absennya lewat tugas ulangan, kalau tugas ulangan ada, berarti orangnya juga ada" Jelas Rey lalu tertawa, aku juga ikut tertawa mendengarnya, benar-benar jahil.


Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang, dan aku berencana ingin pulang ke rumah menemui mamah sama Papah. Aku harus kuat, biar bagaimanapun mereka tetap orang tuaku dan aku yakin ada jalan di balik ini semua....


Rey mengajakku pergi ke danau dulu sebelum ke rumah, anggaplah danau itu adalah tempat rahasia kami berdua sebab tidak ada yang tahu jika ada tempat seindah itu di kota ini yang terbebas dari hiruk-pikuk perkotaan walaupun masih di dalam area kota.


"Rey? Kau tau? Aku sangat senang memiliki teman sepertimu, bagaimana denganmu?" tanyaku pada Rey, entahlah kenapa aku menanyakan ini


"Kau selalu mengatakan itu, aku juga senang mengenalmu" balas Rey tersenyum


Di perjalanan menuju Danau, Rey menghentikan mobilnya, aku melihat keluar jendela dan di sana ada pedagang gulali, Rey turun dari mobil.


"Tunggu disini" sela Rey saat turun dari mobil yang hanya kujawab dengan anggukan


Aku hanya bisa melihat dari dalam mobil Rey berjalan menuju pedagang gulali itu lalu pedagang gulali menawarkan dagangannya, Rey mengeluarkan uang pecahan limapuluh ribu dari kantongnya, tapi sepertinya tukang gulali menolak uang pemberian Rey dan terlihat Rey memaksa pedagang itu untuk mengambil uangnya, lalu Rey meletakkan uang itu di tangan tukang gulali dan mengambil satu bungkus gulali, sepertinya Rey sedikit bersedekah pada tukang gulali itu, melihat Rey yang begitu baik aku benar-benar kagum. Selanjutnya Rey berjalan kembali menuju mobil membawa satu bungkus gulali di tangannya.


"Rey? Kau menyogok tukang gulali?"


"Hahaha, aku hanya ingin berbagi dengannya, kau jangan salah sangkah" jawab Rey seraya memberikan gulali berwarna pink untukku


"Terimakasih"


"Tapi tadi kau terlihat memaksa" kataku lagi saat Rey sudah melajukan mobilnya, tak lupa mengklakson si tukang gulali ketika kami melewatinya


"Dia menolak karna harga gulali tidak sepadan dengan uang yang ku berikan" jelas Rey yang masih fokus menyetir


Aku hanya membalasnya dengan anggukan


.......