New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Monster 1.



"Dependant, dependant bangun!! Bangunlah!!"


"(Suara itu, siapa?)".


"Rewindddd, bangunnn. Cepat bangun!!!".


"Weeehhh, ada apa?!!" marahku.


Entah kenapa, aku merasa familiar dengan wajah gadis ini, Dial. Dial terduduk di kasur, tepat sebelah diriku yang masih merasakan sakit pada mata kiriku yang terbalut kain.


"Ada apa?" tanyaku menahan rasa sakit.


"Apa kau merasa aneh dengan Akayuki?" tanya balik Dial.


"Aneh, tentu. Dia lumayan" jawabku.


"Menurutku dia anggota sebuah organisasi gelap, hampir tidak mungkin anak kecil seperti dia tahu begitu banyak hal" ucap Dial merasa resah.


"(Aku juga anak kecil) Dunia ini berubah, mau tidak mau kita dihadapkan pada keputusan yang tiba-tiba. Seperti diriku, awalny aku hanya ingin bertahan hidup sendiri, tapi saat bertemu denganmu, aku merasakan hal aneh. Seperti aku ingin selalu di dekatmu" tundukku merenungi kata-kataku.


"Ahh, a... Aku mengecek Akayuki dulu"


Dial segera bangun menuju ke pintu keluar. Saat tangan kanannya memegang gagang pintu, aku menyentaknya untuk diam. Dengan sedikit terkejut, Dial terdiam di tempat, lama-kelamaan kepalanya tertunduk.


"Dial, kau menganggapku apa?" tanyaku menatap tajam.


"Aku tidak tahu" jawab Dial nada suara lemah.


"Tatap wajahku Dial!!!" sentakku menatap wajah Dial dengan penuh kesungguhan.


Kulihat Dial membalikkan badannya, aku masih melihat wajah yang tidak sungguh-sungguh. Matanya menghadap ke arah bawah seakan-akan dia membenci mata merahku.


"Tatap mataku.. Dial" tatapku.


"Aku...".


"Tatap aku Dial!!".


Dial terkejut, pelan-pelan matanya dia naikkan. Penuh ketakutan dia melihat mataku. Aku merasakan rasa takut di dirinya, seakan dia takut melihatku.


"Sebenarnya. Yang kau takuti mereka atau aku?" tanyaku.


"Aku..." Dial menutup matanya.


"Jawab Dial!".


"Aku..." Dial mulai menangis.


"Jawab Dial!!!".


"Aku... Membencimu".


Dial segera pergi, menutup pintu dengan sekencang-kencangnya. Aku menunduk penuh pikiran, apakah aku salah? Apakah aku berhak hidup?


Aku beranjak dari kasur, dengan keinginnan untuk meminta maaf kepadanya. Tapi saat tanganku memegang gagang pintu, kudengar remang-remang isak tangis di depan pintu.


"(Dial, aku tahu perasaan yang kamu alami. Aku telah menjadi seperti mereka, mereka para sampah yang menindasku dan Dial. Akan kubunuh!!)".


Hatiku merasa sakit mendengar kata-kata Dial dan menyadarkanku, membiarkan masalah menghilang sendiri malah akan membuatnya semakin besar.


Keesokan harinya, aku terbangun dengan seluruh tubuh terasa begitu pegal, mungkin karena perasaanku yang tidak enak kepada Dial.


Tiba-tiba Akayuki datang, berdiri di depan pintu yang terbuka. Dia menyilangkan tangannya di dada sambil menatapku, kurasakan tatapannya yang kejam.


"Apa yang kau lakukan kepada Dial?" tanya Akayuki nada berat.


"Aku, aku terlalu bodoh... Maksudku, kenapa aku harus memaksakan padanganku kepada orang yang begitu percaya kepadaku. Akayuki, menurutmu aku pantas hidup?" tanyaku menundukkan kepala.


"Pantas" jawab Akayuki singkat.


"Jadi, aku juga pantas membunuh?".


Seketika Akayuki terdiam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya lagi.


"Tujuanmu, bukan kepentinganku" ucap Akayuki.


"Kalau aku ingin membunuh orang yang kubenci, dan bisa saja itu kamu. Apa yang kau lakukan?" tanyaku mulai sedikit gila.


"Buang jauh-jauh anggapan sampahmu itu!" Akayuki mulai marah.


"Apa kau tidak melihat mata merah ini?!! AHAHAHA BENARR!! Semua orang menjauhiku karena ini!!! Apa harus aku cabut saja?" tatapku gila ke Akayuki dengan senyum miring.


Seketika Akayuki melompat ke arahku, menarik tanganku yang sudah setengah jalan mengambil mata kananku. Dia memukul-mukul wajahku.


Aku yang marah tak bisa tinggal diam, kukerahkan seluruh tenagaku untuk melawan. Akayuki terdorong, melihat kesempatan ini, kudorong Akayuki sampai terjatuh ke lantai. Kubalas pukulannya ke topeng bodoh itu.


"AAAAHHHH!!!!" marahku terus memukul.


Sudah sangat kesal aku ingin menghajar gadis bodoh ini, sudah membaca buku harianku, sudah pernah menyerangku dari belakang, dan diriku juga terasa di permalukan. Sudah tak sanggup lagi aku bertahan, kukerahkan satu pukulan, yang mengakhiri pertempuran kami.


Aku terbeku, melihat mata merah di balik topeng itu. Pelan-pelan aku mundur dari Akayuki, aku merasa aku telah berubah, berubah seperti sampah-sampah itu.


Aku terduduk dengan mata tak berkedip, tak bisa menerima kenyataan ini.


"Kenapa berhenti?"


Akayuki membuka topengnya, di balik topeng itu. Sepasang mata merah yang sama kejamnya dengan diriku, menatap diriku. Darah mengalir dari dahi, pipi dan keningnya. Kulihat tanganku sambil gemetaran.


"Apa yang sudah kulakukannnn, APA?!!" penyesalanku dengan tangis.


"Apa kau sudah melihat? Bukan kau saja yang menderita di sini, tapi kita semua. Jika kau masih seperti anak kecil yang manja, lebih baik mati saja" tatap Akayuki kejam dengan nada mengiris hati.


"(Apa-apaan ini, padahal selama ini aku merasa sudah pintar, aku merasa sudah menjadi hebat. Tapi kenapa orang lain menganggapku anak kecil. Dial, walau dia seperti anak kecil, tapi dia mampu menahan rasa sakit, walau kumarahi dan kubentak, dia terus tersenyum kepadaku. Sebenarnya, APA KESALAHANKU?!!!)".


Aku hanya bisa menyesal, terduduk bersandarkan kasur Dial, membuatku merasa bagaikan monster yang sesungguhnya. Monster yang sebenarnya itu kita, bukan mereka yang diluar sana.


Saat manusia sudah terdesak dan tidak mempunyai pilihan. Mereka akan saling menyalahkan satu sama lain, bahkan bisa sampai berujung pertumpahan darah.


Dibalik topeng beradab kita, ternyata monster sesungguhnya adalah kita sendiri. Yang muncul bagai kegilaan.