New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Neraka



Marina menarik masuk Eva ke dalam Jeep, wajah Eva yang sudah tidak tertahankan melihat Marina dengan penuh rasa keprasahan.


Segera Marina menutup mulut Eva, telunjuknya berdiri di depan bibirnya, menyuruh Eva untuk diam.


Eva mengangguk paham, pelan-pelan Marina melepaskan tangannya. Dengan wajah curiga Marina menunjuk ke reruntuhan gedung.


"Ada apa?" bisik Eva.


"Monster" jawab Marina pelan.


"Di mana?" tanya Eva balik.


"Beritahu lainnya terutama Kevin untuk mematikan sambungan radio dan jaringan yang ada" tatap Marina serius.


Eva mengangguk, tangannya membuka pintu Jeep dan segera berlari senyap ke arah teman-temannya. Dengan terengah-engah Eva menjelaskannya kepada Tessa, Billy, dan Ghepo.


Ghepo dan Billy dengan gerak cepat langsung memadamkan api dan membawa Survivor masuk ke dalam bus. Tessa segera berlari ke mobilnya, dengan wajah tegang, dia menyuruh Kevin memutuskan sambungan.


Tapi Kevin malah menatap mata Tessa dengan wajah terkejut. Dia langsung melambaikan tangan menyuruh Tessa mendekati dirinya.


"Apa kau tuli? Matikan cepat!!" suruh Tessa mulai marah.


"Mereka... Berbicara" hirau Kevin masih terheran-heran.


Dengan perasaan marah, Tessa langsung merebut headset dari kepala Kevin. Wajah Tessa langsung berubah heran saat mendengarkan suara dari headset.


"Toooo....Looonngggg" suara berat dan serak.


"Apakah ini mereka?" mata Tessa menatap kosong ke arah Kevin.


"Itulah yang ingin kukatakan. Mereka mampu mengirimkan gelombang radio" balas Kevin juga menatap kosong ke arah Tessa.


"Cepat cek Radar!" suruh Tessa langsung tersentak.


Dengan cepat Kevin langsung menuju ke radarnya. Dengan mata terbelalak Kevin terkejut melihat radar dengan penuh tanda merah dimana-mana.


Segera Tessa melihat radar, wajahnya berubah, sungguh tak dapat dipercaya lagi.


"Mereka mengepung kita, tapi bagaimana?" kaget Kevin tubuh berkeringat.


"SEMUA TOLONG BERLINDUNG DI MOBIL, INI SANGAT BERBAHAYA, setelah pesan ini matikan sambungan Earpiece kalian" Tessa berkeringat, wajahnya sangat khawatir.


Tessa melihat serius Kevin. Tak lama dari atap mobil Billy masuk ke dalam dan bertanya bingung kepada Tessa dan Kevin.


"Ada apa?" tanya Billy.


"Lihatlah" tunjuk Tessa.


Kevin memundurkan kursinya memberikan ruang bagi Billy untuk melihat. Sungguh terkejutnya Billy saat melihat radar penuh dengan warna merah mengelilingi warna hijau.


"Ada masalah apa?" tanya Ghepo.


"Sepertinya berbahaya, dari ucapan Tessa tadi, ini sangat berbahaya" jawab Marina.


"Dimana Eva?" terus Marina.


"Dia ada di bus bersama Marvin" jawab Ghepo sambil menujuk ke arah bus.


"Dimana Marine?!!" Marina tersentak kaget.


"Aku tidak melihatnya" jawab Ghepo berbisik.


Krakkkk.... Kreeekkkk....


Suara misterius yang berderit-derit. Semua orang terdiam takut, tak ada seorangpun bergerak.


Sekawanan monster bertubuh manusia utuh dengan wajah hancur dan hanya mulutnya yang utuh mengeluatkan suara berderit-derit aneh.


Gigi mereka dimaju-majukan, seakan melihat mangsa di depannya. Kuku tangannya panjang berbalutkan racun hijau, kulitnya seakan terbakar mengeluarkan nanah yanv menetes di pasir dingin.


"Apa-apaan itu?" bisik Marvin.


Tiba-tiba pandangan mereka langsung tertuju ke bus, dengan ganasnya, mereka berlari bertubrukan menubruk bus yang hampir terguling, semuanya menjerit ketakutan. Eva yang ketakutan mencoba untuk tenang, Marvin yang terkejut, menendang jendela depan yang roboh ditubruk monster-monster itu.


KAAAAAAAHHHHH.....


"Ha, apa itu?"


Tatapannya terkunci di segerombolan monster yang menyerang, dirinya merunduk diam tak bergerak, mata elangnya mengunci target, jari telunjuknya siap menekan pelatuk yang menggebu-gebu.


"HHHAAAHHHH!!!! EVA, BAWA SURVIVOR KELUAR DARI BELAKANG!!" teriak Marvin.


"Bagaimana denganmu?" rakut Eva mundur beberapa langkah dari Marvin.


"CEPAT!!!"


Marvin terdorong, dirinya terpental jauh sampai ke kursi belakang. Dengan gila, monster masuk merangkak ke dalam bus, survivor yang belum saja berkutik tertarik gigitan mereka.


Mulut monster itu tertuju ke Eva yang tidak berdaya, dengan gigi-gigi gemertaknya yang kuat. Seorang Survivor mendorong Eva keluar dari bus dan langsung terjun keluar lewat pintu belakang.


Segera survivor itu membantu Eva berdiri, tanpa pikir panjang mereka berdua lari kebelakang menuju ke mobil Tessa. Tiba-tiba tubuh mereka ditubruk monster, terlihat Eva berusaha keras menjauhkan gigi gemertak itu dengan tangannya.


Sejengkal saja terlambat, wajah Eva sudah tergigit hebat. Survivor itu membuang pipa di tangannya dan langsung membopong Eva menjauh dari pertempuran dan segera mengetuk-ngetuk atap mobil.


"Cepat buka!" teriak Eva.


Segera Billy membuka pintu, dia langsung menarik kedua orang itu masuk ke mobil dan menutup pintu atap. Terdengar suara teriakan dan kesakitan di luar mobil. Mereka hanya terdiam, saling menatap satu sama lain.


Tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam atap mobil, Eva terkejut ketakutan begitu pula yang lain. Tapi tiba-tiba Marine membuka dan segera masuk ke dalam. Dengan debu di sekujur tubuh Marine, dia melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuhnya.


Pasir jatuh ke lantai besi, Tessa terlihat tidak senang, tapi hanya bisa terdiam. Marine menarik kursi, dirinya terduduk dengan kaki kanan menduduki kaki kiri.


Sudah lama mereka menunggu, Kevin melihat jam tangannya yang menunjukkan jam sudah tepat di angka 4 subuh. Tidak terdengar suara 1 jam yang lalu, tapi karena tidak mau memakan konsekuensi, mereka memutuskan untuk menunggu sampai jam enam pagi.


2 jam yang hampir berlalu, tidak terdengar suara dimanapun. Seakan satu malam yang berlalu itu bagaikan neraka, semua tak berdaya melawan, hanya bisa lari dan terdiam di tempat aman. Billy menghadap ke arah Tessa, dengan mengangguk serius Billy meberikan kode.


Saat tangan Billy menyentuh pintu atap, suara nyaring menakutkan terdengar dimana-mana, niat Billy langsung menghilang. Dengan berjalan pelan Billy kembali ke tempat duduknya.


Mereka mengulur waktu sampai setengah tujuh, waktu berlalu begitu lambat. Sesampainya, Billy membuka kecil pintu atap, melihat ke sekitar memastikan tidak ada monster dimanapun.


"Aman" ucap Billy membuka pintu dan langsung keluar.


Terlihat pemandangan menakutkan nampak di mata mereka. Bus terjungkir terkoyak sampai tidak terbentuk, darah berceceran di lantai pasir, potongan tubuh manusia yang tercabik-cabik menghiasi neraka ini. Marine mendorong Billy segera keluar dari mobil, langkah Marine tergesa-gesa mencari di reruntuhan bus itu.


Tangannya bergetar, air mata mengalir di pipinya. Dengan telapak ternodai darah dan daging, dia menatapnya dalam-dalam. Rasa sakit di hati yang tak terbendung, tubuh yang terkoyak dan hanya tersisa kepala dengan bekas gigitan dimana-mana.


"Marvin, hik, Marvin..." tangis Marine.


Marina dan Ghepo segera menghampiri Marine. Saat tangan Marina ingin menggapai pundak adiknya, Ghepo menahannya dengan lembut, sambil menutup mata Ghepo menggelengkan kepalanya. Pelan-pelan Marina menarik tangannya kembali.


Di bawah terik panas matahari payung hitam mekar di atas tangis. Bunga kecil dia letakkan di atas batu nisan bertuliskan "Di sini bersemayam teman baik kami Marvin". Semua menaruh duka, hati sakit tak tertahankan kehilangan orang tercinta.


Satu Survivor yang masih selamat dan "The Teror" tertinggal 7 mayat yang masih berdiri. Bersiap menghadapi neraka ini, Marina melihat ke langit, dia melepaskan pita biru yang mengikat tangan kirinya sebagai bukti pemimpin.


Dia menekuk lututnya di depan kuburan Marvin, meletakkan pita itu dengan rasa sedih. Sambil menutup mata dalam-dalam, dia merasa kecewa dengan dirinya.


Mobil melaju di atas padang pasir, Ghepo menggenggam setir menggantikan Marina. Di kursi belakang Marina menuliskan tinta di atas kertas.


Wahai Marvin.


Maafkan aku tidak menyelamatkanmu.


Padahal aku yang terkuat diantara kalian.


Dan akulah pemimpin kalian.


Tapi kenapa aku tidak membantu saat itu.


Saat itu aku merasakan ketakutan.


Takut akan mati.


Walau kita sudah melewati kematian itu sendiri.


Tapi ini bukan kematian yang dulu kita pernah lewati.


Tapi ini adalah neraka yang datang pada kita.


Aku selalu iri dengan dirimu.


Iri dengan keberanianmu.


Walau aksimu terlihat bodoh dan ceroboh.


Kau selalu menerobos musuh.


Walau itu seribu atau sejuta.


Kau menerobos dengan keberanian otot besarmu.


Ya... Walau puisiku tidak terlihat bagus.


Tapi ini untukmu.


Tidak apa, kau yang pertama kutuliskan di atas kertas.


Semoga kau bahagia di sana Marvin.


Dan kelak, kita semua akan bahagia di surga.


Setelah melewati semua neraka ini.


~Marina~