New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Prolog: Protagonist.



Beberapa mobil melaju di atas jalanan tandus dikelilingi panasnya padang pasir. Di bagian depan melaju sebuah mobil besar yang kuat dan kokoh dengan depan dilengkapi besi melengkung berhiaskan duri-duri besi, diikuti bus sekolah, di dalam terdapat beberapa orang selamat sedang saling berinteraksi. Di belakang bus melaju mobil yang dilengkapi senjata penembak beruntun di bagian atas, di lubang atap, keluar seorang laki-laki memakaikan rompi sedang mengamati sekitarnya dengan teropong.


"Tes, tidak ada monster di sini. Mungkin mereka takut panas" ucap laki-laki itu.


"Cek lagi Bil, mungkin saja ada beberapa mayat berjalan. Hei kau yang dibelakang, bagaimana? Ada Survivor lain?" ucap perempuan memegang setir sambil menyedot putung rokoknya.


"Belum ada respon, akan aku coba lagi" jawab laki-laki berkacamata yang terlihat sibuk.


Yap, sepertinya cerita kecil dari mobil penembak. Mari kita lihat ke depan, bus pengangkut Survivor. Terlihat beberapa anak kecil, sebagian besar anak kecil yang saling berperang, kita sebut saja mereka sedang bermain.


"Hei anak-anak, jangan terlalu bersemangat. Bagi Survivor dewasa, tolong jaga mereka!" ucap seseorang memegang setir.


"Hehe, seperti kamu tidak seperti mereka saja Marvin" tawa kecil wanita yang duduk disebelahnya, tangannya dia silangkan.


"Diamlah Marine, aku sedang mencoba menyetir" ucap Marvin seketika terlihat serius.


"Oke-oke, seperti katamu" ucap Marine tidak bisa beruat apa-apa lagi.


Sepanjang jalan ketiga mobil ini berjalan, sekelompok tentara negara yang berhasil selamat dari invasi, mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik yang pernah dibentuk negara, hati mereka terpaku kepada patriotisme yang tiada henti, menyelamatkan warga adalah tujuan utama mereka, walau dunia hancur mereka tetap berpegang pada pendirian mereka. 8 tentara terdepan yang ditakuti oleh musuh-musuhnya "The Teror". Walau namanya terdengar horor, tapi tujuan mereka tetaplah baik.


Mobil melaju menanjak gunung, setelah melewati gunung, lemandangan mengerikan ternampak di depan mata mereka. Terlihat kota dengan gedung yang bertubrukan tertutupi pasir, tidak seperti kota lainnya, kota ini sepi, bahkan hewan tidak ternampak dari kejauhan.


Zzzttt..


"Tessa, Marvin. Kita akan berhenti untuk mencari, malam ini kita berkemah di sini"


"Siap kapten!" jawab Marvin dan Tessa bersamaan.


"Pesan dari kapten, kita akan berkemah di sini" ucap Marvin.


"Aduh-aduh, sepertinya kotanya sepi" eluh Marine.


"Baik anak-anak, siapkan peralatan kalian. Kapten ingin kita berkemah di sini" ucap Tessa memakai kacamata hitamnya.


"Aku di sini saja, berjaga-jaga jika ada Survivor membalas pesanku" sibuk kacamata di depan radio.


"Baiklah, jika ada masalah hubungi aku Kevin" ucap Billy turun dari mobil.


*Kevin membalas jempol*.


Di tengah kota yang luas, mereka keluar, berpakaikan kain yang menutupi mulut dan hidung mereka dari pasir yang mendebu-debu. Dengan kode tangan, sang Kapten memecah tim menjadi 4 bagian, menyusuri sekitar. Tessa dan Billy ke arah kanan bawah, Marvin dan Marine ke arah kanan atas, Eva dan Ghepo ke arah kiri bawah, dan sang kapten sendirian menuju ke arah kiri atas yang terlihat penuh gang-gang kecil.


Tanpa takut sang Kapten berjalan, dengan jas putih melambai-lambai di bahunya, pedang berani berwarna biru laut mencerminkan pengetahuannya yang luas, sambil menyilangkan tangannya yang mencerminkan keberanian, sang Kapten berjalan di kegelapan yang remang-remang dicahayai matahari. Di dalam gedung, sang Kapten mengamati sekitarnya, dan akhirnya sampai di depan. Di depan makhhluk itu, sang Kapten mengeluarkan pedang yang bersemayam di punggungnya. Dia memotong tali yang mengikat anjing hitam putih itu, dengan suara rintihan lemah, anjing itu mendekati sang Kapten sambil mengangkat kaki kanannya yang terluka.


"Apakah ada monster di sekitar sini?" tanya sang Kapten kepada anjing.


"Guk..".


"Hmm, ada ya. Tunjukkan jalannya" berdiri sang Kapten setelah membalut luka anjing dengan kain.


Anjing itu berbalik arah, berjalan menunjukkan jalan bagi sang Kapten. Sepertinya anjing itu benar, semakin ke dalam gedung-gedung runtuh dengan besi-besi bengkok yang bisa saja melukainya, sang Kapten terus berjalan. Sampai suasana terasa tidak asing, di lantai berlumut, terlihat gumpalan darah merah bergerak-gerak. Segera sang Kapten bersembunyi di balik meja, tak lama terdengar suara langkah kaki basah melangkah pelan-pelan. Sang Kapten menutup matanya, merasakan keberadaan monster di sekitarnya.


"(Sial, ada juga pemberi sinyal. Hmmm, aku punya ide)" memegang erat pedangnya, bersiap untuk menerjang.


Sang Kapten dengan tergesa-gesa keluar dari reruntuhan sambil membuat kegaduhan, tanpa lama, puluhan monster mengikuti dirinya. Sepertinya rencana sangat berguna, dengan mengandalkan besi-besi bangunan sebagai perangkat, monster-monster itu tertancap dengan sendirinya. Sesampainya di daratan yang luas, keluar dari reruntuhan. Para monster hanya terdiam di dalam bayang-bayang reruntuhan, sambil mengamati sang Kapten dengan mata merah mereka. Pelan-pelan sang Kapten meletakkan anjing itu, memegang pedang dengan kedua tangannya, menutup matanya.


Dari kejauhan, awan yang tinggi membuat bayangannya, menutupi sang Kapten, segera puluhan monster menyerang menuju sang Kapten dengan beringas. Sang Kapten masih terdiam, sampai saat monster itu mengarahkan cakarnya yang tajam. Pedang itu dengan cepat membelah mereka, dengan keahlian pedang, kecepatan membelahnya yang tak terlihat. Segunduk daging busuk terkapar di depannya. Melepaskan hawa nafsunya, sang Kapten kembali dari misinya diikuti anjing kecilnya dari belakang.


"Oh, itu Kapten" seru Eva.


"Hei Marina, kenapa kau lama sekali?" ucap Ghepo menyedot rokoknya.


"Pasti Kapten bersenang-senang, hahhh, sebaiknya tadi aku bersama Kapten saja" eluh Billy kecewa.


"Hoi hoi, kau pikir melawan monster besar tadi bukan sebuah kesulitan?" marah Tessa memukul kepala Billy.


"Ada anjing, lumayan buat makan malam" ucap Marvin berliur.


"Bodoh" ucap Kapten memukul pelan bahu Marvin.


"Ouch.." Marvin kesakitan.


"Dimana Marine?" ranya Kapten.


"Bukankah dia biasa menjauh darimu? Kau kan Kaka... hehh" diam Marvin menelan kata-katanya.


Dengan mata kejam teman-temannya, Marvin menelan kata-katanya. Merasa tak enak dengan Kapten, Marvin beralasan mengecek Kevin yang daritadi berada di depan radio.


"Marine..." tunduk Kapten merasa bersalah.


"Baik-baik, para Survivor ayo turun dan dirikan tenda!!" suruh Tessa mencoba mencairkan suasana.


Di jalan yang luas di dempet gedung-gedung, malam pun tiba, hanya bercahayakan api unggun dan lentera, Survivor dan The Teror menikmati malam mereka yang tenang. Semuanya berkumpul dengan ria, sambil bercanda sama lain. Marine terdiam di dalam bus, sambil melihati liontin fotonya bersama Keluarganya. Tak lama, pintu bus terbuka, segera Marine menyimpan liontinnya dan segera memasang wajah tegarnya.


"Tidak perlu disembunyikan, Marine" ucap Marvin halus sambil memberika segelas teh hangat.


Marvin, laki-laki 25 tahun itu duduk di sebelah Marine di kursi paling depan. Marine yang ingin mengatakan sesuatu, kata-kata yang sudah di ujung bibir tertelan kembali, sambil menghadap ke bawah, wajahnya terlihat sedih.


"Ceritakan saja Marine" ucap Marvin meminum teh-nya.


"....".


"Hahhh, tidak usah tidak apa. Walau kita tentara yang dibangun tanpa perasaan, tapi kita tetaplah manusia.... Mempunyai hati dan perasaan" Marvin melihati genangan teh, sambil memutar-mutarkan gelasnya.


"Marina"


"Apa?" tanya Marvin.


"Marina... Apa dia baik-baik saja?" tanya Marine pipinya memerah.


"Eh? Jadi kau lesbi?!!!" teriak Marvin salah paham.


Dengan marah dan pipi yang memerah, Marine melemparkan teh-nya ke wajah Marvin. Dengan marah, Marine pergi dan menutup pintu penuh tenaga sampai terdengar ke telinga Survivor lainnya. Marvin mengambil gelas kayu yang tergeletak di lantai bus yang dingin. Dia terdiam, merasa sangat bersalah.


"Wajah itu, apa dia menyukai Kakaknya? Atau diriku?" ucap Marvin berpikir dalam.


Duduk di tanah, berlandaskan jeep, Kapten terdiam di kegelapan, dengan mata berkaca-kaca, dia mengamati para Survivor yang bersenang-senang dari kejauhan sambil mengelus anjingnya yang tertidur di pangkuannya. Tiba-tiba dari sampingnya berdiri Eva, seorang wanita berambut merah muda, teman sejati Kapten sekaligus medis dalam tim The Teror. Terduduk di sebelah Kapten, Eva menutupi tubuhnya dengan selimut hangat.


"Menyenangkan bukan?" ucap Eva mengamati Kapten.


"Hem, kesenangan yang langka" ucap Kapten tersenyum.


"Marina, tidakkah kamu merasa dingin?" Eva merasa kasihan dengan temannya.


"Tidak, hanya dingin, tak mampu membeli kesenangan mereka. Dan Ma.." ucap Kapten seketika terdiam menunduk.


"Marine, sepertinya dia ingin sendiri" Eva menyenderkan kepalanya ke bahu Kapten.


"Kau tahu Eva, Marine, dia tidak sepertiku. Dia sangat periang, dan itu adalah hadiah terbaik bagiku, ingin sekali aku melindungi senyumnya itu. Dia masih lemah, dia tidak bisa menerima semua ini. Walau dirinya seakan terlihat tegar, tapi, hahhh, dia masih lemah Eva, aku berharap Marvin bisa menjaganya" ucap Marina tak merasa matanya mengalirkan air mata.


"Tidak apa, tidak akan ada yang melihat" ucap Eva melihat penuh mata Marina.


"Eva".


"Marina".


Di kegelapan, kedua teman itu saling berciuman. Cinta tersembunyi antara Marina dan Eva yang tidak diketahui The Teror, cinta yang tidak memandang gender itu, seakan menjadi hadiah nikmat yang diberikan sang Kapten kepadan Eva.