New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Awalan yang mengerikan selesai.



"Cepat katakan apa maumu!" marahku mulai menodongkan pisau.


"Hanya air saja, cuaca di sini cukup panas. Kau tahu kan tinggal di atap tanpa makanan dan minuman membuatku secara harfiah seharusnya mati" ucap wanita itu sok-sokan.


"Hahh, ini! Air mineral bekasku!" mengambil air mineral di ranselnya dengan mata selalu menatap wanita itu.


"Terima kasih.." menerima air mineral.


"Akan kutunjukkan sesuatu" ucapnya menuju ke depan, pinggir atap.


Aku meletakkan ranselku. Dengan langkah santai, aku mengikutinya, tak lama Dial juga menyusul. Kudongakkan kepalaku ke depan, kulihat ke arah bawah. Gadis kecil itu membuka tutup botol dan menuangkannya ke monster. Seketika monster yang terkena air mineral, tubuhnya berasap, dagingnya serasa terbakar, asap hitam mengepul keluar dari tubuhnya dan tergeletak mati.


"Kau tahu kan kenapa aku menginginkannya?" tanya gadis itu.


"Gila, apa-apaan. Hmmm, aku punya rencana" menuju ke ransel, mengambil kertas dan bolpoin.


Dengan cepat, aku menuangkan pemikiranku hitam di atas putih. Tak lama Dial dan topeng putih itu berdiri melihat di belakangku. Dengan senang, aku melepas bolpoin yang menggelinding di tanah. Aku membalik badanku dan memperlihatkan rencanaku.


"Jadi begini, kita akan tinggal di lantai tujuh waktu malam dan menutup korden, dan bergerak saat pagi. Saat malam, mereka akan sangat kuat, dan ditambah monster pemikir dan sinyal, seakan mereka tidak terhentikan. Saat segerombolan monster kehilangan monster pemikir dan sinyal, tak lama akan datang lagi monster pemikir dan sinyal datang ke gerombolan tersebut, berselang 3-5 hari. Aku sudah mencobanya, saat aku membunuh monster pemikir sebelum Gura, tak lama dalam 3 hari Gura datang bersama Anna Anne dari arah kota. Ini aneh, sekarang, kita tinggalkan itu. Kau topeng putih, kita akan bergerak membersihkan lantai demi lantai, dan membersihkan kamar. Dial! Kamu mencari pasokan makanan dan air. Topeng, bawa sebotol air mineral, ingat! Air hanya untuk terdesak. Kenapa aku memilih aku dan kamu untuk memberishkan lantai, karena tubuh kita kecil, maka dengan mudah menghindar dan menyerang. Kalian mengerti?" penjelasanku panjang.


"Baiklah, aku mau tidur dulu ya Re" ucap Dial berdiri meninggalkan kami sambil melambaikan tangan.


Dial pergi, menutup pintu atap. Aku sibuk mengemasi barang-barangku, topeng putih itu juga sibuk menajamkan pedangnya. Entah kenapa, mata kiriku merasa sangat sakit, seakan pecah, kurasakan mataku berdenyut-denyut dengan kencang, kulihat remang-remang potongan daging manusia dimana-mana, dan pedang biru besar yang diolesi darah mereka. Topeng putih itu datang menghampiri diriku, dia langsung membalik tubuhku, melepas pita putih yang mengikat rambut hitam panjangnya dan segera membalutkan ke mataku. Darahku meresap keluar pita, mengalir membasahi mimpiku. Mataku melihat remang-remang, dan setelah itu gelap datang.


"Ayah Ibu, siapa dia?".


"Bawalah dia, dialah satu-satunya harapan manusia".


"HOOO, MATA MERAH, MATI! MATI! MATI!, ahahahaha".


"Penelitiannya benar, kiamat akan terjadi sebentar".


"Bayi ini memiliki kekuatan itu, tapi apakah dia siap?".


"Biarkan dia menerima seluruh kerasnya Dunia, maka dia akan terbangun dengan cepat".


"Meteor merah besar menuju ke arah Bumi, terlihat bola pijar ini menghantam Rusia, China, Amerika, Australia, Afrika, dan Greenland".


"Lari! Mereka berubah menjadi, AAAKKKHH".


"Anak ini harapan terakhir umat manusia... Kita akan bertemu kembali Dependant".


Aku melihat ke sekitar, aku terbangun di kasur merah muda, di sebelah kananku terduduk Dial yang sedang terduduk, matanya terpejam menungguku bangun. Seketika aku teringat dengan orang tua bodoh itu. Di teras, topeng putih terduduk di lantai depan pintu yang tertutup, wajahnya dicahayai bulan purnama yang terang mencerma, kulihat warna gemerlap emas di dalam topengnya. Topeng putih menoleh ke arahku, dia tak berkata apa-apa, hanya saja melihatku terus-menerus.


"Apa yang kau mimpikan tadi?" tanya topeng putih.


"Ahh, kau membuatku terkejut. Aku melihat, pedang biru berlumuran darah, dan mayat terbelah dimana-mana, sepertinya itu hanya mimpi" jawabku sedikit tersenyum aneh.


"Hmmm" ucap topeng putih menoleh kembali ke luar teras.


"(Mimpi itu, apakah nyata?)" tanyaku kepada diriku sambil menatap langit.


Aku beranjak dari kasurku, mengangkat tubuh Dial, membopngnya ke kasurku tadi, dengan pelan aku membalutkan selimut merah mudah yang tebal. Sempat dipikiranku, sepertinya ini kamar Dial. Kulihat wajahnya yang cantik, kukecup dahinya.


"Bahagialah, Dial" senyumku beranjak pergi.


"(Ke-Kenapa aku deg-degan. Aku dicium orang yang lebih muda dariku)" tahan Dial menahan perasaan malunya.


Kumenuju ke dapur, mengambil air dan meneguknya sampai habis. Rasanya masih tetap gerah walau hari sudah malam dan dingin. Kumenoleh ke arah jendela, suara-suara momster yang mengerang dimana-mana. Aku masih bertanya-tanya pada diriku, apakah mereka masih hidup dan merasakan kesakitan? Aku seperti merasa mereka juga mengerti perasaanku, sakit.


Pagi hari yang cerah, hari ke-16 kita bertahan hidup dari kiamat ini. Aku menuju topeng putih di atas atap yang terus mengamati para monster. Di pinggirnya aku angkat bicara.


"Ada apa topeng?" tanyaku.


"Masih terdengar, lain kali panggil aku Akayuki" ucap topeng putih.


"Ok ok.... Monster itu" tengokku di bawah pohon beringin.


"Cepat sekali kau tahu, dia melihat kita terus. Dia tipe pemikir, apa kau bisa membunuhnya dengan pisaumu?" tanya Akayuki memberikan buku harianku.


"Hei, sejak kapan kau mengambil buku harianku. Cih, itu mengapa kau tahu mereka. Lagi pula, dia menjauh dari kita. Kau lihat Gordon? Dia berdiri di depan monster pintar itu. Sepertinya monster itu tahu aku bisa membunuhnya dan menyuruh Gordon untuk melindunginya. Kita harus lari, mungkin" ucapku mengernyitkan gigi.


"Jangan! Kita tunggu dulu" henti Akayuki menepuk bahuku.


"Malam hari akan sangat berbahaya" khawatirku.


"Tidak! Kita tunggu saja" senyum Akayuki.


Entah apa yang ada dibenaknya, kemungkinan besar nanti malam kita akan mati.