
Hujan deras menjilat Bumi tanpa henti, jus merah amis mencemari udara, biuret biru terlukiskan merah di langit malam, bagaikan membawa harapan, dia memegang bendera merah putih di tangannya, semangat pejuang jaman dulu yang tidak pernah padam, seakan menyala kembali di dalam dirinya, Jilatan dingin dan panas dia naungi, ancaman monster dia hadapi, laki-laki yang berdiri sendiri, membawakan bendera, sebuah besi berujung runcing, dia melawan lautan kegilaan di atas gedung, sendirian tanpa teman.
"Apakah tidak orang? Negaraku, kemerdekaan ini, yang diberikan para pejuang, akan aku jaga selamanya" terbaring memandangi langit.
Diterpa angin hebat dan hujan panah tak henti, dia memegang erat-erat senjatanya. Dobrakan hebat terdengar dari pintu atap, terhuyung-huyung dia berdiri, menguatkan dirinya yang sudah terlelahkan.
"Para pejuang, maafkan aku tidak bisa melindungi Negara ini, tapi perjuangan kalian, tidak, inilah perjuangan baru demi kemerdekaan Dunia, terbebas dari invasi dan kembali MERDEKA!!!" semangatnya membara.
Dengan gigih, dia berdiri di depan bendera Negaranya, menantang seluruh infeksi yang tak kunjung habis di depannnya. Tangannya memegang erat besinya, setelah gerbang kekejaman itu dihancurkan. Dia berteriak sambil menerjang musuh, tak melihat seberapa banyak mereka, tak melihat seberapa mengerikan dan kuatnya mereka, dia terus berjuang dan berjuang, selayaknya para pejuang yang berjuang demi kemerdekaan.
Di bawah renungan hujan, perjuangannya terbayar. Luka dan darah yang menetes dari dirinya, tak jatuh sia-sia. Dia memberi hormat kepada sang bendera, sambil tersenyum, dia terjatuh di genangan darah berair. Dia bahagia mampu berjuang dan melindungi negaranya.
"Akkhhh, aku dimana?" terbangun.
Segera dia berdiri, berlari ke arah bendera, tangannya menggenggam erat kayu kokoh itu yang mengibarkan keberanian dan kemanusiaan. Melompat dari atap gedung, terlihat monster berdiri di tujuannya. Senjatany terlempar mengenai tepat kepala. Berguling-guling menabrak kaca, pecahannya tersebar bagaikan ketakutannya. Memasuk di sebuah kamar apartemen, dia tertidur di kasur empuk yang membawanya pada resonansi masa lalu yang menyenangkan.
"Ini sudah masa depan, pejuangmu sudah mati, tapi kenapa kamu terus memikirkan mereka?".
"Belajarlah dan belajar, hanya itu yang kau bisa".
"Menjadi pembawa bendera, berdiri 5 menit saja pingsan".
"Putra, aku kecewa padamu".
"Semangat apa itu? Sekarang kepintaran yang dipermasalahkan, bukan semangat keperjuangan".
"Putra, berjuanglah apa yang ingin kau perjuangkan, jangan dengarkan ucapan mereka. Para pejuang kemerdekaan mendukungmu".
"Benar, terima kasih guru. Aku tidak akan melupakan ini" matanya terbuka, melihat ke arah bendera yang terkibar.
Dia terbangun dari tidurnya, beranjak dari kasur, menuju ke dapur melihat beberapa laci apakah ada makanan yang bisa dimakan. Dengan semangat baru, dia membawa kentang ringan itu dan menuju teras, memandangi para penjajah yang melihat ke arahnya. Hanya tersenyum, Putra kembali ke dalam, melihat ke dalam lemari, mencari pakaian dan sampai suatu ketika dia menemukan benda berharga. Menekuk salah satu lututnya, dia mengelus pedang panjang itu, mengambil topeng putih.
"Senjata ini, dan topeng ini. Adalah bukti keperjalananku nanti membawa kemerdekaan kembali" tekadnya memakai topeng.
Mengambil pita merah putih dari tangannya dan mengikat di dahi topeng memutar keseluruh kepalanya. Matanya terlirik ke bagian bawah lemari. Sepatu lari, dan tas ransel tepat di depan matanya. Segera tangannya mengambil tas itu, memasukkan segala barang yang ada, adrenalinnya terpicu kuat. Tangannya sungguh bergerak cepat, keringat mengalir dimana-mana, di bawah hujan deras, dia berdiri di teras membersihkan diri dari darah yang menyengat.
"Ahhhh, Apa tujuanku sekarang? Apa yang dilakukan saat kalian berada di posisiku pata pejuang?" tatapnya ke langit berharap penuh.
Sepintas pemikiran baru melintas cepat di benaknya, dia segera mengambil bendera Negara-nya, mengikatkan cerminan dirinya itu di bahu, kedua tangan yang memegangkan penuh senjata, dia siap menerjang musuhnya. Tapi dirinya tersadarkan, sepertinya keberuntungan tidak datang dua kali.
"Jumlah mereka banyak sekali dan yang kulawan tadi hanyalah seperti Zombie. Tapi apa jadinya jika ada monster berkekuatan super? HAAAHHH bodoh amat, banyak membunuh, berpikir kemudian!!" mendobrak keras pintu.
Matanya bergerak cepat ke kanan dan ke kiri, terlihat lautan momster menunggu untuk dihabisi. Penuh semangat membara, dia menebas-nebaskan senjatanya penuh rasa liar, jilatan jiwanya membuat ketakutannya menghilang, tidak ada yang berhasil melawannya. Akhirnya pertarungan kecil miliknya selesai, bertarung sambil berusaha membuat bendera tetap bersih bukanlah hal yang mudah.
Tanpa pikir panjang, dia mengambil ancang-ancang, matanya mengarah penuh ke teras, sepertinya dia membayangkan hal yang tidak-tidak lagi. Laki-laki remaja ini sungguh gila, dia berlari, melompati pagar pembatas di atas ketinggian 20 meter. Matanya penuh api yang membara, tepat di atas monster besar, dia mendaratkan kakinya bersamaan tusukan pedang dan besi itu. Di tengah-tengah lautan monster, dia tetap berpikir tenang. Terus menyerang dan menyerang, monster-monster terus berdatangan.
Melihat kesempatan melarikan diri, dia tidak meloloskannya, untuk yang terakhir kalinya. Sedikit lagi di tempat terbuka, tiba-tiba monster parasit kecil melompat mencuat keluar dari tubuh monster yang mati, tepat mrndarat di tangannya, rasa sakit tertanam di tangannya. Segera dia memotong parasit itu yang tidak sengaja memberus sampai memotong tangannya.
Teriakan pahlawan terdengar nyaring, dengan terus berjuang akhirnya dia berhasil kabur dari gerombolan monster dan masuk ke dalam desa terpencil, jejak-jejak darah terus mengalir dari tangannya. Segera dia merobek bajunya dan membalut lukanya, terlihat kulitnya mulai berbentol-bentol.
Kepalanya dia sandarkan di batu bata yang kokoh, tubuhnya lemas tak berdaya menunggu ajal menjemput. Sepertinya sudah saatnya.
Cahaya mulai remang-remang, tangannya tak kuat bergerak, dia melihat ke arah langit, tersenyum dengan mimpi-mimpi perjuangannya yang terkenal mustahil.
Suara derap kaki kecil menghampiri dirinya, terlihat warna hitam abu-abu melintar di depan matanya. Wajahnya tersenyum, akhirnya dia terkubur dengan layak.
"Bawa benderaku, bawa semua yang kupunya. Aku tidak sanggup lagi".
"Sudah bertemu orang saja beruntung, masih memikirkan barangmu?".
Tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dengan keras, sangking kerasnya tubuhnya terjatuh ke tanah dengan darah mengalir bercampurkan air hujan.
Apakah pahlawan itu?
Terkenang dengan aksi heroiknya.
Patungnya gagah dihormati rakyat.
Pedangnya bagaikan kebanggan.
Makamnya terhias penuh bunga.
Mungkin seperti penggambarannya.
Penggambaran dari sisi dunia palsu.
Bagiku pahlawan tidak seperti itu.
Hanya mereka yang berjuang demi kebaikan.
Berjuang demi kepentingan orang banyak.
Walau jasa dan pengorbanannya tak dikenang.
Dia terus berjuang.
Terus-terusan berjuang.
Walau waktunya dia habiskan untuk berperang.
Walau akhirnya dia tahu dia menemui ajal.
Kenapa dia tetap terus berjuang.
Itulah pahlawan bagiku.
Dan mereka pahlawan yang menginginkan kemerdekaan.
Akulah penerusnya.
~Ilham Putra.
Surat terakhir yang kutulis.