
"Hei bangun! Cepat bangun!".
Anak kecil itu melemparkan ember penuh air dingin ke wajah Putra. Segera Putra terbangun dengan kesadarannya yang langsung pulih secara penuh.
Putra meronta-ronta, tapi tangan dan kakinya terikat di atas kasur besi yang keras. Hanya ada satu cahaya yang menghadap ke wajahnya, tiba-tiba dari kegelapan seorang anak kecil datang.
"Eh? Anak kecil?" bingung Putra.
"Hihh!!! AKU BUKAN ANAK KECIL PAYAH!!" membanting kursi ke tubuh Putra.
"Ukkhh, eh? Tubuhku tidak sakit?" bingung Putra melihat bongkahan kursi.
"Aku harap kau mengerti, kau berubah menjadi mutan" simpul anak kecil.
Anak kecil sekitar 11 tahun dengan kulit berwarna abu-abu memakaikan gaun putih dengan bagian bawah yang tersobek sampai paha.
"Eeee, mutan? Apa aku monster?" tanya Putra seperti orang bodoh.
"Iya, lebih jelasnya mutan adalah monsternisasi yang sempurna. Lebih mudahnya, jika kamu menjadi mutan, kamu berubah selayaknya monster, tapi masih mempunyai kesadaran dan kekuatannya terkendali, dan monster kebalikan dari mutan" jelas anak kecil itu.
"Oh, kalau begitu lepaskan aku. Aku masih sadar" semangat Putra tenaganya seakan terisi penuh.
"Oh benarkah? Tapi apa kau tidak merasa haus sekarang?" tanya anak kecil dengan wajah penasaran.
"Iya, sedikit" Putra bergerak sedikit melonggarkan lehernya.
"Tapi, tidak ada monster di sekitar sini, gimana dong?" manja anak kecil.
"Kau, tidak abu-abu kan?" tanya Putra merasa aneh.
"Tidak, kulitku memang abu-abu dan mataku memang emas. Memangnya kau tidak takut?" ucap anak kecil sedikit terganggu.
"Apa kau bercanda, aku tidak pernah melihat orang sepertimu! Kau pernah dengar, perbedaan adalah alat pemersatu bangsa?" ucap Putra melonjak senang.
Anak kecil itu hanya berkata "Hmm..". Dia mendekati Putra dan melepaskan rantai-rantai besi yang megenggamnya. Putra mengelus tangan kirinya yang putus terbalut kain putih ternodai merah. Tapi anehnya Putra merasakan, perasaan yang berbeda saat melihat lukanya, seperti ada perasaan senang.
"Aku memanggilmu siapa?" tanya Putra.
"Panggil saja aku Alice, tidak lebih" ucap Alice.
Alice berjalan keluar dari ruangan gelap, di depan pintu hitam yang tidak ditutup, sepertinya Alice ingin Putra mengikutinya. Dengan langkah tergesa-gesa Putra segera mengikuti di belakang. Sambil berjalan, Putra melihat sekelilingnya, sebuah desa dengan rumah yang sudah roboh, darah dan mayat berceceran dimana-mana.
"Apa yang terjadi sebenarnya di sini?" tanya Putra.
"Kau tahu, penyerangan dan serangan yang kau alami. Itu terjadi pada mereka" jawab Alice tenang.
"Apa kau tidak takut denganku? Aku kan sudah berubah menjadi monster" ucap Putra seakan-akan dirinya bodoh.
Putra merasa tidak enak ditatap. Matanya sedikit ke arah lain, tapi Putra tetap menatap Alice.
"Sepertinya begitu" ucap Alice kembali berjalan.
"Heh, tunggu dulu. Kenapa kau menatapku seperti itu? Tunggu, dimana pedang dan benderaku?" tanya Putra.
"Pertama aku tidak akan menjawabnya, kedua, pedang dan benderamu aku bawa. Tanpa mereka semangat kepahlawananmu tidak ada artinya. Sekarang, aku akan menjadi otak dan kau otot, semua rencana akan aku rencanakan dan kau yang menjagaku. Bagaimana? Jika iya diamlah sampai aku bilang pip dan jika tidak, sepertinya ucap selamat tinggal dengan pedang dan benderamu" jawab Alice panjang, wajahnya memerah terlihat sangat marah.
"Baiklah, aku akan diam" gerak tangan Putra mengunci mulutnya.
Di sebuah sawah yang luas, mereka berjalan menuju gubuk yang berada di tengah. Alice berhenti di depan jalan.
"Hmmm?" bingung Putra.
"Bisakah kamu menggendongku?" minta Alice malu-malu.
"Bruhhh"-_-.
Putra berjalan di lumpur yang dalam sampai ke dengkulnya. Semakin mereka ke gubuk, semakin dalam pula lumpur yang mereka lewati. Sesampainya di depan gubuk, Alice langsung meloncat ke dalam gubuk berlandaskan bahu Putra. Dengan penuh lumpur sampai pinggulnya, Putra tergeletak lelah di lantai gubuk yang terbuat dari bambu itu.
Tiba-tiba pedang dan bendera terlempar ke dada Putra, sontak Putra terduduk dan melihat ke arah Alice. Sungguh terkejutnya dia melihat Alice memakaikan sarung tangan yang bisa dibilang kasar, keras dan tebal.
"Kau, bukan laki-laki kan?" Putra merasa tidak enak badan.
"Sepertinya mulutmu ingin ditinju" suasana hati Alice langsung turun.
Putra mengikatkan bendera di bahunya, melingkarkan sabuk pedangnya di pinggul dan siap untuk bergerak. Alice meletakkan peta di lantai, di peta terdapat beberapa lingkaran merah.
"Kita lihat, kita berada di sini, bulatan yang berwarna hijau. Kita akan menuju ke kota terdekat, tujuan kita menuju ke apartemen ini" jelas Alice.
"Kenapa harus ke apartemen lagi?" tanya Putra.
"Karena di sanalah tempat para Survivor yang tersisa" tatap Alice yakin.
"Bagaimana kau bisa yakin? Bukankah apartemen itu berada di pinggiran kota?" Putra semakin bingung.
"Ck ck, kau memang tidak tahu. Aku pernah pergi ke sana, di sana tempat yang sepi hanya ditinggali beberapa orang dan juga jarak kota dengan apartemen lumayan jauh. Yang lebih memungkinkan lagi, tidak ada fasilitas lain yang berada di sekitar apartemen, yang berarti semakin sedikit orang berkumpul semakin sedikit monster yang ada di sana" jelas Alice menggulung peta dan memasukkannya kembali ke tas kecil.
"Oh benar juga, seperti saat itu di sekolahku. Tapi kota tempat yang berbahaya, aku pernah menghadapi mereka, saat itu aku di hujani, seperti tidak ada jalan keluar, tapi aku percaya aku bisa bertahan hidup dan menyelamatkan yang lainnya" semangat Putra berkobar-kobar.
"Yap memang berbahaya, kita menggunakan jalan memutar, melewati desa ke desa" berdiri Alice kedua tangannya memegang pinggulnya.
Sepertinya tak lama lagi kedua survivor ini akan menemui survivor lainnya, tapi apakah perjalanan menuju ke apartemen seperti membalikkan telapak tangan? Tentu saja tidak, ini akan seperti minum air panas langsung dari sumbernya.