New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Awalan yang mengerikan 1



Aku menuju ke depan pintu, melihat di balik kaca kecil, terlihat monster lalu lalang, setidaknya mereka bukan yang mempunyai kekuatan spesial. Dengan tenang aku kembali memgecek media sosial, belum juga ada respon. Sepertinya dugaanku benar, hanya aku yang bertahan dari kekejaman ini. Tapi akhirnya aku mendapatkan kerenangan juga, tak lama berpikir senang, perutku memanggil. Aku menuju ke dapur, melihat di dalam laci, hanya ada mie instan, dengan berat hati aku harus memakannya, makanan enak di kulkas juga sudah habis dalam 1 minggu ini. Kutuangkan air panas ke dalam, sambil kubawa mie instanku, menuju ke teras, melihat pemandangan yang tidak pernah bosan aku melihatnya.


"Nyam, hoi Gura. Makhluk malam, yuhu. Haha, dia tetap saja bodoh saat pagi" tawaku melempar botol ke kepalanya.


Sejauh ini, Gura adalah monster yang paling sempurna, tubuhnya masih seperti manusia, tapi kulitnya berbentol-bentol dan tidak seperti monster lainnya, dia menghasilkan cairan kuning seperti nanah di sekitar tubuhnya. Setiap malam aku harus menutup pintu dan korden teras agar monster pintar satu ini tidak mengetahui keberadaanku. Tapi sepertinya dia berubah 180 derajat saat pagi hari, entah apa yang membuat matahari begitu kuat, tapi saat pagi hari, dirinya terlihat bodoh dan melambat dan menghasilkan nanah lebih banyak dari sebelumnya, sesekali para monster juga berteduh di bawah bayang-bayang, kebanyakan dari mereka yang biasa (Zombie), tapi ada juga yang tidak terpengaruh seperti Gordon dan Anna Anne. Dari sini bisa aku simpulkan, kurang lebih seperti ini.


Monster dibagi atas 3 bagian:


Pertama, mereka yang mengandalkan kekuatan dan otot, pada dasarnya adalah kebanyakan, tapi masih terpengaruh oleh matahari, seperti Zombie, tapi monster yang memiliki kekuatan khusus, mereka tidak terpengaruh, tapi gerakan lambatnya saat berada di bawah matahari adalah sama saat di malam hari.


Kedua, monster yang mengandalkan kepintaran. Mereka selalu melihat sekitar mereka, seperti monster dan mangsa. Seperti contoh Gura, saat malam hari, dia akan sangat aktif, bahkan selalu melihat ke sekitar untuk mengingatkan monsted lain akan keberadaan mangsa, tapi saat dia sendirian. Gura segera pergi dari tempatnya berdiri dan mencari gerombolan monster. Dari hal ini, monster yang seperti ini sangatlah langka, tapi juga sangat rapuh.


Ketiga, pemberi sinyal. Seperti namanya, akan kuberi contoh untuk Anna Anne. Walau mereka tidak terpengaruh oleh matahari, tapi dia tetaplah monster lemah. Biasanya monster tipe pemberi sinyal dan kepintaran menghasilkan getah atau belatung sebagai alat pertahanan diri. Saat malam hari, Anna Anne seperti sedikit waspada, karena dia tahu dirinya rapuh (walau 1 tingkat pertahanan di atas monster tipe kepintaran) dan juga, penglihatan mereka sangat buruk.


Sepertinya hanya itu yang aku catat selama 7 hari. Perilaku mereka sangat melengkapi, seperti monster tipe kekuatan selalu bergerombol di dekat monster tipe kepintaran atau pemberi sinyal, saat mereka berada di sekitar monster tipe kepintaran, mereka seperti mendapat kelebihan seperti berpikir sedikit jernih, membedakan mana kawan dan mangsa, tapi sepertinya masih terbatas.


"Aduh-aduh, mienya habis" eluhku melempar kemasan mie ke kepala Gura.


"Sayang sekali, One Eye mati. Padahal masih bisa dijadikan bahan percobaan" kecewaku melihat mayat One Eye.


Entah apa yang merasuki Gordon karena One Eye menyerangnya, tapi perasaan Gordon seperti emosi marah. Dengan tangannya Gordon memukul-mukul One Eye sampai berceceran kemana-mana, bahkan Gordon sempat melampiaskan kemarahannya kepada salah satu Zombie.


"Hahhhh, males juga cuma mencatat seharian. Tapi mau gimana lagi, sekarang, informasi sama berharganya dengan makanan. Jika tidak mempunyai informasi, tidak mempunyai strategi menghadapi monster, tidak mempunyai makanan, sama saja mati" eluhku pusing.


Entah karena gabut atau pusing tidak mempunyai pekerjaan. Aku mengacak-acak kamar adikku laki-lakiku, mencari sesuatu sampai mainan sampahnya aku banting.


"Hmm, adik tidak tahu untung. Disekolahkan malah hanya menambah bodoh, lihatlah aku wahai dunia, akulah orang terpintar. Hehe, walau aku tidak sekolah dan tidak diurus layaknya hewan peliharaan, tapi ilmuku lebih tinggi dari kalian loh" tatapku ke foto keluarga.


Kubanting foto yang membuatku muak ini, entah apa yang merasukiku, tiba-tiba perasaan kejantananku terasa. Apakah ini efek samping video dewasa yang aku tonton.


"Benar, kenapa takut melampiaskan jika ada manusia yang menghina dan memakimu lagi, AHAHAHAHAHAHA!!!" tawaku begitu keras selayaknya psikopat.


"Mengecewakan juga jika seluruh manusia berubah, mau sama siapa aku melampiaskan hawa nafsu yang tidak terkontrol ini. Kalau monster tidak mungkin. Kalau boneka Kakak perempuanku... Hmmm, aku juga bukan paman-paman yang buruk rupa dan gendut yang tidak bisa mendapatkan wanita dan melampiaskannya ke boneka.... Hmmm" Pikirku sambil menyobek-nyobek kertas pelajaran adik kecil bodohku.


Tringgg...


Tiba-tiba ada suara dari komputer, segera aku menuju ke depan komputer, dengan wajah senang, ternyata aku tidak sendiri di dunia ini. Seseorang membalas pesanku di media sosial baru saja.


"Apakah kamu orang yang selamat?"-2-.


"Kalau tidak, kau mengetik di depan siapa?" balasku (-1-).


"Dimana letakmu?"-2-.


"(Seperti penculik saja_-) Seharusnya aku yang bertanya. Seperti apa keadaan di sana?"-1-.


"(Lebih baik aku rahasiakan) Sepertinya dia bukan manusia, bisakah kau memberiku foto dirimu dan ruanganmu sekarang, dan juga luar ruangan"-1-.


"Baik"-2-.


Tak lama 3 foto dikirimkan ke diriku, tak kusangka dia bodoh, kukira dia seorang culik. Foto pertama, ruang apartemennya yang berantakan, jika kulihat lagi, dia sudah kehabisan makanan karena bungkus mie yang tergeletak dimana-mana. Kedua, tak kusangka dia seorang wanita cantik, rambut hitam dan mata itu, membuatku merasa senang.


"Hehe, akhirnya aku mendapatkan mangsa. Tenang adik kecilku, tidak lama sepertinya kita terpuaskan" tidak sabarku menahan adik kecilku.


Dan yang paling mencengangkan, dia ternyata satu apartemen denganku, dan yang paling mengagetkan adalah dia berada 1 lantai di atasku. Jadi selama ini dia mengawasiku, tak kusangka akan menjadi seperti ini. Tapi aku juga senang, hanya 1 lantai menuju kesenangan birahi dibawah neraka.


"(Tunggu!) Apakah kau selalu mengunci terasmu?"-1-.


"Aku selalu menguncinya, aku takut monster-monster itu mengetahuiku. Aku sangat ketakutan"-2-.


"(Haduh, umurnya sekitar 15 tahun, dan masih takut saja, padahal dia 5 tahun lebih tua dariku) Aku lihat kamu kehabisan makanan"-1-.


"Bagaimana kau tahu? Itu tidak penting, yang penting dimana dirimu?"-2-.


"(Hoho, kita permainkan dulu) Itu tidak penting, sekarang pergilah ke teras. Lihatlah ke bawah, tidak apa, para monster itu menjadi sangat lemah saat di bawah matahari"-1-.


"Tidak! Aku sangat takut, aku takut ketinggian"-2-.


"(Kalau takut ketinggian kenapa tinggal di lantai paling atas) Lihat saja! Cepat!"-1-.


Terdengar suara langkah terburu-buru di atas kepalaku. Ternyata benar, dia tepat berada di atasku. Terlihat pintu teras yang berkarat dia buka. Dengan perkiraanku, dia sedang ketakutan. Segera, aku menuju ke teras. Memegangkan pagar, aku melambai-lambaikan tanganku.


"Oh, kau ternyata!" ucap wanita itu terkejut.


"Ssttt" perintahku memberikan kode-kode dengan tangan.


Kita kembali ke depan komputer dan saling berbincang kembali.


"Aku tahu kamu, kamu adik kecil yang mata merah itu kan"-2-.


"Jangan panggil aku adik kecil, jika mau selamat dengarkan perkataanku!"-1-.


"Baiklah, jadi apa?"-2-.


"Cari selimut dan seprei, satukan semuanya dengan tali mati. Jika sudah, talikan di pagar besi teras. Aku akan ada di bawah, berjaga-jaga, aku menjaga pagar untuk menangkapmu jika saja terjatuh (pemuas diriku, tidak boleh mati!)"-1-.


"Bagaimana bisa? Maksudku, kau masih kecil"-2-.


"LAKUKAN SAJA!!!!"-1-.