
"AAAAAAA!!" teriak wanita itu memegang erat selimut.
"SSSTTTT!!!! Diamlah payah!" marahku langsung menarik kakinya.
Tiba-tiba dirinya terjatuh tepat di tubuhku, dengan kuat-kuat kupegang selimutku. Hampir tak kuat, tanganku terlepas, untung dirinya langsung meloncat ke teras. Tubuhku berputar-putar dan terjatuh dari pagar teras, untung sudah kuikat tubuhku dengan selimut. Kulihat monster-monster itu melihatku dengan mata tak peduli. Dasar wanita payah, bukannya membantuku naik dia malah langsung di pojokan ruangan karena ketakutan. Sesampainya di teras dengan punggung seakan patah, aku menuju ke dirinya yang ketakutan.
"Hei! Hei! Kamu mau membunuhku?!!! Lain kali ikuti saja apa kataku!!!" marahku.
"Maaf, tapi aku sangat ketakutan" meneteskan air mata.
"Hahhh sudahlah, dunia ini sudah berbeda. Hanya yang kuat dan pintar yang bisa bertahan, dan juga, aku tidak akan pernah tertarik dengan tipu daya wajahmu (bikin aku marah, sekarang hawa nafsuku hilang seketika)" menuju ke dapur.
Sambil merasa marah, aku meletakkan gelas keras-keras sampai terdengar bunyi dentingnya. Kutuangkan air putih, dengan berat hati, aku meminumnya. Rasanya lega setelah menghilangkan haus, kulihat keluar teras, melihat mereka yang hidup tidak, mati juga tidak. Aku bertanya-tanya kepada diriku, apakah mereka yang sudah berubah masih memiliki perasaan? Kuambil kalung dari leherku, liontin yang tidak berubah sejak 5 tahun lalu.
"Alice, apakah kamu sudah berubah? Aku mohon jawablah diriku, aku merasa lemah, aku merasa aku tidak pantas untukmu" ucapku menahan tangis.
Tak terkira seberapa sakitnya hatiku, mereka para manusia normal tidak akan bisa mengirakan sakitnya hati ini. Dadaku terasa sangat sesak seperti ada ribuan untaian tali mencekikku. Kumasukkan liontin kembali ke dalam balik baju, sambil melihati mereka, dendamku yang dulu juga tidak pernah hilang.
2 hari kemudian.
"Lempar dengan tenaga!! Jika lemparanmu seperti itu maka cepatlah mati!!" teriakku terduduk di kursi.
"Hahh, hahh, bisakah kita istirahat? Aku terlalu lelah" eluh wanita itu melepas pisaunya.
"Lelah?!! Kau bilang lelah?!! Apa ini maksudmu lelah?!!"
Kuambil 3 pisau dari lantai, kupegang mereka dalam satu tangan. Sekuat tenaga kulemparkan ketiga pisau itu secara bersamaan. Pisau-pisau itu menancap pada 1 target kecil, wanita itu terkagum-kagum melihatku, tapi aku menghiraukannya dan duduk kembali di kursi.
"Cepat lakukan!! (aku bertaruh 2 hari untuk mengajarimu ini)" menggertakkan gigi.
Catatan harian:
Aku tidak tahu jika kita terkena serangan mereka atau lendir yang mereka hasilkan. Aku tidak mau ambil resiko melawan mereka, menggunakan pisau dapur yang jumlahnya hanya ada 5, harus digunakan saat keadaan terancam saja. Sejak 5 tahun lalu, aku berlatih melempar pisau sampai tanganku terkena banyak sayatan, terkena pisau yang kulempar sembarangan. Terus aku berlatih, dan berlatih demi Alice, dan saat umurku 8 tahun, akhirnya aku bisa melempar 1 pisau tanpa meleset. Berlatih di tempat rahasia yang aku buat, dengan menggunakan peralatan seadanya, setiap malam aku harus bergelud dengan dingin dan kantuk. Dan hari ini, akhirnya bisa memegang 3 pisau dalam sekali serang walau hanya akurat pada jarak dekat, tapi itu sepertinya cukup. Kembali lagi ke monster, Gura dan Anna Anne adalah monster yang paling bahaya, bisa saja mereka mengetahui keberadaan kita saat pagi hari dan mengingatkan monster lainnya untuk menyerang kami habis-habisan.
"Hai Dial, kamu bilang lantai atas tidak ada monster kan?" tanyaku melirik ke arah wanita itu.
"Entahlah, saat itu aku sangat ketakutan. Bahkan menggerakkan tangan pun tidak mampu, HAAHHHH" melempar pisau sekuat tenaga.
"Kita akan naik" ucapku.
"Apa?!!!" kaget Dial.
"Hei! kita sudah membicarakan ini, lawan ketakutanmu, atau dia akan menjadi iblis bagimu. Dan juga, makanan kita sudah menipis, tinggal 4 mie instan dan itu hanya bisa bertahan hari ini saja" ucapku sedikit marah.
"Bisakah kau memberitahukan namamu? Maksudku, biar mudah memanggilmu" ucap Dial terduduk.
"Rewind, panggil saja aku Re" ucapku.
"(Re? Bagus juga, yang artinya angin yang selalu berulang)" senyumku ke langit.
Tak menunggu lama, dia datang menuju ke teras membawakan dua gelas mie ditangannya. Pelan-pelan dia memberikan jatahku. Kami berdiri di depan pagar teras sambil melihati monster-monster itu.
"Apakah kau merasa aneh diperintah anak kecil sepertiku?" tanyaku.
"Sedikit, tapi... Aku tidak melihat umur atau tinggi, selama dia adalah pemimpin yang baik bagiku, akan aku ikuti" jawab Dial.
"Re, apa kamu pikir keluargamu masih selamat?" tanya bailik Dial.
"Tidak, siapa itu? Keluarga?" jawabku dengan mata tidak peduli.
"Apa kau tidak merasa kangen dengan Ayahmu, sudah 14 hari dunia berakhir" ucap Dial melihat ke wajahku.
"Ayah ya, orang tua yang selalu menghancurkan usahaku, yang selalu menindasku. Dan yang tidak pernah kulupakan, dia meninggalkan Alice. Apa itu yang kau sebut keluarga?" tanyaku balik, merasakan marah yang saat itu.
"Maaf sudah bertanya. Aku sudah mempelajari catatanmu, sepertinya monster-monster itu punya perasaan" menatap ke arah Gura.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Kau tahu saat One Eye diserang habis-habisan oleh Gordon, sepertinya Gordon merasakan marah, seperti yang kau rasakan saat ini kepada dia. Dendam dan marah, seakan tidak bisa dipisahkan".
"Begitu..." tatapku kosong ke gelas mie.
Rasanya sedikit lebih gurih dan enak saat kuseruput mie ini, apakah aku tidak memiliki perasaan? Siang hari sudah tiba, kulihat para monster mencapai titik lemahnya. Aku mengemas barang-barangku di dalam tas ransel milik Kakakku. Dial menarik selimut itu, menuju ke atas duluan, walau dia merasa takut, tapi dia sudah belajar. Di teras, aku harus berurusan dengan Gura dan Anna Anne. Kutajamkan mataku dengan 2 pisau ini.
Jlebbb...
Akhirnya, Anna Anne mati, dengan kepala terputus dari badan. Tapi Gura langsung menangkis pisau dengan tangannya dan melihatku dengan mata merahnya. Aku merasa familiar dengan tatapan itu, tidak, tidak mungkin, tatapan 5 tahun yang lalu.
"(Apakah kau mempunyai perasaan juga Gura?)" tanyaku dalam hati.
"Re, cepat naik! Akan kutangani dia!" melempar pisau ke arah Gura.
Dari kejauhan, pisau itu melesat cepat mengenai tepat di dahi Gura. Gura terdiam dan terjatuh ke tanah. Dengan hati bersalah, aku naik ke atas. Sesampainya di atas, Dial sedang mengemasi barangnya seperti pakaian, pisau, dan sebagainya.
"Dial, kita gunakan sabuk kain itu!" ucapku seketika mendapatkan ide.
"Sabuk yang ada di plastik hitam itu? Memangnya untuk apa?" tanya Dial membawakan plastik hitam penuh sabuk kain ke hadapan Re.
"Balut penuh tangan kiri kita dengan ini. Dengan begitu, jika ada mereka yang mau mengigit atau menyentuh kita, kita bisa menangkis mereka" ucapku senang.
"Ide bagus, bahkan aku tidak pernah terpikirkan?" seru Dial segera membalut tangan kirinya.
Di belakang pintu, aku menempelkan telingaku di pintu. Dengan menundukkan kepala aku memberi isyarat ke Dial. Pelan-pelan aku membuka pintu itu, pintu yang menuju ke dalam neraka.