New World: Mutant Road.

New World: Mutant Road.
Prolog yang hilang.



Hari 1.


Terpaksa aku harus keluar membeli game RPG yang akhir-akhir ini viral, baju hitam dan berdasi yang lalu lalang sok sibuk membuatku muak, ingin sekali aku menonjok wajah mereka, tapi tidak ada untungnya membuat masalah. Sepulang ke rumah, langsung kucoba game RPG yang baru saja kubeli dengan antri di depan keramaian yang mampu membunuhku, sepertinya rasanya sepadan dengan bayarannya, game-nya cukup bagus.


Hari?


Semua... Berubah? Aku tidak tahu apa yang terjadi, semua terjadi seketika. Dari teriakan dan jatuhnya meteor itu. Semua bangsaku berubah menjadi monster. Kulihat ke depan teras, terdengar suara keributan di kota, asap mengepul-ngepul ke atas langit. Suara teriakan kesakitan mereka, membuatku senang. Ayah, Ibu, Adik, dan Kakakku akhirnya tidak kembali. Aku berharap mereka tidak kembali lagi, selama-lamanya. Saat aku dilahirkan, mereka tidak menatapku bahagia, karena mata merahku, mereka mengurusku layaknya hewan peliharaan. Makan makanan tidak layak, tidur di kasur tipis yang tidak bisa menghangatkanku dari cengkeraman dinginnya malam, tidak disekolahkan karena mereka Ayah berkata "Nak, kamu terlalu pintar untuk orang-orang bodoh", sambil menyeringai. Saat umurku mencapai 5 tahun, seorang tetangga apartemen memberikan Ayahku sebuah komputer rusak, dan dia hanya menyimpannya di belakang lemari. Dengan penuh kerja keras aku memperbaiki komputer itu, tapi baru saja kuperbaiki, Ayah yang tiba-tiba di belakangku membantingnya sampai, kerja kerasku selama 3 bulan hilang seketika. Penuh rasa marah, aku memaki Ayahku, tapi seperti tidak peduli, dia berangkat dengan jas hitam dan dasi hitamnya.


Aku tak menyerah, diam-diam aku memperbaiki komputer itu lagi, dan akhirnya dalam 6 minggu berhasil aku perbaiki, pengorbanan tidak tidur akhirnya terbalas. Ayah hanya terdiam melihatku duduk di depan komputer seharian. Suatu hari, listrik apartemen kami mati, terpaksa harus cari udara segar. Sambil memakaikan jaket putih berkerudung, aku menuju ke taman bermain yang penuh dengan anak-anak sepantaranku. Kulihat Kakak perempuan yang berusia 11 tahun sedang bercanda dengan temannya di kejauhan. Saat aku terdiam, sebuah bola mengenai kakiku, dari kejuhan seorang anak kecil melambaikan tangannya ke arahku. Kuambil bola itu sambil berdiri kulihat ke arah mereka, seketika beberapa anak kecil itu datang kepadaku, mengambil paksa bola dariku dan mendorongku jatuh ke tanah.


"Haha, anak cacat".


"Huhh, anak cacat".


"Mata merah".


Mereka terus menertawakanku dengan candaan monoton mereka. Aku kembali merenung di kursi, dimana hanya aku sendirian. Tiba-tiba tangan hitam abu-abu mengibarkan di depan wajahku. Kudongakkan kepalaku, seorang perempuan berkulit hitam abu-abu, berambut hitam legam, mata emas cerah, dan gaun putih bersih. Saat itu, aku tidak merasa sendirian. Dia tersenyum halus ke arahku, kupegang tangan halus hitamnya, kulihat wajahnya yang cantik tak terkira. Tak peduli apa yang mereka katakan, aku akan tetap bersamanya selamanya.


Setiap hari aku datang ke taman bermain, tepat di kursi yang kududuki waktu itu, perempuan itu menunggu, sekarang dia terlihat berbeda, dengan pita merah yang mengikat rambutnya, dia tersenyum ke arahku. Di sebelahnya terdapat sebuah kotak merah. Segera aku duduk di sebelahnya, masih dengan wajah dingin aku melihat wajahnya.


"Ini untuk kamu. Aku membuatnya sendiri" memberikan kotak merahnya.


Tapi saat tanganku ingin menggapai kotak itu, tiba-tiba tangan orang lain mengambilnya secara paksa dari tangannya. Anak laki-laki yang berusia sekitar 11 tahun sampai 12 tahun yang jumlahnya 8 orang menertawakan kami. Tak ambil diam, dia mencoba mengambil kembali kotak itu walau dia hanya dipermainkan, dia terus berdiri walau dibuat jatuh. Entah apa yang merasukiku, tanganku rasanya sangat gatal, sangat gatal sampai ingin mencungkil mata normal mereka dan menjadikannya koleksi.


"Ahahaha, ayo ambil hitam!!" melempar ke temannya.


"Ayo hitam, mana semangatmu!"


"Tolong kembalikannn, aku mohon, itu punya temanku" ucap gadis itu terengah-engah mencoba mengambil kembali kotaknya.


"Mau kembali? Ayo berusaha lebih keras hitam!!" mendorong perempuan itu sampai jatuh.


"HEI!! Berikan kotak itu!!" perintahku mengepalkan tangan.


"Ha? Kenapa si merah cacat itu? Oh kalian sepasang kekasih ya" menuju ke depanku sambil membusung-busungkan dadanya.


"Cocok juga cacat bersama seorang aneh, hatiku tersentuh, tapi maaf. Kau bilang apa tadi?" mencoba meraih jaketku.


"Apa masalah kalian?!!!" teriakku.


"?" tangan laki-laki itu ditarik kembali.


"Kalian mengganggu kami, kalian menindas kami, padahal kami orang cacat dan aneh tidak ingin membuat masalah, kami hanya ingin hidup normal seperti kalian, tapi kalian orang normal, kenapa menindas mengejek kami?!!!" tatapku ke wajah laki-laki itu penuh marah.


"Hehe menarik, kami melakukannya karena... Menyenangkan" berbisik ke telingaku.


Tiba-tiba dirinya memukul perutku, pukulannya terasa menyakitkan, seketika mulutku muntah. Tak berhenti, dia mebanting diriku ke kawanannya, aku dihajar habis-habisan. Tiba-tiba perempuan itu mengambil batu dan memukulkannya ke salah satu orang. Sambil kesakitan laki-laki itu langsung menjatuhkannya, dengan penuh marah dan nafsu dia memukul dan menginjak-injak.


Kenapa dunia ini tidak menerima kami? Kenapa mereka terus menindas kami? Kenapa tuhan memberikan kami kecacatan ini? Kenapa tidak orang lain saja yang mengalaminya? Kenapa harus aku? Kenapa harus aku?


Tak kusangka, seketika semua menjadi tenang. Aku terbangun saat hari malam, seluruh badanku penuh luka memar dan lebam, mata kiriku mengeluarkan darah. Sambil tersungkur, kulihat remang-remang dirinya yang terjatuh. Gaunnya kotor penuh tanah dan sobek dimana-mana, disekujur tubuhnya penuh luka. Kugapai tangan itu, tangan yang masih lembut dan halus. Dengan penuh sakit, kuambil kotak yang dia berikan. Saat kubuka, sebuah liontin berbentuk hati yang setengahnya berwarna hitam dan setengahnya merah darah seperti warna mataku. Saat kubuka liontin itu, sebuah foto diriku yang dingin sedang terduduk di sampingnya, terlihat wajahnya yang gembira memeluk diriku tanpa penyesalan.


"Teri... Ma kasi..sihh, nama.. Ku Alice. Inga..at itu ya"


Tiba-tiba dirinya terbangun melihat ke arahku, dengan penuh luka dia berdiri terhuyung-huyung. Dia berusaha membopongku, dengan kaki yang berwarna ungu itu dia terus berjalan. Aku hanya bisa terdiam, terdiam kenapa aku begitu lemah? Kubawa terus kotak itu ditanganku. Sampai kulihat seseorang langsung membawaku paksa, meninggalkan perempuan itu yang tergeletak di tanah sambil tak bergerak. Rintih-rintih aku memukul-mukul, memberontak untuk lepas dan kembali ke pelukannya.


"Ti.. Dak, sela.. Matkan Ali.. Ce".


Aku terbangun di kasur putih, karet panjang menusuk di tangan kiriku. Aku masih mengingat dirinya, namanya Alice. Kurasakan tanganku menyentuh rambut seseorang, kulihat Ayahku tertidur di kursi. Saat itu aku juga marah dan sadar, marah ingin membunuh orang tua ini dan sadar Ayahku masih peduli denganku. Pelan-pelan aku berdiri, melepas kabel-kabel yang menempel di diriku, dengan pusing, aku beranjak dari kasurku. Di pinggir-pinggir dinding aku berjalan terhuyung-huyung. Di pikiranku saat itu hanya ada Alice, Alice, dan Alice. Saat diriku berada di taman, sudah tidak kutemukan dirinya dan hanya ada bercak darah dan kotak yang tergeletak di tanah. Di bawah rembulan dan hembusan menusuk angin tengah malam, aku berjanji akan terus membunuh dan menyiksa manusia normal, demi Alice akan membunuh mereka yang menindasnya, menyakitinya, mengejeknya, yang melihatnya, yang meliriknya, yang berada di dekatnya, yang mencintainya, AKU BUNUH MEREKA!!! AKAN KUBUNUH!!!! AHAHAHAHAHA!!!!


Secret Prologue. End.