![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
Suara gedoran di pintu mengusik Gia yang masih asik bergelung dengan selimut tipisnya. Namun mendengar gedoran pintu yang semakin keras membuat Gia mau tidak mau bergegas membukakan pintu.
Di sana berdiri Evan tersenyum lebar dengan menenteng bingkisan. Sontak Gia kembali membanting pintu.
"Gia! Gue dobrak ya!" teriak Evan di luar sana, dengan terpaksa Gia membuka pintu kemudian berlalu menuju kamar mandi.Melihat itu Evan segera melesat masuk dan meletakkan keresek yang ia bawa untuk diletakkan di meja dapur.
Lima belas menit berlalu, kini Gia keluar dari kamar mandi dengan aroma shampo yang menguar ke penjuru ruangan.
"Ngapain?" tanya Gia tanpa basa-basi. Evan mendengus sebal.
"Gue laper," aku Evan membuat Gia menghela nafas.
"Gue bukan pelayan lo," tegas Gia kemudian mengambil buku untuk dibaca, sebenarnya hanya dalih agar tidak bersitatap dengan Evan. Baru beberapa lembar fokusnya teralihkan ketika mendengar suara dari perut Evan, membuat Gia dengan terpaksa menutup buku kemudian pergi ke dapur.
"Gue udah belanja tadi, ada ayam sama bumbu apalah gak ngerti gue," jelas Evan mengekori Gia. Tanpa membalas, Gia memulai mengolah ayam yang Evan bawa, sebenarnya terlalu banyak hanya untuk mereka berdua, mungkin akan dia bungkuskan untuk dibawa Evan nantinya.
"Gue minta maaf."
Gerakan Gia memotong bawang terhenti mendengar ucapan Evan. Melirik sebentar, lalu kembali memotong bawang. Jujur saja perasaan Gia saat ini campur aduk, kaget, bingung dan was-was jadi satu. Evan terlalu..aneh?
Merasa diabaikan, Evan menghampiri Gia dan berdiri di sampingnya. Mencoba membantu Gia dengan menghaluskan semua bumbu yang tergeletak di meja. Melihat itu sontak Gia menggeplak kepala Evan dengan keras.
"Heh! Gak usah ikut campur urusan masak gue!" teriak Gia sebal. Evan bergidik ngeri kemudian memilih tiduran di kasur Gia, sampai alam mimpi merenggut kesadarannya.
Aroma sedap menguar kuat di hidungnya, mengerjapkan mata beberapa kali menyesuaikan cahaya. Meregangkan tubuhnya sebentar kemudian duduk bersila. Di depannya Gia sudah berkacak pinggang memberikan tatapan tajam.
"Oh tuan rumah udah bagun ya," sarkas Gia membuat Evan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gia menaiki kasurnya dan ikut duduk bersila. Menyodorkan piring berisi nasi hangat dan opor ayam yang disambut Evan dengan senyum merekah.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Evan berdecak kagum merasakan masakan Gia yang terasa nikmat di mulutnya.
"Makasih. Dan gue minta maaf."
"Makan gak boleh sambil ngomong," potong Gia membalas ucapan Evan. Evan hanya mengangguk sekilas.
"Maaf kenapa?" tanya Gia setelah keduanya menghabiskan sarapan. Evan menerawang ke depan, memperhatikan segerombol bocah yang tertawa riang bermain di depan teras kost Gia.
"Gak tau. Pengen aja," ungkap Evan. Memang benar, belakangan ini dia merasakan sesuatu mengganjal di hatinya. Beberapa kali Evan coba menyangkalnya, tapi gelenyar aneh itu semakin kuat. Belakangan setelah acara makan nasi goreng sederhana mereka, Evan jadi lebih sering berinteraksi dengan Gia. Walaupun mereka satu kelas sejak kelas sepuluh, tapi Evan belum pernah merasa sedekat ini dengan Gia.
"Lo ada acara gak malam ini?" tanya Evan menyadarkan Gia dari lamunannya.
"Gue kerja shift siang hari ini. Kenapa? Mau numpang makan lagi?" ucap Gia dengan nada tidak suka yang kentara.
"Lo kerja?" tanya Evan setelah menyelesaikan acara tertawanya melihat ekspresi Gia.
"Hm. Udah lama, gak seberapa sih gajinya. Tapi cukup buat bayar sekolah, jajan gue, sama sewa kost yang ukurannya kalah jauh sama gudang lo," jawab Gia dengan menaikkan volume di akhir kalimatnya. Dan hal itu semakin membuat Evan terpingkal. Setelah mengusap air matanya karena terlalu kencang tertawa, Evan kembali berucap.
"Yaudah nanti gue jemput. Malam mingguan sama gue. Istirahatin otak lo biar gak galak kayak gini. HAHAHAHA," tawa Evan kembali pecah. Melihat itu Gia hanya mendengus sebal. Dasar sialan.
Pagi itu mereka habiskan dengan berbincang ringan. Sesekali tertawa melihat anak-anak yang bertingkah konyol.
Setelah sekian lama Evan kembali merasakan hatinya menghangat. Dia memang memiliki banyak teman, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi belum pernah Evan merasakan kebahagiaan sesederhana ini. Duduk bersila di teras kost yang reot, ditemani gelak tawa anak-anak, dan juga Gia disampingnya. Perempuan yang telah lama dijadikan target olehnya. Perempuan yang selalu bisa menyulut emosinya, justru kini sedang duduk di sampingnya dan tertawa lepas.
Evan memperhatikan wajah Gia di sampingnya yang sedang tersenyum menatap ke depan. Bulu mata lentik, hidung mungil dan bibir merah muda alami. Kenapa Evan baru menyadari pesona kecantikan Gia?
Apakah selama ini matanya tertutup kabut dendam yang tak berkesudahan? Evan segera menepis berbagai kemungkinan yang ada di pikirannya, kembali melihat ke depan.
...

...
Jangan tertipu. Perempuan ini sama liciknya dengan Shinta. Jangan sampai lo kalah Evan ! Batin Evan mencoba kembali membangun benteng pertahanannya. Yang entah sampai kapan akan bertahan.
...------------------------🌻------------------------...
...By : Kamis.Wage...