MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]

MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]
7. Evan Rimbawan Jatayu



Kini Gia sedang mengolesi luka robek di dahi Evan menggunakan alkohol. Wajah mereka sangat dekat, hembusan nafas mengenai wajah masing-masing.


"Lo jelek banget," celetuk Evan membuat gerakan tangan Gia berhenti.


"Iya cantikan lo," ucap Gia sewot dan menekan luka di dahi Evan.


"Psikopat lo ya," maki Evan tidak terima.


Gia segera membereskan perlengkapan P3K, badannya sudah sangat lengket minta dibersihkan.


Namun, melihat Evan tak sedikitpun beranjak dari sana membuat Gia menghembuskan nafasnya lelah.


"Balik sana. Itu luka di dahi lo cuman gue bersihin, besok lo ke klinik minta buat dijahit, lukanya lumayan panjang," perintah Gia.


"Gue punya dokter pribadi di mansion," balas Evan pongah. Dan Gia hanya ber-oh ria.


"Gue mau mandi. Lo kalo mau balik bisa pesen ojek pake hape gue. Gak usah terimakasih, sama-sama," kata Gia sambil berlalu menuju kamar mandi.


"Eh.. eh bentar. Gue takut ada kunti, gue ikut lo mandi ya," ucap Evan menunjukkan puppy eyes-nya.


"Mati aja sana lo mesum sialan," maki Gia kemudian berlari ke kamar mandi. Evan hanya terkekeh menanggapinya.


Bosan menunggu Gia, Evan bangkit dari duduknya dan melihat-lihat beberapa pajangan foto Gia saat masih kecil. Disana terlihat Gia sedang tersenyum lebar menggenggam balon mainan, mata hazel-nya menatap kamera dengan bahagia. Tanpa disadari, Evan ikut tersenyum melihatnya.


Tapi ekspresi Evan berubah saat matanya menangkap sosok perempuan berusia sekitar empat puluh tahunan. Rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai tertiup angin. Dia tampak tersenyum lebar, membuat matanya semakin terlihat sipit. Foto Shinta saat berlibur di pantai.


Kemudian Evan melihat di pigura yang berbeda, terlihat wanita yang sama sedang dipeluk seorang laki-laki dari belakang, wajah mereka tampak bahagia.


Benar- benar jalang murahan. Batin Evan, kemudian bangkit untuk kembali ke mansionnya. Saat hendak menutup pintu, langkah Evan dihentikan oleh suara Gia.


"Lo mau balik?" tanya Gia sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Evan hanya membalas dengan deheman. Sorot matanya tajam melihat lurus ke depan.


"Udah pesen ojeknya? Perut lo udah gak sakit emang?" tanya Gia memastikan.


"Gue punya banyak temen," balas Evan singkat. Kemudian dia melanjutkan.


"Nyokap lo?" tanya Evan mengarahkan pandangannya ke tempat dimana foto Shinta berada.


"I-iya," ucap Gia gugup, kenapa Evan tiba-tiba bertanya tentang ibunya, tanya Gia dalam hati.


Setelah itu Evan hanya tersenyum miring kemudian melangkah pergi meninggalkan kost-an Gia.


"Si Evan kenapa sih tiba- tiba jadi nyeremin gitu. Apa dia ketemu kunti beneran ya? Duh ane jadi ngeri," ucap Gia bermonolog. Kemudian dia bergegas mengunci pintu kamarnya. Setelah mengganti sprei tidurnya, Gia memejamkan mata, dan tak butuh waktu lama, Gia sudah tertidur dengan nyenyak.


Mansion Evan.



"Lo gak mempersilahkan gue masuk gitu? Minimal kasih minum, gue kan udah jadi pahlawan penyelamat lo," ucap Anto tersenyum sumringah.



Setelah keluar dari kamar kost Gia, Evan menghubungi Anto untuk menjemputnya. Awalnya Anto tidak mau, karena dia masih senang bergelut dengan mimpi ditemani selimut hangatnya. Tapi dengan sedikit paksaan Evan, Anto hanya pasrah lalu mengambil kunci dan mobil di apartemen Evan.



Jangan heran kenapa Anto bisa leluasa masuk ke dalam apartemen Evan. Evan memang sudah mempercayai Anto serarus persen, menurut Evan barang milik Evan juga milik Anto. Itu lah gunanya teman, saling membantu.



"Awas lo Epan! Bocah gak tau terimakasih. Untung lo ganteng," teriak Anto geram.



Boro-boro berterimakasih, Evan justru langsung menutup pintu dan meninggalkan Anto melongo sendirian. Sahabatnya itu memang minta di cuci otak dan akhlaknya. Kemudian Anto memutuskan pulang ke rumahnya.



"Evan? Kamu pulang?" tanya seseorang menghentikan langkah Evan yang ingin menaiki tangga.



"Iya bang. Mau minta tolong sama dokter Adriana," jawab Evan dan menghampiri David yang duduk di kursi rodanya.



"Kamu tawuran lagi?" tanya David. Evan hanya mengangguk singkat.



"Abang belom tidur?" tanya Evan sembari mendorong kursi roda dan mengantar David ke kamarnya.



"Belom, tadi lagi lembur. Terus abang denger suara temen kamu, si Anto itu. Abang seneng kamu mau pulang kesini, walaupun sebentar," Jelas David dengan tatapan sendu.



David Setya Jatayu, dia adalah kakak Evan Rimbawan Jatayu. Anak pertama dari pernikahan Rudi Jatayu dengan Shinta Rumita. Sedangkan Evan, dia adalah putra dari pernikahan Rudi yang kedua dengan Cassandra Diah.


Meskipun Evan dan David saudara beda ibu, namun hubungan keduanya terjalin baik. David sangat menyayangi Evan. Hanya Evan dan Rudi yang David miliki sekarang.




Fakta itu David tutupi atas permintaan Cassandra. Cassandra tidak mau Evan yang sudah sangat membenci Rudi juga akan membenci David. Dan Rudi, dia tidak ambil pusing tentang itu, bicara dengan Evan sangat jarang, itupun hanya berujung pertengkaran diantara keduanya.Tapi pernikahan keduanya tidak berlangsung lama, karena Shinta tidak tahan dengan sifat arogan Rudi, kemudian memilih melarikan diri dan menghilang.



Cassandra datang saat Rudi merasa terpuruk dan hancur, dia menyesal telah melukai wanitanya. Hanya David satu-satunya yang paling berharga dalam hidup Rudi. Semenjak kehilangan Shinta, Rudi menjadi pecandu minuman keras, dan Cassandra lah yang selalu merawat Rudi.



Cassandra dan Rudi menjalin pertemanan semenjak kuliah di London dulu. Dengan tulus Cassandra selalu ikut merawat David, juga Rudi yang awut-awutan. Kadang Cassandra juga menginap di mansion milik Rudi, karena kebiasaan Rudi mabuk-mabukkan membuat David terlantar.



Sampai suatu malam, sebuah insiden terjadi. Rudi pulang larut malam. Kebetulan Cassandra akan pulang sehabis menidurkan David. Tapi tanpa diduga, Rudi justru berbuat kurang ajar padanya. Dia meniduri Cassandra dengan terus menyebut nama Shinta.



Akibatnya, Cassandra hamil. Demi melindungi nama baiknya, Cassandra meminta pertanggungjawaban atas perbuatan bejat Rudi. Pernikahan sederhana pun dilakukan. Awalnya Cassandra menjalani pernikahan ini dengan berat hati. Lambat laun hatinya ikhlas menerima dan mencintai Rudi, juga David. Lalu lahirlah buah hati mereka Evan.



Kebiasaan Rudi sebagai peminum belum bisa dihentikan. Bahkan semakin hari semakin parah saja. Sepulang dari kantornya, Rudi pergi ke club di Ibu Kota. Tidak hanya minum, Rudi mulai bermain-main dengan wanita penghibur. Cassandra sebagai istrinya hanya bisa menangis setiap malam, dinasehati rasanya percumah saja. Bukannya mau mendengarkan, Rudi malah akan marah dan memukul Cassandra.



Bayang-bayang Shinta tidak bisa lepas dari ingatan Rudi. Setiap pagi dia akan memandangi foto Shinta, dan menyesali perbuatannya. Jika saja Tuhan memberikan Rudi kesempatan sekali saja untuk bertemu Shinta, dia akan meminta maaf bahkan jika perlu bersujud di kaki Shinta agar mau kembali ke pelukannya. Namun takdir berkata lain.



Rudi mendapat kabar Shinta tewas terbunuh di rumah persembunyiannya dulu. Semenjak itu, Rudi seperti kehilangan kewarasannya. Setiap hari selalu mengamuk seperti orang kesetanan. Evan dan Cassandra lah yang menjadi korban perlakuan buruknya.



...



...


...Mike lewis...


...(Rudi Jatayu)...


...



...


...Tamara Bleszynski...


...(Shinta Rumita)...


...



...


...Janissa Pradja...


...(Cassandra Diah)...


...



...


...Taec Yeon...


...(David Setya Jatayu)...


...



...


...Evan mode uwu😍😂...


...---------------------🌻----------------------...


...By: Kamis.Wage...


Bapak Rudi kalau udah bosen sendiri, sama auothor juga boleh kok :v


Pencet bintang sama komen!😾


See u!