![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
Evan mendekatkan wajahnya ke arah Gia.
Otomatis Gia menahan napas dan berjinjit mencoba menjaga jarak yang semakin dekat.
"Bernafas Gia," ucap Evan dengan senyum meremehkan.
Bugh
Gia mendorong dada Evan agar menjauh.
"Apansi sih lo! Sok sokan nge drama, lu kira kita aktor ******* hah?!" bentak Gia mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
Evan hanya mengedikkan bahu acuh.
"Denger Gia. Lo udah bikin gua mandi kotoran laknat. Sekarang gua minta lo buat mempertanggungjawabkan kelakuan lo yang sedeng," ucap Evan santai.
Hah?! Sedeng lo bilang?! Hello gue masih waras kali. Lagian apa apaan tadi coba pake acara mepetin gitu. Bikin gue eneg aja. Batin Gia mulai emosi.
"Oke, " balas Gia singkat. Mencoba meredam emosi yang bergejolak.
"Tapi pertama tama lo keluar dari sini. Gue udah ga tahan pengin muntah gara gara liat muka lo yang persis sama alien," lanjut Gia dengan wajah tersiksa yang dibuat buat.
"Cih. Bilang aja lo gak tahan berdua duan sama cowo ganteng kaya gua. Dasar cewe absurd," ujar Evan melipat tangannya di dada.
"Apaansih. Siapa juga yang ngomong lo ganteng. Dasar gausah mimpi deh. Lo tuh kalah ganteng sama mantan gue Iqbal Ramadhan, kalah manis sama Brandon Salim. Terus lo kalah jauh sama Adipati Dolken. Aduh senyumnya bikin hati meleleh. Apalagi kalo pas mukanya cool banget, tatapannya itu lho ngajakin berumah tangga. Ditambah kalo dia udah buka baju. Behh..."
Brakkk
Suara dentuman pintu berhasil menyadarkan Gia.
Gia melongo tak percaya. Kenapa dia jadi bicara sendiri?
"Cih dasar setan mesum! Lagi di ajak ngomong malah main pergi aja. Awas lo Van!" gerutu Gia gemas sendiri.
Setelah menghabiskan lima kali pergantian bulan purnama, Gia keluar kamar mandi dengan senyum sumringah seperti biasa. Gia semakin melebarkan senyumnya saat menyadari Evan sudah tidak ada lagi di sekitarnya. Gia melanjutkan perjalanannya ke kelas yang sempat terhambat sambil bersenandung ria.
Gia sudah sampai di depan kelasnya. Ketika tangannya sudah memegang handel pintu, tiba tiba bagian belakang kerah seragamnya di seret dan membuatnya hampir terjungkal.
"Gue udah bilang ke elo buat tanggung jawab. Lo tuh pura pura budeg apa budeg beneran sih?" kata Evan dengan sewot.
"Oh jadi lo yang tiba tiba narik seragam gue?!. Pantes aja tadi berasa ada bau bau ****** tikus. Pffft," ucap Gia dramatis.
Evan semakin geram dan maju selangkah mendekati Gia.
"Prinsip gue, kalo lo nyuri mata gue, maka gue bales dengan ambil mata lo," balas Evan dengan serius.
Gia mendadak gugup dan sedikit takut. Bukannya tidak sadar dengan kecerobohannya. Hanya saja Gia malas jika harus berurusan dengan Evan. Anak berandal yang hobi cari masalah.
"Lah itu kan prinsip lo. Peduli gua apa coba? Lagian lo mau ngepel tuh lantai bekas taik kalong, terus siramin ke gue? Mau lo?" kata Gia berusaha tetap tenang, padahal jantungnya sudah berdetak tak karuan.
Evan melangkah sekali lagi mendekati Gia.
"Gue lebih suka cara praktis Gia," ucap Evan menunjukkan smirk nya.
Tanpa di duga Evan menarik dengan keras lengan Gia yang mengakibatkan tubuh mereka bertubrukan. Karena terlalu mendadak Gia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Tanpa menyia nyiakan kesempatan, Evan melingkarkan tangannya. Mendekap Gia agar seragamnya yang basah juga menulari seragam Gia.
Impas. Dan lumayan anget.
Batin Evan merasa menang.
Beberapa detik hening.
"AAA!! Ada om om pedoo!! Aaa tolong!!" teriak Gia berusaha melepaskan diri dari dekapan Evan.Melihat itu,Evan tak tinggal diam.
"Gue bisa melakukan lebih kalo lo berisik Gia," ucap Evan menakuti Gia. Anehnya jantung Evan berdetak jauh lebih cepat. Apa dia gerogi? Entahlah. Tapi Evan sudah berniat untuk memberi Gia pelajaran karena telah membuat ulah padanya.
Mendengar bisikan maut dari Evan sukses membuat Gia membeku. Dia benar benar bingung harus berbuat apa.
1 menit...
2 menit...
"ASTAGHFIRULLAH BROTHER !! THAT'S HAROOOMM!!"
...-----------------------🌻-----------------------...
...By : Kamis.Wage...