![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
"Paman, apa bibi Santi sudah sadar?" tanya Gia pada pria di depannya. Handoko Budi. Dia adalah suami bibi nya yaitu Santi Rumita yang sekarang sedang di rawat gara-gara penyakit di paru-parunya kambuh lagi, dan mengharuskannya menjalankan operasi.
"Sudah Gia. Tapi dokter sedang melihat kondisinya. Kamu bisa masuk nanti setelah dokter dan perawat keluar dari kamar Santi," balas Handoko dengan senyum hangat. Wajahnya terlihat letih dan termakan usia membuat hati Gia terasa perih. Kasian paman dan bibi nya sudah tua tapi masih menanggung beban berat.
Sekarang Gia berada di salah satu Rumah Sakit di kota Surabaya. Sudah dua hari bibinya koma, dan hari ini baru dinyatakan siuman. Gia sangat bersyukur karena semua biaya pengobatan di tanggung oleh sebuah yayasan di kota Surabaya.
Tak berselang lama seorang dokter keluar diikuti oleh dua orang perawat di belakangnya.
"Kondisi Saudara Santi sudah cukup membaik. Dia hanya butuh beberapa hari untuk istirahat total. Setelahnya boleh kembali ke rumah," jelas dokter itu membuat Gia dan Handoko lega.
Setelah berbincang sebentar dengan Handoko, dokter dan kedua perawatnya pamit pergi untuk melanjutkan memeriksa pasien yang lain. Kemudian Gia bersama Handoko masuk ke kamar rawat Santi.Di sana terlihat Santi dengan wajah pucatnya sedang tersenyum hangat, merentangkan kedua tangannya untuk memeluk keponakannya yang tersayang.
"Kemari Gia. Bibi sangat rindu padamu," tutur Santi semakin melebarkan senyumnya. Gia dengan senang hati berhambur ke dalam pelukan Santi bibinya.
"Bibi, kenapa bibi bisa kambuh lagi. Apalagi sampai koma. Gia sudah bilang, bibi jangan terlalu capek. Kan jadi begini jadinya . HUAAAA" tangis Gia pecah tidak tega melihat bibinya yang sakit sakitan.
"Husstt.. Tenang Gia. Bibi sudah sehat kok. Lagian kenapa ponakan bibi yang manis ini jadi cengeng hm?" ledek Santi mencubit ujung hidung Gia dengan gemas. Handoko yang melihat interaksi keduanya hanya geleng geleng kepala.Setelah keduanya bercengkrama melepas rindu. Handoko mengeluarkan suara.
"Kamu kapan balik lagi ke rumah Gia?" tanya nya dengan tatapan mata sendu.
"Iya Gia. Kapan kamu mau balik lagi ke rumah? Bibi masih mampu buat rawat kamu. Jadi kamu gak usah sewa kamar kost dan kerja paruh waktu. Kamu masih muda, jangan terlalu bekerja keras. Coba sekali kali refreshing atau liburan sama temen temen kamu," nasihat Santi berharap Gia mau kembali ke rumah mereka.
Yaa, Gia memang tidak se rumah dengan paman juga bibi nya. Semenjak ibu angkatnya Shinta Rumita wafat, Gia memutuskan untuk meyewa kamar kost. Dia tidak ingin membebani paman dan bibinya. Mereka sudah terlalu baik selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang. Shanti, Sinta dan Handoko adalah mentari baginya.
Gia adalah seorang yatim piatu. Sejak bayi dia hidup di sebuah panti asuhan. Kemudian sebuah keluarga kaya raya mengangkatnya menjadi putri mereka. Awalnya hidup Gia terasa sempurna.
Tapi semuanya hilang, saat ayah angkatnya saat itu mencoba memperkosanya. Padahal Gia masih sangat kecil. Dengan ketakutan Gia mengadu kepada ibu tirinya, bukannya menyelamatkannya, Gia malah diusir dari rumah. Dianggap tidak tahu terimakasih. Dengan berat hati Gia kembali ke panti asuhan.
Dan tak berselang lama, datanglah seorang malaikat cantik bernama Shinta Rumita. Dia lah yang mengangkat Gia dan mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Gia hidup bahagia bersama Shinta, Santi saudari kembar ibunya, dan Handoko suami bibinya itu.
Mereka menganggap Gia adalah keluarga kandung mereka sendiri.Hidupnya benar benar terasa sempurna sampai sebuah peristiwa terjadi. Shinta, ibu angkatnya tewas karena terbunuh di rumahnya sendiri. Saat itu Gia masih kelas 7 SMP.
Semenjak kejadian itu, Gia memutuskan untuk menyewa kamar kost di pusat kota Surabaya, dekat sekolahnya sekarang. Gia akan teringat Shinta dan kembali bersedih jika berada di rumah bibinya dulu. Awalnya Santi tidak mengizinkan Gia untuk tinggal sendirian. Tapi melihat Gia yang begitu kekeh dengan pendiriannya, dengan berat hati Handoko dan Santi memnerinya izin.
"Pintu rumah akan selalu terbuka menyambut kehadiranmu Gia." Ucap Santi mengelus lembut rambut hitam Gia. Sama seperti yang di ucapkannya saat Gia meninggalkan rumah.
"Iya bibi. Gia paham kok. Gia cuman mau belajar mandiri aja. Lagipula kost Gia kan deket sekolah, deket kampus juga, jadinya lebih gampang deh hehe," kata Gia kembali meyakinkan bibinya.
"Lagipula Gia punya temen temen yang baik. Mereka semua sayang sama Gia. Kami sudah seperti saudara. Jadi, bibi sama paman gak usah khawatir Gia bakal kesepian. Gia juga pinter jaga diri. Jadi jangan terlalu dipikirkan hmm? Nanti kalau sakit lagi Gia jadi sedih," sambung Gia panjang lebar.
Handoko dan Sinta memahami keinginan Gia. Selama Gia merasa bahagia dan tidak tertekan, mereka juga akan ikut bahagia.
Bagi Gia, paman dan bibinya adalah orang terpenting di hidupnya setelah Shinta, ibu angkatnya. Gia tidak bisa membayangkan akan jadi apa dirinya sekarang tanpa sosok penyayang sekaligus kuat seperti mereka. Kebahagiaan mereka adalah prioritas bagi Gia.
Kemudian mereka menghabiskan waktu sambil berbincang dan bercanda bersama. Sampai waktu menunjukkan pukul setengah 4 sore.
"Bibi, paman. Gia balik ke kost yaa. Soalnya hari ini Gia masuk shift sore. Bibi cepat sehat yaa. Makan yang teratur, jangan lupa obatnya. Paman juga jangan lupa istirahat. Awas saja kalau kalian mengabaikan kesehatan. Gia bakal marah," kata Gia dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Ihh paman nyebelin deh. Muka Gia tuh udah mirip kaya gembel, jadi makin buluk kan," protes Gia mencebikkan bibirnya.
Paman dan bibinya malah tertawa lebar. Keponakan satu satunya ini memang menggemaskan.
Setelah melakukan ritual cipika cipiki. Gia kemudian keluar dari kamar inap Santi. Saat hendak berbelok di sebuah lorong, dia melihat punggung pemuda yang tidak asing baginya. Tapi Gia tidak ambil pusing dan bergegas kembali ke kost-annya. Jam kerja nya sebentar lagi di mulai.
Gia bekerja paruh waktu di sebuah hotel berbintang lima. Gia sangat bersyukur karena di perbolehkan bekerja hanya dengan bermodal ijazah SMP. Tugas Gia cukup mudah. Dia hanya mengantarkan tamu yang akan menginap ke kamarnya, mengantarkan makanan serta keperluan lainnya.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, dan kini Gia sudah berada di tempat kerjanya. Sebuah hotel bintang lima di kota Surabaya. Fasilitas hotel ini sangat lengkap. Bahkan Gia masih dibuat kagum setiap harinya, walaupun Gia sudah bekerja di sini cukup lama. Arsitektur dengan nuansa tradisional yang sangat kental. Setiap ruangan dihiasi dengan ukiran ukiran indah. Ornamen-nya pun terlihat begitu menakjubkan. Tamu di hotel megah ini tidak hanya orang orang lokal, banyak juga pengunjung dari luar kota. Pejabat pejabat penting, para pengusaha kaya, dan para turis yang sedang berlibur di Surabaya selalu terlihat berlalu lalang di hotel bintang lima ini.
Dari mereke, kadang Gia diberi tips yang lumayan untuk jajan sekolahnya. Tapi terkadang juga ada om om hidung belang yang mencoba menggodanya dengan iming iming harta yang berlimpah.
Gia kini akan menuju sebuah kamar tamu dengan membawa kopi dan cemilan yang di pesan kepadanya. Namun tiba tiba seseorang menabrak bahunya membuat kopi yang ada di nampan hampir tumpah.
"Eh sorry. Gue gak sengaja." Kata seorang pemuda merasa bersalah.
"Gak papa kok. Ini juga salah saya karena kurang hati hati. Maaf saya sedang terburu buru. Permisi," kata Gia menatap sekilas pemuda itu dan kembali melanjutkan perjalananya.
Disana pemuda itu tampak menegang.
Tatapan dan mata itu. Sangat mirip.
Batin Farhan, pemuda yang tadi tidak sengaja menyenggol bahu Gia.
...

...
...Farhan...
...------------------------🌻-------------------------...
...By : Kamis.Wage...