![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
Teriakan Anto berhasil membuat Evan melepaskan dekapannya. Gia benar benar merasa gugup sekarang. Kepergok dalam posisi berpelukan pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya berpikir kalau mereka menjalin hubungan khusus. Apalagi yang memergokinya adalah sahabat seperjuangan Evan. Si alim Anto.
Yah Anto dan Evan terkenal sebagai sahabat karib sejati sampai mati. Meskipun keduanya memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Anto yang alim dan Evan seorang player. Tetapi persahabatan diantara keduanya tidak bisa diragukan lagi.
Mereka saling mengenal semenjak Evan pindah ke Surabaya dan menjadi tetangga Anto. Dari sana mereka berkenalan. Awalnya Anto merasa takut kalau Evan tidak mau berteman dengannya. Mengingat Evan golongan orang punya dan Anto bisa dibilang biasa saja. Tapi ternyata dugaan Anto salah. Evan adalah tipe orang yang family friendly. Bahkan saking care-nya Evan sering di cap playboy.
Sepertinya sifat Evan yang suka main main dengan wanita sudah terlanjur mendarah daging. Sampai sampai ceramah dari Anto maupaun orang orang di sekitarnya sudah tidak mempan lagi.
"I-ini gak seperti yang lo liat," ucap Gia gugup sembari menunduk menahan malu setengah mati. Mungkin sekarang pipinya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Iya tau gue. Ini pasti akal akalannya si Epan. Dasar buaya suka mencuri curi kesempatan," ucap Anto menarik lengan Evan dan menjauhkannya dari Gia.
Evan hanya diam dan memperhatikan keduanya. Mungkin lain kali saja dia akan memberikan Gia hukuman. Dan dia sudah merencanakan sesuatu untuk membalas Gia. Bukan hanya karena kejadian tadi, tapi beberapa hal yang membuat Evan semakin berambisi.
"Yaudah mending lo ganti baju sana Gi. Seragam lo jadi ikut kebasahan. Nanti malah masuk angin." Ucap Anto sambil berlalu menyeret Evan menuju kamar mandi.
Gia memutuskan untuk mengambil kaos olahraga di lokernya dan mengganti pakaian. Ingatkan Gia untuk memasukkan Evan ke dalam golongan orang yang harus dihindari.
Setelah berganti pakaian, Gia masuk ke dalam kelas.
"Kamu udah hampir setengah jam nggak ikut pelajaran Ibu. Dari mana saja?" kata Bu Tari guru mata pelajarannya saat ini.
Gia pun membeberkan alasannya masuk kelas terlambat. Tentu saja dia tidak menceritakan bagian Evan memeluknya tadi. Terlalu memalukan.
"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi. Kamu itu sudah kelas 12. Sebentar lagi Ujian Nasional. Jangan sampai ketinggalan pelajaran," nasihat Bu Tari.
"Iya bu," Kata Gia sambil melangkahkan kakinya menuju bangkunya.
Di seberang mejanya ada Aldis yang hanya cengengesan tanpa bersalah.
"Lo gak papa kan?" tanya Mutia yang duduk di samping Gia. Gia hanya membalasnya dengan anggukan dan tersenyum simpul. Dia benar benar lelah. Apalagi Gia melewatkan jam makan siangnya. Semakin memperburuk mood nya hari ini.
Tak berselang lama pintu terbuka dan masuklah Anto bersama Evan. Evan sudah rapih mengenakan seragam pramuka. Dia berdalih kepada Bu Tari perutnya sakit sehingga membuatnya terlalu lama tinggal di WC. Dan Bu Tari hanya mengangguk kemudian kembali menjelaskan materi.
Evan dan Anto duduk dengan tenang di bangkunya. Tepat di depan meja Gia dan Mutia. Mereka sudah 3 tahun menjadi teman sekelas. Sebenarnya Gia sudah berkali kali mencoba pindah tempat duduk, karena risih dengan sikap Evan yang menurutnya sudah seperti orang hilang akal. Tapi Evan selalu saja punya cara agar Gia tidak lepas dari jangkauannya.
Semua teman kelasnya sudah tidak ada yang berani mencoba menyelamatkan Gia. Karena itu hanya membuang waktu dan tenaga. Seolah pemandangan seperti itu sudah biasa saja.
Tidak cukup sampai disitu. Ditambah Aldis yang sangat hobi menjahili Gia dan Mutia. Jika diganggu, Gia akan melawan. Tapi berbeda dengan Mutia yang hanya pasrah. Bukan tanpa sebab, Mutia memang menyukai Aldis semenjak SMP dulu. Dan mereka kini satu SMK,satu kelas pula.
"Gue gak bakal lepasin lo sampai kapanpun," ucap Evan membuat Gia mau tidak mau mengalihkan perhatiannya untuk menatap setan mesum di depannya.
"Terserah. Gue gak peduli. Suka suka lo mau ngapain," balas Gia dengan malas.
"Bagus. Gue suka cewe penurut," jawab Evan menunjukkan smirk miliknya.
"Gue juga suka. Apalagi yang modelannya kayak Mutia. Imut imut kek orok monyet. Hahaha," kata Aldis ikut menyambar.
Mereka hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan Aldis yang ngawur. Berbeda dengan Mutia yang kini pipinya sudah merah merona.
"Disamain sama monyet kok malah merona," bisik Gia tak percaya melihat respon mutia.
"Manis tau," bela Mutia dengan tersenyum malu malu. Gia hanya mengedikkan bahunya acuh. Memang kalau orang sudah suka. Tai kucing pun manis rasa gula.
Suara bel menandakan pelajaran selesai. Semua siswa berhamburan keluar tak sabar ingin segera pulang ke rumah. Tak terkecuali kelas XII RPL.
Baru saja Gia akan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelasnya. Seseorang sudah berdiri tegap menghadang jalan di depannya.
"Urusan kita belom kelar," ucap Evan memerkan deretan gigi putihnya.
Gia menghela nafasnya lelah. Dia benar benar lapar. Dan cacing di perutnya sudah mengadakan konser sejak tadi.
"Gue minta maaf. Karena kecerobohan gue seragam lo basah kuyub. Gue capek banget. Sekarang minggir gue mau lewat.," ucap Gia mencoba melewati tubuh Evan yang menghalanginya.
"Gue belom ngasih lo pelajaran Gia," ucap Evan mecekal bahu Gia. Sorot matanya benar benar dingin. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Gia selalu berhasil menyulut emosinya.
"Terus lo mau gue ngapain? Bertanggung jawab dengan nyuciin baju lo?! Yaudah sini mana biar gue bawa balik. Ribet amat," ucap Gia yang mulai frustasi. Dia benar benar tidak habis pikir. Kenapa Evan repot repot membuang waktunya hanya untuk membalaskan kesalahan kecil. Padahal kan hal sepele. Cih.
Evan mendorong Gia hingga membentur pintu kelas dengan sedikit kasar. Memajukan wajahnya dan berbisik tepat di samping telinga Gia yang sukses membuat Gia melebarkan matanya.
"Gue mau lo jadi mainan gue."
----------------------
"Gue mau lo jadi mainan gue."
Kata kata Evan terus saja berputar di otaknya. Memikirkannya saja sudah membuat dia pusing. Benar benar hari yang sial. Pikir Gia.
Ucapan Evan mengingatkan Gia tentang kejadian 2 tahun lalu. Memori yang ingin dia kubur dalam dalam.
Flasback on
"Salah gue apa sih Van?! Lo gak ada bosen bosennya bikin darah gue naik tiap hari," ucap Gia sewot
Evan dan Gia sedang berada di gudang sekolah. Tentu saja dengan Evan yang menyeretnya kemari.
"Lo mau tau salah lo apa?" kata Evan berjalan santai menghampiri Gia. Kemudian dia menghembuskan nafasnya ke wajah Gia. Membuat Gia terbatuk karena menghirup asap rokok yang Evan semburkan.
"KARNA LO ANAK JALANG SIALAN!" bentak Evan sudah tidak bisa membendung emosinya.
Mendengar bentakan Evan sontak membuat keringat semakin mengucur deras di dahi Gia. Tapi dia masih tidak paham dengan perkataan Evan barusan yang mengatai ibunya seorang jalang.
"M-maksud lo apa?" tanya Gia memberanikan menatap mata hitam legam milik Evan.
"Masih kurang jelas?! Lo anak jalang sialan!" teriak Evan mencengkram pipi Gia dengan keras.
"Jalang itu yang udah bikin keluarga gua hancur! Dan sekarang gua mau buat perhitungan ke elo. Sebagai keturunan dari jalang sialan itu."
Plak
Satu tamparan keras mendarat di pipi Evan.
"Gue gak tau apa masalah lo sama ibu gue. Tapi lo gak berhak nyebut ibu gue dengan sebutan jalang!" ucap Gia dengan nafas yang memburu.
"Berani lo tampar gue hah?! Tangan kotor murahan lo itu gak pantes bahkan buat nyentuh sepatu gue!" balas Evan dengan sorot tajam.
Emosi Evan benar benar sudah sampai ubun ubun. Dengan sekali hentak Evan menjambak rambut Gia dan membuatnya jatuh terlentang ke lantai.
Tak berhenti sampai disana, Evan mendudukkan dirinya di perut Gia. Lututnya menekan keras kedua tangan Gia yang mencoba memberontak.
Evan benar benar menulikan pendenganrannya. Dia tidak peduli dengan rintihan Gia menahan sakit di perut maupun lengannya.
"Ssshh.. le-pasin gue. Gu-gue minta maaf," mohon Gia dengan mencoba membujuk Evan.
"DIAM LO JALANG SIALAN!" teriak Evan mencekik leher Gia.
Kemudian dengan sekali tarikan kancing seragam Gia terlepas memperlihatkan tanktop hitamnya.
"Evan l-lo gila," lirih Gia mulai kehabisan nafas.
"AHAHAHAHA. Gue emang gila Gia. Dan lo mau liat seberapa gila nya gue hm?" bisik Evan menundukkan wajahnya.
Evan melepaskan tangannya dari leher Gia. Membuat Gia terbatuk dan meraup sebanyak mungkin oksigen untuk masuk ke paru parunya. Baru saja bernafas lega tiba tiba Evan mendekatkan bibirnya untuk mencium Gia. Sontak Gia memalingkan wajahnya dan membuat bibir Evan mendarat di rahangnya.
Merasa ditolak, Evan melayangkan satu tamparan keras di pipi Gia membuat ujung bibirnya sobek dan mengeluarkan sedikit darah.Evan hampir melancarkan serangannya lagi,tapi suara gaduh di luar menghentikan aksinya dan berhasil menyelamatkan Gia.
"Lo selamat kali ini Gia. Tapi gue pastikan lo gak akan lepas dari jangkauan gue lagi. Karena lo jalang kecil mainan gue," ucap Evan berdiri sambil kembali merapihkan seragamnya
Gia tidak menggubris. Dia masih berperang dengan pikirannya sendiri. Apa maksud perkataan Evan?.
Setelahnya suara pintu terbuka dan ditutup dengan keras. Siapa lagi kalau bukan Evan.
Kini Gia meringkuk dan menangis sesenggukan. Apa salahnya sehingga Evan tega berbuat sangat kasar padanya
Sekujur tubuh Gia terasa ngilu dan suhu badannya meningkat. Setetes darah menetes dari hidung mungilnya. Mimisan lagi.
"Ibu... Gia kangen."
Flasback off
...------------------------🌻----------------------...
...By : Kamis.Wage...