![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
Suara bising knalpot dari motor yang berjejer semakin meramaikan malam, di salah satu jalan raya di Kota Surabaya.
Banyak pemuda dan pemudi berjejer di setiap sisi jalan menjadi penonton aksi balap liar. Mereka meneriakkan nama para pembalap andalan masing- masing.
Satu !!!
Dua !!!
Tiga !!!
Mendengar aba- aba dari para penonton sontak membuat para pembalap liar itu menarik gas motornya dengan kencang.
Malam ini dua geng terkenal di Surabaya mengadakan balap liar. Masing- masing geng bertaruh dua juta rupiah.
Beberapa menit kemudian penonton kembali bersorak melihat para peserta balapan menuju garis finish.
"Brengsek ! Sialan!" teriak Evan kesal. Evan benar benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dia kecolongan. Padahal beberapa meter lagi menuju garis finish, tapi musuhnya terlebih dulu menyalipnya.
"Santai boss. Lo baru kali ini kalah, uang dua juta bukan hal yang besarkan?" kata salah satu teman satu gengster mencoba menenangkannya.
"Bacot lo anjing!" bentak Evan membuat temannya tadi merapatkan bibirnya. Bagi Evan ini bukan soal nominal taruhan, tapi tentang harga dirinya sebagai ketua geng. Dan lebih parahnya yang mengalahkannya adalah musuh bebuyutan geng-nya.
"Evan.. Evan. Gue bilang juga apa, lo itu bukan tandingan gue," ucap Aron pemenang balapan tadi menyombongkan diri.
"Sekarang mana uang taruhan kita? Gue udah gak sabar mau party bareng temen temen gue. HAHAHA," sambung Aron semakin membuat emosi Evan meledak.
Aron menghentikan tawanya ketika segepok uang dilemparkan tepat di wajahnya.
"Makan tuh duit. Cuih," ucap Evan dan meludahi sepatu Aron. Merasa dihina, Aron segera melayangkan tinjunya ke wajah Evan.
"Lo kalo kalah gak usah sewot bangsat!" teriak Aron menendang perut Evan.
Melihat kejadian itu, dua geng yang awalnya tenang kini saling adu pukulan, membela anggota mereka masing masing.
"Banci lo! Menang sekali gak usah berlagak sok!" umpat Evan dan mendaratkan bogeman keras ke wajah Aron. Tak puas sampai disana, Evan menendang perut Aron dan berhasil membuatnya tersungkur. Tak menyia- nyiakan kesempatan, Evan meninju wajah Aron dengan membati buta. Sampai seseorang menghentikan aksinya.
"Buta lo hah?! Lo gak liat Aron udah pingsan?! Pengecut banget lo jadi cowo!" teriak Farhan turun tangan.
Sebenarnya sedari tadi Farhan sudah gatal ingin meninju wajah Evan, musuh bebuyutannya sejak SMP. Tapi ia urungkan karena Aron terlebih dulu memberi Evan pelajaran. Namun Farhan tidak menyangka jika Evan nekat memukuli Aron yang bahkan sudah tidak sadarkan diri.
"Temen sialan lo aja itu yang lemah bego!" teriak Evan dengan wajah merah padam.
Farhan sudah bersiap- siap memberikan satu tendangan, tapi sebuah suara sirene berhasil menghentikan aksinya.
Sial !
Seseorang pasti telah melaporkan kejadian balap liar berujung perkelahian itu.
Melihat aparat polisi yang semakin mendekat, membuat semua muda mudi berhambur melarikan diri. Tak terkecuali Farhan dan Evan yang tadi sedang adu mulut.
Evan sudah bersiap menarik gas-nya. Tapi sial motornya tidak bisa dinyalakan. Ini pasti ulah anak buah si Farhan brengsek itu. Batin Evan melempar helm nya ke segala arah.
Tanpa pikir panjang, Evan berlari secepat mungkin menghindari kejaran para polisi. Sayangnya karena serangan yang didapatkannya dari Aron membuat tenaga Evan terkuras habis. Perutnya juga terasa sangat sakit. Sepertinya kram.
Di depan sana Evan melihat sebuah gang di samping hotel, segera Evan berbelok dan mendudukkan dirinya di samping tiang listrik. Nafasnya putus- putus. Dadanya terasa panas, belum lagi kaki dan perutnya terasa sakit begitu menyiksa.
Evan mencoba sekuat tenaga bangkit, tapi tenaganya sudah habis sekarang. Dirasakannya cairan membasahi dahinya. Ternyata kepalanya bocor dan mengeluarkan darah.
Sial ! Umpat Evan dalam hati.
"Dah Gia. Hati-hati di jalan ya. Awas ada om om mesum lho hihihi," ledek Jalu, senior di tempat Gia bekerja.
Gia membalasnya dengan senyuman dan melambaikan tangannya juga. Saat berbelok di gang samping hotel, Gia menangkap sosok yang tengah duduk bersandar pada tiang listrik. Kondisinya sangat mengenaskan, kaos dan celana yang dikenakan pemuda itu sobek dan ada darah dimana mana. Gia pikir dia adalah salah satu tamu di hotel yang kerampokan.
"Tuan. Tuan sadar," ucap Gia menggoyangkan bahu pemuda itu. Kemudian pemuda itu mendongak menatapnya, mata hitam legam milik pemuda itu bertemu dengan mata hazel Gia.
Keduanya sama-sama menampilkan ekspresi terkejut.
"Evan lo kenapa? Tubuh lo penuh luka gini. Terus ini dahi lo robek. Lo abis kerampokan?" tanya Gia dengan raut wajah khawatir.
"Cerewet lo," balas Evan dengan santai.
"Ihh gue serius bodo. Malah ketawa," ucap Gia tanpa sadar memukul bahu Evan pelan.
"Akh ! Aw sakit," rintih Evan dengan ekspresi yang di buat-buat.
Sontak Gia melebarkan matanya. Bodohnya dia tidak bisa menahan tangannya di saat seperti ini.
"Sorry gue gak sengaja ya ampun. Salah lo sendiri. Gue tanyain malah cengar cengir gajelas. Mending sekarang kita obatin luka lo, kost-an gue gak jauh lagi kok, masih kuat kan buat jalan?" tanya Gia menawarkan bantuan.
Evan hanya membalasnya dengan anggukan. Kemudian dia berdiri, tapi belum juga melangkahkan kaki, tubuh Evan hampir ambruk lagi. Perutnya benar-benar sakit.
Melihat hal itu, akhirnya Gia menarik tangan Evan untuk kemudian dia kalungkan di bahunya. Gia memapah Evan untuk menuju ke kost-an.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah berada di depan kamar Gia.
"Ini tempat tinggal lo? Sekecil ini?" Tanya Evan tak percaya. Bagaimana bisa ada orang yang betah tingal di kamar sewaan sangat sempit, yang bahkan besarnya kalah jauh dengan gudang di mansion miliknya. Pikir Evan.
"Kenapa? Lo mau gua obatin gak? Kalo gak mau yaudah sana balik," balas Gia sembari mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamarnya.
Tanpa membalas perkataan Gia, Evan segera masuk dan merebahkan dirinya di kasur milik Gia.
"Eh eh. Yang bilang lo boleh tiduran di kasur gue siapa? Baju lo kotor semua, ada darah juga, ntar sprei gue bau dan kotor," kata Gia mencoba menyingkirkan tubuh Evan dari sana.
"Nanti gue ganti pake sprei yang baru, kalo perlu sama kasurnya. Atau gue bongkar aja kamar lo sekalian ya," ucap Evan tampak berpikir.
"Terserah," balas Gia dengan sewot kemudian mengambil kotak P3K di laci meja nya.
"Bangun dong. Gue gak bisa bersihin dan obatin luka lo kalo lo masih rebahan terus," teriak Gia berkacak pinggang. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Evan. Tamu tidak tau malu.
"Perut gue sakit banget Gia, kayaknya kram deh. Coba lo angetin air buat kompres perut gue. Atau kalau lo gak mau repot, tubuh lo lumayan anget buat sembuhin perut gue," kata Evan dengan senyum lebarnya.
"Dasar setan mesum gak tau malu!" bentak Gia berlalu menuju dapur. Wajahnya mungkin sudah merah mendengar penuturan Evan yang menurutnya sangat vulgar. Dan di kasur, Evan malah terbahak-bahak melihat ekspresi Gia.
...----------------------🌻-------------------------...
...By: Kamis.Wage...
...Pencet bintangya woi!! Saya maksa😾...