![MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-stupid-boyfriend--on-going-.webp)
Gia mengamati pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Rambut di cepol ke atas. Kaos hitam dipadukan dengan jaket jeans, dan celana bahan berwarna putih senada dengan sepatunya. Tidak terlalu buruk pikirnya.
Tapi sekali lagi dia ragu, karena ini pengalaman pertama dia akan pergi bersama lawan jenis. Meskipun mungkin hanya akan makan atau nongkrong di pinggir jalan, tapi Gia merasa gerogi sekarang.
Sedikit merapalkan do'a, Gia menarik nafas sekali kemudian menghembuskannya dengan pelan. Tiba-tiba panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Ternyata Evan, menyuruhnya agar keluar dan menyusul Evan, karena Evan membawa mobil kali ini.
"Ganteng doang jemput cewek depan gang," sindir Gia sembari menutup mobil Evan. Tanpa menghiraukan ocehan Gia, Evan segera melajukan mobilnya.
"Mau kemana?" ucap Gia memecah keheningan. Sudah lima menit mereka berkendara tapi tidak terlihat tanda-tanda Evan akan menghentikan mobilnya.
"Pasar malem," jawab Evan tersenyum sekilas.
Gia mengerutkan dahinya tidak mengerti. Kenapa mengajaknya kesana? Tapi sedetik kemudian Gia mengedikkan bahunya acuh. Terserah Evan mau mengajaknya kemana, itung-itung liburan gratis.
Malam ini jalanan terlihat lebih ramai dari biasanya. Malam minggu, biasa dimanfaatkan pasangan muda mudi untuk berkencan atau sekedar nongkrong bareng menghabiskan malam bersama.
Setelah cukup lama berkendara, kini keduanya telah sampai di parkiran pasar malam. Suasana terlihat ramai. Lampu berkelap kelip semakin memeriahkan malam minggu ini.
Pedagang jagung rebus, cilok dan arum manis terlihat berlalu lalang.
Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian pandangan Gia terjatuh ke salah satu stand yang memamerkan berbagai lukisan.
"Evan ayo liat kesana!" ajak Gia antusias. Tanpa sadar tangannya meraih tangan Evan dan menariknya agar mengikutinya.
Evan sedikit terkejut namun tubuhnya tetap mengikuti Gia. Kini mereka berdiri di salah satu stand. Di sana lukisan terjejer rapih. Mulai dari yang sederhana, sampai yang rumit bentuknya.Masih dengan menggandeng tangan Evan, Gia menyusuri setiap pajangan disana. Matanya berbinar takjub setiap melihat lukisan di sana, dan hal itu tak luput dari pandangan Evan.
"Rama dan Shinta," komentar Evan membuka suara. Mendengar itu reflek Gia menolehkan wajahnya ke samping menatap Evan.
"Kok lo tau?" tanya Gia antusias menunjuk lukisan wayang itu dengan tangannya, sedetik kemudian matanya melebar menyadari tangannya menggenggam tangan Evan sejak tadi.
"Eh sorry gak sengaja," ucap Gia merasa sedikit canggung.
"Gatel tangan gua," ketus Evan. Padahal ada sedikit rasa kecewa saat Gia melepaskan tautan tangan keduanya.
"Gue tahu cerita tentang Ramayana. Walaupun gue bukan asli jawa, tapi waktu enam tahun cukup buat gue adaptasi dengan lingkungan dan mengenal budaya di sini," sambung Evan membuat keduanya kembali menatap lukisan.
"Iya juga ya. Lo tau? Gue suka sama hal-hal yang berbau budaya jawa. Entah itu tarian, makanan, pakaian, adat istiadat, sampai kisah wayang yang berdar di masyarakat. Apalagi kisah Rama dan Shinta. Bagaimana cinta yang besar diantara keduanya yang sangat kuat, lalu kisah mereka yang berhasil melewati ujian diculiknya Shinta oleh Rahwana," jelas Gia panjang lebar. Evan yang mendengarnya tertawa sebentar, membuat Gia bingung tidak paham. Dengan sisa tawanya, Evan berkata menanggapi.
"Gia..Gia. Gue pernah denger dari seorang budayawan atau apalah mereka menyebutnya, gue lupa namanya siapa. Menurut pandangannya, seharusnya Rahwana lah yang menjadi pendamping Dewi Shinta, lo tau kenapa?" tanya Evan menjeda ucapannya. Gia hanya diam memperhatikan ucapan Evan. Kemudian melanjutkan.
"Karena dibandingkan dengan Sri Rama, cinta Rahwana jauh lebih besar. Bagaimana Rahwana menjaga kesucian Dewi Shinta saat menjadi tawanannya, bagaimana Rahawana memperlakukan Shinta seperti seorang ratu, bagaimana selama ini dirinya bersabar menahan hasrat cintanya yang bergejolak. Sedangkan Rama? Lo tau apa yang dilakukannya? Dia menuduh Dewi Shinta bukan lagi seorang wanita suci. Lalu apa gunanya Rama menyelamatkankan Shinta, memberinya hidup, tapi membelitkan tali tak kasat mata yang membuat Dewi Shinta sesak? Dituduh dengan alasan tak berdasar. Hanya karena Rahwana seorang buto, bukan berarti dia tidak bisa menghormati perempuan kan?"
"Dan pada akhirnya Dewi Shinta melakukan ritual berjalan di bara api sebagai sebuah pembuktian bahwa tuduhan Sri Rama, orang yang sangat dicintainya itu salah. Api tidak membuat tubuh Shinta terbakar, bahkan ujung rambut dan selendangnya pun utuh tak tersentuh, menjadi sebuah pembuktian jika tuduhan Rama salah besar. Lalu apa yang di dapat Rahwana atas cintanya yang suci dan begitu besar? Tidak ada, hanya rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Rahwana diciptakan untuk mencintai Shinta. Tapi Rama ada sebagai takdir. Jadi menurut lo pelajaran apa yang harus kita ambil?" tnya Evan mengalihkan pandangannya untuk menatap Gia yang masih melongo tak percaya.
"Eee.. anu.. Jangan liat orang sebelah mata, jangan nilai orang dari cover-nya. Mungkin?" jawab Gia ragu-ragu. Dia masih takjub dengan pemikiran Evan.
"Yaa lo benar. Tapi ada satu pelajaran yang paling berarti menurut gue Gia," kata Evan kembali menatap lukisan kisah Ramayana dengan tajam.
"Jangan jadi orang bodoh hanya karena cinta," ucapnya dingin kemudian berlalu meninggalkan Gia yang masih mencerna pernyataan Evan.
...--------------------------🌻--------------------------...