MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]

MY STUPID BOYFRIEND [ON GOING]
8. Dinner?



"Pagi manis," sapa Evan tersenyum memamerkan giginya yang rapih. Namun yang disapa hanya melirik sekilas.


"Yah dikacangin nih ceritanya? Ntar gue jerawatan gimana dong," gerutu Evan menekuk wajahnya.


Gia sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Evan sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.


"Sepagi ini lo udah mabok Van?" tanya Gia mengangkat kedua alisnya menatap Evan tak percaya. Kelakuannya yang gila semakin terlihat gila.


"Hah? Enggak kok. Kenapa emang? Gue keliatan hot yaa?" ledek Evan menaik turunkan alisnya.


"Lo sarkas apa goblok beneran boy?" ucap Gia kemudian berlalu begitu saja.


Anjing tu anak. Semangat Evan semangat! Ingat misi utama lo! batin Evan mencoba menyemangati diri sendiri.


"Gia tunggu!" teriak Evan menyusul Gia masuk ke kelas.


Gia mendudukkan diri kemudian bersiap menyelesaikan Pekerjaan Rumah yang masih menumpuk.


"Gia, kalo lo cuekin gue lagi gue gak segan-segan buat cium lo sekarang juga," tegas Evan dengan mantap.


"Lo kenapa sih Van? Gue tau, bahkan hampir seluruh siswa tau lo benci sama gue, lo gak ada bosennya buat jahilin gue. Terus sekarang jadi manis gini pasti ada maunya 'kan?" tanya Gia memicingkan matanya menatap Evan curiga.


"Hehehe gak kok, kebetulan hari ini itu hari anti nakal nasional. Jadi gue puasa buat jahilin lo," jelas Evan dengan wajah jenakanya. Kemudian dia berdiri dari duduknya, memandang Gia sekilas, lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.


"GUE SUKA SAMA LO GIA ! LO BIDADARI TERCANTIK DAN BOHAI SEPANJANG MASA," teriak Evan dengan lantang sontak membuat kaget seisi kelas, tak terkecuali Gia yang sekarang sedang melongo tak percaya.


"Apaan sih Evan," protes Gia sembari menarik lengan Evan agar duduk kembali.


"Lo sih cuekin gue mulu. Gue tadi beli tiket nonton di bioskop tapi pacar gue gak mau nonton film horor, nah daripada mubadzir lo mau 'kan temenin gue?" ujar Evan dengan senyum lebar.


"Gak," jawab Gia singkat. Kemudian memasangkan earphone dan memutar lagu kesukaannya. Melihat itu Evan hanya melongo tak percaya. Baru kali ini Evan ditolak bahkan tidak dianggap.


Secepat kilat Evan melepas sebelah earphone yang bertengger di telinga Gia untuk dipasang di telinganya sendiri.


"Lo suka lagunya Shawn Mendes?" tanya Evan penasaran, yang hanya dijawab deheman oleh Gia.


"Emang lo tau ini lagu artinya apaan? Secara semua orang 'kan tau otak lo otak udang. Hahahaha," tawa Evan menggema di ruang kelas.


"Ha-ha-ha," tawa Gia malas lalu menggeser duduknya agar menjauh dari Evan. Melihat itu Evan ikut menggeser pantatnya agar lebih dekat dengan Gia. Tak tinggal diam Gia kembali menggeser menjauhi Evan.


"Stop Evan!" teriak Gia ketika melihat Evan akan kembali mendekatinya.


"Okey gue turutin mau lo," sambung Gia menatap Evan tajam.


"Nah gitu dong. Lo emang paling paham sama sifat gue. Temenin gue ntar malam. Titik gak pake koma. Okey?" kata Evan lalu pergi meninggalkan kelas sebelum Gia membalasnya.


"Evan kenapa Gi? Overdosis obat ya?" tanya Aldis tak percaya melihat kelakuan aneh Evan. Gia hanya mengedikkan bahunya acuh tak peduli.


Farhan yang melihat kejadian itu sedari tadi tampak berpikir. Sorot matanya menatap lurus ke depan.


Tak berselang lama bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi. Semua siswa bergegas masuk ke dalam kelas, tak terkecuali Evan yang kini duduk di sebelah Gia.


"Mutia sakit, dia ijin tiga hari katanya," ucap Aldis melihat Gia terus menatap pintu kelas. Gia cukup terkejut mendengar penuturan Aldis. Mutia lebih memilih mengabari Aldis daripada dirinya, apa mereka pacaran?


"Mutia sama Aldis mesra banget ya. Kita kapan dong?" tanya Evan membuyarkan lamunan Gia.




Jam menunjukkan pukul delapan malam, suara dentingan alat dapur menjadi satu-satunya suara di sana. Gia sedang sibuk memasak nasi goreng, menu makan malamnya hari ini.



"Gue colok mata lo lama-lama," ucap Gia menodongkan pisau yang kini dipegangnya ke arah Evan karena tak berhenti menatap Gia. Dan Evan hanya terkekeh kecil, kemudian membiarkan Gia fokus dengan nasi gorengnya.



Gia membawa dua piring berisi nasi goreng penuh untuk dibawa ke samping tempat tidurnya. Di sana Evan duduk tanpa alas lantai menatap tidak sabar.




"Mulai saat ini nasi goreng buatan lo jadi makanan favorit gue," ucap Evan dengan pipi menggembung yang dipenuhi nasi goreng. Gia yang melihat kelakuan konyol Evan tertawa kecil.



"Gue baru tau lo punya sisi lain kayak gini Van," ujar Gia menatap Evan sekilas, lalu memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.



Rencana Evan untuk pergi ke bioskop malam ini bersama Gia ia batalkan. Entah disengaja atau memang lupa, saat Evan sampai di tempat tinggal Gia, yang dijemput malah sedang asik memasak nasi goreng, dan itu membuat perut Evan keroncongan minta diisi.



"Biar gue aja," kata Evan saat melihat Gia membereskan alat makan mereka untuk dicuci, dan Gia hanya menurut saja.



"Lo bisa nyuci piring Van?" tanya Gia heran. Evan memutar tubuhnya dan memberikan tatapan 'ada yang aneh?'. Melihat itu Gia mendengus kesal.



"Maksud gue, lo kan orang kaya. Kalau yang nyuci piring tuannya sendiri, terus pelayan lo kerjaannya ngapain?" tanya Gia kemudian mendudukkan dirinya di meja dapur.



"Gue tinggal di apartemen sendiri, sesekali gue panggil pelayan di mansion buat beresin apartemen gue. Jadi urusan kecil sehari-hari gue bisa atasin sendiri," jelas Evan panjang lebar.



"Apartemen sendiri? Hmm gue penasaran, seberapa kaya orang tua lo, mungkin di atasnya Rafi Ahmad?" tanya Gia semakin penasaran. Evan tertawa sejenak, kemudian mengelap tangannya dengan serbet dan ikut menyusul Gia duduk di atas meja.



"Asal lo tau Gia. Gue bukan anak nepotisme, yang suka memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan orang tua. Gue mulai  belajar saham dan investasi sejak SMP, tentunya dibantu kakak gue," Evan menjeda sejenak.



"Sedikit demi sedikit gue membangun usaha, karena melihat ketekunan gue yang terbilang masih sangat dini, kakak gue suntikin dana buat membangun usaha gue, sampai akhirnya gue punya perusahaan sendiri. Mulai masuk SMK, gue meluaskan koneksi bisnis, gak cuman dibidang fashion, gue juga mulai nyoba di sektor industri transportasi," terang Evan dengan senyum lebar. Mendengar itu Gia sontak turun dan bertepuk tangan kagum.



"Woaah.. lo bener- bener hebat Van! Gak nyangka gue, cowo nyebelin kayak lo ternyata pebisnis yang tekun," puji Gia tulus yang kemudian dibalas Evan dengan anggukan. Evan turun dari meja untuk berdiri di depan Gia, sedikit membungkukkan wajahnya agar berhadapan dengan Gia yang tingginya sebatas dada.



"Makanya lo harus banyak-banyak belajar dari gua," kata Evan yang di balas dengan anggukan semangat Gia. Tanpa sadar tangan Evan terulur untuk mengacak rambut Gia.Mendapat perlakuan manis Evan, membuat Gia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian Evan beranjak dari dapur, meninggalkan Gia yang masih mematung dengan tatapan kosong.



Sadar Gia sadar! EVAN PLAYBOY! Batin Gia mencoba membangun pertahanan dirinya kembali. Dia tidak akan jatuh ke dalam pesona seorang Evan, yang sayangnya sangat sulit untuk ditolak.



...---------------------🌻---------------------...


...By : Kamis.Wage...



Pencet woi😾


Biar makin semangat nulisnya mwhehehe😂🌻