
“Eh… tunggu-tunggu, biar aku sendiri aja yang nglepasin sepatuku.”
“Kok gitu?”
“Udah biar aku sendiri” pintanya.
“Aku aja”
“Udahlah aku aja”
Tanpa panjang lebar aku membentaknya.
“Kamu itu gimana sih, udah bagus-bagus aku bantuin, malah sok pinter bisa sendiri. Mendingan tadi nggak usah aku tolongin. Toh kamu bisa sendiri” emosiku kuluapkan dalam kata demi kata.
Sejenak aku terdiam. Ajun masih memandangiku. Anehnya ia sedikit tersenyum.
Aku tersadar.
“Ma… maaf! Aku kebablasan!” ucapku
“Nggak papa! Nggak ada masalah kok.” jawabnya, lagi-lagi dengan tersenyum.
“Kamu kok senyum sih, nggak malah marah?”
“Buat apa marah, kalo orang di depan aku ini nggak ngebuat aku marah”
“Tapi aku kan udah bentak-bentak kamu”
“Itu bukan bentak, tapi berjuang untuk membantu. Aku berpikir kalau kamu berjuang buat bantuin aku”
“Nggak juga!”
“Itu kan pendapat aku”
Aku melepas sepatunya dan mulai mengobatinya.
“Aduh, sakit tau!” helanya.
“Maaf!”
Lalu ia senyam-senyum lagi melihatku.
Aku balik menatapnya.
“Kamu, kenapa senyam-senyum gitu. Ihh… ngeri deh!”
“Kamu… cantik!” ucapnya.
“Heleh, aku nggak akan terbujuk rayuan kamu. Meskipun semua temen bahkan semua cewek di sekolah ini suka dan ngefans banget sama kamu, aku nggak bakal kayak mereka. Camkan itu!”
“Aku nggak ngeharusin kamu suka sama aku. Tapi kayaknya… ”
“Apa?” tanyaku penasaran
Tiba-tiba…
Semua cewek-cewek yang tadi nonton pertandingan masuk dan ngerumunin Ajun. Saking banyaknya aku sampek terdorong ke belakang.
“Vaisha, kamu nggak papa kan?” tanya Sheina.
“Nggak papa kok. Tenang aja, Vaisha tahan banting”
“Iya, percaya. Eh… gimana Ajun?”
“Udah aku obatin. Oh yaa, tadi Ajun tuh senyam-senyum sama aku. Aku jadi ngeri deh”
“Apa, senyam-senyum? Itu tandanya… Ajun, suka sama kamu”
“Ya nggak mungkin lah. Kamu tuh ada-ada aja”
“He, em!!!”
Hari ini bete banget rasanya. Sheina nggak masuk sekolah, padahal dia yang nemenin aku setiap saat. Pelajaran semuanya jamkos, karena hari ini ada event pertandingan gitu di sekolah. Jadi lariku ya… ke taman sekolah.
“Kalo kebanyakan ngelamun, nanti bisa kesambet lo”
“Siapa juga yang ngelamun”
“Ih.. ih.. ih… udah ketauan tapi nggak mau ngaku”
“Kamu kenapa sih gangguin aku?”
“Emang nggak boleh, akukan juga butuh temen”
“Temen kamu kan banyak, nggak aku aja. Lagi pula aku bukan temen kamu, kenal aja enggak.”
“Kalo aku maunya kamu yang jadi temen aku, gimana? Meski kamu belum kenal aku, aku kan bisa kenal kamu.”
“Terserah deh mau kamu!”
Hening di antara kami.
“Oh ya, gimana kaki kamu?”
“Udah mendingan kok. Kan yang ngobatin, ngobatinnya pake… cinta”
“Kamu apaan sih? Nggak jelas”
“Boleh ngomong sesuatu nggak?”
Aku mengangguk.
“Aku sebenernya, udah tau kamu sejak kelas 10. Saat itu kamu lagi sendirian, sambil baca buku di taman ini. Padahal semua cewek bahkan semua murid lagi nonton pertandingan basketku. Sejak itu aku penasaran sama kamu. Kamu tuh terlihat beda sama cewek-cewek yang lain. Tapi aku nggak berani deketin kamu, aku kira kamu nggak bakal suka sama aku. Oh ya, soal kemarin aku sengaja ngebuat diri aku cedera. Aku dapat informasi kalo yang jadi PMInya itu kamu. Aku minta bantuan ama kapten basket Merah Putih untuk sengaja dorong aku saat aku slam dunk. Agar aku bisa ketemu, dan bisa bicara sama kamu. Jadi aku minta maaf, udah ngerepotin kamu. Dan thanks juga!”
BERSAMBUNG