
Ketika cahaya bersinar, menembus celah-celah kecil jendela. Udara sejuk menyentuh hingga ke raga. Hembusan angin terdengar mendesah berirama. Bunga pagi serentak merekah merona. Ketika bunga tidur terbuyarkan oleh mata. Mata yang awalnya terpejam, kini terbuka nyata. Aroma sarapan menggugah selera. Ingin rasanya cepat-cepat menikmatinya.
“Wah, tumben ma… masaknya enak-enak?”
“Jadi menurut kamu selama ini masakan mama nggak ada yang enak?”
“Maksud aku bukan gitu ma, ya… tumben aja masaknya nggak kayak biasanya”
“Emang nggak boleh sekali-kali kita sarapan beda?” tanya papa
“Boleh sih pa, bahkan kalo tiap hari kita sarapan beda terus, bisa habis dua piring aku!”
“Kamu tuh ya, ada-ada aja!” ucap mama
“Erfa, Erfa!” tambah papa
Setelah menikmati lezatnya sarapan dan hangatnya obrolan, Erfa pamit untuk berangkat.
Ini adalah awal Erfa masuk SMA. Sekolah dimana kita mulai untuk berpikir dewasa. Dimana sikap mandiri nomor pertama. Dan teliti dalam memilih pergaulan. Setelah sampai, Kaila menunggu Erfa di tempat parkir. Kaila adalah sahabat SMP Erfa. Sejak masih duduk di kelas 1 SMP, Erfa dan Kaila sudah berteman baik. Belum pernah terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka.
“Sorry! Udah nunggu lama, kamu juga sih kebiasaan nungguin aku!”
“Kitakan sahabat, kita harus masuk sama-sama!”
“Oke, oke!”
Mereka masuk kelas bersama.
Sebelum sah jadi siswa SMA, harus ada yang namanya MOS. Dan hari ini adalah MOS pertama.
Saat di kelas…
Kakak OSIS memberikan semuanya tantangan.
“Kalian semua harus mencari satu pasangan untuk kalian ajak kerja sama. Yang cowok milih yang cewek. Dan yang cewek milih yang cowok. Tapi… milihnya harus temen yang beda kelas. Jelas…!”
“Jelas, kak!”
Semua yang ada di kelas berhamburan keluar.
Begitu pun Kaila. Mereka semua berlari mencari yang mereka cari. Tapi berbeda dengan Erfa. Ia terlihat santai dan masa bodo. Sambil berjalan pelan di antara desakan banyak orang. Dengan santainya, Erfa duduk di salah satu kursi di bawah pohon depan kelas.
“Kamu kelihatannya kok santai banget! Nggak panik?”
“Panik untuk apa? Dan kenapa harus panik?”
“Soal tantangan dari kakak OSIS!”
“Entahlah, aku juga bingung kenapa aku nggak panik atau cepet-cepet cari pasangan buat kerja sama”
“Aneh kamu!”
“Aneh gimana?”
“Lupain aja! Oh, ya… Richard!”
Tangannya terulur manis. Terlihat kulit putih nan bersih. Senyum mengembang yang disertai tatapan tajam.
Erfa tak menanggapi uluran tangannya. Erfa malah menatap bingung Richard
“Kamu gimana sih, diajak kenalan kok malah nggak jelas? Siapa nama kamu?” ucap Richard.
“Erfa…!” jawab Erfa cuek memalingkan wajahnya.
Lalu… salah satu kakak OSIS cewek menghampiri mereka.
“Kalian kok malah pacaran, ini kan waktunya MOS!”
Mereka berdua langsung berdiri.
“Enggak kok kak, kita nggak lagi pacaran.” ucap Richard.
“Iya, kak!” tambah Erfa.
“Oh, iya. Kamu itu ketua organisasi musik yang terkenal ganteng itu kan?” tanya kakak OSIS kepada Richard.
“Iya, kak!” sambil tersenyum.
“Em… kakak boleh minta foto nggak? Ya, sekali-kali foto sama cowok seganteng kamu!”
“Boleh kok kak!”
Erfa terlihat bingung nggak jelas. Sementara kakak OSIS yang bernama Distya itu asyik berfoto dengan Richard.
“E… kak, dia itu bukan…”
“Pacar aku pasti nggak marah kok kak. Tenang aja dia orangnya pengertian!” potong Richard.
Erfa langsung menatap sinis Richard.
“Kalian cepetan ke aula, kumpulnya ke sana!”
“Makasih kak!” ucap Erfa.
Mereka bergegas ke aula.
“Kamu tuh gimana sih, akukan bukan pacar kamu!” jengkel Erfa.
“Ya mau gimana lagi, kalo aku nggak bilang kamu itu pacar aku… aku pasti dikejar-kejar sama kakak OSIS tadi”
“Ya itu derita kamu!”
Erfa berjalan cepat meninggalkan Richard.
Erfa masuk aula diikuti dengan Richard di belakangnya.
“Hey, kamu!” kakak OSIS laki-laki bernama Joy memanggil Erfa.
Erfa menunjuk diriya sendiri.
“Iya kamu! Dan kamu, si ahli musik. Ke sini!”
Yang dimaksud si ahli musik itu Richard. Richard adalah salah satu remaja yang mendapat penghargaan dalam pagelaran musik simphoni. Dan dinobatkan sebagai ketua organisasi musik sedaerah.
“Kenapa ya kak?”
“Masih tanya kenapa?! Dari mana kalian?”
“Nggak dari mana-mana kak, cuma dari kelas!” jawab Erfa.
“Dari kelas? Kalian berdua ada di kelas, bareng?”
“Kelas kita beda kak!” ucap Richard.
“Oke! Cepetan duduk!”
“Makasih kak!” ucap mereka bersama.
Setelah itu, para kakak OSIS mulai mengerjai satu persatu siswa. Tiba-tiba… kakak Joy memanggil Erfa.
“Kamu!”
Erfa menoleh menanggapi.
“Sekarang kamu maju dan mainkan gitar ini!”
“Hah, aku kak?”
Kakak Joy mengangguk.
“Nggak salah nih kak, tapi kok aku?”
“Kalo nggak kamu, siapa lagi!”
“Kan bisa yang lain kak!”
“Ngeselin kamu!”
“Aku cewek kak bukan ngeselin!”
Seisi aula tertawa.
“Hih… cepetan maju, sekarang!”
“Kalo nggak mau gimana kak?”
“Apa kamu bilang?”
“Eng… enggak kok kak”
“Gitu aja kok marah!” celoteh Erfa lirih.
“Hey, kamu tu ngapain sih. Maju sana!”
BERSAMBUNG