
Di sekolah, SMA Adi Wijaya…
“Eh, tuh liat si cewek preman dateng!” ucap cewek bernama Steffa, saat melihat Naha datang.
“Iya, liat gaya jalannya aja kayak anak cowok! Pantes deh jadi preman!” tambah Ania
“Preman Pasar” celetuk Angel
Mereka bertiga tertawa puas. Mereka bertiga adalah geng. Yang ada di pikiran mereka hanyalah, merekalah cewek paling cantik. Cewek paling hits. Cewek yang selalu dikejar-kejar cowok ganteng.
“Kalian nggak punya kerjaan ya selain ngatain orang?”
“Eh, siapa nama lo? Na… Naha! Gue nggak ngatain kok emang lo tuh kayak preman!”
“Ha… Ha… Ha….!” tawa mereka.
“Iya, gue preman pasar… kalian yang ngemis-ngemis di jalanan” ucap Naha lalu pergi.
“Ihh… dasar ya lo, awas aja kalo ketemu!” balas Steffa
“Iuhh, kita ngemis-ngemis di jalanan. Nggaklah yauw…” kata Angel
“Secara kita anak pengusaha dan orang kaya” sombong Ania
Saat di jalan menuju kelas… Naha tak sengaja menyenggol seseorang.
“Eh, sorry. Gue nggak sengaja” pinta Naha
“Iya. Nggak papa” balas Andra, si cowok paling keren di SMA. Dan paling banyak yang nge-gebetin. Khususnya cewek-cewek kayak gengnya Steffa.
“Lo itu si…?”
“Cewek preman!” jutek Naha
“Bukan gitu maksud gue!”
“Udahlah, terus terang aja. Nggak usah pake basa-basi!”
“Sorry! Gue Andra!” Andra mengulurkan tangannya.
Tapi tak dibalas oleh Naha. Naha malah ingin pergi.
“Eh tunggu” Andra menghadang Naha.
“Apaan sih lo?” sambil mendorong Andra.
“Jadi cewek jangan kasar gitu donk!”
“Mau lo apa?”
“Cuma pengen tau nama lo aja!”
“Naha!”
“Naha siapa?”
“Naha ya Naha!” bentak Naha
“Nama lengkap!”
“Huh… ganggu aja, Jenaha Affandar!”
“Namanya sama kayak gue!”
“Nama lo kan Afandra Arnawarman! Ya jelas nggak samalah!”
“Lo tau nama gue?”
“Udahlah, sana!”
Naha segera pergi dari Andra.
Pulang sekolah….
Kina berjalan menuju parkir depan. Tidak sengaja ia bertemu gengnya Steffa.
“Lo itu ya, cantik, lembut, manis, lugu, sopan” ucap Steffa
“Iya, betul itu. Kalo dibandingin sama siapa tuh… preman pasar. Ya beda jauhlah!” tambah Aina
“Maksud kalian, Naha?”
“Kalo bukan dia… siapa lagi!”
“Kalian jangan keterlaluan menghina Naha. Dia itu nggak seperti yang kalian pikirin!”
“Maksudnya? Dia lembut, manis, cantik gitu? Ya nggak mungkinlah”
“Kita nggak bakal percaya!”
“Bye dulu ya… Kina!”
Mereka pun pergi.
“Kenapa sih semua menganggap Naha itu anak yang kasar?” tanya Kina pada dirinya sendiri.
“Nggak kok! Nggak semua orang beranggapan gitu. Aku menganggap kalo Naha itu orang baik!”
Kina langsung berbalik.
“Bener? Kamu menganggap Naha baik?”
“Iya. Aku dulu waktu SMP pernah sekelas sama Naha. Dan aku pikir Naha anak yang baik, suka nolong orang lain, dan sering berbagi!”
“Apa? Kamu temen SMPnya Naha?”
“Iya. Aku Dino!”
“Kina!”
Saat di taman belakang sekolah. Tepatnya setelah semua siswa sudah pulang. Naha duduk sendiri di bangku taman. Menyendiri dalam keheningan.
“Naha! Ini untuk kamu!”
“Apaan sih lo Kina? Buat apa coba, ngasih kotak… hadiah… nggak berguna kayak gini!”
“Aku ngasihnya tulus sama kamu Naha! Karna pagi tadi aku merasa bersalah sama kamu!”
“Tulus? Lo udah hancurin hidup gue, bisa-bisanya lo ngasih gue hadiah. Gila ya lo!”
“Naha! Lo jangan ngomong sembarangan. Ini saudara lo!” tiba-tiba Dino datang bersama Andra. Sejak pertama masuk SMA Dino dan Andra sudah bersahabat.
“Ngapain lo ikut campur!”
“Di sini gue mau nyadarin lo kalo bukan Kina yang buat hidup lo hancur. Tapi justru lo sendiri penyebabnya!” ucap Dino.
“Lo tuh tau apa sih? Lo nggak tau apa-apa”
“Naha, maafin aku!”
“Maaf-maaf, bisanya cuma ngomong doank. Udah nggak nyadar diri, nggak punya malu, suka hancurin hidup orang. Seandainya gue nggak pernah ketemu lo. Gue bakal seneng banget, Kina! Dan gue jadi orang paling beruntung sedunia.”
“Naha!” Kina mulai meneteskan air mata.
“Udahlah, No… Naha biar gue yang urusin!” bisik Andra ke Dino.
“Ayo, Kina kita pergi!”
“Tapi Dino, Naha gimana?”
“Udahlah!”
“Baguslah kalo lo pergi” kata Naha.
Kina dan Dino telah pergi.
BERSAMBUNG