MY STORY

MY STORY
Episode 10



Perasaanku yang seharusnya senang lenyap dilahap oleh rasa takut. Aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Inginku mengatakan pada guru-guruku bahwa aku tak bisa mengikuti lomba itu ke tingkat provinsi, tapi kutakut akan banyak yang kecewa padaku. Tapi, kalau aku tetap mengikutinya, ayah yang akan kecewa. Aku tak bisa memilih di antara keduanya. Ingin ayah kecewa atau semua guru dan teman-temanku kecewa? Pilihan yang sangat sulit bagiku. Meskipun ayah cuma seorang namun ia adalah sosok yang berharga bagiku. Sosok yang selalu menjagaku dari aku belum mengetahui apa-apa hingga aku sudah besar seperti ini. Ia selalu melindungiku semenjak ibu pergi meninggalkan kami berdua. Pergi jauh hingga kami takkan mungkin lagi bertemu dengannya, pergi untuk selama-lamanya. Semenjak aku masih berumur dua tahun. Semenjak itu pula aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, hanya ayah yang setia menjaga dan selalu bersamaku. Ayah tak menikah lagi karena ia ingin aku beribu tiri, tak ingin hatiku terluka nantinya. Namun, akhirnya aku tetap merasakan betapa terlukanya hatiku, betapa sedihnya aku sebab ayah melarangku melakukan hobiku, bakatku, dan aku sangat kecewa karena itu. Ayah tak pernah mengatakan alasan kenapa dia melarangku menyanyi. Kenapa ia benci dengan nyanyian. Ia tak pernah menjawabnya saat aku tanyakan. Aku ingin mengatakan pada ayah bahwa aku juga ingin seperti teman-temanku yang orangtuanya selalu memberi dukungan untuk mengembangkan bakat anak-anaknya, tidak seperti aku yang selalu dipatahkan.


Aku sengaja melangkah kecil-kecil menyusuri jalan ke rumah. Aku ingin berlama-lama di jalan karna tak sanggup berbicara pada ayah ataupun minta izin padanya. Selama di perjalanan aku berusaha melawan fikiranku untuk menuruti nasihat ayah. Aku mencoba menetapkan hati dalam sebuah pilihanku untuk tetap ikut dalam lomba itu. Aku sangat berharap bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan itu pada ayah.


Setibanya di rumah ternyata ayah sudah menungguku di depan rumah, aku menundukkan kepalaku saat sudah berdiri tepat di hadapannya. Ia menepuk kedua pundakku dengan kedua tangannya. Ia memandangiku penuh rasa sayang.


“Nel, ayah dengar kamu menang lomba bernyanyi tingkat kabupaten.”


Aku tersentak kaget mendengar kata ayah, tak kusangka ia mengetahuinya sebelum aku sempat berbicara sepatah kata pun padanya. Aku memandanginya dengan rasa sesal. Air mataku yang tertahan mulai menetes dengan deras.


“Ayah tahu dari mana?” tanyaku terisak.


“Teman-temanmu Nel,”


Ia berjalan memasuki rumah dan aku mengikutinya dari belakang.


“Ayah, Inel minta maaf,”


“Nel, dengarkan ayah baik-baik. Kamu tahu kenapa ayah melarangmu bernyanyi?”


“Karena ayah tak suka mendengar nyanyian.”


“Bukan Nel, bukan itu,” ayah mulai membantah kata-kataku.


“Seperti ibu? apa maksud ayah?”


“Nel, ibumu seorang penyanyi. Dia cantik dan lemah lembut. Tak bisa disalahkan jika sifatnya turun kepadamu Nel.”


“Lalu kenapa ayah melarangku bernyanyi?”


“Itu alasan ayah. Banyak orang yang menyukai ibumu. Ayah takut itu akan terjadi pada dirimu Nel.”


“Apa hubungannya ayah?”


“Tentu ada hubungannya, banyak yang suka pada ibumu tak terkecuali laki-laki yang sudah punya istri, ada orang yang sakit hati karena suaminya jatuh hati pada ibumu.”


“Lalu?” tanyaku penasaran.


“Ibumu dibunuh.”


Aku memandangi ayah yang tak kuasa lagi menahan air matanya.


Sekarang aku mengerti kenapa ayah melarangku bernyanyi. Terkadang hal yang kita benci, sebenarnya baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya, hal yang kita suka belum tentu baik untuk kita.


BERSAMBUNG