MY STORY

MY STORY
Episode 17



Keringat mengucur deras di wajahku, padahal ini baru saja selesai pemanasan belum masuk pada latihan inti. Aku rasa senpaiku yang satu ini lebih tidak manusiawi dari pada senpai yang satunya. Huh, padahal usianya sama denganku ya mungkin karena sabuknya saja yang sudah warna hitam jadi dia bisa bebas mau memberikan latihan seperti apa pun. Satu hal lagi yang membuatku tidak begitu menyukainya adalah, dia tidak begitu tampan dan wajahnya pun tampak cuek. Pokoknya tidak mengenakkan deh dipandang.


Hari sudah semakin sore namun latihan inti baru saja dimulai. Aku tidak begitu fokus mengikuti latihan karena kepikiran untuk ulangan harian MM dan sosiologi besok karena itu aku beberapa kali salah mempraktekan gerakan. Padahal, gerakan-gerakan itu sudah serasa di luar kepala bagiku namun namanya juga tidak fokus jadinya gerakanku sedikit kacau deh. Waduh, kalau gerakanku nanti salah berarti aku tidak bisa ikut UKT 2 minggu lagi. Ah, aku harus fokus. Ayo, fokus Anna fokus.


“Sekarang kita latihan Kata 1.” Kata Ivan senpai yang tadi aku bilang seumuran denganku itu. Kata 1 bagiku sudah di luar kepala, ya aku memang sudah hafal betul Kata 1. Ivan pun berkeliling untuk melihat apakah ada yang gerakannya kurang tepat atau bahkan salah, seperti guru pada umumnya dia pun membenarkan gerakan-gerakan yang salah. Aku pun berhasil mempraktekkan Kata 1 dengan benar.


Tepat seperti dugaanku sebelumnya, gerakanku pun masih ada beberapa yang salah dan Ivan pun terus membetulkan gerakannku tentunya bukan dengan cara yang lembut dan aku pun juga tidak berharap demikian karena itu justru akan membuatku jijik. Zahra, pasanganku dalam aplikasi Kata mengajakku pindah ke bagian depan. Aku sebenarnya tidak mau karena di sana ada banyak anak latihan, aku malu kalau mereka tahu aku masih banyak salah dalam gerakan. “Aaaah, Zahra kenapa harus pindah ke depan sih?” Tanyaku pada Zahra dengan gaya sok imut berharap dia akan membatalkan niatnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang laki-laki menirukan ucapanku tadi, aku pun menoleh ke arah pemilik suara itu dan ternyata dia adalah Ivan. “Apa-apa sih kamu menirukanku?” Tanyaku pada Ivan dengan nada kesal. “Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong.” Jawabnya dengan enteng. Aku tidak habis pikir dengan anak itu, kenapa sih dia mengurusi apa pun yang aku perbuat bahkan hal tidak penting sekali pun.


BERSAMBUNG