MY NAME

MY NAME
9. TUHAN MEMBERIKU PETUNJUK



Otakku terus berpikir keras, memikirkannya. hingga akhirnya, aku tertidur.


*****


Keesokan paginya, mataku baru saja aku buka. Kulihat dari jendela kamar, sepertinya hari masih gelap. Ku lirik jam dinding yang terpasang di dinding kamar. Jam baru menunjukkan pukul 05:15.


Aku segera bangun dari tempat tidurku, dan bergegas ke kamar mandi. Saat hendak ke kamar mandi, aku melihat Kakek sedang sibuk di dapur.


Karena memang letak kamar mandinya berada di sebelah dapur. Sebelum melanjutkan ke kamar mandi, ku hampiri kakek yang sedang sibuk memasak.


"Pagi, Kek!" sapaku.


"Pagi! Aden sudah, bangun?" sahut Kakek.


"Iya. Kakek, masak?" tanyaku.


"Ini, saya hanya memasak nasi goreng untuk sarapan kita." jelasnya.


"Mulai sekarang, Kakek ga usah repot-repot masak, ya?" pintaku.


"Kenapa, Den?" tanya Kakek.


"Kita beli aja, Kek. disini banyak warung nasi." ujarku.


"Tapi itu pemborosan, Den. mendingan, uangnya Aden tabung, kan?" timpalnya.


"Ga apa-apa, Kek. saya tidak mau melihat Kakek kelelahan." jelasku.


"Nasinya kita masak sendiri, lalu sayur dan lauk-pauknya kita beli, ok?" jelasku.


"Ya sudah, terserah Aden, saja." sahut kakek.


Lalu aku melanjutkan tujuanku ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, lalu bersiap untuk pergi bekerja.


Setelah merasa rapih, aku menghampiri Kakek yang sudah menungguku di meja makan, untuk sarapan bersama.


Selesai dengan sarapanku, aku memberikan sejumlah uang kepada Kakek, untuk keperluan makan siang Kakek, dan sore nanti.


"Siang nanti, Kakek beli makan untuk Kakek sendiri, karena saya pulang sore, jadi saya makan siang di luar, Kek." ujarku, seraya menyerahkan uang kepada kakek.


"Iya, Den." sahut kakek, meraih uang yang aku berikan.


"Kalau begitu, saya pamit ya, Kek?" ujarku, seraya menyalami tangan Kakek, dan menciumnya.


"Hati-hati, Den!" nasehatnya.


"Iya, Kek. Assalamualaikum!" ucapku, seraya keluar dari rumah.


"Wa'alaikumussalam!" sahutnya.


Pagi itu, aku merasa lebih bersemangat lagi, pergi mencari nafkah. Aku harus bekerja lebih keras lagi, demi membelikan rumah untuk kakek. tidak mungkin kami akan tinggal di rumah sewa untuk selamanya.


Seperti biasa, aku pergi ke kota untuk mengantarkan hasil panen para warga ke para penjual di pasar.


Selama ini, saat para kuli membongkar bawaanku, aku hanya duduk diam menunggu. Tapi kali ini aku tidak mau tinggal diam, aku membantu kuli menurunkan barang yang aku bawa turun dari mobil.


Dengan begitu, aku bisa sedikit menghemat biaya kuli. biarlah, aku kotor dan berkeringat, yang penting saat ini adalah, uang.


Apapun akan aku lakukan, untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Saat sedang sibuk menurunkan karung-karung yang berisikan sayuran dan buah, kakiku terkilir, dan akupun terjatuh berguling di lantai pasar, karung yang aku panggul pun jatuh menimpa ku.


Kepalaku terbentur lantai yang lumayan keras. dan aku tidak sadarkan diri, untuk beberapa jam. Aku mendapatkan pertolongan dari para pelanggan ku.


Mereka membawaku ke rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari pasar. Untuk beberapa jam, aku terbaring tidak sadarkan diri.


*****


Perlahan kubuka mataku, kepalaku terasa berat, dan sakit. saat pertama kali kubuka mata, entah kenapa tiba-tiba terlintas bayangan sosok wanita separuh baya yang menatap ku penuh kebencian.


Ku coba mengingat siapa wanita itu, tapi kepalaku malah semakin sakit. Aku meringis sembari memegangi kepalaku.


"Kenapa kepalaku, dan...kenapa aku ada disini?" tanyaku dalam hati.


Aku coba mengingat apa yang sudah terjadi, sehingga aku berada di rumah sakit. dan akhirnya, aku ingat semuanya.


Yaitu, adegan di mana aku di siksa, di hajar habis-habisan oleh beberapa preman. Namun saat aku berusaha lagi untuk memperjelas ingatanku, kepalaku terasa sangat sakit,


rasanya seperti akan terbelah menjadi dua, tanpa sadar, aku berteriak sekencang-kencangnya. sehingga membuat perawat datang memeriksa ku.


"Ada, apa? kenapa Anda, berteriak?" tanya suster, kepadaku.


"Kepalaku, Sus." jawabku, yang masih memegangi kepalaku.


"Sebentar, saya panggilkan Dokter, ya?" ujar suster tersebut. dan pergi meninggalkan ku di ruang IGD.


Karena merasakan sakit yang luar biasa, aku tidak lagi ingat, bahwa aku sedang menyamar. kumis palsuku, dan kacamata jatuh entah kemana.


Tak lama kemudian, datang Dokter di temani susternya.


"Apakah kepala Anda, sakit?" tanya Dokter, kepadaku.


"Iya, Dok." jawabku pelan, karena menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Baiklah! Sus, tolong berikan pasien penghilang rasa sakit!" perintah Dokter, kepada sang perawat.


"Beristirahatlah! setelah rasa sakitnya mereda, akan kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut." jelas Dokter.


Dan mereka pun pergi meninggalkan aku seorang diri, terbaring di tempat tidur pasien, di IGD. Sebelum mereka pergi, Dokter menanyakan, apakah ada keluarga yang bisa di hubungi?.


Aku hanya menggelengkan kepala. Karena tidak mungkin, aku memberitahu Kakek, akan keadaan ku saat ini.


Karena saat ini, hanya Kakek lah satu-satunya keluarga yang aku miliki.


"Lakukan saja, apa yang harus Dokter lakukan, saya tidak punya siapa-siapa, selain Kakekku, dan rasanya tidak mungkin, aku membebani pikirannya dengan keadaan ku," jelasku.


Setelah menerima suntikan penghilang rasa sakit dari perawat, aku merasakan kantuk yang teramat sangat. hingga akhirnya, akupun tertidur.


Saat aku kembali membuka mata, Dokter sudah berdiri di sampingku, menatap penuh penasaran.


"Anda sudah, bangun?" sapa Dokter.


"Iya, Dok." sahutku.


"Siapa nama, Anda?" tanya suster.


Alih-alih menjawab, aku malah terdiam, dan mencoba mengingat, siapa namaku. tapi bukannya teringat, tapi malah kepalaku sakit, lagi.


"Maaf.... sepertinya, aku belum bisa mengingatnya." jelasku, seraya memegangi kepalaku.


"Sepertinya, luka di kepala Anda menyebabkan, amnesia." jelas Dokter.


"Sebelumnya, saya memang lupa ingatan, Dok. tapi tolong, sembunyikan identitas saya." pintaku.


Dan aku akhirnya sadar akan penyamaran ku, kini aku bingung mencari kumis palsu, dan kacamata ku.


"Anda, Amnesia?" tanya Dokter, terkejut.


Lalu ia terdiam untuk beberapa saat.


"Sus, tolong tinggalkan kami berdua." pinta Dokter, kepada perawat nya.


"Baik, Dok." ucap perawat itu, dan pergi.


"Sekarang ceritakan, apa yang terjadi, sehingga Anda mengalami amnesia?" tanya Dokter cantik yang menangani ku.


"Apa ini ada kaitannya dengan pemeriksaan, Dok?" tanyaku, balik.


"Iya! selain itu, aku punya teman yang sangat mirip dengan Anda, tapi menghilang tanpa kabar." ungkap Dokter cantik, kepadaku.


"Mirip dengan saya, Dok?" tanyaku tak percaya, sekaligus senang.


"Iya, bahkan sangat mirip." ujar Dokter yakin.


"Aku di temukan seorang Kakek di sungai yang letaknya di tengah-tengah hutan. keadaanku saat itu, sekarat. tubuhku penuh luka tusuk, dan memar.


Selama satu bulan, aku di rawat dan di obati Kakek, dan sekarang, aku tinggal bersama kakek. menurut beliau, ada yang sengaja berniat membunuhku, dan membuangku ke sungai.