MY NAME

MY NAME
4. MEMULAI HIDUP KU



Dengan lahapnya, aku dan kakek menyantap makanan yang sudah lama tidak kami temukan. selama di hutan, kakek hanya makan ubi rebus, atau bakar.


kecuali ada yang datang membawakan serantang makanan, barulah ia makan nasi. sedangkan aku yang baru saja satu Minggu tidak makan nasi, itu sudah membuatku putus asa.


rasanya, seperti sudah lama tidak menemukan sepiring nasi. selesai makan, aku membersihkan rantang bekas kami makan.


Senja mulai menyapa, aku dan kakek pergi ke sungai untuk membersihkan diri. selama ini, kakek tidak pernah mandi menggunakan sabun mandi, ataupun perlengkapan mandi lainnya.


melihat ini, aku semakin bertekad untuk bekerja. aku harus menghasilkan uang, untuk kebutuhan kami sehari-hari.


setelah merasa segar, aku dan kakek segera naik, dan kembali ke gubuk, karena hari sudah hampir Maghrib.


aku tidak punya baju untuk menggantikan baju yang sudah bau keringat, setelah seharian aku pakai. kakek memberikan kaos oblong, dan celana dasar miliknya, yang sudah lama tidak ia pakai.


satu-satunya baju milikku, sudah ternoda oleh darah, dan robek. kakek melarangku untuk memakainya lagi.


karena kami tidak mendengar suara azan, kakek menggunakan langit untuk melihat apakah sudah waktunya shalat Maghrib atau belum. setelah melihat keadaan di langit, kakek bersiap diri menunaikannya ibadah shalat.


aku tidak mau ketinggalan, dan mengikuti kakek sebagai makmum.


sebenarnya, aku tidak tahu seperti apa bacaan sholat, tapi yang aku tahu, sebagai makmum, gerakannya mengikuti gerakan imamnya. dan aku shalat berdasarkan pengetahuan ku.


selesai shalat, aku menanyakan prihal shalat kepada kakek. aku meminta kakek, agar bisa mengajarkan ku tentang cara melaksanakan shalat.


dan kakek pun dengan senang hati mau mengajari ku bagaimana cara shalat yang benar. pelan-pelan, aku mempelajari tentang bagaimana cara melakukan tugas ku sebagai hamba Allah yang beriman.


setelah kakek memperkirakan waktu shalat isya telah tiba, beliau mengajakku untuk mempraktekkan ilmu yang baru saja aku dapatkan darinya, dengan melaksanakan shalat isya berjamaah.


selesai shalat, kakek merasa lelah, dan berbaring di atas bangku. rasanya tidak tega melihat tubuhnya yang hanya tinggal tulang, berbaring di atas bangku tanpa menggunakan alas yang empuk, atau kasur.


"bersabarlah, Kek! aku janji, aku akan membuatmu hidup nyaman, dan bahagia bersamaku, kelak." bisik ku, dalam hati.


"saya tidur duluan ya, Den?" ucap kakek.


"iya, Kek. tidurlah! saya masih belum mengantuk." sahutku.


aku duduk didepan api unggun yang aku buat sore tadi. pikiranku melayang jauh, mencoba mengingat siapa diriku.


aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengingat semuanya, namun sia-sia. semakin aku memikirkannya, semakin kepalaku terasa sakit, seakan ingin meledak.


"ah...! kenapa aku tidak bisa mengingat sedikitpun?" pekik ku. aku hampir lupa kalau kakek sedang tidur.


"ada apa, Den?" tanya kakek, yang mendengar suaraku, seraya duduk.


"tidak ada, Kek. maaf....kakek terbangun karena suara saya, ya?" ucapku menyesal.


"tidak apa-apa. Aden, kenapa? apa ada yang, sakit?" tanya kakek yang turun dari bangku, dan menghampiriku.


"tidak ada, Kek." jawabku.


"jangan ada yang ditutup-tutupi, Den. kalau ada yang sakit, bilang saja. mungkin saya bisa, bantu." ucap kakek, lagi.


"saya baik-baik saja, Kek. saya hanya coba mengingat, siapa, dan apa yang sudah terjadi dengan saya," jelasku.


"lalu? apakah Aden sudah bisa mengingatnya?" tanya kakek, lagi.


"belum..." jawabku, menundukkan kepala.


"ya sudah, ga usah dipaksakan. nanti kalau sudah waktunya, Aden akan ingat sendiri. kalau sekarang Aden paksakan, hanya akan membuat kepala Aden sakit." nasehat, kakek.


"iya, Kek." sahutku.


"iya, Kek!" sahutku, lalu pergi ke bangku, dimana tempat aku dan kakek, beristirahat.


entah sudah jam berapa waktu itu. yang jelas, suara jangkrik yang nyaring semakin terdengar jelas. seakan berteriak didekat telingaku. aku merasa terganggu oleh suaranya, dan menutup kedua telingaku.


*****


sayup-sayup kudengar suara gaduh dari luar gubuk, dengan mata yang masih terpejam, kuraba apakah ada kakek disebelah kananku. dan tanganku tidak merasakan adanya seorang yang tidur di sebelahku.


menyadari kakek tidak ada, aku seketika membuka mata, dan memeriksa. kakek Saleh benar-benar tidak ada di tempatnya.


aku segera bangun dari tidurku, dan berjalan keluar gubuk, untuk memeriksa. suasana masih terlihat gelap, namun aku melihat kakek sedang sibuk didepan tungku.


aku mengucek kedua mataku, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih enggan meninggalkan mataku.


padahal cuacanya sangat dingin, tapi kakek malah sudah asyik berada diluar. "Kakek! sedang, apa?" sapa ku, mendekatinya.


"Aden sudah, bangun? ini, saya sedang memasak sarapan, dan bekal untuk Aden bawa kerja nanti." jelas kakek.


"ya ampun, Kek. kenapa tidak bangunkan saja, saya? kan saya bisa bantu." ungkap ku.


"Aden kan nanti akan bekerja, jadi....saya biarkan Aden beristirahat. untuk mengumpulkan tenaga, Aden." jelasnya.


"saya kan sudah beristirahat selama satu Minggu lebih, Kek. jadi....tenaga saya sudah siap untuk digunakan." sahutku.


"apakah Aden sudah benar-benar, sehat?" tanya beliau memastikan.


"oh, tentu saja! lihat otot-otot ini." sahutku, seraya menunjukkan otot di tubuhku.


kakek terkekeh melihat tingkahku. dan aku merasa senang, melihat Kakek yang tertawa lepas seolah tanpa beban dalam hidupnya.


"sini! saya bantu, Kek!" ujarku.


"tidak usah, saya sudah selesai. hanya tinggal menunggu nasinya matang." sahut kakek.


"terus, saya ngapain?, Kek?" tanyaku, lagi.


"udah...mendingan Aden bersiap-siap, saja." pinta kakek.


"iya, Kek!" sahutku, lalu kembali masuk kedalam, untuk membersihkan tempat tidur, dan ruangan sekitar.


"ah.... rasanya malas sekali untuk pergi ke sungai, di pagi buta, yang dingin ini. tapi jika aku tidak mandi, nanti malah akan merasa semakin malas." bisik ku dalam hati.


akupun melawan rasa malasku, dan pergi ke sungai untuk mandi. tak lupa kubawa serta jerigen plastik yang akan aku isi air sungai, untuk kebutuhan kami.


singkat cerita, aku sudah selesai dengan mandi ku, dan kembali ke gubuk dengan dua jerigen di tanganku.


sampai di gubuk, kakek sudah selesai menyajikan sarapan di atas tikar lusuh, yang compang-camping, di atas lantai tanah.


"seharusnya aku lah yang melakukan ini semua, bukannya malah beliau." gumam ku dalam hati.


"ayo, Den! kita sarapan!" ajak kakek, yang sudah lebih dulu, duduk menungguku.


"iya, Kek!" sahutku, lalu menyusul duduk disebelahnya.


sebuah hidangan yang sangat sederhana, namun cukup membuatku terharu, dan bahagia. nasi putih di dalam panci kecil yang sudah penyok, dan telur dadar di atas piring kaleng, yang sudah mulai mengelupas dan berkarat.


"Kek! seharusnya saya lah yang memasak untuk, kakek. bukan sebaliknya." keluh ku.