MY NAME

MY NAME
2. MENJALANI HIDUP TANPA IDENTITAS DIRI



Perlahan hari mulai gelap, perutku terasa keroncongan, tapi aku tidak tahu, apa yang bisa mengganjal perutku yang mulai protes minta untuk segera di isi.


aku duduk termenung didepan api yang kakek nyalakan, untuk menghangatkan tubuh kami di saat malam hari.


otakku terus berpikir, mencoba mengingat siapa sebenarnya diriku ini. namun usahaku sia-sia. bukannya mengingat, tapi malah membuat kepalaku menjadi sakit.


akupun menyerah untuk mengingat siapa sebenarnya aku. aku berpikir, mungkin karena kondisi ku belum pulih benar, makanya kepalaku terasa sakit, saat aku berusaha mengingat siapa diriku, dan apa yang sudah terjadi, sehingga aku di temukan di sungai.


malam semakin larut, tapi mataku masih belum bisa aku pejamkan. entah sudah jam berapa, aku tidak tahu. karena kakek Saleh tidak memiliki jam dinding, atau sejenisnya.


suara jangkrik yang nyaring, membuat perutku semakin lapar. aku menjadi serba salah, dan gelisah, karena merasakan cacing-cacing didalam perutku yang terus memberontak meminta untuk segera diisi.


"ada apa, Den?" tanya kakek Saleh, yang sepertinya menyadari bahwa aku tidak bisa tidur.


"tidak ada apa-apa, kek." jawabku, menutupi. aku tidak mau merepotkan kakek ditengah malam seperti ini.


"kamu lapar, ya?" tanyanya lagi, seperti memahami yang aku rasakan.


"enggak, Kek." sahutku, berbohong lagi.


kakek tersenyum, lalu bangun dari tidurnya. dengan langkah tertatih-tatih, ia berjalan menuju pintu, dan keluar.


"kakek mau, kemana?" tanyaku mengikuti dari belakang.


"saya tahu Aden pasti lapar." ujarnya, sembari mengambil panci kecil yang usang, dan penyok dari atas tungku yang terbuat dari tiga batu disusun.


"ini, masih ada ubi rebus sisa tadi." ucap kakek, seraya menyodorkankan panci ke arahku.


aku tersenyum malu, tapi juga lega. akhirnya, aku bisa mengganjal perutku yang lapar dengan ubi rebus.


dengan cepat ku sambar panci tersebut, lalu melahapnya dengan cepat.


"pelan-pelan saja, Den. nanti Aden bisa tersedak." nasehatnya, tersenyum.


"hehehe....iya, Kek." sahutku malu. setelah merasa kenyang, aku kembali ke bangku, untuk merebahkan tubuhku, disebelah kakek.


tak lama kemudian, akupun tertidur dengan pulasnya.


*****


Keesokan paginya, aku terbangun karena sinar matahari yang menyinari wajah ku, melalui celah dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu.


kulihat disampingku, kakek Saleh sudah tidak ada. aku pun segera bangkit dan mencari keberadaan kakek.


"Kek!" panggilku, keluar dari dalam gubuk. diluar, aku tidak menemukannya.


"kemana ya, Kakek?" tanyaku dalam hati. kalau dilihat dari sinar matahari, jam menunjukkan pukul delapan pagi.


"tapi kemana kakek sepagi ini?" bisik ku.


"ah! entahlah! aku tidak tahu harus mencari kakek kemana." batinku.


saat aku sedang berpikir kakek berada dimana, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya yang datang.


"assalamualaikum!" sapa pria paruh baya itu.


"wa'alaikumussalam!" sahutku.


"kamu, siapa? setahu saya, Mbah Saleh tidak mempunyai anak, atau cucu.


"hemm....saya...


"dia anak angkat saya," jawab kakek Saleh tiba-tiba, memotong kalimatku, sambil menenteng ubi ditangannya.


"dari mana, Mbah?" tanya pria itu lagi.


"panjang ceritanya. ayo duduk!" ucap kakek, mempersilakan pria itu.


"ada apa kamu, kesini?" tanya kakek, ke pria tersebut.


"ramuan yang kakek berikan kemarin sangat ampuh, kaki anakku cepat mengering, Mbah." jelas pria paruh baya itu.


"syukurlah!" ucap kakek.


"dan ini ada sedikit rezeki untuk kakek, sebagai bentuk rasa syukur kami, karena berkat Mbah Saleh, kaki anakku sembuh." ungkap pria tadi.


"yang menyembuhkan Gusti Allah, saya hanya perantara saja." ujar kakek, merendah diri.


"iya, Mbah. tolong terima ini." ujar pria itu, menyerahkan sebuah bingkisan besar, yang aku belum tahu isinya.


"aamiin!" ucapku, dan pak Joko bersamaan.


"oh ya, Mbah. siapa sebenarnya anak, ini?" tanya pak Joko yang masih penasaran, seraya menatapku.


"saya menemukannya di sungai dalam keadaan terluka. tolong kamu rahasiakan keberadaannya, saya takut, ada yang sengaja ingin membunuhnya, dan bila tahu dia masih hidup, mereka akan datang untuk membunuhnya, lagi." terang kakek Saleh.


"baiklah, Mbah. saya akan berpura-pura tidak tahu apa-apa." sahut pak Joko.


"tapi siapa yang sudah tega membunuh dan membuangmu?" tanya pak Joko, kepadaku.


"dia lupa ingatan, dia tidak tahu siapa dirinya, bahkan namanya." sahut kakek menjelaskan.


"ya Allah.... kasihan sekali kamu, Nak." ucap pak Joko, iba melihat ku. aku hanya tertunduk diam.


"dimana tempat tinggal, bapak?" tanyaku.


"di desa, Nak." jawab pak Joko.


"dimana letak desa, bapak?" lanjut ku.


"kalau dari sini, sekitar dua kilometer. kenapa? kamu mau ikut dengan ku?" tanya pak Joko.


"tidak, pak." jawabku.


"pergilah! jika Den bagus mau melihat-lihat keadaan di desa." ujar kakek.


"sungguh tidak apa-apa, kalau kakek aku tinggal sendiri?" tanyaku.


"saya sudah terbiasa sendiri, Den bagus." jawab kakek tersenyum.


"baiklah Mbah, saya mohon pamit," pamit pak Joko.


"iya Nak, Joko. hati-hati dijalan, dan terima kasih, atas kebaikanmu." ucap kakek.


"sama-sama, Mbah!" sahut pak Joko.


"bagaimana, Den? mau ikut?" tanya pak Joko, kepadaku.


"boleh, saya ikut?" tanyaku, meyakinkan pak Joko.


"tentu saja boleh, Nak." jawab pak Joko, tersenyum.


"ayo!" ajak pak Joko.


"Kek! saya pamit ikut pak Joko, ya?" pamitku.


"iya, Den, hati-hati dijalan!" pesan kakek.


"iya, Kek!" sahutku. lalu aku pergi bersama pak Joko ke desa.


tak jauh dari gubuk, ada motor yang terparkir dipinggir jalan, ternyata itu kendaraan milik pak Joko.


"bagaimana di hutan? apakah kamu merasa takut? " tanya pak Joko, di atas motor.


"tidak, pak! kenapa takut?" sahutku.


"ya mungkin saja karena kamu tidak terbiasa hidup di hutan." ujar pak Joko.


"saya tidak bisa membedakan kehidupan di hutan, di kota, ataupun di desa. karena saya tidak ingat apa-apa, pak." terangku.


"hanya saja, saya merasa aneh jika gelap, dan suara-suara jangkrik di saat malam hari." lanjut ku.


"apakah kamu tidak mengingat sama sekali?" tanya pak Joko, lagi.


"tidak sama sekali, Pak." sahutku. tak lama kemudian, motor kami keluar dari kawasan hutan, dan memasuki sebuah perkampungan.


"nah! inilah desa saya, tempat saya dilahirkan, dan dibesarkan, hingga memiliki keluarga." jelas pak Joko.


aku hanya manggut-manggut, tanda mengerti.


"rumah bapak masih, jauh?" tanyaku yang sudah tak sabar, ingin melihat seperti apa rumah, dan keluarga pak Joko, yang baik hati ini.


"tidak! sebentar lagi kita sampai." ujar pak Joko.


di sepanjang perjalanan, aku dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah yang luas dan mulai menguning.


sungguh pemandangan yang indah! dan bisa menentramkan jiwa. saat aku sedang terlena akan pemandangan yang indah, tiba-tiba, motor pak Joko berhenti.