
Di sebuah gubuk reyot, aku terbaring tak berdaya dengan luka memar di wajahku, dan beberapa luka gores di bagian kaki ku.
aku bingung, saat baru tersadar dari pingsan. Menurut pria tua yang menolong ku, aku telah tidak sadarkan diri selama tiga hari.
pria tua yang aku panggil kakek ini menceritakan, bahwa ia menemukan ku tersangkut di sebuah pohon besar di sungai.
kakek yang bernama Saleh ini mengatakan, semula beliau mengira aku jenazah yang dibuang ke sungai, dan tersangkut di batang pohon besar.
beliau menolongku untuk menguburkan dengan layak, tapi saat kakek membawaku naik ke atas sungai, kakek Saleh merasakan bahwa aku masih bernyawa.
segera kakek membawaku ke gubuk reyot tempat kakek beristirahat, dan berlindung dari hujan, dan teriknya matahari.
digubuk kecil yang terbuat dari anyaman bambu inilah, aku dirawat kakek Saleh. dengan telaten kakek merawatku, sudah seperti cucunya sendiri.
"Aden, sudah bangun?" sapa kakek yang baru datang entah dari mana. beliau berjalan tertatih-tatih mendekatiku.
"sudah, kek!" jawabku.
"Aden makan ubi rebus ini, lalu minum obat, biar badan Aden sehat," perintah kakek Saleh.
"iya, kek!" sahutku. jangankan nama, siapa diriku, berasal dari mana, aku tidak tahu. karena aku sendiri tidak tahu namaku, kakek Saleh memanggilku dengan sebutan Aden bagus.
menurut kakek Saleh, nama panggilan itu cocok untukku yang berwajah tampan. aku sendiri tidak tahu seperti apa wajahku.
Karena dirumah kakek Saleh, tidak ada kaca untuk bercermin. dan aku cukup senang dengan panggilan itu.
"maaf, den bagus. saya hanya bisa menyediakan ubi rebus untuk dimakan." ucap kakek sedih.
"tidak apa-apa, kek. kakek sudah mau menolong dan merawatku, itu sudah cukup. dan aku sangat berterima kasih, atas kebaikan kakek." ucapku, seraya mengusap bahu lapuknya.
ku makan dengan lahapnya, ubi rebus yang kakek sajikan di piring kaleng yang sudah mulai berkarat.
aku harus memulihkan tenagaku, aku herus sembuh, dan membalas kebaikan kakek Saleh. selesai menyantap ubi rebus yang masih panas, kakek memoleskan obat dari tanaman liar yang beliau tumbuk.
aku meringis kesakitan karena efek dari obat yang kakek bubuhi di atas lukaku.
"pedih ya, den? tahanlah sedikit, tanaman ini sangat ampuh untuk mengeringkan luka, Aden." jelas kakek Saleh penuh kesabaran.
aku hanya mengangguk pelan sambil menahan pedih dari lukaku. setelah membubuhi obat di lukaku, kakek pergi, entah kemana.
aku ingin sekali keluar untuk melihat disekitar gubuk, tapi apa daya, tubuhku terasa kaku untuk digerakkan.
saat aku berusaha untuk bangun dari tempat tidurku, kakek Saleh kembali datang dengan tempurung kelapa di tangannya.
"kalau belum bisa bangun, jangan dipaksakan, Den. ini, minumlah ramuan yang saya buat." ujar kakek, seraya menyerahkan tempurung kelapa di tangannya.
"ini apa, kek?" tanyaku.
"obat untuk lukamu. jangan takut, saya tidak mungkin meracuni mu." jelasnya.
tentu saja tidak mungkin kakek meracuniku, kalau beliau hendak meracuniku, lalu untuk apa beliau menolongku?
tanpa ragu, kuraih tempurung kelapa yang kakek sodorkan ke arahku. dan segera ku minum hingga habis, meskipun terasa sangat pahit.
tak lama setelah aku meminum ramuan yang kakek berikan, aku merasakan kantuk yang luar biasa. dan akhirnya, akupun tertidur dengan pulasnya.
selama tiga hari berturut-turut, aku minum obat ramuan dari kakek, dan tumbukan tanaman liar yang dibubuhkan di atas lukaku.
alhasil, luka di beberapa bagian tubuhku berangsur mengering, dan kini tubuhku sudah bisa bergerak tidak kaku lagi seperti tiga hari lalu.
"Alhamdulillah!" ucap kakek Saleh, tersenyum puas. terlihat dari wajahnya yang keriput, bahwa beliau sangat senang melihat ku pulih.
"kakek mau kemana?" tanyaku, saat melihat kakek hendak pergi.
"saya mau cari kayu bakar, Den. untuk kita tidur nanti malam, biar tidak dingin, dan bisa mengusir nyamuk." jelas kakek.
"aku ikut!" pintaku.
"jangan, Den. Aden belum pulih benar." larang kakek.
"siapa bilang aku belum pulih? aku sudah sehat, kek!" sahutku, seraya menunjukkan otot besar ku di tangan.
kakek Saleh terkekeh, lalu berkata:"iya-iya, ya sudah! kalau Den bagus memaksa." ujar kek saleh, pasrah.
lalu aku pun mengikuti langkah kakek Saleh dari belakangnya. jujur, aku merasa kasihan melihat pria tua renta seperti kakek Saleh, yang masih harus berjuang demi untuk bertahan hidup.
seharusnya, pria se tua kakek Saleh, sudah harus duduk manis di rumah, bercanda dengan cucu-cucunya.
bukannya malah berkeliaran di hutan belantara yang banyak hewan buasnya, yang kapanpun siap menerkamnya.
entah dimana anak cucu dari kakek Saleh ini. aku belum sempat menanyakannya. karena selama satu Minggu ini, aku terbaring tidak sadarkan diri. sehingga kami belum sempat mengobrol.
tapi terlihat dari wajahnya, tidak ada kesedihan, ataupun mengeluh sedikitpun. dengan tangannya yang mulai lemah, dan keriput, kakek memungut ranting kering yang berserakan dibawah pohon, di hutan.
aku tidak mau tinggal diam, dengan semangat, aku membantu kakek mengumpulkan ranting pohon yang kami butuhkan.
"kakek! kakek duduk sini aja, biar aku yang akan mengumpulkannya." ujarku, seraya menuntunnya ke bawah pohon, untuk duduk.
"kenapa begitu, Den?" tanya kakek Saleh.
"kemarin-kemarin, kakek sudah merawatku, kini giliran ku, untuk merawat kakek." jelas ku.
"tapi kemarin saya merawat Aden, karena memang Aden bagus butuh perawatan, dan sedang sakit. sedangkan saya tidak sakit." jawabnya.
"tetap saja, kakek harus duduk disitu!" ucapku tegas.
"baiklah, kalau Aden memaksa." ucapnya menyerah.
setelah beberapa kayu ranting kering terkumpul, aku dan kakek pun kembali ke gubuk. aku berjalan didepan kakek, dan diikutinya dari belakang.
sampai gubuk, setelah meletakkan kayu ranting kering yang kami dapat dari hutan, aku merebahkan tubuh ku. mungkin karena belum begitu pulih, aku merasa kelelahan.
didalam gubuk, hanya ada satu bangku panjang yang terbuat dari bambu yang dibelah, lalu di paku menjadi satu.
bangku panjang itulah tempat aku dan kakek beristirahat bersama. hanya beralaskan tikar satu helai, tanpa selimut tebal ataupun bantal.
hanya ada satu sarung yang sudah rapuh, dan kumuh.
selama satu Minggu ini, kakek menyelimuti ku dengan sarung tersebut, yang seharusnya bisa mengurangi rasa dingin ditubuhnya dari angin malam.
setelah tahu kalau kakek hanya memiliki satu sarung, aku tidak mau memakainya lagi, kuselimuti tubuh renta kakek dengan sarung tersebut.
"pakai saja sarung ini, Den. saya tidak membutuhkannya." ujar kakek, berbohong. padahal, tubuhnya yang tua renta sangat membutuhkan kain untuk menghangatkan tubuhnya.
"tidak, kek! aku merasa gerah, kakek saja yang pakai," sahutku. lalu turun dari bangku untuk menambah kayu bakar, agar api selalu menyala, dan bisa menghangatkan tubuh kami.