
Aku dan Kakek menunaikan ibadah shalat Maghrib secara berjamaah. selesai shalat, aku mengambilkan obat yang diberikan mantri, untuk diminum kakek.
"Kakek, sebaiknya istirahat saja." ucapku, yang melihatnya masih duduk di tempat shalat.
"Nanti saja, Den. kalau saya rebahan, takutnya ketiduran, dan tidak shalat isya." jelasnya.
"Oh...gitu, kek." sahutku, mengerti.
Mataku terus mengawasi kakek, sambil berbaring di atas tempat tidur kami. aku takut kakek akan pingsan lagi, karena kulihat, tubuhnya masih lemas, dan wajahnya pucat.
Mungkin karena kelelahan setelah mencari Kakek di hutan tadi, akupun ketiduran. Dan Kakek membiarkan ku tidur sampai pagi.
*****
Keesokan harinya, aku kembali mendapatkan tawaran dari warga kampung untuk bekerja. Kali ini, aku di minta untuk mengantarkan hasil panen mereka ke kota.
Awalnya Kakek menolaknya, dengan alasan, takut orang kota akan mengenaliku. Tapi setelah aku menjelaskan bahwa aku akan menyamar, dan berhati-hati, Kakekpun menyetujuinya.
Dan di hari yang sudah di tentukan pun tiba. Dengan memakai kumis palsu, dan kacamata, aku terlihat berbeda, aku dan warga kampung berharap, penyamaran ku akan berhasil.
Mulai hari itu, aku bertugas untuk mengantarkan hasil panen para warga kampung, ke pasar, di kota. Dengan semangat, aku kerjakan tugasku dengan baik.
Tak jarang, aku mendapatkan bonus, dan sayuran atau buah-buahan, dari warga yang merasa puas akan kinerja ku.
Sudah satu bulan lebih, aku bekerja sebagai pengantar sayuran dan buah-buahan dari hasil panen mereka. Uang yang aku tabung sudah lumayan banyak.
Aku mengutarakan kepada warga, kalau Aku ingin mencari rumah yang bisa aku kontrak, untuk tempat tinggal ku, dan kakek.
Aku tidak mau selamanya tinggal di hutan. Dan warga kampung pun membantu ku mencarikan rumah yang akan di kontrakan, terlebih pak Joko. Beliau lebih antusias dalam membantu ku.
Berkat bantuan dari Pak Joko, dan para warga kampung, akhirnya aku mendapatkan rumah yang akan di kontrakan.
"Memangnya, pemilik rumah ini kemana, Pak?" tanyaku kepada Pak Joko.
"Pemiliknya sudah lama tinggal di kota, karena sudah mendapatkan pekerjaan tetap, dan hidup enak di kota, pemilik rumah ini tidak pernah pulang."ungkap Pak Joko.
"Lalu? kenapa tidak di jual saja, rumahnya?" ujarku.
"Alasannya, rumah ini warisan dari kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin menjual rumah yang terdapat banyak kenang-kenangan nya." jelas Pak Joko.
"Jadi mereka hanya akan mengontrakkan saja, Pak?" tanyaku, lagi.
"Iya, supaya rumahnya terawat, dan jika sewaktu-waktu mereka rindu kampung halamannya, mereka bisa pulang." lanjut Pak Joko.
"Oh...." sahutku, manggut-manggut.
"Tadi saya sudah menghubungi mereka, kata mereka, kunci rumah ini ada pada bapak kepala desa, dan untuk pembayarannya, Aden bisa transfer ke nomor rekening yang sudah saya catat, ini." ujar Pak Joko, seraya menyerahkan secarik kertas.
"Berapa saya harus bayar per-bulan nya, Pak?" tanyaku, tak sabar.
"Lima ratus ribu, Den." jawab Pak Joko.
"Kenapa murah sekali, Pak?" tanyaku heran, karena rumah sebesar itu, menurutku murah sekali.
"tidak tahu, Den. mungkin mereka pikir, daripada tidak terawat." jelas Pak Joko.
"Baiklah kalau begitu, saya akan transfer sekarang juga." ujarku semangat.
"Kalau begitu, saya akan menghubungi mereka, untuk memberitahu." ujar Pak Joko, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Sepulangnya dari bank, aku mengambil kunci rumah yang di titipkan kepada Bapak kepala desa, lalu membersihkannya.
Karena sudah lama tidak di huni, ada yang harus di renovasi. seperti atap rumah yang sedikit bocor, dan lantai yang sangat kotor.
Hari itu, aku tidak langsung pulang ke hutan, melainkan membersihkan rumah, dan membenahi atapnya yang bocor.
Dengan bantuan Pak Joko, aku bisa menyelesaikannya hari itu juga.
Hari sudah semakin sore, ku lirik jam tangan yang aku beli beberapa hari lalu, saat pergi ke kota. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
Takut Kakek akan mengkhawatirkan ku, akupun segera pulang ke hutan.
"Assalamualaikum!" ucapku, saat tiba di depan pintu gubuk, di hutan.
"Wa'alaikumussalam! Kamu baru pulang, Den?" sambut Kakek.
"Iya, Kek." jawabku, lalu menceritakan prihal rumah yang baru aku sewa.
"Seharusnya, Aden tidak perlu melakukan itu, uangnya bisa Aden tabung untuk masa depan, Aden." ujar Kakek, kurang setuju keputusanku.
"Tidak apa-apa, Kek. nanti saya bisa nabung lagi. lagipula, uang tabungan saya tidak habis, Kek." jelasku.
"Dan mulai besok, kita akan meninggalkan rumah, ini." ujarku.
Kakek hanya terdiam, tanpa menjawab sepatah katapun. terlihat di wajahnya, sepertinya kakek berat untuk meninggalkan gubuk di hutan.
Tapi aku coba menjelaskan, kalau Kakek tidak layak tinggal di hutan seperti sekarang ini. Tubuhnya yang sudah renta, harus merasakan dinginnya angin malam di hutan.
Belum lagi kalau turun hujan. Cuacanya dingin, hingga menusuk ke tulang. Dan kakek pun akhirnya menyetujui niat baikku.
Setelah rumah siap dihuni, dan kakek bersedia untuk pindah, sepulangnya dari kerja, aku meminjam mobil warga yang biasa aku pakai untuk mengantar barang, untuk memboyong kakek.
Sore itu, banyak para warga kampung yang membantuku pindahan di rumah sewa yang akan aku huni bersama kakek. Aku sangat bersyukur, banyak warga kampung yang baik, dan peduli terhadap aku, dan kakek.
Malam ini, aku dan kakek mulai tidur di rumah sewa milik warga kampung. Aku merasa senang, bisa membawa kakek tinggal di rumah yang lebih layak.
Rencananya, besok malam aku dan kakek akan mengadakan tahlilan di rumah yang baru kami tinggali.
Menurut para warga kampung, rumah yang sudah lama tidak dihuni, harus dilakukan pengajian. karena rumah yang sudah lama kosong, akan dihuni oleh mahluk tak kasat mata.
Aku ikut aja dengan aturan yang ada, selagi itu hal yang baik, kenapa tidak.
Aku dan Kakek sudah tidak tidur di tempat yang sama lagi. Kami memiliki kamar masing-masing.
Karena malam sudah semakin larut, beberapa warga kampung yang berkunjung untuk sekedar berbincang-bincang pun pamit undur diri.
Aku dan Kakek pun pergi ke kamar masing-masing, untuk beristirahat. besok pagi, aku harus kembali bekerja seperti biasa.
Sampai di dalam kamarku, aku langsung merebahkan tubuhku yang terasa sangat lelah, setelah seharian bekerja, dan mengurus perpindahan kami.
Pandanganku menerawang jauh, aku memikirkan masa depanku, dan Kakek kelak. Tidak mungkin selamanya aku, dan Kakek akan tinggal di rumah sewa ini.
Aku harus memikirkan, bagaimana caranya untuk menghasilkan uang yang banyak, untuk membeli rumah, untuk aku dan Kakek, kelak.
Tapi aku tidak tahu harus bekerja apalagi, yang bisa menghasilkan uang banyak.